Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Wajah Sebenar Sang Penguasa
Malam itu, suasana di dalam rumah terasa berbeda. Bukan lagi ketakutan atau kekhawatiran yang menggantung, melainkan ketenangan yang dingin dan penuh wibawa. Grey duduk di sofa ruang tengah, tangan kanannya melindungi perutnya yang mulai terlihat sedikit menonjol, sementara matanya tak lepas dari sosok suaminya yang kini berdiri di dekat jendela besar.
Selama ini Grey memang tahu bahwa Davian bukanlah orang sembarangan. Ia tahu suaminya adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa kantor dan aset di berbagai tempat, ia tahu Davian memiliki koneksi luas dan kemampuan finansial yang sangat baik—hal yang membuat hidup mereka selalu berkecukupan dan nyaman. Namun, bagi Grey, Davian tetaplah suami yang sederhana, penyayang, dan rendah hati, orang yang selalu pulang membawa senyum dan memandang hidup dengan cara yang tenang. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh soal urusan bisnis suaminya, percaya sepenuhnya bahwa apa yang dilakukan Davian adalah hal yang sah dan benar.
Tapi malam ini, tatapan di mata suaminya bukan lagi tatapan seorang pebisnis yang biasa ia kenal. Ada kilatan tajam, dingin, dan tak tergoyahkan di sana—kilatan yang selama ini tersembunyi rapat di balik topeng pengusaha mapan itu, agar Grey tetap hidup damai tanpa beban dunia gelap yang sebenarnya berada di belakang suaminya.
Sejak kebencian Arkan meluap dan ancamannya semakin nyata, Davian sadar. Kesabarannya sudah habis. Ia tidak bisa lagi hanya berdiri diam dan membiarkan orang yang berani mengancam nyawa istri serta anak yang dikandungnya, bergerak bebas seolah tidak ada hukum yang berlaku. Arkan berpikir harta dan kekuasaan yang baru saja ia kumpulkan membuatnya menjadi raja? Maka malam ini, Davian akan mengajarkan satu kebenaran pahit: ada tingkatan kekuasaan yang jauh di atas apa pun yang bisa dibeli dengan uang, kekuasaan yang mengatur segalanya dari balik bayang-bayang.
Davian berbalik badan. Langkahnya tenang, namun setiap langkah seolah memancarkan tekanan yang berat. Ia menghampiri Grey, duduk di samping wanita itu, lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut. Sentuhannya masih sama hangatnya, namun matanya—mata yang selalu memandang Grey dengan penuh cinta—kini menyimpan ketegasan yang menggetarkan.
“Sayang,” ucap Davian pelan namun tegas, suaranya rendah namun berwibawa. “Kau tahu aku seorang pengusaha, kau tahu aku punya kekayaan dan pengaruh yang cukup besar. Tapi ada satu hal penting yang selama ini aku simpan darimu, bukan karena aku ingin berbohong, tapi karena aku ingin melindungimu. Aku ingin kau melihatku hanya sebagai suamimu, bukan sebagai sosok yang ditakuti dan dihindari banyak orang.”
Grey menatap suaminya, bingung namun merasa aman dalam dekapan laki-laki itu. “Maksudmu, Davian? Apa lagi yang kau sembunyikan? Selama ini aku pikir aku sudah cukup mengenal semua bisnismu…”
Davian tersenyum tipis, senyum yang dingin namun penuh rasa cinta. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, sebuah benda yang terlihat biasa saja, namun bagi banyak orang, nomor yang tersimpan di dalamnya adalah nomor yang paling dicari sekaligus paling mematikan.
