Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Target: Planet Terrasia!
DUAAAAARRR—!!
Ledakan luar biasa tercipta!
Dampaknya begitu mengerikan. Seluruh kaca istana pecah berkeping-keping. Fondasi bangunan meretak hebat. Bahkan patung es megah di area pintu masuk langsung patah terbelah dua!
Di langit, sapuan gelombang kejutnya begitu kuat hingga menghempaskan kumpulan awan, membuat langit serta-merta bersih terang benderang.
Cahaya ledakan memancar sedemikian menyilaukan.
Jika saja Ivan terlambat memasang benteng pertahanan sihir walau selapis atau sedetik saja... dipastikan para tamu undangan beserta keluarga kerajaan akan buta dan tuli mendadak akibat guncangan tersebut!
WUUUSH—!
Gumpalan debu tebal dan asap pekat membumbung tinggi memenuhi seluruh area lapangan latihan.
Seluruh penonton otomatis bangkit dari tempat duduk mereka dalam ketegangan puncak. Tanpa sadar, Putri Iselyna berlari kecil paling depan menghampiri pinggir lapangan—hingga langkah kakinya terhenti kaku saat terpaan angin perlahan menyapu bersih sisa-sisa asap.
Memperlihatkan pemandangan yang sanggup menghentikan napas siapa pun.
Di tengah kawah hancur, Edward berdiri kokoh menahan hantaman mematikan Raja Isenbard hanya dengan kedua tangannya!
Pendaran aura kuning kemerahan memancar menyilaukan dari raga sang Pangeran. Sekeliling tubuhnya diselimuti pusaran energi yang berputar vertikal—membentuk jilatan-jilatan lidah api kosmik yang menyerupai lidah radiasi Matahari!
Area di sekitar mereka kini tak lagi layak disebut sebagai lapangan latihan.
Puing-puing batu berserakan, kawah-kawah dalam menganga di berbagai sudut, seluruh kaca jendela istana hancur berkeping-keping, dan tanaman hias kerajaan terkoyak tak berbentuk.
“Kau sungguh hebat, Pangeran Edward!” Raja Isenbard menyeringai puas di tengah adu kekuatan. “Kalau begitu, selanjutnya—”
BUAK!
Belum sempat sang Raja menyelesaikan kalimat gertakannya—
PLAK!
Dengan raut wajah yang membara oleh amarah, Ratu Elizabeth mendadak muncul dan memukul keras kepala suaminya menggunakan kipas tangan!
BZZZZT—PRANG!
Hantaman kipas itu seketika meremukkan seluruh rangkaian 100 layer sihir penguat milik sang Raja hingga pecah berkeping-keping layaknya kaca, menghentikan seluruh pasokan Mana secara instan!
“Apa maksudmu dengan 'selanjutnya', hah?!” berang Ratu Elizabeth dengan napas memburu.
“Aku menyetujui duel ini karena kau berjanji akan menahan diri! Tapi sepertinya aku sudah benar-benar kecolongan!”
“T-tapi Eliz sayang... aku benar-benar cuma pakai setengah dari kekuatanku!” Raja Isenbard berusaha membela diri dengan wajah panik.
“Setengah?!”
Jemari lentik sang Ratu tanpa ampun langsung mencengkeram dan menarik telinga Raja Isenbard kuat-kuat!
“Kau bilang seluruh kehancuran dan kekacauan istana ini cuma hasil dari setengah kekuatanmu??! Sebentar lagi gelombang tamu undangan berikutnya akan tiba, dan lihat apa yang sudah kau perbuat?! Bagaimana bisa kita menunjukkan tempat porak-poranda ini pada para tamu negara?!”
“A-adududuh... Ampun, Eliz sayang! Sakit!”
“Kau juga hampir saja menimbulkan masalah besar pada Pangeran Edward! Beruntung beliau sanggup menahannya! Coba kalau tidak?!”
“T-tapi seperti yang kau lihat sendiri, dia baik-baik saja—”
“Jangan membantah!” potong sang Ratu galak.
“Selama seminggu penuh... tidak ada jatah malam untukmu! Kau paham?!”
