Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Pembersihan
"Gimana?"
Si Preman mengucapkan kata itu sambil tersenyum, seolah ia baru menawarkan harga rokok di pinggir jalan, bukan meminta setengah Kristal yang baru dibayar dengan darah dua hari.
Di belakang gerbang, anggota base masih lelah. Beberapa tangan masih diperban. Bau asap pembakaran mayat zombie belum hilang dari udara. Kotak-kotak Kristal Level 1 baru saja masuk ke dalam gudang sementara.
Si Preman memilih waktu yang tepat.
Ia pikir orang lelah lebih mudah ditekan.
Hendry melangkah maju.
Fajar langsung memberi isyarat agar penjaga tetap di posisi. Bagus memutar linggis. Melati mengangkat api kecil, tetapi Hendry hanya mengangkat tangan sekali.
Semua berhenti.
"Kau minta setengah Kristal," kata Hendry.
Si Preman tertawa. "Bukan minta. Nego. Lu kuat, gue akui. Tapi gue punya orang. Jalan di luar sini juga bukan punya lu semua. Kita sama-sama pintar, Komandan."
"Kau mengancam setelah menonton kami bertarung dua hari."
"Justru karena gue nonton, gue tahu lu punya stok banyak. Dan gue tahu orang lu capek."
Beberapa anak buah Si Preman tertawa. Tawa itu terlalu keras, terlalu dibuat-buat.
Hendry berhenti tepat di balik gerbang.
"Buka."
Fajar menatapnya. "Pak?"
"Buka."
Gerbang utama terbuka dengan suara besi berat. Si Preman mengangkat alis, jelas tidak menyangka Hendry akan keluar sendiri.
Raja bergerak ikut.
"Tunggu," kata Hendry.
Raja berhenti, tetapi listrik di giginya makin padat.
Hendry berjalan keluar tanpa parang terangkat. Ia berhenti tiga langkah dari Si Preman. Dari jarak itu, bau keringat, darah lama, dan rokok basi dari tubuh pria besar itu terasa jelas.
Si Preman menepuk tongkat ke bahu. "Nah, begini. Gue suka orang berani."
"Kau mau Kristal?"
"Setengah."
Hendry mengangkat tangan kiri.
Udara melengkung.
Senyum Si Preman masih ada ketika bola ruang sebesar kepalan tangan terbentuk. Mungkin ia mengira itu ancaman untuk menakutinya. Mungkin ia terlalu percaya pada tubuh besarnya. Mungkin ia belum paham bahwa Hendry tidak pernah mengangkat senjata untuk tawar-menawar.
"Gue kasih satu."
Spatial Orb melesat.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada teriakan panjang.
Dada Si Preman tiba-tiba terlipat ke dalam. Tongkatnya jatuh lebih dulu, lalu tubuhnya mundur setengah langkah dengan lubang menganga di tengah dada. Matanya membelalak, senyum di wajahnya belum sempat berubah menjadi takut.
Ia roboh.
Pemimpin tiga puluh lebih orang itu mati sebelum darahnya menyentuh tanah.
Hening jatuh seperti batu.
Hendry menatap mayatnya. "Nego selesai."
Anak buah Si Preman pecah.
Sebagian berbalik lari. Sebagian mengangkat senjata dengan tangan gemetar. Satu orang mencoba menarik ketapel logam. Ia belum sempat memasang batu ketika Raja menghilang dari sisi gerbang.
Lightning Flash.
Tubuh anjing hitam itu berubah menjadi garis biru pendek. Dalam sekejap ia muncul di depan pria ketapel, menggigit pergelangan tangannya tanpa memutuskan tangan, lalu menyambar ke kaki orang kedua. Listrik membuat dua orang jatuh ke aspal sambil kejang.
Bagus dan Fajar bergerak.
"Yang buang senjata hidup!" teriak Fajar. "Yang lari sambil bawa senjata ditembak atau digigit!"
Bagus menabrak dua orang sekaligus, linggisnya menghantam tanah tepat di depan wajah mereka. "Dengar tuh! Gue lagi capek, jangan bikin gue olahraga!"
Sepuluh orang menjatuhkan senjata dalam waktu kurang dari satu menit.
Yang lain kabur tanpa menoleh.