“Bisnis hanyalah selubung, Sayang. Itu hanyalah permukaan yang terlihat oleh dunia. Di balik semua itu… nama asliku adalah Davian Arganata. Dan nama itu bukan sekadar nama pengusaha sukses,” Davian berhenti sejenak, menatap mata istrinya lekat-lekat, membiarkan kalimat itu meresap. “Aku adalah pemimpin, penguasa dari dunia yang berbeda. Orang-orang menyebutku penguasa bayangan, atau lebih tepatnya… kepala keluarga Arganata, satu-satunya organisasi terbesar dan paling ditakuti, yang memegang kendali atas segalanya—mulai dari ekonomi, hukum, keamanan, hingga hal-hal yang tidak tertulis di atas kertas. Aku adalah sang Mafia yang selama ini namanya hanya dibisikkan dengan gemetar di kalangan atas.”
Grey tertegun, mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Ia tahu Davian kaya, ia tahu suaminya berpengaruh, tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa sosok lembut yang ada di sampingnya ini adalah sosok legendaris yang sering terdengar berbisik sebagai sosok yang mengerikan dan berkuasa mutlak. Sosok yang keberadaannya dianggap mitos oleh banyak orang, ternyata adalah orang yang setiap malam memeluknya tidur.
“Kenapa… kenapa kau tidak pernah bilang?” tanya Grey pelan, suaranya sedikit bergetar bukan karena takut, melainkan karena terkejut besar.
“Karena bagiku, semua kekuasaan, ketakutan orang lain, dan nama besar itu tidak ada artinya dibandingkan senyumanmu,” jawab Davian lembut, lalu nada bicaranya berubah menjadi dingin dan tajam saat mengingat sosok Arkan. “Aku hanya ingin menjadi suamimu. Tapi sekarang, Arkan sudah melampaui batas. Dia berani mengancammu, berani mengancam anak kita. Dia hanya pengusaha baru yang sedang membangun namanya, yang mengira kekayaan barunya membuatnya bisa berbuat semena-mena. Dia tidak tahu… bahwa apa yang dia miliki hanyalah remah-remah dibandingkan apa yang aku pegang. Dia tidak tahu dia sedang menantang Davian Arganata. Malam ini, aku akan membuatnya sadar siapa lawan yang sebenarnya sedang ia hadapi.”
Tanpa menunggu jawaban, Davian menekan satu nomor di ponselnya. Hanya satu nomor, namun sambungannya langsung tersambung tanpa nada tunggu. Suara di ujung sana terdengar hormat dan penuh kesiapan mutlak, seolah orang itu sudah menunggu perintah ini seumur hidupnya.
“Siap, Tuan Muda Davian. Kami mendengarkan.”
Suara itu berat, hormat, dan jelas berasal dari seseorang yang memegang tanggung jawab besar di dalam jaringan kekuasaan itu. Grey bisa mendengarnya dengan jelas dari posisinya duduk di samping Davian.
Davian bersandar di sofa, satu tangan melingkar melindungi bahu Grey, sementara tangan lainnya memegang ponsel di telinganya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun aura sang penguasa yang mengerikan itu menyelimuti seluruh ruangan. Aura yang membuat siapa pun yang melihatnya akan menunduk takut.
“Mulai sekarang, ambil alih semua jalur,” perintah Davian dengan nada datar namun mutlak, tidak ada ruang untuk bantahan sedikit pun. “Ada seorang pria bernama Arkan. Dia mengira dirinya pengusaha besar, mengira dia punya kekuasaan. Cek semua asetnya, semua perusahaannya, semua jalur bisnis yang dia bangun selama ini—baik yang bersih maupun yang kotor. Potong pasokan, tutup akses, batalkan semua izin usahanya, dan pastikan setiap orang yang pernah berhubungan dengannya tahu bahwa dia sekarang menjadi musuhku. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam semalam—persis seperti bagaimana dia mencoba merebut kebahagiaanku.”
Ada hening sejenak di ujung telepon, sebelum suara itu menjawab dengan mantap dan penuh keyakinan: “Dimengerti, Tuan Muda. Segala sesuatu miliknya akan hancur sebelum matahari terbit besok. Tidak ada celah yang tersisa, dan tidak ada tempat baginya untuk berlindung.”
