Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam itu, hujan turun rintik-rintik membasahi jendela kaca apartemen mewah kami. Aku baru saja selesai mandi, mengenakan piyama satin berwarna *navy*, dan sedang mengeringkan rambut di depan cermin meja rias.
Saat menatap pantulan wajahku sendiri, pandanganku tanpa sadar jatuh pada bibirku. Ingatan tentang kejadian siang tadi di ruang kerja Arkan mendadak berputar bagai film layar tancap di kepalaku. Ciuman itu. Ciuman yang dalam, memabukkan, dan sangat... kurang ajar!
Tunggu sebentar.
Mataku terbelalak lebar. Sisir di tanganku nyaris terjatuh. Otakku yang biasanya cerdas merancang strategi pemasaran tiba-tiba seolah baru saja dire-boot ulang.
"Arkan sudah menciumku. Lagi," gumamku pada pantulan diriku di cermin. "Di mal, di kantor, di apartemen... pria itu sudah menciumku berkali-kali!"
Aku menepuk jidatku dengan keras. Di mana harga diriku?! Aku, Naura, wanita independen yang bersumpah tidak akan tunduk pada pesona bos arogan yang menikahiku hanya karena perjodohan bisnis, justru membiarkan diriku terbuai begitu saja!
Aku bergegas berlari ke arah brankas kecil di sudut lemari pakaian, memutar kombinasi angka, dan mengeluarkan sebuah map cokelat yang sudah mulai berdebu. Map itu berisi Dokumen Perjanjian Pernikahan kami. Dokumen sakral yang kami tanda tangani tepat tiga hari sebelum akad nikah, di hadapan Hadi yang saat itu bertindak sebagai saksi yang kebingungan.
Aku membuka halaman kedua, memelototi rentetan kalimat legal yang dicetak tebal.
> **Pasal 4 Ayat 2: Pihak Pertama (Arkan Mahendra) dan Pihak Kedua (Naura) sepakat untuk tidak melakukan kontak fisik yang bersifat intim (termasuk namun tidak terbatas pada: pelukan romantis, ciuman, dan hubungan suami istri) kecuali jika diwajibkan oleh situasi publik demi menjaga citra perusahaan, dan harus dengan persetujuan lisan kedua belah pihak sebelumnya.*
"Persetujuan lisan dari mana?!" pekikku tertahan. "Pria itu main sosor seperti angsa kelaparan tanpa aba-aba!"
Tidak bisa dibiarkan. Jika aku terus membiarkan Arkan melanggar kontrak ini dengan dalih 'menjaga aset' atau 'hak paten', dia akan berpikir bahwa aku sudah takluk sepenuhnya. Gengsiku sebagai istri tidak mengizinkan hal itu terjadi. Malam ini, supremasi hukum di apartemen ini harus ditegakkan. Arkan harus diadili.
Dengan langkah tegap penuh tekad, aku berjalan menuju ruang tengah. Aku memindahkan meja kopi dari kaca itu ke tengah ruangan, meletakkan dokumen perjanjian pernikahan di atasnya, lalu mengambil sebuah kacamata baca berbingkai hitam milikku untuk memberikan efek intimidasi intelektual. Sebagai sentuhan akhir, aku berlari ke dapur dan mengambil sebuah spatula kayu untuk dijadikan palu sidang.
Aku duduk bersedekap di sofa tunggal, menunggu sang terdakwa pulang dari panggilan konferensi video dengan investor Eropa.
Tiga puluh menit kemudian, pintu ruang kerja Arkan terbuka. Ia melangkah keluar sambil melonggarkan dasinya, tampak lelah namun ketampanannya sama sekali tidak berkurang. Rambutnya sedikit berantakan, memberikan kesan *bad boy* yang sayangnya sangat menguji iman.
Saat ia melihatku duduk di ruang tengah dengan postur ala hakim agung, langkahnya terhenti. Alis tebalnya bertaut.
"Naura? Apa yang sedang kamu lakukan dengan... kacamata baca dan spatula kayu itu?" tanya Arkan, matanya memindai meja kopi yang sudah kuubah menjadi meja hijau. "Apakah kita akan memasak sesuatu atau kamu sedang bersiap memukul kecoa?"
"Duduk, Terdakwa Arkan Mahendra," titahku tegas, mengetukkan spatula kayu itu ke atas meja kaca.
"Sidang Mahkamah Rumah Tangga akan segera dimulai."
Arkan mengerjap, lalu seulas senyum geli—senyum arogan khasnya—mulai terbit di sudut bibirnya. Ia berjalan santai, sama sekali tidak terlihat terintimidasi, dan justru merebahkan tubuhnya di sofa panjang tepat di hadapanku. Ia menyilangkan kakinya yang panjang dan menumpukan dagu pada satu tangannya, menatapku dengan sorot mata yang luar biasa meremehkan namun penuh minat.
