Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Menuju Ruang Kopi
"Makasih ya, Mas Abas, Mas Bara, udah dateng dan ngasih masukan," kata Raya pada Abas dan Bara setelah ketiganya selesai mendiskusikan eksterior KAC.
"Sama-sama, Ray," kata Bara santai.
"Kami akan sesekali melihat progresnya nanti," kata Abas.
"Sering-sering juga boleh kan?" tanya Bara.
Raya sudah membuka mulutnya akan menjawab Bara ketika Abas menyahut cepat.
"Bara,"
Bara meringis.
"Oke. Sesekali aja, Ray," kata Bara. Raya tersenyum.
"Kami permisi," pamit Abas sambil beranjak dari duduknya. Bara ikut beranjak.
"Sekali lagi terimakasih, Mas," ucap Raya sambil menjabat tangan Abas dan Bara bergantian. Abas mengangguk tipis. Bara tersenyum lebar.
Abas dan Bara berjalan keluar dari ruang dua. Mata Abas melirik ke lobi saat akan keluar KAC. Tak ada siapapun di sana.
"Sekali lagi ya, Pak,"
Sebuah suara membuat mata Abas bergerak cepat ke arah sumber suara. Suara yang entah sejak kapan menjadi begitu nyaring di telinganya. Suara yang entah sejak kapan selalu ingin didengarnya. Mata Abas menangkapnya.
"Yak. Oke. Makasih ya, Pak," kata Melodi sambil menekan layar ponselnya.
"Sama-sama, Mbak," kata tukang yang sedang mengecat dinding luar KAC dengan ramah.
"Gimana?" tanya Panji sambil mendekat pada Melodi.
"Coba dengerin dulu," kata Melodi lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya. Panji ikut mendekatkan telinganya ke ponsel Melodi.
Saat melihat itu, langkah Abas melambat. Melodi dan Panji bediri begitu dekat. Sangat dekat. Terlalu dekat. Dan entah mengapa itu sangat mengusik ketenangan hati Abas.
"Dengerin apa, sih?" tanya Bara sambil tiba-tiba mendekat, menyelip di antara Melodi dan Panji. Panji menoleh cepat. Tatapannya bertemu dengan mata Bara. Lala yang berdiri tak jauh dari mereka, menatap Bara dan Panji bergantian.
"Eh? Oh... ini lagi bikin tugas. Udah selesai rapatnya?" tanya Melodi.
"Udah. Ini mau balik kantor," jawab Bara. Melodi tersenyum. Abas yang sedari tadi memperhatikan Melodi mencoba memalingkan matanya.
"Bara,"
"Aku balik dulu ya," pamit Bara.
"Pangeran Es keburu mencair karena kepanasan," kata Bara dengan nada berbisik pada Melodi. Melodi mengangguk sambil menahan tawa.
Panji hanya diam. Dia memperhatikan Bara yang begitu terang-terangan mendekat pada Melodi dan Abas yang diam-diam mencuri pandang ke arah Melodi.
Panji menatap Abas dan Bara yang berjalan menuju mobil. Dia merasakan sesuatu yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Panji menoleh ke arah Melodi yang juga sedang menatap ke arah dua pria itu sambil tersenyum. Panji menarik napas dalam-dalam.
Tak jauh dari Panji, Lala menatap Panji. Lalu menatap dua pria yang mulai memasuki mobil. Kemudian menatap Melodi yang kembali sibuk dengan tugas kuliahnya.
'Hm? Tunggu. Sejak kapan jadi semenarik ini?'
***
Sebelum hari gelap, Abas dan Bara sudah tiba di rumah. Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai di rumah, Bara terus saja menyenandungkan Senja Dalam Diam. Tak hanya sekali Abas meminta Bara untuk diam. Namun, Bara selalu saja menyenandungkan lagu itu kembali seolah sengaja memancing emosi Abas.
Abas berjalan sedikit lebih cepat saat memasuki rumah. Bara tersenyum tipis di belakangnya.
"Abas," panggil Tuan Baskara yang sedang duduk di ruang tamu. Abas menoleh lalu berjalan ke arah papanya.
"Duduk," perintah Tuan Baskara.
Abas menatap mamanya yang duduk di hadapan papanya. Nyonya Baskara mengangguk tipis. Bara yang berdiri di belakang Abas ikut duduk di sampingnya. Tuan Baskara menatap lurus ke arah Abas.