Hendry tidak mengejar semuanya. Orang tanpa pemimpin dan tanpa keberanian akan menyebarkan cerita lebih baik daripada mayat. Cerita tentang Si Preman yang meminta setengah Kristal lalu menerima satu lubang di dada.
Ia menoleh kepada Fajar. "Ikat sepuluh orang itu. Pisahkan. Catat nama, kemampuan, dan apa yang mereka tahu."
"Siap, Pak Hendry."
Raja kembali ke sisi Hendry dengan langkah bangga.
Hendry meliriknya. "Lightning Flash?"
Raja menggonggong sekali, dada membusung.
"Jangan sombong. Kau hampir menggigit terlalu dalam."
Raja memalingkan wajah, pura-pura tidak dengar.
Di belakang gerbang, anggota base tidak bersorak.
Mereka terlalu terkejut.
Dua hari lalu mereka melihat Hendry membunuh zombie dengan presisi. Hari ini mereka melihat bahwa ancaman manusia bisa selesai lebih cepat lagi jika ia memutuskan tidak memberi ruang.
Rasa aman naik.
Rasa takut juga naik.
Hendry membiarkan keduanya tumbuh bersama.
Sore itu, setelah mayat Si Preman dibuang jauh dari gerbang dan sepuluh tawanan dikunci di garasi luar, Hendry memanggil seluruh anggota base ke halaman.
Crystal Susanto berdiri di baris tengah. Wajahnya pucat, tetapi senyumnya tetap berusaha hidup. Mungkin ia berpikir pertemuan ini tentang Si Preman. Mungkin ia pikir setelah ancaman luar selesai, orang akan lupa pada bisik-bisik kecil di dalam.
Hendry berdiri di depan papan kerja.
Di sampingnya ada Cahaya dengan buku distribusi. Melati berdiri dengan tiga anggota baru yang pernah mendengar kalimat Crystal. Fajar membawa catatan kontak. Mawar berdiri sedikit di belakang, wajahnya tenang tetapi matanya berat.
"Base ini punya satu aturan yang lebih mahal daripada makanan," kata Hendry. "Kepercayaan."
Halaman sunyi.
"Dua hari terakhir ada isu bahwa aku sengaja membuat anggota baru kelaparan, menyembunyikan stok, dan memberi makan Raja lebih baik daripada anak-anak."
Beberapa orang menunduk.
Crystal ikut menunduk, gerakannya tepat seperti orang malu mendengar fitnah orang lain.
Hendry menunjuk Cahaya.
Cahaya membuka buku. "Catatan distribusi tiga hari terakhir: anak-anak dan luka sedang mendapat porsi pemulihan dua kali sehari. Porsi tempur diberikan kepada patroli, pengangkut mayat zombie, penjaga malam, dan tim barikade. Raja mendapat daging dari stok tempur karena fungsi patroli malam, deteksi, dan combat. Tidak ada pengurangan porsi anak-anak untuk Raja."
Hendry menatap barisan. "Siapa yang pertama menyebut anak-anak dikurangi karena Raja?"
Tidak ada yang bicara.
Melati maju. "Aku punya tiga saksi."
Tiga anggota baru maju dengan gelisah. Mereka tidak berani menatap Crystal.
Yang pertama bicara pelan. "Crystal bilang... dia kasihan sama anak-anak yang cuma makan bubur waktu Raja makan daging."
Yang kedua menambahkan, "Dia tidak bilang Bos jahat. Tapi setelah itu kami jadi mikir sendiri."
Yang ketiga menggenggam ujung baju. "Dia juga bilang kalau dekat dengan orang kuat, hidup bisa lebih aman. Dia bilang Mawar beruntung."
Semua mata pindah ke Crystal.
Senyum Crystal akhirnya jatuh.
"Aku cuma bicara biasa," katanya cepat. "Aku tidak bermaksud membuat masalah. Aku healing orang, aku bantu, aku cuma..."
Fajar membuka catatan. "Tujuh orang yang menerima healing kecil dari Crystal kemudian ikut membahas isu porsi. Empat di antaranya mendengar kalimat yang sama: 'orang dekat pusat pasti lebih aman.'"
Crystal mundur satu langkah. "Kalian salah paham."
Hendry menatapnya tanpa emosi. "Tidak. Kau terlalu paham."
Wajah Crystal memerah. Air mata muncul cepat, tetapi kali ini tidak ada yang bergerak memeluknya.