"Baiklah, Yang Mulia Hakim," goda Arkan, suaranya memberat. "Kejahatan apa yang dituduhkan pada pria tak bersalah ini malam ini?"
"Jangan panggil aku Yang Mulia. Panggil aku Penuntut Umum!" balasku, membetulkan letak kacamataku. Aku mengambil dokumen dari atas meja dan membukanya dengan gaya dramatis. "Terdakwa Arkan, Anda malam ini disidang atas pelanggaran berat terhadap Perjanjian Pernikahan kita, secara spesifik Pasal 4 Ayat 2."
Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Pasal 4 Ayat 2? Mengingat betapa tebalnya dokumen konyol yang kamu buat itu, tolong segarkan ingatanku."
"Pasal tentang larangan kontak fisik intim tanpa persetujuan lisan!" bacaku lantang, pipiku mulai terasa panas namun aku harus tetap teguh. "Berdasarkan bukti yang ada, Anda telah melakukan pelanggaran berupa penciuman paksa dan pelukan posesif di berbagai lokasi. Di mal, di ruang rapat, di ruang kerja Anda, dan... dan di berbagai tempat lainnya!"
Arkan tidak terlihat panik sedikit pun. Ia justru mendengus pelan, menatapku dengan kilat mata yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. "Itu bukan pelanggaran, Naura. Itu adalah tindakan preventif dan manajemen krisis."
"Manajemen krisis dari mana?!" aku mengetukkan spatulaku lagi. "Menciumku di ruang kerja setelah melihat bunga dari Rayhan Kusuma itu bukan manajemen krisis! Itu penyalahgunaan wewenang!"
"Tentu saja itu manajemen krisis," bantah Arkan dengan wajah luar biasa datar, seolah ia sedang mempresentasikan laporan keuangan kuartal ketiga. "Fakta bahwa ada auditor luar yang mencoba mengklaim wilayah kekuasaanku adalah sebuah krisis tingkat tinggi. Sebagai CEO yang bertanggung jawab atas aset berharganya, aku harus melakukan tindakan penandaan ulang. Ciuman itu adalah stempel keamanan korporat."
Aku ternganga mendengar logikanya yang benar-benar tidak masuk akal. "Stempel keamanan?! Kamu pikir aku ini dokumen persetujuan vendor?!"
"Kamu jauh lebih berharga dari dokumen vendor mana pun, Naura," jawab Arkan santai. "Dan soal kejadian di mal saat ada mahasiswa yang mendekatimu? Itu adalah *Force Majeure*. Keadaan darurat. Insting bertahan hidup memaksaku untuk bertindak di luar kontrak demi mengusir ancaman eksternal."
"Alasan yang ditolak!" tegasku, berusaha mempertahankan benteng gengsiku agar tidak runtuh melihat tatapan nakalnya yang tersembunyi di balik arogansinya. "Persetujuan lisan tetap tidak ada. Sesuai dengan Pasal 9 dalam dokumen ini, setiap pelanggaran tanpa persetujuan harus dikenakan denda atau penalti yang ditentukan oleh pihak yang dirugikan."
Arkan menghela napas panjang, memperbaiki posisi duduknya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku tepat di mata. "Jadi, Penuntut Umum menuntut ganti rugi? Berapa yang kamu inginkan? Mobil baru? Saham tambahan? Atau kamu ingin aku memecat Rayhan Kusuma secara permanen besok pagi?"
"Bukan itu!" sergahku cepat, sebelum pria gila ini benar-benar menghancurkan firma audit orang lain. "Penaltinya adalah... Anda harus mengakui kesalahan Anda, dan berjanji tidak akan mengulanginya tanpa izin. Dan untuk setiap pelanggaran yang sudah terjadi, Anda harus menuruti satu permintaanku tanpa syarat!"
Arkan terdiam sejenak. Matanya menelusuri wajahku, dari kening, turun ke hidung, lalu berhenti cukup lama di bibirku. Ekspresinya yang tadi santai kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih intens dan berbahaya.
"Menuruti permintaanmu?" ulang Arkan dengan suara rendah yang menggetarkan. Ia tiba-tiba berdiri dari sofanya, melangkah pelan memutari meja kopi, dan mendekat ke arahku.
Instingku menyuruhku mundur, tapi gengsiku menahan tubuhku tetap duduk tegak. "Y-ya! Berhenti di situ, Terdakwa. Jaga jarak radius aman!"
