Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transaksi Berbahaya
Dengan menggunakan taxi boat, Kenzo berangkat menuju El Port de la Selva. Dia akan menemui Hector lagi. Temannya itu yang akan membantunya masuk ke Verentis Sentral.
Perjalanan melalui jalur laut tidak memakan waktu banyak. Hanya berkisar 30 menit, taxi boat yang ditumpangi Kenzo sudah sampai di El Port de la Selva.
El Port de la Selva merupakan kawasan perbandaran dan desa nelayan yang terletak di wilayah Catalonia, Spanyol. Semilir angin khas tramuntana dapat Kenzo rasakan ketika sampai di desa yang tenang ini.
Tramuntana adalah angin utara yang khas di wilayah Costa Brava dan Pyrenees, terutama di Cadaques, El Port de la Selva dan Cap de Creus.
Sifat angin ini kencang, kering dan dingin. Efeknya membuat langit berwarna biru bersih karena awan atau debu tersapu semua karena hembusan angin ini. Namun akibatnya bisa menyebabkan ombak besar dan kapal tidak bisa melintas.
Dari kejauhan, Kenzo bisa melihat deretan rumah bercat putih dengan jendela biru, menempel di bukit. Gentengnya yang berwarna oranye, tampak bertumpuk, membuatnya sekilas seperti anak tangga menuju Sant Pere de Rodes. Sebuah biara yang berdiri kokoh di atas bukit.
Pria itu masih bertahan di dermaga, tempatnya janji bertemu dengan Hector. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Baru ada beberapa nelayan saja yang tengah membereskan jaring. Salah satunya berteriak menggunakan bahasa katalan pada temannya.
“Kenzo!”
Kepala Kenzo menoleh ketika mendengar suara Hector. Temannya itu berjalan mendekat. Penampilannya terlihat santai. Celana kargo selutut, kemeja pantai dan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Jika melihat penampilannya sekarang, tidak ada yang tahu kalau dulunya pria itu adalah salah satu agen CNI atau Badan Intelijen Spanyol terbaik.
“Apa kamu yakin kalau temanmu berada di Verentis Sentral?”
“Ya, dia tertangkap kamera di sana.”
“Apa Armin yang membantumu?”
“Tentu saja.”
“Dia benar-benar ahli IT yang andal. Baiklah, kalau informasi itu berasal darinya, aku percaya kalau orang yang kamu cari benar berada di sana.”
“Kamu benar bisa memasukkanku ke sana?”
“Tentu saja. Tapi harus mengikuti jalur biasa karena Verentis sangat ketat. Mungkin memakan waktu sekitar dua sampai tiga minggu untuk penyidikan dan persidangan.”
“Apa tidak bisa dipercepat?”
“Sorry, Ken. Tapi mungkin proses persidangannya bisa dipercepat.”
“Baiklah.”
Tiga minggu adalah waktu yang cukup lama. Kenzo hanya berharap Kael bisa bertahan sampai dirinya tiba di sana.
Walau tahu kemampuan Kael cukup baik bahkan bisa dibilang setara dengan Agam, nalurinya sebagai ayah tetap saja mengkhawatirkannya.
“Kamu akan beraksi malam ini supaya prosesnya lebih cepat. Baiknya kita bicarakan rencananya sambil makan.”
Hector mengajak Kenzo menuju rumah makan yang menyajikan seafood di dekat dermaga.
Sambil makan, pria itu mengatakan rencananya malam ini untuk Kenzo. Rencananya dia akan menyusupkan Kenzo ke dalam kartel narkoba yang akhir-akhir ini sedang beroperasi di Verentis. Cero Testigos adalah nama kartel yang akan disusupi oleh Kenzo.
Kartel ini sudah menjadi incaran kepolisian dan SIV, Dinas Intelijen Verentis. Hector juga sudah menghubungi salah satu temannya yang masih aktif di SIV untuk mengatur Kenzo masuk ke Verentis Sentral dan keluar dari sana.
“Sore ini kita akan menyebrang ke Port Caleus. Aksinya juga akan berada di sekitar pelabuhan. Kamu akan menjadi kurir yang dikirimkan Cero Testigos untuk bertemu dengan perantara dan pembeli di Verentis.”
“Apa tidak akan ada yang curiga padaku?”
“Tenang saja. Aku sudah mengaturnya. Cero Testigos memang selalu merekrut orang baru sebagai kurir. Itu untuk pencegahan jika terjadi sesuatu saat transaksi, tidak melibatkan Cero Testigos.
Ibaratnya kamu adalah kurir lepas mereka. Kamu hidup atau mati, tidak ada hubungan dengan mereka.”
“Oke.”
“Ingat, Cero Testigos pakai koin 96 sebagai kode transaksi. Tahun di mana perang sipil Verentis terjadi.”
