BACAAN 18+ Harap tidak dibaca oleh yang di bawah umur tersebut.
Pernikahan Saras yang indah berubah mengerikan karena suaminya Aidan ternyata seorang monster galak. Lebih parah lagi Aidan dan Papanya menyimpan rahasia kelam terhadap Mama Aidan. Tapi kenapa Saras yang hidup tersiksa akhirnya bisa meraih bahagia? Yuk, baca biar gak penasaran....
PERINGATAN: Beberapa tokoh di novel ini tidak biasa. Jangan baper dengan tingkah Aidan dan Papanya yang raja tega. Masih ada tokoh Nerissa, Jhon dan Emaknya Jhon yang rada gila tapi lucu. Baca sampai habis biar tau serunya Emak si Jhon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26. Bu Wicaksono Menelpon Nerissa
JREEENGG!
Bu Wicaksono yang bernama asli Hanifah kaget membaca pesan itu. Ia terpaku pada kalimat ini.
Lari sekarang juga! Pergi ke tempat aman biar Tante gak ketangkap!
Bu Wicaksono tau ponakannya yang mengirim pesan itu tidak main-main. Karena ponakannya adalah salah satu orang kepercayaan Pak Argajaya!
Perempuan ini tau ia tak punya waktu banyak. Tanpa pikir panjang, si ibu buru-buru ke kamarnya mengambil tas pakaian kecil. Diisinya dengan beberapa pakaian dan baju dalam. Lantas ia mengambil dompet dan barang kecil lainnya yang penting.
Bergegas Bu Wicaksono segera lari keluar rumahnya lewat pintu belakang.
Tujuh menit kemudian ada 2 mobil sedan mewah berwarna hitam mulus berhenti di depan rumah sederhana milik Bu Wicaksono.
Pak Argajaya keluar dari mobil sedan yang di depan bersama Heru. Dari mobil belakang keluar Sam dan 3 security lainnya.
Pak Argajaya heran. Rumah itu kelihatan senyap.
“Kenapa rumah ini sepi?”
“Mungkin dia masak atau ngapain di belakang, Pak!” Sahut Heru.
“Cepat cari dan tangkap dia!” Perintah Pak Argajaya.
Sam dan Heru serta security segera menghambur ke arah rumah. Sam membuka pintu depan. Ternyata tak terkunci! Semua securtiy terus masuk ke dalam rumah.
Pak Argajaya memperhatikan dari luar dengan serius.
Tak berapa lama Sam, Heru dan 3 security muncul kembali dengan tangan kosong.
“Perempuan itu sudah gak ada di rumah ini, Pak…!” Lapor Sam.
“Hhuhhh!” Pak Argajaya curiga. “Apa dia tau kita akan kemari menangkapnya?”
“Sepertinya begitu, Pak. Dia pergi buru-buru!” kata Sam lagi.
“Kenapa dia bisa tau kita akan kesini?” Pak Argajaya sungguh bingung.
“Mungkin Bu Wicaksono belum jauh pergi dari rumah ini, Pak. Karena pintu belakang rumahnya
terbuka lebar. Sepertinya dia lari memotong jalan kampung!” tambah security lainnya.
Mata Pak Argajaya berbinar-binar mendengar ucapan itu. “Dia pasti menuju jalan besar. Kalau kita kejar dia pake mobil mungkin kita bisa menangkapnya!”
“Tapi ada dua jalan kecil yang bisa motong ke jalan besar sana, Pak.” Heru mengingatkan.
“Kamu benar… ” Pak Argajaya berpikir sejenak. “Ngg…. Gini aja. Kita bagi dua. Kamu Pandi ikut mobil saya! jadi kita bertiga di mobil saya mengejar perempuan itu . Kita akan jaga jalan yang diujung sungai.”
“Siap, Pak.” Kata Pandi.
“Sam dan kalian berdua jaga ujung jalan yang dekat mushola…! Jaga jangan sampai perempuan itu lolos lagi.”
“Siaapp…!” Sam dan anak buahnya menyahut dengan sigap.
*
Sambil menenteng tas, Bu Wicaksono buru-buru menyeberangi sungai kecil yang memotong ke arah kampung. Sungai itu airnya jernih, permukaannya dangkal dan berbatu. Ia bisa melewati sungai meski sendalnya basah dan bagian bawah pakaian yang dikenakannya ikut kuyup.
Terus melewati sebuah kebun sayur tetangganya yang ditanami selada dan wortel, Bu Wicaksono tiba di pemukiman kampung. Ia melewati gang kecil yang didiami beberapa teteangganya yang tinggal di rumah-rumah sederhana.
Bu Wicaksono terus berbelok ke jalan berbatu yang lebih besar. Ia tau jika terus menyusuri jalan itu maka ia akan tiba di jalan besar menuju Cipanas. Segera ia mempercepat langkah.
JREEENGG!
Di ujung jalan ada mobil sedan hitam terparkir! Bu Wicaksono kenal sekali kendaraan itu. Itu salah satu mobil Pak Argajaya.
Segera Bu Wicaksono balik badan. Ia lari ke gang kecil kembali dan melihat seorang ibu tetangganya sedang menyapu halaman.
“Permisi Bu,” Bu Wicaksono menyapa ramah. “Saya mau jalan ke depan, taunya kebelet pipis. Boleh saya numpang buang air kecil di kamar mandi ibu.”