“Dan satu lagi,” tambah Davian, matanya menyipit tajam, bayangan amarah sekilas melintas di sana, membuatnya terlihat menakutkan namun tetap memancarkan perlindungan bagi Grey di sampingnya. “Kirimkan pesan kepadanya. Katakan padanya bahwa ancaman yang ia lontarkan pada istriku dan anakku, adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat dalam hidupnya. Katakan padanya, bahwa nama Davian Arganata adalah hukum mutlak. Bahwa kekuasaan yang ia bangun dengan rasa rendah diri dan kesombongan itu, hanyalah debu di hadapan kekuasaanku. Jika dia berani melangkah sejengkal pun mendekat ke wilayahku atau mengganggu keluargaku lagi… maka aku tidak akan membiarkannya sekadar miskin. Aku akan memastikan dia tidak memiliki tempat berpijak di negeri ini, bahkan di dunia ini sekalipun. Dan pastikan dia tahu, bahwa dunia bisnis dan kekuasaan yang ia bangun, ada karena aku membiarkannya ada, dan bisa runtuh kapan saja karena aku menghendakinya.”
“Siap dilaksanakan, Tuan. Segala perintah Anda akan berjalan sempurna.”
Sambungan telepon diputus. Davian meletakkan ponsel itu di meja, lalu dalam sekejap, wajah dingin dan tajam itu berubah kembali menjadi wajah lembut yang biasa Grey kenal. Ia kembali menjadi suami yang penuh kasih sayang, memeluk istrinya erat dan mencium kening wanita itu dalam-dalam.
“Maafkan aku harus menampakkan sisi ini, Sayang,” bisik Davian di telinga Grey, penuh penyesalan namun tegas. “Aku tidak ingin kau tahu dunia kelam ini. Tapi aku harus memastikan satu hal: tidak ada siapa pun, manusia apa pun, yang berani menyakiti atau bahkan sekadar memikirkan hal buruk terhadapmu dan anak kita. Arkan berpikir dia punya segalanya? Besok pagi, dia akan bangun dan menyadari bahwa dia tidak punya apa-apa. Bahwa semua yang dia bangun dengan susah payah, bisa aku hancurkan hanya dengan satu jentikan jari.”
Grey masih terdiam, terpesona sekaligus merasa semakin aman. Ternyata, laki-laki di sampingnya ini bukan hanya pengusaha sukses atau suami yang penyayang, tapi juga penguasa mutlak yang paling ditakuti. Kekuasaan Davian bukanlah sesuatu yang ia pamerkan, melainkan pedang tajam yang ia simpan tersembunyi—pedang yang kini terhunus tajam demi melindungi keluarganya.
Di tempat lain, di rumah mewah milik Arkan, suasana berubah menjadi neraka dalam hitungan menit. Telepon berdering tak henti. Pesan masuk bertumpuk, penuh dengan kabar buruk yang datang bertubi-tubi: izin usaha dicabut secara misterius, mitra bisnis besar menarik diri secara serentak, dana mendadak dibekukan oleh bank tanpa alasan yang jelas, dan pesan peringatan singkat namun membuat darah Arkan membeku saat membacanya.
“Davian Arganata. Mundur atau hancur.”
Arkan terjatuh ke kursinya, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia yang merasa menjadi penguasa baru dengan kekayaan barunya, ia yang mengira dirinya pengusaha besar yang setara dengan siapa pun, kini sadar bahwa ia baru saja menabrak tembok besar yang tak terlihat sebelumnya. Nama yang selama ini hanya dibisikkan dengan rasa takut di kalangan atas—nama yang dianggap legenda dan mitos—ternyata adalah nama suami Grey.
Arkan gemetar hebat, lututnya lemas tak bertenaga. Ia sadar sekarang. Dia bukan hanya berhadapan dengan suami biasa, bukan hanya dengan pengusaha sukses. Ia berhadapan dengan Sang Penguasa Sejati, Sang Mafia yang memegang kendali atas segalanya.
Dan permainannya baru saja berubah total menjadi perjuangan untuk tetap bertahan hidup.
Bersambung...