Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 25
Eva melirik kesini kananya, sosok datar yang sedang membaca dokumen dengan segelas teh itu tidak seperti sosok yang baru saja terkena tembakan panah.
Felix dengan tenang sejak pagi mengurus semua dokumen kerajaan, berkat sihir Eva luka Felix sembuh. walau itu sangat di curigai semua orang, tapi setidaknya Felix tetap aman.
Eva harusnya ada di kelas tata Krama, tapi karena insiden penyerangan belum jelas diketahui siapa, maka beberapa hari Eva di bebaskan kelas dan di minta untuk menemani Felix.
"jika anda melihat saya seperti itu terus, saya bisa mengira anda sudah jatuh hati pada saya" , Eva spontan tersedak.
Felix memberi senyum miring melihat reaksi eva, dia masih asik dengan dokumennya lagi. Tidak peduli tatapan tajam yang siap menghunuskan semuanya pada dirinya.
Eva menghela nafas, mencoba untuk tenang. Jika dia mengamuk pada Felix, itu akan jadi kegembiraan bagi sosok menyebalkan itu baginya.
Eva bangkit, mendekati beberapa tak buku, mata birunya seperti memindai, mencari sebuah buku yang bisa dia baca dengan tenang di ruang yang seperti sek tahanan baginya itu.
Jika dia tau kalau dia harus menemani Felix seperti itu, dia akan memilih membawa beberapa buku yang ada di kamarnya. walau di beberapa tidak mengikuti kelas, jiwa belajarnya dari dulu dan sekarang sama saja.
"kenapa bukunya di rak paling atas banget sih" pipi yang mulus menggelembung bagai tupai, dia paling benci lokasi buku tinggi.
Eva melirik, Felix masih diam di tempatnya sembari mengecek dokumen-dokumen kerajaan. hal yang mustahil baginya meminta tolong pada sosok yang bagai tiran itu.
Eva menatap buku itu dengan kesal lagi, jika dia mencoba mengambil dengan melompat, sudah di bayangkan wajah Felix yang akan meghinanya seperti apa.
eva terdiam saat sebuah tangan mencoba meraih buku yang dia inginkan, dan satunya seakan mengurung tubuhnya. aura yang dominan dari Felix seakan menyelimuti nya.
bola mata merah yang selalu dingin kini melihat ke arahnya, tatapan Felix tetap datar saat melihat lekat bola mata biru Eva.
Aroma lavender yang langkah dari Ilos dan bau buku yang tercampur bau khas Felix mengurung Eva. samar Felix bisa mencium bau teh yang masih menempel pada Eva.
"jika kau bosan, baca saja " Felix memberikan buku ke tangan Eva. "jika tidak sampai katakan padaku".
"terimakasih", rasa panas seperti muncul di pipi Eva merayap hingga telinganya.
Felix mengambil beberapa buku, dan kembali ke mejanya lagi. Matanya kembali menuju kertas dokumen yang harus dia selesaikan.
Eva Kembali duduk dan fokus ke bukunya, sensasi panas yang tadi dirasakan Eva masih terasa sedikit, membuat Felix tersenyum sangat tipis, bahkan senyum Felix tidak terlihat sedikitpun.
Suara ketukan membuat mereka kompak menoleh, Permaisuri melangkah dengan anggun di temani pelayan masuk ke ruang Felix.
Eva bangkit dan memberi hormat, Felix hanya melirik sejenak sebelum kembali mengurus dokumen nya. Hal yang sangat memperjelas hubungan buruk mereka .
"ya ampun nona Eva, seharusnya anda ada kelas kan. Jika anda tidak belajar dengan baik , takutnya Odelions akan punya permaisuri yang terlibat konyol di mata masyarakat kan". permaisuri melirik Felix.
Eva sadar itu untuk memprovokasi Felix dan dirinya, tapi Eva salut dengan ketenangan Felix mendengar kalimat itu. Wajahnya masih tetap datar dan dingin yang sama sebelum permaisuri masuk.
Raut datar Felix membuat permaisuri sedikit kesal, dia melirik Eva yang menatap Felix membuatnya sedikit senang karena apa yang dia lihat seperti Eva yang mencari pembelaan dari Felix, padahal Eva tidak mengharapkan pembelaan dari sosok tiran itu.
Karena dia harus mencari pelaku penculikan anak-anak Ilos, dan mencari tau tentang kemunculan sihir terlarang, sepertinya dia tidak bisa membantu permaisuri saat ini.
"Maaf yang mulia, jika anda permaisuri yang pintar, setidaknya hadiah dari keluarga saya bisa memberi paham anda saya bukan gadis biasa", permaisuri menatap Eva tidak percaya.