"Papa sudah menentukannya," kata Tuan Baskara.
"Jodohmu," lanjutnya.
Abas menahan napas. Mata Bara membulat. Hanya Nyonya Baskara yang terlihat begitu tenang.
"Dia putri Tuan Erlangga, pemilik Home Sweet Home Furniture," kata Tuan Baskara sambil menyodorkan foto seorang wanita di atas meja ruang tamu.
Abas menatap foto itu datar. Bara terlihat ikut mengintip.
"Cantik," komentar Bara dengan nada berbisik.
Tuan Baskara menarik napas dalam-dalam.
"Dia baru saja kembali dari kuliah di Inggris dua hari yang lalu," kata Tuan Baskara.
Abas masih menatap dingin foto di atas meja. Foto yang menampakkan seorang wanita dengan rambut panjang yang tersenyum begitu elegan ke arah kamera.
"Temui dia nanti jam delapan di Ruang Kopi," lanjut Tuan Baskara. Abas seketika menatap papanya begitu mendengar kata Ruang Kopi.
"Waduh," celetuk Bara. Tuan Baskara melirik ke arah Bara sesaat sebelum kembali menatap Abas.
"Jangan sampai telat," kata Tuan Baskara sambil beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruang tamu.
Bara menatap Tuan Baskara dengan tatapan tak percaya.
"Ma, kenapa Mama diam aja?" tanya Bara pada Nyonya Baskara.
"Mama harus gimana?" Nyonya Baskara balik tanya.
"Ya bantu Kak Abas buat nolak lah," kata Bara gemas.
"Bantu? Kakakmu aja cuma diam gimana Mama mau bantu?" tanya Nyonya Baskara.
"Kak,"
Abas masih menatap kosong ke arah foto wanita di atas meja.
"Kak Abas,"
Abas melirik ke arah Bara.
"Kak Abas yakin?" tanya Bara. Abas kembali menatap foto wanita yang Tuan Baskara berikan.
'Aku bukan tak ingin menolak. Tapi... Ruang Kopi... setidaknya... aku punya alasan untuk kesana,'
***
Abas sedang bersiap saat Bara tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa permisi. Abas melirik adiknya.
"Kamu lupa cara mengetuk pintu?" tanya Abas sambil mengancingkan lengan kemejanya.
Bara lalu kembali ke pintu dan mengetuknya. Abas menghela napas panjang.
"Apa?"
"Kakak serius mau ketemuan sama cewek yang di foto tadi?" tanya Bara. Abas hanya menatap Bara datar.
"Yakin?" tanya Bara lagi.
Abas mengambil jasnya lalu berjalan ke arah pintu.
"Kak,"
Abas berhenti tepat di ambang pintu. Dia sedikit menoleh ke kanan.
"Aku punya caraku sendiri untuk menolak," kata Abas lalu pergi meninggalkan Bara yang sedang mencerna kata-kata kakaknya.
"Gimana, sih, maksudnya?" gumam Bara sambil memiringkan kepalanya dan membalik badannya membelakangi pintu.
Sedetik kemudian mata Bara membulat menyadari sesuatu yang terlewatkan karena terlalu fokus mendengar kata 'jodoh' yang diucapkan papanya tadi.
"Tunggu. Papa minta Kak Abas ketemu sama cewek itu di Ruang Kopi. Kak Abas nggak nolak," gumam Bara. Bara memukul telapak tangannya.
"Jadi... dia bukannya nggak mau nolak perjodohan itu. Tapi..."
"Tapi apa?" suara Nyonya Baskara mengejutkan Bara. Seketika Bara membalikkan badannya.
"Mama, ih!"
Nyonya Baskara tersenyum sambil berjalan mendekati Bara.
"Tapi apa?" tanya Nyonya Baskara sekali lagi.
"Hm? Eh? Nggak apa-apa, Ma," jawab Bara sambil meringis.
"Bara... kamu tahu kan percuma bohong sama Mama?" tanya Nyonya Baskara dengan senyum yang masih lebar. Bara menghela napas panjang. Nyonya Baskara menatap Bara.
"Kakakmu," kata Nyonya Baskara.
"Sepertinya terjadi sesuatu dengannya," lanjutnya. Bara menaikkan satu alisnya.
"Mama tahu?" tanya Bara. Nyonya Baskara tersenyum.
'Apa yang bisa kalian sembunyiin dari Mama?'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