Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25: Empty Praise
Amorette dan Algernon berjalan beriringan menuju ruang makan utama Istana Elowen, tempat yang kini terasa sangat lengang dan sunyi. Raja Julius serta Ratu Mirelle sudah selesai menyantap hidangan mereka sejak pukul dua belas siang, meninggalkan ruangan luas itu hanya diisi oleh aroma sisa masakan yang mulai mendingin dan keheningan yang menyelimuti perabotan megah di sana.
Mereka berdua duduk berhadapan di salah satu ujung meja panjang, wajah mereka masih tampak segar meski lelah, dan obrolan mereka mengalir santai diiringi tawa kecil. Mereka saling menyindir satu sama lain tentang kekacauan yang terjadi saat berlatih, membahas perkembangan sihir gabungan mereka, dan berspekulasi tentang langkah apa yang harus diambil selanjutnya, seolah tidak ada beban berat yang membebani pikiran mereka.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Belum lama mereka mengobrol, langkah ringan terdengar mendekat dari arah pintu masuk. Elarise muncul dengan senyum yang selalu ia pasang—senyum yang terlihat manis namun di baliknya tersimpan niat mengganggu yang kuat. Ia berjalan mendekati meja mereka dengan sikap santai, lalu duduk begitu saja di kursi kosong di sebelah Algernon tanpa diminta. Mulutnya tak henti berbicara, mengocehkan berbagai hal yang sebenarnya tidak penting dan sama sekali tidak relevan, namun diucapkannya seolah hal itu adalah topik paling menarik di dunia.
Ia terus bercerita tentang bunga-bunga indah yang baru saja mekar di taman istana, tentang betapa halus dan lembutnya kain gaun yang baru saja ia pesan dari penjahit istana, tentang bagaimana indahnya pemandangan dari jendela kamarnya, hingga berlanjut membicarakan kucing peliharaannya yang lucu namun manja. Ia menyelipkan pujian-pujian berlebihan pada dirinya sendiri, berharap bisa menarik perhatian Algernon dan memutus keakraban yang terjalin begitu hangat antara pemuda itu dan Amorette. Setiap kali Amorette atau Algernon mencoba mengalihkan topik, Elarise dengan cekatan kembali membawanya ke hal-hal remeh yang hanya berputar di sekeliling dirinya sendiri, membuat suasana yang tadinya menyenangkan perlahan berubah menjadi menjengkelkan.
Tak lama berselang, beberapa pelayan masuk membawa nampan berisi hidangan makan siang yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan lauk-pauk, roti, dan minuman segar yang disiapkan khusus untuk Amorette dan Algernon. Saat meletakkan piring-piring itu di meja, salah satu pelayan melihat kehadiran Elarise dan dengan sopan bertanya apakah Putri itu juga ingin disiapkan makanan atau sekadar minuman saja.
Elarise menggeleng pelan sambil tersenyum ramah, menjawab bahwa ia sudah makan kue-kue manis sebelumnya dan sama sekali tidak merasa lapar, padahal tujuan utamanya hanya satu: tetap berada di sana, mengganggu, dan memastikan mereka berdua tidak bisa menikmati waktu makan dengan tenang.
Keberadaan Elarise yang terus-menerus berbicara, bertanya hal-hal tak berarti, dan melontarkan komentar-komentar yang tidak perlu membuat makanan lezat yang ada di hadapan Amorette dan Algernon seketika terasa hambar dan tidak memiliki rasa sama sekali. Setiap suapan yang masuk terasa berat, dan percakapan hangat mereka kini berubah menjadi jawaban singkat dan dingin karena terus terpotong oleh ocehan Elarise.
Di tengah keheningan yang kaku itu, Elarise kembali membuka mulutnya, kali ini dengan nada suara yang lebih lembut dan manja, sengaja ditujukan langsung kepada Algernon. Ia menatap pemuda itu dengan pandangan kagum yang dibuat-buat, lalu berujar dengan suara yang agak dikeraskan sedikit agar terdengar jelas, “Sebenarnya aku selalu berpikir, Algernon. Kau begitu cerdas, begitu kuat, begitu berwibawa dan bijaksana. Semua orang mengagumimu, dan kau memiliki segala kualitas terbaik yang dimiliki seorang pemimpin. Menurutku, kau jauh lebih hebat dibandingkan siapa pun di Kerajaan Remington. Bahkan rasanya sangat pantas dan wajar jika kelak kaulah yang akan menjadi Raja di sana, bukan orang lain. Kau lah yang paling berhak duduk di takhta itu dan memimpin negeri itu dengan hebat.”
Ucapan itu terdengar memuji, namun terselip maksud tersembunyi yang berbahaya—seolah-olah sedang menanamkan benih pemberontakan atau ketidakpuasan terhadap aturan suksesi takhta di negerinya. Algernon berhenti mengunyah seketika. Ia meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan di atas meja, menatap Elarise dengan tatapan yang datar namun dingin dan tajam. “Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang pantas atau layak untuk dibicarakan di meja makan, apalagi di tempat ini,” jawabnya tegas dan singkat, nadanya tidak menyisakan ruang untuk bantahan atau obrolan lanjutan mengenai hal itu.
Merasa sangat kesal karena terus-menerus diganggu dan merasa batas kesabarannya sudah habis, Algernon bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan tenang namun penuh penolakan. Ia tidak lagi melirik ke arah Elarise, melainkan menoleh ke arah pelayan yang masih berdiri agak jauh. “Antarkan sisa makanan saya ke kamar tamu saya. Saya akan menyelesaikannya di sana,” perintahnya dengan nada suara yang tenang namun berwibawa. Tanpa menunggu jawaban atau berpamitan lebih lanjut, ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan itu, menjauh dari kehadiran Elarise yang begitu mengganggu.
Di sisi lain meja, Amorette hanya duduk diam dan memperhatikan semuanya. Di sudut bibirnya terukir senyum tipis yang sulit ditangkap maknanya, namun ada rasa puas yang samar tersirat di sana. Ia merasa sangat terhibur melihat bagaimana Elarise diperlakukan sedemikian rupa—diabaikan dan ditolak oleh orang yang ingin ia dekati mati-matian.
Amorette mengerti betul apa maksud dan tujuan di balik setiap perkataan serta tingkah laku adiknya itu. Ia tahu Elarise ingin merusak hubungan baiknya dengan Algernon, ingin menjatuhkan nama baik mereka, dan ingin merebut segala sesuatu yang berharga dari tangannya. Namun, Amorette sudah mengambil keputusan tegas dalam hatinya; ia sudah mengetahui rencana licik itu sejak awal, dan ia sama sekali tidak akan membiarkan rencana jahat itu terwujud dengan mudah. Ia akan tetap berdiri tegak, melindungi apa yang menjadi haknya dan apa yang sedang ia bangun, membiarkan Elarise sibuk dengan kecemburuan dan usahanya yang sia-sia itu.