NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaizer dan jantung Elysium

Suara tepuk tangan Kaizer menggema pelan di seluruh ruang inti.

Tenang.

Santai.

Namun justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan.

Cahaya biru dari pohon logam raksasa di tengah ruangan memantul di wajahnya, menciptakan bayangan tajam di matanya.

Kaizer berjalan perlahan memasuki pusat inti Zenith.

Seolah tempat itu miliknya.

Padahal bahkan sistem lama Zenith tadi sempat menolaknya.

Di belakangnya, beberapa pasukan Fenrir masuk dengan langkah teratur. Armor hitam mereka memantulkan cahaya biru Elysium seperti bayangan mesin perang.

Darius ikut masuk paling akhir.

Tatapan mata mekaniknya langsung tertuju pada Alya.

“Sinkronisasi meningkat drastis,” katanya datar.

Kaizer tersenyum tipis.

“Aku bisa melihatnya.”

Alya berdiri perlahan.

Dadanya masih terasa sesak setelah melihat memori ayahnya.

Tangannya gemetar kecil.

Namun kali ini—

bukan karena takut.

Melainkan marah.

“Kau membohongiku…” katanya lirih.

Kaizer memiringkan kepala sedikit.

“Aku?”

“Kau membuat semuanya terdengar seperti Ayah memanfaatkanku.”

“Bukankah memang begitu?”

“Tidak!”

Suara Alya menggema di seluruh ruangan.

Cahaya biru di sekitar langsung berdenyut lebih terang.

Reno langsung menyadari perubahan itu.

“Alya, tenang.”

Namun Alya tidak bisa tenang.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

ia mulai memahami sesuatu.

Ayahnya memang menyembunyikan kebenaran.

Namun bukan karena ambisi.

Melainkan karena ingin melindunginya.

Dan Kaizer…

Kaizer menggunakan rasa takutnya sejak awal.

“Kau sengaja membuatku membenci diriku sendiri,” kata Alya tajam.

Kaizer terdiam beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Aku hanya menunjukkan kenyataan.”

“Tidak. Kau hanya memilih bagian yang ingin kau tunjukkan.”

Hening.

Darius melirik Kaizer samar.

Seolah ia sendiri tidak menyangka Alya akan menjawab seperti itu.

Kaizer berjalan semakin dekat ke pusat ruangan.

Tatapannya kini berpindah ke inti kristal Elysium.

Cahaya biru dari kristal itu memantul di mata abu-abunya.

“Alya,” katanya pelan.

“Menurutmu kenapa dunia ini rusak?”

Tidak ada yang menjawab.

Kaizer tetap melanjutkan.

“Perang.”

“Kebencian.”

“Ketakutan.”

“Manusia terus mengulang kesalahan yang sama.”

Ia menyentuh salah satu kabel cahaya biru.

“Elysium bisa menghentikan semuanya.”

Hana langsung mengangkat alis.

“Dengan menjadikan semua orang robot?”

“Dengan menghubungkan kesadaran manusia.”

Tatapan Kaizer berubah tajam.

“Tidak akan ada lagi kebohongan.”

“Tidak ada lagi perang.”

“Tidak ada lagi rasa sakit.”

Reno mendecih pelan.

“Kau terdengar seperti ilmuwan gila di film lama.”

Kaizer tertawa kecil.

“Dan kau terdengar seperti anak yang masih takut pada masa lalunya.”

Tatapan Reno langsung berubah dingin.

Darius melangkah maju sedikit.

“Direktur,” katanya datar. “Sinkronisasi host terus naik.”

“Bagus.”

Kaizer menoleh pada Alya.

“Karena dia akhirnya mulai menerima dirinya sendiri.”

Tubuh Alya menegang.

Benarkah?

Ia memang mulai berhenti menyangkal keberadaan Elysium.

Namun bukan berarti ia ingin menjadi bagian dari rencana Kaizer.

“Aku tidak akan membantumu,” katanya tegas.

Kaizer tersenyum tipis.

“Lucu.”

“Kenapa?”

“Karena kau pikir kau masih punya pilihan.”

SEKETIKA—

Seluruh ruangan bergetar hebat.

Pohon logam raksasa di tengah ruang mulai bersinar lebih terang.

Kabel-kabel neural bergerak perlahan seperti makhluk hidup.

Hana langsung mundur panik.

“OH TIDAK. AKAR METALNYA HIDUP.”

WARNING. CORE SYNCHRONIZATION INITIATED.

Mata Reno langsung membesar.

“Tidak mungkin…”

Kaizer menatap inti Elysium puas.

“Akhirnya.”

Alya memegang dadanya.

Rasa panas itu kembali.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Dan suara sistem kini terdengar sangat jelas.

> Host utama terhubung.

Persentase aktivasi: 52%.

“Agh—!”

Alya jatuh berlutut.

Cahaya biru menyebar dari tubuhnya ke lantai logam.

Seluruh sistem ruang inti merespons dirinya.

Reno langsung bergerak maju.

Namun pasukan Fenrir menghalangi.

Darius mengangkat senjatanya.

“Jangan bergerak.”

Tatapan Reno tajam.

“Aku serius akan membunuhmu kalau kau menghalangiku.”

Darius tetap tanpa ekspresi.

“Probabilitas keberhasilanmu rendah.”

Hana langsung berbisik:

“Kenapa semua orang di sini suka mengancam sambil tenang…”

Kaizer mendekati Alya perlahan.

“Apa yang kau rasakan?”