Felix terhenti menulis, melirik Eva yang menatap permaisuri dengan tenang. Dia mempertajam kan pendengarannya, kemungkinan Eva yang berkata seperti itu pada permaisuri adalah hal langkah yang akan jarang dia dengar.
Rahang permaisuri mengeras, dengan mata menatap kesal, jarinya meremas tidak terima akan ucapan Eva.
Permaisuri memang berusaha menolak fakta Eva berasal dari Ilos, hanya wanita Ilos yang memiliki tata Krama terbaik di pernah mendengar dari orang tuanya dulu saat tidak sengaja bertemu dengan wanita Ilos.
Kelas tata Krama dan administrasi sebetulnya tidak terlalu berlebihan karena keunggulan wanita Ilos adalah mudah belajar dalam waktu singkat, Terlebih kepribadian mereka yang baik bukanlah hal yang bisa di ragukan lagi jika ingin bersosial dengan masyarakat.
Eva tersenggal sopan, "ibunda permaisuri jika hendak protes dengan jadwal saya, bisa bilang ke calon suami saya. Karena dia yang akan jadi raja berikutnya dan suami saya, jadi anda bisa menyarankan untuk waktu belajar yang di hentikan sementara itu tetap di lanjutkan".
permaisuri hanya mendengus. sosok yang dia lihat seperti Felix dalam bentuk wanita. Sama-sama membuat nya kesal.
"jika permaisuri begitu luang, bukannya anda harus mengurus putra ',bungsu' anda yang belakangan ini suka berkeliaran di sekitar istana putri mahkota" Felix melirik tajam permaisuri.
Permaisuri tidak menjawab, wajahnya yang kesal karena Eva di tambah tau akhir-akhir ini putra kesayangannya nya di mana,.membuat pintu yang terbuka tenang tertutup dengan keras.
Eva melirik Felix tajam, wajahnya yang tenang berubah jadi serius melihat Felix yang kembali santai mengecek dokumen lagi.
"dia hanya berkeliling, jika dia berniat membunuh mu maka dia tidak akan berkeliaran seperti orang bodoh, itu bukan gaya anak itu". tanpa melihat, dia tau Eva hendak meminta penjelasan apa.
"setidaknya anda memberi tau saya dari awal bisa kan", Eva masih tidak terima selama ini di intai oleh adik Felix.
Felix tidak menjawab, rahang Eva mengeras kesal. Di kembali duduk dan membaca lagi, tidak lupa dengan makian di dalam hati untuk Felix.
Felix menatap dokumen dalam diam, matanya terpejam sejenak. Debaran jantungnya seakan ingin meledakkannya, nafasnya sedikit memberat dan panas.
Wajah kesal Eva berubah ketika merasakan hawa panas menusuk kulitnya, dia menatap Felix yang menunduk di tempatnya.
Eva beranjak, mendekat ke arah Felix hawa sekitar Felix lebih panas lagi. Tubuh pria itu bagai lava yang menyala-nyala, Eva menyentuh kening Felix, membuat pria itu tersentak merasakan sesuatu menekan keningnya.
"ini bukan efek pertentangan sihir dan aura yang pernah papa bilang kan?" batin Eva tidak tenang.
Eva memapah Felix menuju sofa dan membaringkan tubuh Felix, membantai dengan nyaman agar Felix tenang berbaring.
Eva sedikit memeriksa tubuh Felix dengan metode dasar. Akan bahaya jika Felix melihatnya memakai sihir, dia bisa saja_
Tangan Felix menggenggam tangan Eva erat, sosok dingin itu hilang, wajah datarnya berubah sedetik itu.
Mata yang berkaca-kaca, menahan sakit yang seakan kapan saja membunuh nya, tapi ada tatapan lain disana.
"mama", lirih tapi pilu. Itu yang keluar dari Felix.
"kau ingin saya panggil kan permaisuri?", Eva siap lari mengejar permaisuri batal.
Tangan kekar itu melingkar di pinggangnya dengan posesif, wajahnya terbenam di ceruk leher Eva membuat gadis itu merasakan bara api di bahunya.
"jangan pergi", pelan tapi pilu.
Nada yang seakan mereka akan menghilangkan, wajahnya penuh pilu, bahkan sorot mata merahnya terlihat penuh menahan luka. Kemana wajah datar dan senyum sinis itu, dimana tatapan merendah dengan nada menyebalkan yang biasa dia dengar.
"apa yang sebenarnya terjadi disini?" herannya.
...****************...