Arkan mengabaikan peringatanku. Ia berhenti tepat di depanku, lalu perlahan berlutut dengan satu kaki di atas karpet berbulu, membuat wajah kami kini sejajar. Jarak di antara kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang maskulin.
"Sebelum aku menerima penalti itu," bisik Arkan, menatap lurus ke dalam mataku. "Sebagai Terdakwa, aku juga punya hak untuk mengajukan tuntutan balik, bukan?"
Aku menelan ludah, mengeratkan genggamanku pada gagang spatula. "Tuntutan balik apa?"
Arkan mengambil dokumen perjanjian dari tanganku dengan lembut, lalu meletakkannya di atas meja. "Aku menuntut Pihak Kedua, Naura, atas pelanggaran Pasal 7. Larangan menyebabkan tekanan emosional dan kerugian psikis pada pasangan."
"Kapan aku menyebabkan kerugian psikis padamu?!" protesku tak terima.
"Setiap hari," jawab Arkan mutlak, tanpa keraguan sedikit pun. "Setiap kali kamu tersenyum pada Rayhan. Setiap kali kamu nekat makan keripik pedas yang membahayakan kesehatanmu sendiri. Dan... setiap kali kamu menatapku dengan mata bulatmu itu, membuatku lupa bagaimana caranya bernapas, apalagi memimpin perusahaan bernilai triliunan rupiah."
Aku terpaku. Kata-katanya meluncur begitu saja, tanpa filter, menghantam langsung ke dasar hatiku. Gengsi yang sejak tadi kubangun tinggi-tinggi mendadak goyah.
"Kamu... kamu curang, Arkan. Itu bukan argumen hukum," cicitku pelan, wajahku pasti sudah semerah tomat rebus sekarang.
"Ini pengadilan rumah tangga, Naura. Logika hukum tidak berlaku saat hatiku yang menjadi korban," balas Arkan dengan nada tsundere yang masih kental. Ia tidak mau mengakui kelemahannya dengan gamblang, tapi gesturnya mengatakan semuanya. "Aku mengalami kerugian investasi emosional berskala masif karena selalu memikirkanmu dua puluh empat jam sehari."
Tangan besar Arkan terulur, melepaskan kacamata bacaku dengan lembut, lalu mengambil spatula dari tanganku dan meletakkannya di lantai.
"Jadi," lanjut Arkan, ibu jarinya kini mengusap punggung tanganku dengan gerakan konstan yang memabukkan. "Jika kamu ingin aku membayar denda atas pelanggaran 'stempel keamanan' tadi, aku akan membayarnya."
"A-apa permintaan yang harus kau penuhi?" tanyaku gugup.
Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia merogoh saku piyamanya, mengeluarkan sebuah pena emas *Montblanc* miliknya, lalu membuka halaman perjanjian kami. Dengan gerakan cepat dan tanpa keraguan, ia mencoret tebal Pasal 4 Ayat 2 tersebut dari atas hingga bawah, merobek sedikit kertasnya saking kuatnya ia menekan pena.
Lalu, di samping coretan itu, ia menulis dengan huruf kapital yang tegas: **DIBATALKAN KARENA PIHAK PERTAMA TELAH MEMBELI HAK MONOPOLI SEUMUR HIDUP.**
Aku terbelalak melihat aksi barbar hukum tersebut. "Arkan! Apa yang kamu lakukan?! Itu dokumen resmi!"
"Aku sedang melakukan amandemen paksa," ucap Arkan, membuang pena itu ke sembarang arah. Ia kembali menatapku, matanya kini dipenuhi oleh gairah dan kepemilikan yang tak bisa lagi ditawar. "Dokumen ini sudah kedaluwarsa, Naura. Karena mulai malam ini, aku tidak akan pernah meminta izin untuk menyentuh istriku sendiri."
Sebelum aku sempat mengeluarkan argumen bantahan apa pun, Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, menangkup kedua sisi wajahku, dan membungkam bibirku dengan ciuman yang jauh lebih menuntut daripada sebelumnya.
Semua kata-kata protes, semua gengsi yang mati-matian kupertahankan, runtuh seketika. Spatula keadilan telah jatuh, dan sidang ini resmi dimenangkan oleh sang Terdakwa. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan yang ia berikan, membalas ciumannya dengan perasaan yang sama kuatnya.
Saat ciuman itu akhirnya terlepas karena kami butuh meraup oksigen, Arkan menyandarkan keningnya di keningku. Napas kami terengah-engah, berbaur menjadi satu di udara dingin apartemen.
"Sidang ditutup, Penuntut Umum," bisik Arkan dengan senyum kemenangan yang luar biasa tampan. "Denda sudah kubayar lunas dengan uang muka. Dan sisanya, akan kucicil setiap malam selama sisa hidup kita."
pokonya terus semangat author