Seketika itu juga, raut garang sang Raja hancur berkeping-keping, berganti menjadi wajah ketakutan dan penuh penyesalan.
“Tidaaak! Aku mohon, hukum apa saja asal jangan yang itu! Baiklah, aku mengaku salah! Aku minta maaf! Aku—ADUDUH!”
Ratu Elizabeth justru makin mengencangkan pelintiran pada telinga suaminya. Ia kemudian menoleh ke arah Edward, lalu membungkukkan tubuhnya penuh rasa penyesalan.
“Mohon maafkan tindakan suami saya yang sangat ceroboh ini, Yang Mulia Pangeran Edward. Beliau hampir saja melukai Anda.”
Edward perlahan memadamkan pendaran aura Matahari dari tubuhnya, lalu tersenyum canggung sembari menggaruk kepala.
“T-tidak apa-apa, Ratu Elizabeth. Saya sebenarnya juga sangat menikmati pertarungan tadi. Seperti yang sudah saya duga, kekuatan Yang Mulia Raja memang benar-benar luar biasa,” puji Edward tulus.
“Lihat kan?! Pangeran Edward sendiri bilang dia menikmati pertarungan ini! Jadi kau bisa—”
TAK.
Mata Ratu Elizabeth mendadak mendelik tajam—memancarkan aura intimidasi maut yang biasa dipancarkan oleh seorang pembunuh berdarah dingin saat mengunci targetnya.
“Diam...”
“Hiiii!” Raja Isenbard seketika ciut dan menciutkan lehernya ketakutan.
Ratu Elizabeth kembali membungkuk kecil ke arah Raja Nolan, Ratu Tiana, serta Edward.
“Saya permisi terlebih dahulu. Ada 'urusan pribadi' yang harus saya selesaikan dengan suami saya. Selebihnya, para pelayan akan segera melayani kebutuhan kalian. Sekali lagi, mohon maaf atas kekacauan ini.”
Tanpa menunggu balasan, sang Ratu menarik paksa telinga Raja Isenbard yang meraung-raung kesakitan, menyeret sang Raja masuk melewati pintu istana yang kini kondisinya sudah hampir terlepas dari engselnya.
Di pinggir lapangan, semua orang yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menyunggingkan senyuman canggung.
Terkecuali Putri Iselyna. Sang Putri Es hanya bisa menghela napas panjang yang teramat dalam, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan ajaib ayah kandungnya sendiri.
Manik mata Putri Iselyna kemudian beralih menatap sang Pangeran kembali. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat menyadari ada perubahan fisik pada penampilan Edward—terutama pada warna rambutnya.
“Oh, Pangeran Edward... warna rambut Anda terlihat agak meredup,” celetuk Iselyna heran. “Atau... apakah mataku yang salah melihatnya?”
“Ah, ini...”
Edward mengusap helai rambutnya pelan sembari menyunggingkan senyum tipis.
“Hal ini memang selalu terjadi jika aku menguras atau menggunakan kekuatanku secara berlebihan.”
Mendengar hal itu, Iselyna seketika menundukkan kepalanya, diliputi rasa bersalah yang mendalam.
“Mohon maafkan tindakan Ayah saya, Pangeran Edward... Kami jadi terus-menerus merepotkan Anda.”
“Sama sekali tidak masalah,” sahut Edward buru-buru, berusaha menenangkan sang Putri Es.
“Lagipula, aku juga cukup bersenang-senang dalam duel tadi. Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang sanggup memaksaku bertarung serius... selain Ayahku sendiri.”
“Senang sekali mendengarnya,” balas Iselyna.
Sebuah senyuman manis nan menawan terukir indah di paras cantiknya—sebuah pemandangan langka yang sanggup meluluhkan es terkeras sekalipun.
“Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu. Jangan lupa untuk malam nanti ya, Pangeran... Saya sangat menunggu kejutan dari Anda.”
Tanpa menunggu balasan, sang Putri berbalik anggun dan melangkah masuk ke dalam istana.
Meninggalkan Edward yang hanya sanggup bergeming kaku di tempatnya, dengan rona merah membakar yang meledak memenuhi kedua belah pipinya.
