Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Rahasia yang Terkubur Dua Puluh Tahun
Suasana ruang keluarga mendadak berubah sunyi.
Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara setelah pengakuan Alexander.
Naya masih memegang foto lama itu dengan jemari gemetar.
Matanya terus menatap wajah wanita muda yang sangat mirip dengannya.
Semakin lama diperhatikan, semakin sulit baginya menyangkal kemiripan tersebut.
"Ini tidak mungkin..."
Suara Naya terdengar lirih.
Alexander tetap berdiri tenang.
"Saya tahu ini sulit dipercaya."
Adrian yang sejak tadi mengamati situasi akhirnya membuka suara.
"Aku ingin penjelasan yang jelas."
Nada bicaranya tenang.
Namun semua orang tahu bahwa Adrian sedang menahan banyak pertanyaan.
Alexander mengangguk pelan.
"Tentu."
Pria itu memandang Ibu Rahayu.
Tatapannya berubah serius.
"Sebelum saya menjelaskan semuanya, saya ingin memastikan satu hal."
Ruangan kembali hening.
"Apakah Ibu Rahayu masih mengingat nama Kirana?"
Tubuh wanita tua itu langsung menegang.
Air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya.
Naya yang melihat reaksi tersebut mulai merasa cemas.
"Ibu?"
Ibu Rahayu menundukkan kepala.
Tangannya bergetar di atas pangkuan.
Sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu.
Namun nama itu ternyata masih mampu mengguncang seluruh pertahanannya.
"Aku mengingatnya..."
Suara wanita tua itu hampir tidak terdengar.
Alexander mengembuskan napas panjang.
Berarti informasi yang selama ini ia kumpulkan memang benar.
Naya menatap ibunya dengan bingung.
"Ibu, siapa Kirana sebenarnya?"
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara napas yang mulai tidak teratur.
Adrian segera mendekat.
"Bu, tenang."
Pria itu memberi isyarat kepada perawat untuk menyiapkan air minum.
Setelah kondisi wanita tua itu sedikit membaik, akhirnya ia mengangkat wajahnya.
Matanya terlihat merah.
"Kirana adalah putri pertama Ibu."
Kalimat itu membuat dunia Naya seolah berhenti berputar.
"Apa?"
Naya berdiri perlahan.
Tubuhnya terasa lemas.
"Putri pertama?"
Air mata mulai mengalir di wajahnya.
"Lalu... saya?"
"Kamu putri kedua Ibu."
Ruangan kembali hening.
Dimas yang berdiri tidak jauh dari sana ikut terkejut.
Selama ini ia telah menyelidiki latar belakang Naya.
Namun tidak pernah menemukan informasi mengenai saudara kandung.
Naya menggeleng pelan.
"Tidak mungkin."
Suara wanita itu bergetar.
"Kenapa selama ini saya tidak pernah tahu?"
Ibu Rahayu memejamkan mata.
Air mata jatuh di pipinya.
"Karena Ibu kehilangan Kirana saat usianya masih kecil."
Napas Naya tercekat.
"Kehilangan?"
Alexander melanjutkan penjelasan.
"Dua puluh dua tahun lalu terjadi sebuah peristiwa yang mengubah hidup keluarga kalian."
Tatapan Adrian berubah tajam.
"Peristiwa apa?"
Alexander mengeluarkan sebuah map tua dari tas kerjanya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen dan foto lama.
"Seseorang membawa Kirana pergi."
Wajah Ibu Rahayu langsung pucat.
Seolah luka lama yang selama ini terkubur kembali terbuka.
Naya merasakan dadanya mulai sesak.
"Siapa yang membawa Kak Kirana?"
Alexander terdiam sesaat.
Kemudian menjawab perlahan.
"Itulah alasan saya datang ke Indonesia."
Tatapan pria itu berpindah kepada Adrian.
"Ada orang yang selama ini berusaha memastikan rahasia ini tidak pernah terungkap."
Sorot mata Adrian langsung berubah dingin.
"Siapa?"
Alexander menatap mereka satu per satu.
Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.
"Orang itu masih hidup."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Karena mereka semua menyadari satu hal.
Rahasia masa lalu yang selama puluhan tahun terkubur ternyata belum benar-benar berakhir.
Dan seseorang yang terlibat di dalamnya mungkin masih mengawasi mereka hingga hari ini.
Sementara itu, jauh di tempat lain.
Seorang pria paruh baya sedang duduk di dalam ruang kerja yang gelap.
Di atas mejanya tergeletak sebuah foto lama.
Foto dua anak perempuan kecil yang sedang tersenyum.
Pria itu menatap layar ponselnya.
Di sana terlihat laporan singkat.
"Alexander Wijaya telah bertemu keluarga Naya."
Rahang pria itu mengeras.
Tanpa ragu, ia merobek foto lama tersebut menjadi beberapa bagian.
"Lupakan masa lalu."
Suara dinginnya bergema di ruangan.
"Rahasia itu harus tetap terkubur."
Namun tanpa ia sadari...
Pintu yang selama ini terkunci rapat perlahan mulai terbuka.
Dan kebenaran yang selama puluhan tahun disembunyikan kini semakin dekat untuk terungkap.
Bersambung...