Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ular Beludak yang Mengincar
Petugas itu tetap diam. Perlahan, sepasang tangan yang terbungkus sarung tangan karet tipis bergerak naik ke arah wajah. Dengan satu gerakan lambat yang teatrikal, wanita itu menarik masker medisnya ke bawah, lalu melepaskan topi kerjanya hingga helaian rambut hitam panjangnya terurai jatuh di sekitar bahunya.
Sepasang mata elang yang dipenuhi kilat keserakahan dan dendam kesumat menatap langsung ke dalam manik mata Kenzi.
"Suci Wahyuni?!" Kenzi terperanjat, otot-otot rahangnya menegang seketika. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa terkejut yang berbaur dengan rasa jijik yang luar biasa. Pria oriental itu langsung mencengkeram pinggiran mejanya, bersiap untuk bangkit dan menekan tombol darurat di bawah meja. "Bagaimana bisa wanita sampah seperti kamu masuk ke sini?! Pengawal! Penjaga—"
"Jangan berteriak, Tuan Muda Kenzi yang terhormat," desis Suci, suaranya terdengar sangat parau, tajam, dan sarat akan kegilaan yang tak lagi bisa dibendung oleh akal sehat.
Suci tidak membuang waktu satu detik pun. Menyadari bahwa penyamarannya telah terbongkar dan sisa waktunya sangat sempit sebelum pengawal menyadari keganjilan ini, insting kriminalnya mengambil alih seluruh gerak tubuhnya. Bagai seekor ular beludak yang meluncur cepat dari semak-semak, Suci menerjang maju melompati sudut meja kerja.
Dengan kecepatan yang didorong oleh keputusasaan, tangan kiri Suci yang bebas menyambar cangkir porselen berisi teh chamomile beracun itu. Sebelum Kenzi berhasil menegakkan tubuhnya secara sempurna, Suci sudah menubruk tubuh pria itu, menekan dadanya kembali ke atas kursi kebesaran dengan berat tubuhnya sendiri.
"Lepas! Wanita gila!" bentak Kenzi, berusaha menyentak tangan Suci dan memalingkan wajahnya. Namun, posisinya yang terlanjur terkunci di antara sandaran kursi dan meja membuatnya kehilangan momentum pertahanan.
Suci mencengkeram rahang tegas Kenzi dengan jemari kanannya yang kuat, memaksa mulut pria itu terbuka dengan paksa hingga memicu rasa sakit yang menusuk. Tanpa memedulikan makian dan perlawanan fisik Kenzi yang mulai beringas, Suci mengarahkan bibir cangkir itu tepat ke depan mulut sang CEO.
"Minum ini, Kenzi! Minum!" jerit Suci histeris, wajah cantiknya berkerut mengerikan oleh ambisi yang membakar hangus seluruh nuraninya.
Cairan hangat teh chamomile itu dituangkannya secara paksa ke dalam tenggorokan Kenzi. Sebagian cairan tumpah mengaliri dagu dan mengotori kemeja serta jas mahal milik Kenzi, namun dosis tinggi obat perangsang yang larut di dalamnya sebagian besar telah berhasil masuk, dipaksa tertelan melewati kerongkongan sang konglomerat muda di tengah sisa-sisa napasnya yang tercekat.
Kenzi terbatuk-batuk hebat, matanya membelalak merah oleh rasa murka dan keterkejutan yang tak terhingga. Efek dari ramuan jahanam itu tidak membutuhkan waktu lama untuk bereaksi; di dalam pembuluh darahnya, sejumput rasa panas yang asing dan pekat mulai menjalar perlahan, bersiap meruntuhkan benteng pertahanan logikanya dari dalam.
****
Sementara pusaran dosa yang pekat sedang menjerat Kenzi di puncak menara, di seberang kota, di dalam ruang konsultasi firma hukum Bramantyo & Partners, atmosfer yang jauh lebih sakral sedang tercipta. Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela gorden vertikal menerangi meja kaca yang kini dipenuhi oleh draf dokumen hak asuh anak.
Sintia Arunika duduk dengan jemari yang saling bertautan erat di atas pangkuannya. Wajahnya yang anggun tampak kuyu, memancarkan guratan keletihan emosional yang teramat dalam akibat pertempuran batin yang tak henti-hentinya berkecamuk sejak kemarin.
Di hadapannya, Bramantyo duduk sambil memperbaiki posisi letak kacamatanya, menatap klien sekaligus sahabat lamanya itu dengan pandangan penuh selidik dan keheranan.