Di pinggir lapangan, Raja Nolan yang menyaksikan momen manis tersebut tersenyum pongah sembari menyilangkan kedua tangan di dada. Ia melirik ke arah istrinya dengan tatapan bangga.
“Sudah kubilang juga apa, kan?” goda Raja Nolan terkekeh pelan. “Putra kita itu sebenarnya sangat sanggup memikat hati seorang wanita!”
Ratu Tiana melirik suaminya, lalu ikut menyunggingkan senyuman hangat.
“Anda benar. Kalau begitu, bagaimana kalau kita ikut masuk dan memberikan beberapa nasihat penting untuk Putra kita menjelang pesta nanti?”
Kedua penguasa itu pun bangkit dari duduknya dan menyusul langkah Edward.
Raja Nolan dengan meriah merangkul pundak putranya yang masih salah tingkah. Mereka berjalan bersama diiringi Emma dan Bernard, meninggalkan area lapangan latihan yang telah hancur porak-poranda—bersiap menyambut acara Pesta Topeng Akbar yang akan dilaksanakan malam nanti.
***
Di kejauhan antariksa yang sunyi...
Melintasi batas ruang yang jauh meninggalkan Planet Terrasia, menembus tatanan tata surya beserta deretan planet dan benda-benda langit lainnya...
Di sudut terluar yang tak tersentuh oleh jangkauan teleskop mana pun—tersembunyi di balik gugusan bintang berjarak puluhan tahun cahaya—sebuah objek asing melayang tenang.
Bentuknya menyerupai kapsul raksasa, atau lebih tepatnya... sebuah pesawat ruang angkasa berukuran sebesar rumah.
Di dalam pesawat tersebut, tak ada satu pun makhluk hidup yang tampak beraktivitas. Hanya ada ruang komando yang pendaran panelnya masih menyala redup, serta sebuah tabung kaca raksasa di bagian belakang.
Tabung itu berisi cairan hijau pekat yang membungkus rapi sesosok tubuh humanoid misterius di dalamnya.
BZZZT—!
Layar pusat kendali mendadak berkedip-kedip intens.
Sistem komputer kapal bereaksi terhadap sesuatu—mendeteksi keberadaan pendaran gelombang energi asing yang memancar dari kejauhan. Secara mandiri, kecerdasan buatan kapal itu mulai bekerja dengan presisi ekstrem, mengkalkulasi titik koordinat anomali energi tersebut.
Tampilan layar memproyeksikan peta peta antariksa tiga dimensi.
Sistem secara cepat menyeleksi jutaan gugusan bintang dan galaksi, hingga berhenti tepat pada sebuah tatanan sistem tata surya. Layar secara otomatis memperbesar tampilan (zoom-in), mengunci fokusnya pada sebuah planet berwarna biru-hijau yang teramat indah.
Sebuah deretan simbol bahasa asing yang rumit tertera di layar utama—sebuah nama planet yang seolah menegaskan bahwa tempat itulah tujuan akhir mereka selanjutnya.
TING!
Sistem komputer kembali berkedip, lalu terdengar gema suara mekanis yang dingin dan tak berjiwa dalam bahasa asing:
[Mendeteksi planet layak panen.]
[Mengaktifkan Protokol Penjelajah. Pengisian daya Harvester dimulai.]
[Waktu tempuh standar diperkirakan: 2 bulan.]
Sistem mendadak memberi peringatan merah berkedip.
[Peringatan: Sistem mendeteksi anomali energi langka... An**omali tidak terdeteksi. kategori: Sangat Berbahaya**.]
[Mengaktifkan Protokol Tambahan. Perhitungan ulang waktu tiba: 2 Bulan, 5 Hari, 54 Jam, 27 Menit, 88 Detik.]
SZZZT!
Tepat saat suara komputer itu padam, dua pasang mata berwarna kuning menyala mendadak terbuka lebar dari dalam tabung cairan hijau pekat!
Sebuah kilatan cahaya mengancam terpancar tajam dari balik kaca—sebuah pertanda mengerikan bahwa badai bencana kosmik baru tengah bergerak cepat untuk menghantui sang Pangeran Bintang!
Jangan lupa ke naskah aku juga ya