"Hendry!" suaranya pecah. "Aku cuma ingin kamu melihat aku! Aku punya Light Power juga. Aku bisa berguna. Kenapa semua orang melihat Mawar? Kenapa dia boleh dekat denganmu, sementara aku harus tidur di barak dan makan seperti orang biasa?"
Mawar memejamkan mata sebentar.
Melati hampir maju, tetapi Mawar menahan lengannya.
Hendry berkata pelan, "Karena Mawar tidak pernah menjual kepercayaan orang untuk naik posisi."
Crystal terdiam.
"Di dunia ini, makanan bisa dicari. Kristal bisa direbut. Senjata bisa dibuat. Tapi kepercayaan yang sudah dirusak membuat satu base mati dari dalam." Hendry menunjuk gerbang. "Kau keluar. Sekarang. Satu botol air, satu bungkus biskuit. Tidak ada senjata."
Crystal menatap orang-orang di sekeliling. Ia mencari simpati.
Tidak ada yang maju.
Bukan karena mereka semua membencinya.
Tetapi karena catatan, saksi, dan timing yang dibuka di depan semua orang membuat wajah manisnya tidak lagi cukup.
Salah satu perempuan yang kemarin sempat dibantu Crystal menutup luka di jarinya pelan-pelan. Wajahnya pucat karena malu. Seorang pria dari rombongan Griya Lestari menunduk lebih dalam, lalu menggeser tubuhnya menjauh dari Crystal tanpa disuruh.
Gerakan kecil itu lebih menyakitkan daripada makian.
Crystal akhirnya mengerti bahwa simpati yang ia kumpulkan dengan healing ringan tidak cukup kuat melawan bukti yang dibuka satu per satu.
Hendry membiarkan semua orang melihat momen itu.
Base ini harus paham: kebaikan yang dipakai sebagai kail tetaplah perangkap.
Mawar akhirnya bicara. "Crystal, pergilah sebelum lebih buruk."
Crystal menatap Mawar dengan benci yang tidak sempat disembunyikan. Lalu ia mengambil botol air dan biskuit yang diberikan Fajar, berbalik, dan berjalan keluar dari gerbang kecil.
Malam turun.
Base kembali bekerja, tetapi udara terasa berbeda. Lebih bersih, meski lebih keras.
Di ruang kerja, Nasi tiba-tiba menggeram ke arah gerbang luar.
Hendry yang sedang membaca daftar tawanan mengangkat mata.
Raja sudah berdiri.
Tidak perlu kalimat panjang. Nasi menatap Hendry, lalu ke arah luar. Dalam peringatan kecil itu, Hendry memahami cukup banyak: Crystal belum selesai. Ia akan mencari orang, kembali dengan dendam, dan membawa masalah ke pintu yang baru dibersihkan.
Hendry menatap Raja.
"Jangan berisik."
Raja menghilang ke malam seperti bayangan hitam yang membawa petir di bawah kulit.
Tidak ada teriakan malam itu.
Hanya jauh di luar perimeter, sekali saja, cahaya biru pendek menyala di balik pagar rumah kosong. Setelah itu Raja kembali, mengguncang bulu seolah baru selesai berjalan di bawah gerimis.
Mawar melihat dari ujung koridor.
Ia tidak bertanya.
Hendry juga tidak menjelaskan.
Beberapa keputusan di akhir dunia tidak dibuat untuk membuat hati ringan. Keputusan itu dibuat agar orang yang masih hidup bisa melihat pagi berikutnya.
Pagi berikutnya, Fajar datang dengan laporan baru.
"Pak Hendry, dari sepuluh tawanan Si Preman, ada satu orang minta bicara langsung. Namanya Dingin Halim."
Hendry meletakkan gelas. "Kemampuan?"
"Katanya Level 2, penguatan tubuh tanpa elemen jelas. Tapi bukan itu yang penting." Fajar menelan ludah, lalu membuka kain kecil di tangannya.
Di atas kain itu ada sebuah Kristal.
Warnanya lebih pekat, lebih berat, dan tekanan energinya membuat udara di ruang kerja terasa dingin.
"Dia bilang mau menyerahkan ini sebagai tanda kesetiaan."
Mata Hendry menyipit.
"Kristal Level 6."