Si ibu tetangga kenal Bu Wicaksono sebagai Bu Hanifah. Ia melihat sendal dan bagian bawah baju si ibu basah. “Kenapa bajunya basah Bu Hanifah?”
“Oh… nggg…tadi saya lewat sungai. Makanya sekarang kedinginan, mau pipis.”
Oh, Silakan kalau Bu Hanifah mau pipis. Masuk aja. Kamar mandinya di belakang.” Si ibu maklum. “Maaf ya, saya di depan. Tanggung ini nyapunya.”
“Oh iya, Gak apa Bu. Permisi ya saya ke kamar kecil.”
“Silakan.. silakan…”
Bu Hanifah segera masuk ke rumah itu dan menuju ke kamar mandi sederhana di belakang rumah.
Di kamar mandi Bu hanifah mengeluarkan hand phonenya. Ia mencari nomer hand phone seorang perempuan.
Ketemu!
Tertera nama Nerissa di situ. Bu Hanifah segera menghubungi nomer tersebut.
Telponnya segera tersambung. Tapi sayangnya belum diangkat oleh si penerima.
Bu Hanifah menunggu dengan tak sabaran.
Sementara di depan rumahnya, si ibu pemilik rumah tengah menyapu. Ia melihat 2 orang lelaki bertubuh tegap mendatangi. Kedua orang itu adalah Pandi dan Heru, security Pak Argajaya.
“Maaf, Bu?” Pandi menyapa. “Mungkin ibu lihat ada perempuan lewat sini? Namanya Bu Wicaksono?”
“Bu Wicaksono?” Si ibu berpikir. Kemudian ia menggeleng. “Enggak tau atuh Kang…”
Pandi kecewa. Heru menatap pandi. “Kita cari di tempat lain. Mungkin dia gak lewat sini.”
Kedua orang itu hendak pergi. Tiba-tiba si ibu memanggil.
“Kang….! Akaang…!”
Pandi dan Heru menoleh.
“Bu Wicaksono itu Bu hanifah ya? Kalo Bu hanifah mah ada di dalam rumah saya. Barusan dia numpang buang air kecil di belakang…!”
JREENGG!
Pandi dan Heru kaget.
Sementara Bu hanifah kaget mendengar omongan si ibu pemilik rumah. Dia segera keluar kamar mandi dan mengintip.
Bu hanifah kaget melihat kedua security di depan rumah. Diam-diam ia pun keluar rumah lewat belakang.
Adapun Pandi dan Heru masih kaget menatap si ibu pemilik rumah. “Ibu Wicaksono di dalam?!” Pandi menegaskan.
“Iya. tadi dia numpang buang air kecil, mungkin dia kedinginan karena sendal dan bajunya basah…”
“Permisi Bu, kami ada urusan dengan dia…!” Pandi langsung masuk rumah. Heru mengikuti Pandi.
Kedua orang itu masuk ke belakang dan melihat pintu kamar mandi terbuka. Mereka bergegas ke belakang dan melihat ada pintu ke arah luar pun terbuka lebar.
Pandi siaga. Ia keluar dan mengawasi sekitarnya. Heru mengikuti Pandi dengan cemas.
“Pasti bu Wicaksono masih di sekitar sini….!”
Pandi mencari-cari. Heru juga mencari-cari.
“Kamu cari ke kanan, aku cari kesini…” Pandi berinisiatif.
“Oke…” heru setuju.
Keduanya terus mencari. Pandi mencari ke arah kanan rumah.
JREENGG!
Heru yang mencari ke arah kiri, melihat bagian belakang tubuh seorang perempuan tengah ngumpet di balik semak-semak kembang sepatu.
Bu Wicaksono yang ngumpet tau ada orang mendatanginya. Ia menoleh!
“Aa…!” Bu Wicaksono mau menjerit. Tapi lelaki itu menutup mulut Bu Wicaksono buru-buru.
“Tante jangan bersuara! Aku akan atur biar Tante bisa kabur dari kejaran pak Argajaya.”
Bu Wicaksono alias Bu Hanifah mengangguk ke Heru. Ia percaya pada Heru karena Heru adalah ponakannya sendiri.
Terdengar suara Pandi mendekat. “Disini gak ada! Disitu ada gak?!”
Bu Wicaksono tegang mendengar pertanyaan itu. Heru yang ada di balik semak kembang sepatu berusaha menjawab santai. “Gak ada! Disini juga gak ada!”
“Apa dia sudah lari kesana?” Pandi menunjuk ke arah kebun di belakang.
Heru menyahut, “Sepertinya begitu.. Ayo kita cari kesana…!”
Pandi lari ke arah belakang.
Heru berbisik ke Bu hanifah. “Jalan samping dijaga juga sama anak buah pak Argajaya. Tante gak bisa keluar dari sini kecuali setelah malam. Kalau malam aku bisa nyuruh mereka semua kembali ke villa.”
Bu Hanifah mengangguk.
“Telpon Lady dan bilang Tante akan tinggal di rumahnya.” Kata Heru lagi.
BERSAMBUNG…….
kui si emak ganggu wae.
sak.e cah cah.. lgi panas panass.e diganggu.. gek Rasane wiiih Ra karuan.. sabaaar yaa narissa.🤭🤭
sambil nunggu Boss Barton Up lagi 🤗🤗🤗
emang dl gak pernah gituan gitu??