Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Untuk Mewujudkan Dendammu
Sepulang makan malam bersama Tarjo. Miss Panda lebih sering melamun. Hal itu jelas mencuri perhatian Kakek Wirawan. Karena Miss Panda tidak biasanya seperti itu.
Plek.
Sebuah tepukan di pundak menyadarkan Miss Panda dari lamunan. Menatap kearah Kakek Wirawan yang saat ini memperlihatkannya.
“Iya, Pa. Ada apa?”
“Kenapa kamu melamun terus? lagi ada masalah,” tanya Kakek Wirawan khawatir.
“Gak ada apa-apa, Pa,” jawab Miss Panda malas. Lalu berjalan menuju ke kamarnya.
“Kamu marah sama Papa yang meminta Tarjo untuk melamarmu,” ucap cepat Kakek Wirawan sebelum Miss Panda masuk ke kamar.
Ya, sepulang makan malam. Tarjo memang langsung dicecar Kakek Wirawan tentang perasaannya ke Miss Panda. Seperti yang bisa ditebak jika Tarjo disuruh cepat-cepat melamar Miss Panda.
“Kenapa tiba-tiba Papa bahas dia saat kepalaku pusing?” gerutu Miss Panda sambil cemberut.
“Tarjo itu memiliki perasaan padamu. Yang namanya niat baik untuk melamar harus disegerakan. Kalau sampai Tarjo diambil perempuan lain. Jangan sampai kamu nyesel.”
Tarjo yang memang memiliki perasaan ke Miss Panda. Tentu langsung mengungkapkan keinginannya melamar Miss Panda. Apalagi ditantang langsung oleh Kakek Wirawan.
Bagi Tarjo mengungkapkan dulu aja. Masalah diterima atau tidak urusan belakangan.
“Aku malas bahas hal ini, Pa.”
“Kalau seandainya Tarjo melamarmu dalam waktu dekat, Bagaimana? Kamu terima, gak?”
“Terserah Papa aja,” jawab Miss Panda malas. Lalu berjalan menuju kamarnya.
Ceklek.
Setelah pintu tertutup dan Miss Panda sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Kakek Wirawan menyunggingkan senyumnya.
“Baiklah, jika memang jawabanmu seperti itu. Papa akan mengikutimu.”
Sambil tersenyum lebar, Kakek Wirawan pergi ke kamarnya.
“Syukurlah masih ada yang bisa nyenengin orang tua ini,” ucap Kakek Wirawan untuk dirinya sendiri.
Sedangkan di dalam kamar, Miss Panda mencari nomor telepon Faza. Berharap dari Faza ia bisa mendapatkan informasi lebih lengkap tentang perubahan yang terjadi pada Satria.
“Dasar Panda bodoh! Bagaimana bisa aku menghubungi Faza? Nomor teleponnya saja aku gak punya,” gerutu Miss Panda.
“Bagaimana aku tanya sama Papa?” gumam Miss Panda.
“Tidak ada pilihan lain. Lebih baik aku minta nomor telepon Faza ke Papa.”
Miss Panda buru-buru menuju ke kamar Kakek Wirawan. Mumpung belum terlalu malam.
Tok… tok!
“Papa! Ini Panda. Apakah Papa sudah tidur?”
Karena memang Kakek Wirawan belum tidur. Pintu kamar terbuka menampilkan Kakek Wirawan dalam keadaan kening mengkerut.
“Apakah kamu ingin tanya ke Papa tentang hubunganmu dengan Tarjo?”
“Kalau soal itu terserah Papa saja. Aku menemui Papa ingin minta nomor telepon Faza. Apakah Papa punya?”
“Kenapa malam-malam kamu tanya nomor Faza? Apakah ada hal penting?”
“Ini soal Mas Satria.”
“Kenapa dengan Masmu?”
“Sepertinya Mas Satria sedang ada masalah. Mungkin karena alasan itu Mas Satria beberapa hari gak pulang,” jelas Miss Panda.
“Besok saja. Hari sudah malam. Kasihan Faza. Lebih baik kamu istirahat. Bukankah kamu bertemu dengannya di sekolah? Tanya saja langsung pada orangnya,” saran Kakek Wirawan.
“Untuk urusan masmu, biarkan Papa saja yang ngurus.”
“Tapi, Pa.”
Tanpa menunggu tanggapan dari Miss Panda. Kakek Wirawan mengakhiri percakapannya. Lalu menutup kembali pintu kamar meninggalkan Miss Panda yang kurang puas dengan tanggapan Kakek Wirawan.
Diamnya Kakek Wirawan bukan karena tidak peduli pada Satria. Namun, mencoba memberikan ruang bernafas untuk putra kebanggaannya.
“Sepertinya masalah yang dihadapi Satria cukup serius. Hingga Panda menyadari perubahan itu.”