"Sintia, kamu sadar dengan apa yang kamu minta ini?" tanya Bramantyo, suaranya berat, memecah keheningan ruangan. Ia mengetuk berkas di atas meja dengan ujung pena. "Kamu baru saja memenangkan sidang perceraian yang melelahkan. Kamu telah mengambil kembali seluruh harta bawaan dan perusahaanmu dari Rian. Dan sekarang, kamu mau masuk kembali ke dalam lingkaran keluarga itu dengan mengajukan gugatan hak asuh atas Arka? Anak dari wanita yang telah menghancurkan pernikahanmu?"
Sintia menghela napas panjang, sebuah helaan yang terasa sangat berat hingga bahunya bergetar lembut. Air mata keibuannya kembali menggenang di pelupuk mata saat bayangan pelukan erat Arka kemarin kembali melintas di benaknya.
"Aku tahu ini terdengar gila, Mas Bram," ucap Sintia, suaranya bergetar namun dipenuhi keteguhan yang teramat pekat. "Logikaku mengatakan aku harus mengabaikannya. Arka adalah darah daging Rian dan Suci. Tapi naluriku sebagai seorang wanita... sebagai seorang ibu yang gagal memiliki anak, menjerit setiap kali aku mengingat tangisan bocah itu semalam."
Sintia memajukan tubuhnya, menatap Bramantyo dengan pandangan memohon yang teramat dalam. "Rian egois dan tidak akan pernah becus menjadi ayah yang baik setelah jatuh miskin. Anne adalah wanita penuh kesombongan yang hanya akan mendidik Arka dengan kebencian dan caci maki atas kemelaratan mereka. Dan Suci? Dia sudah membuang anaknya sendiri seperti sampah demi menyelamatkan dirinya sendiri."
Sintia mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak oleh rasa iba. "Arka tidak bersalah, Mas Bram. Bocah enam tahun itu tidak pernah memilih dilahirkan dari rahim seorang penjahat. Jika aku membiarkannya tinggal bersama Rian di tempat penampungan atau kontrakan sempit setelah pengosongan rumah dilakukan sepuluh hari lagi, masa depan anak itu akan hancur lebur. Aku tidak bisa melihat selembar kertas putih itu dikotori oleh dosa orang tuanya."
****
Bramantyo terdiam sejenak, menatap kedalaman mata Sintia yang dipenuhi ketulusan suci seorang ibu. "Secara hukum, posisi kita cukup kuat jika kita bisa membuktikan bahwa Rian tidak lagi memiliki kemampuan finansial untuk memberikan penghidupan yang layak, ditambah fakta bahwa ibu kandungnya, Suci, telah melakukan penelantaran anak secara nyata dengan melarikan diri dari rumah."
"Lakukan apa saja, Mas Bram. Ajukan gugatan itu secepatnya," desis Sintia, setitik air mata kelapangan meluncur di pipinya yang mulus. "Aku akan membesarkan Arka dengan tanganku sendiri. Aku akan memberikannya kasih sayang yang selama tujuh tahun ini tidak pernah bisa kusalurkan."
Sintia bersandar kembali di kursinya, merasakan seberkas kehangatan baru mulai merayapi rongga dadanya setelah mengambil keputusan besar tersebut. Namun, di tengah kelegaan yang baru saja ia rasakan, sebuah getaran aneh yang teramat mendadak kembali menyengat dinding sanubarinya—sebuah firasat buruk yang teramat pekat tentang Kenzi Hutama. Sintia melirik jam tangan kecilnya yang menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit, tanpa pernah menyadari bahwa pada detik yang sama, pria yang selama ini berdiri kokoh sebagai pelindungnya di pengadilan, kini sedang berjuang mempertahankan sisa kesadarannya dari cengkeraman kegilaan Suci Wahyuni di atas takhta kekuasaannya yang mulai goyah.
****
Panas yang membakar itu tidak lagi sekadar menjalar, melainkan telah menjelma menjadi badai api yang bergemuruh di dalam setiap pembuluh darah Kenzi Hutama. Efek obat perangsang dosis tinggi jahanam yang dicekokkan secara paksa oleh Suci Wahyuni mulai mengoyak-ngoyak kendali logikanya. Pandangan matanya yang biasa setajam elang kini mulai mengabur, digantikan oleh semburat kemerahan yang pekat. Detak jantungnya bertalu-talu di dalam dada bagai tabuh genderang perang yang tak terkendali.
"Sialan..." umpat Kenzi, suaranya parau, berat, dan dipenuhi erangan menahan siksaan batin yang teramat sangat.