“Sip.”
***
Sejak pukul delapan malam, baik Kenzo maupun Hector sudah berada di Port Caleus. Tersisa dua jam lagi waktu untuk melakukan transaksi. Rencananya transaksi akan dilakukan di sebuah gudang penyimpanan ikan.
“Kamu akan bertemu dengan perantara, namanya Bruno. Nanti dia yang akan membawamu menemui pembeli di sini.”
“Apa pembelinya kartel narkoba juga?”
“Ya. Baru berdiri tiga tahun. Bisnisnya belum sebesar Cero Testigos, tapi cukup potensial. Kalau dibiarkan, bisa menjadi kartel besar nantinya.”
“Apa nama kartelnya?”
“La Corona Negra.”
Kenzo menyeruput kopi hitam yang panasnya mulai berkurang sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Mendekati waktu pertemuan dengan Bruno, Kenzo segera bergerak menuju lokasi yang sudah ditentukan dengan koper kecil di tangannya. Setibanya di lokasi, pria itu menaruh tas kecil di atas drum yang ada di dekatnya. Kemudian dia membakar rokoknya.
Baru dua kali hisapan, pria yang ditunggunya muncul. Kenzo membuang rokoknya yang masih panjang kemudian menginjaknya.
Dengan langkah pelan Bruno mendekati Kenzo. Matanya menelisik pria di depannya dari atas sampai bawah. Dari saku celananya, Bruno mengeluarkan koin Verentis tahun 1996.
Sambil tersenyum miring, Kenzo mengambil koin dari tangan Bruno. Kemudian pria itu membalikkan badan seraya berkata, “Sang!”
Ketika berbalik lagi, di tangan Kenzo sudah ada koper kecil yang dibawanya tadi. Dengan gerakan isyarat kepala, Bruno meminta Kenzo untuk mengikutinya. Pria itu membawa agen rahasia tersebut ke gedung tempat transaksi berlangsung.
Sesampainya di gudang, tiga anggota La Corona Negra sudah menunggunya. Wajah ketiganya terlihat sangar, ditambah lagi dengan pistol yang berada di pinggang masing-masing. Di dekat salah satunya terdapat koper yang di dalamnya berisi uang.
Kenzo menaruh koper kecil di atas meja yang ada di sana.Dibukanya koper tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa bungkusan berisi serbuk putih.
Salah satu anggota La Corona Negra bernama Pablo menusuk salah satu bungkusan berisi serbuk putih itu. Diambilnya sedikit serbuk putih itu lalu ditaruh di ujung lidahnya. Dia melihat pada dua rekannya sambil menganggukkan kepala.
Setelah yakin barang yang dibawa Kenzo asli, pria tadi membuka koper berisi uang. Jumlahnya sesuai dengan sudah disepakati.
Serentak keduanya menutup koper bersamaan kemudian saling bertukar koper. Di saat bersamaan, sebuah lampu tembak menyorot ke dalam gedung.
Sadar kalau mereka masuk ke dalam jebakan, kompak semuanya menodongkan senjata yang dibawanya. Hanya Bruno yang tidak memegang senjata.
Kenzo menodongkan dua senjatanya. Satu ditujukan pada Bruno, satu lagi ditujukan pada Pablo.
“Kalian menjebakku!” tuduh Kenzo.
“Tidak! Aku tidak menjebakmu. Mungkin kamu,” ujar Pablo sambil mengarahkan pistol pada Bruno.
Suasana di dalam gudang semakin tegang. Di luar sana, pihak kepolisian dan SIV semakin mendekati gudang.
Di tengah ketegangan yang penuh dengan kecurigaan, pasti ada salah satu pihak yang mencoba menarik keuntungan. Kenzo menarik napas panjang sejenak sambil menghitung kekuatan musuh, tiga lawan satu.
Mengingat sebentar lagi pihak berwajib akan datang, Pablo mencoba merebut koper yang ada di dekat Kenzo. Melihat gerak mencurigakan Pablo, Kenzo dengan cepat menarik koper berisi serbuk putih sambil menembak paha Pablo kemudian berlari menuju tumpukan peti tak jauh darinya.
Erang kesakitan pria itu langsung terdengar. Kedua teman Pablo langsung menembaki Kenzo. Bruno yang berada di tengah-tengah kekacauan, mencoba untuk kabur. Namun naas sebuah peluru yang ditembakkan teman Pablo mengenai kakinya. Pria itu terjatuh ke lantai.
Di saat bersamaan, dari arah pintu masuk gudang, muncul sepuluh personil kepolisian dan SIV.
***
Kalau sempat, aku up Alvin malam ini. Kalau nggak, besok ya🙏🏻
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