Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 THE VANISHED LONE WOLF
Matahari sore di Cikampek mulai turun, membiaskan warna jingga yang kontras dengan beton-beton kusam di atas rooftop gedung tua pusat kota. Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan asap rokok dari bibir gua yang sedang bersandar di tepian tembok. Tempat ini sekarang resmi jadi basecamp kita. Meski nggak punya nama fraksi dan isinya cuma segelintir orang, suasana di rooftop ini terasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya.
Di sudut lain, Gilang dan Elisa tampak duduk santai. Luka-luka mereka dari insiden berdarah di Cijalu tempo hari mulai mengering. Berkat gertakan Denza yang membawa nama besar Black Dragon ke hadapan Mahkamah Agung, status buronan Elisa dihapus total dari sistem data Cikampek. Bahkan, gua lewat Sebas udah membelikan mereka rumah masing-masing yang layak sebagai kompensasi atas semua kegilaan yang kita lalui.
"Gua masih ngerasa aneh tidur di kasur empuk, Ka," ucap Gilang sambil membuka kaleng minuman dingin.
KLINK!
"Denza bilang rumah itu udah bersih. Gak ada lagi intel yang bakal mantau kita lagi," lanjut Gilang.
Gua cuma nyengir miring, meski tubuh gua sebenarnya masih terasa pegal. "Nikmatin aja, Lang. Orang orang tua itu gabakal berani ngusik kita lagi sekarang, rooftop ini tempat kita kumpul. Kita bukan fraksi, kita cuma teman yang bakal bareng-bareng kalau ada masalah."
Elisa yang sedang merapikan tudung sweater-nya menoleh. "Tapi ada yang kurang, ka? Udah seminggu."
Gilang mengangguk, raut wajahnya berubah serius. "Teman lu itu, si Zela... dia ke mana? Gua gak liat dia sejak malam di Cijalu itu."
Gua terdiam, menatap jauh ke arah pemukiman Sukaseri. "Gua juga gak tau, Lang. Zela udah seminggu gak masuk sekolah. Bangkunya di pojok kelas 2-A kosong melompong. Gua udah coba cari ke warung kelontong tempat kita biasa nongkrong, tapi dia ilang kayak ditelan bumi."
Pikiran gua melayang kembali ke kejadian tadi siang di SMK PGRI Cikampek. Sebuah memori yang bikin dada gua terasa sesak hingga sekarang.
Suasana koridor lantai dua Bayoer masih bising dan pengap oleh asap rokok. Gua berjalan lesu melewati kelas, mata gua tanpa sadar melirik ke arah bangku Zela yang kosong. Di pikiran gua, Zela adalah orang yang aneh—dingin tapi peduli. Hilangnya Zela secara mendadak bikin gua merasa ada sesuatu yang gak beres.
TAK! TAK! TAK!
Tepat di depan tangga, langkah gua terhenti. Friza, pemimpin CBC, berdiri di sana sambil menyandarkan bahunya ke dinding. Matanya yang tajam menatap gua dengan senyuman yang sangat memprovokasi.
"Yo, Ryuka," panggil Friza dengan nada mengejek. "Masih nungguin 'serigala' lemah itu?"
Gua gak merespon. Gua mau terus jalan tapi Friza sengaja menghalangi jalan gua pakai kakinya.
"Zela udah seminggu gak kelihatan," lanjut Friza sambil menghembuskan asap rokok tepat ke wajah gua. "Lu gak denger berita di jalanan? Katanya si Zela udah mampus dikeroyok anak-anak luar. Kasihan banget... lone wolf yang katanya hebat ternyata mati konyol di gang sempit."
BAM!!
CRAK!
Gua menghantam tembok tepat di samping kepala Friza sampai betonnya retak. Gua merasakan sesuatu yang sangat dingin dan pekat mendadak meluap dari dalam dada gua. Gua gak tau apa itu, yang gua rasakan cuma amarah yang sangat berat sampai-sampai gua merasa tangan gua gemetar dan pandangan gua sedikit menghitam.
"Jaga mulut lu, Bangsat!" raung gua dengan suara rendah yang menggetarkan nyali murid-murid di sekitar. "Zela gak bakal mati semudah itu. Lu mau gua bikin lu lebih hancur dari si Fatah, hah?!"