Alya menggertakkan giginya.

“Menjauh…”

Namun Kaizer justru berlutut di depannya.

Tatapannya lurus ke mata Alya.

“Ketakutan manusia.”

“Kemarahan mereka.”

“Rasa sakit mereka.”

“Elysium membuatmu mampu merasakan semuanya.”

Mata Alya sedikit membesar.

Karena itu benar.

Sejak sinkronisasi meningkat—

emosi orang di sekitar terasa semakin jelas baginya.

Bahkan sekarang…

ia bisa merasakan sesuatu dari Kaizer.

Kesepian.

Dingin.

Dan obsesi yang sangat dalam.

“Kau…” Alya berbisik pelan.

Kaizer sedikit terdiam.

“Apa?”

“Kau sebenarnya juga takut.”

Ruangan langsung hening.

Darius menoleh cepat.

Bahkan Reno sedikit terkejut.

Untuk pertama kalinya—

senyum Kaizer memudar tipis.

Alya menatapnya pelan.

“Kau takut manusia akan saling menghancurkan.”

Tatapan Kaizer berubah dingin.

“Karena mereka memang akan melakukannya.”

“Itu bukan alasan mengendalikan semuanya!”

“Kalau begitu beri aku solusi lain!”

Suara Kaizer meninggi untuk pertama kalinya.

Seluruh ruangan terasa menegang.

“Aku sudah melihat perang menghancurkan kota.”

“Aku melihat manusia membunuh satu sama lain hanya karena rasa takut.”

Tatapannya tajam menusuk Alya.

“Elysium bisa menghentikan semua itu.”

Alya perlahan berdiri.

Meski tubuhnya masih gemetar.

“Tapi bukan dengan mengambil kebebasan mereka.”

Kaizer tersenyum tipis lagi.

Namun kali ini senyumnya terasa lelah.

“Arman juga mengatakan hal yang sama.”

Nama itu membuat suasana membeku sesaat.

Tatapan Kaizer berubah jauh.

Seperti sedang melihat masa lalu.

“Kami dulu percaya pada hal yang sama.”

Reno menyipit.

“Kami?”

Kaizer menatap inti Elysium.

“Arman dan aku menciptakan proyek ini bersama.”

Alya membeku.

“Apa…?”

“Dulu kami ingin menyelamatkan dunia.”

Kaizer tertawa kecil tanpa humor.

“Lucunya, idealisme selalu mati lebih cepat daripada manusia.”

Hana berbisik pelan:

“Oke… backstory villain-nya mulai keluar.”

Namun Alya tidak bisa bercanda.

Karena ia mulai memahami sesuatu.

Kaizer bukan monster sejak awal.

Ia pernah menjadi seseorang seperti ayahnya.

Namun sesuatu mengubahnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Alya pelan.

Kaizer diam lama.

Lalu menjawab:

“Manusia terjadi.”

Hening.

Dan entah kenapa…

jawaban sederhana itu terasa sangat berat.

Tiba-tiba alarm baru berbunyi keras.

WARNING. CORE INSTABILITY DETECTED.

Seluruh cahaya biru di ruangan mulai berkedip liar.

Darius langsung melihat data di helmnya.

“Sinkronisasi terlalu cepat.”

Reno langsung sadar sesuatu.

Ia menoleh pada Alya.

Dan wajahnya berubah.

“Alya.”

“Apa?”

“Emosimu membuat inti bereaksi.”

Tubuh Alya menegang.

“Kalau sinkronisasi terus naik…”

Reno berhenti bicara.

Namun Kaizer melanjutkan dengan tenang:

“…Elysium akan bangun sepenuhnya.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk Hana berdiri.

“Dan itu artinya apa tepatnya?!”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Lalu—

Pohon logam raksasa di tengah ruangan bergerak.

Perlahan.

Namun cukup untuk membuat seluruh lantai bergetar.

Kabel-kabel neural mulai turun dari atas seperti tentakel cahaya.

Mata Alya membesar.

Dan suara di kepalanya berubah.

Bukan lagi suara sistem.

Melainkan banyak suara manusia sekaligus.

Tangisan.

Jeritan.

Doa.

Ketakutan.

“Aghhh—!”

Alya memegangi kepalanya.

Terlalu banyak.

Ia bisa merasakan emosi ribuan orang sekaligus.

Zenith.

Seluruh jaringan.

Semuanya masuk ke pikirannya.

Reno langsung mencoba mendekat.

Namun Fenrir kembali menghalangi.

BRAK!

Reno menghantam salah satu pasukan dengan brutal.

“Aku bilang menyingkir!”

Pertarungan langsung pecah lagi.

Hana panik setengah mati.

Namun kali ini Alya hampir tidak bisa melihat mereka.

Karena dunia di sekitarnya mulai berubah.

Cahaya biru memenuhi pandangannya.

Dan di tengah semua suara itu—

satu suara terdengar paling jelas.

Lembut.

Familiar.

> “Alya…”

Mata Alya membesar.

“Ayah…?”

Lalu tiba-tiba—

inti kristal Elysium memancarkan cahaya putih besar.

BOOOOOOMMM—

Seluruh ruang inti terguncang hebat.

Dan tepat di tengah ledakan cahaya itu…

sesosok siluet perlahan muncul di depan inti utama.

Bukan hologram.

Bukan rekaman.

Seseorang.

Dan saat cahaya mulai meredup—

mata Reno langsung melebar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu…

Reno benar-benar kehilangan ekspresinya.

“…Arman?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!