Friza bukannya takut, matanya justru menyala liar. Dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh gua sendiri—sebuah hawa hitam pekat yang mulai merembes keluar dari tubuh gua. Bagi Friza yang sudah melampaui batas dan paham soal aura, ini adalah konfirmasi bahwa gua benar-benar seorang monster.
"Ayo, Ryuka! Keluarin lagi perasaan itu! Gua pengen liat seberapa jauh lu bisa ngamuk di sekolahan ini!" tantang Friza sambil mengepalkan tangan.
SREET!
Tepat saat gua mau melayangkan pukulan, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan kita berdua secara bersamaan.
"Cukup, Friza. Ryuka."
Argantara, Sang Penguasa Bayoer, berdiri di tengah-tengah kita. Di belakangnya, Hyto dan Kairi dari Trio Raja Langit mengawasi dengan pandangan dingin. Argantara menatap gua sejenak, matanya sedikit menyipit merasakan tekanan udara yang mendadak berat di sekitar gua.
"Gua gak peduli apa masalah kalian," ucap Argantara datar. "Tapi ini masih jam sekolah. Kalau kalian mau saling bunuh, lakuin di luar gerbang Bayoer setelah bel bunyi. Jangan bikin kotor koridor bayoer."
Friza mendesis kesal, dia melepaskan cengkeramannya kasar. "Lu beruntung Arga ada di sini, Ryuka. Tapi inget, di kota ini, orang yang sendirian itu target paling gampang buat dihabisin. Apalagi kalau dia seorang lonewolf kayak Zela."
Argantara menatap gua yang masih terengah-engah menahan tekanan di dada. "Ryuka... lu sebaiknya kontrol diri lu. Hawa yang lu keluarin tadi... itu bisa bikin orang di sekitar lu pingsan kalau lu gak hati-hati."
Gua cuma mengernyit bingung. "Hah?Gua ga paham apa yang lu mksd, Arga!"
Argantara tidak menjawab. Dia hanya berbalik pergi diikuti oleh Hyto dan Kairi. Di mata para puncak Bayoer itu, gua adalah sebuah bom waktu yang belum sadar kalau punya daya ledak nuklir.
Gua menghela napas panjang setelah menceritakan kejadian itu ke Gilang dan Elisa. "Gua gak ngerti apa yang dimaksud Arga soal hawa, tapi yang jelas, Friza bener-bener bikin gua emosi tadi siang."
Elisa menatap gua dengan cemas. "Ryuka... sejak malam di Cijalu itu, lu emang sering kelihatan... beda kalau lagi marah. Kayak ada sesuatu yang berat di sekitar lu."
"Gua juga ngerasainnya, Ka," tambah Gilang serius. "Pas lu lawan gua malam itu, gua ngerasa kayak ngelihat monster. Apa itu efek dari masa lalu yang lu bilang saat itu?"
Gua menggeleng, gua sendiri masih bingung dengan memori gua yang samar. "Gua gak tau. Yang gua peduliin sekarang cuma Zela. Dia bukan tipe orang yang bakal absen seminggu tanpa alasan penting.
"Jadi, rencana kita apa?" tanya Gilang sambil berdiri, wajahnya menunjukkan kesetiaan penuh sebagai teman masa kecil.
Gua berdiri, menatap ke arah perbatasan Bakan Jati dan Cijalu yang mulai diselimuti kegelapan malam. "Malam ini, kita gak bakal nunggu kabar lagi. Gua bakal hubungi Denza buat nyari tau intelijen Mahkamah Agung yang tersisa. Kita cari Zela sampai ketemu. Gua punya firasat kalau Dewan Intelligent yang tersisa, atau mungkin faksi dari Slonong Boys lainnya, udah nyeret dia ke suatu tempat."
Gua mengepalkan tangan, merasakan sisa-sisa amarah tadi siang masih bergejolak di dada. Gua belum tahu kalau gua punya kekuatan apa, yang gua tahu hanyalah satu hal gabakal gua biarin orang lain nyentuh orang orang sekitar gua.
Zela... kalau sampe lu beneran mati sebelum gua lunasin hutang jotos gua ke lu, gua gak bakal pernah maafin lu, Zel, gumam gua dalam hati, menatap pekatnya malam Cikampek yang mulai menyelimuti kota.