Tidak hanya Miss Panda yang menyadari ada hal berbeda pada Satria. Melainkan juga Kakek Wirawan.
“Sepertinya besok aku akan membahas secara pribadi dengan Satria.”
Karena sudah dianggap mengkhawatirkan. Kakek Wirawan berencana mendatangi Satria saat istirahat makan siang. Karena hanya hal itu yang bisa Kakek Wirawan lakukan untuk saat ini.
Jika Miss Panda ingin mencecar Faza selaku bawahan sekaligus orang kepercayaan Satria. Namun, tidak untuk Kakek Wirawan yang ingin tanya ke Satria secara langsung. Karena tidak ingin mengganggu Faza dengan segala kesibukannya.
Sebab, Faza memang benar-benar sibuk. Karena saat ini dirinya sedang mengawasi pertemuan para orang-orang penting.
“Sudah berapa lama dia masuk?” tanya Faza kepada salah satu bawahannya sambil menatap bangunan besar.
“Tiga jam, Ndan.”
“Belum ada informasi yang dia kirim?”
“Belum, Ndan.”
Faza dalam mode serius saat tidak mendapatkan perkembangan informasi. Tatapan matanya terus mengawasi pintu masuk klub malam. Tempat yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja. Bahkan, Faza hanya bisa memiliki satu akses masuk yang saat ini digunakan oleh bawahannya.
“Apakan ada orang di foto yang aku kasih, masuk ke tempat tersebut?”
“Ada, Ndan.”
“Siapa?”
“Wilona beserta putrinya, Ndan.”
Sesuai dugaan Faza jika Wilona sosok perempuan mengerikan. Sedangkan untuk Sisil, jelas tidak ada bedanya dengan ibunya. Karena Wilona menurunkan sifat itu ke Sisil.
“Mereka datang bersama siapa saja?”
“Beberapa perempuan berusia sama dengan putri Wilona.”
Tangan Faza terkepal kuat mendengar penuturan bawahannya. Nafasnya terasa tercekat saat jaringan yang dirinya selidiki berkembang sangat cepat dan mengkhawatirkan.
“Apakah perlu kita kasih sinyal kepada tim kita, Ndan?” saran bawahan Faza.
“Tidak perlu. Kita tunggu setengah jam lagi. Jika dalam waktu itu tidak menunjukkan tanda-tanda. Baru kita bergerak secara hati-hati.”
“Baik, Ndan.”
Sambil mengawasi pintu masuk klub. Mata tajam Faza mengawasi sekitar bangunan itu. Hingga sudut matanya menangkap beberapa mobil hitam mencurigakan terparkir.
“Satu, dua, tiga, …, tujuh.”
Suara Faza menghitung jumlah kendaraan yang terdapat pengawal, pengawas sekaligus penjaga. Langsung membuat para bawahan Faza bersiaga.
“Apakah tim tambahan sudah tiba?”
“Kami tidak mengenali mereka, Ndan,” jawab jujur bawahan Faza.
Dalam hal penyamaran, terkadang satu institusi tidak saling mengenal. Apalagi tim itu di bawah perintah Satria langsung yang sebenarnya Faza pun tidak mengetahuinya.
“Jangan bergerak tanpa perintah!”
“Baik, Ndan.”
Meskipun cukup lama Faza menunggu kabar dari bawahannya. Tapi, kepercayaan itu sama sekali tidak turun. Faza mengenal baik kemampuan bawahannya. Faza percaya dengan kemampuan bawahannya.
“Kita masih tetap menunggu seperti ini, Ndan.”
“Benar.”
Diantara tujuh mobil yang diawasi oleh Faza. Ada satu mobil mencuri perhatian Faza.
‘Aneh, di tempat gelap itu bisa ada mobil terparkir. Apakah ada pintu lain tersambung dengan klub?’ batin Faza penasaran.
‘Sepertinya aku harus memastikan sendiri.’
Dalam keadaan diliputi rasa penasaran, Faza keluar mobil. Dirinya ingin memastikan sendiri segala praduganya tentang parkiran tersebut.
“Jangan lupa kirim informasi padaku jika sudah ada.”
“Baik, Ndan.”
“Jangan bergerak tanpa perintah.”
“Siap, Ndan.”
Bruk!
Setelah keluar dari mobil yang digunakan untuk mengintai. Langkah kakinya langsung menuju ke tempat yang dicurigai ada hal aneh.
Sesuai dugaan Faza. Jika ada mata tajam seseorang mengawasinya sejak awal kedatangannya.
“Sial, kenapa aku baru menyadarinya,” gumam Faza melihat parkiran kosong cukup luas di hadapannya. Parkiran yang memiliki akses terowongan tembus ke klub.
“Ada yang bisa dibantu, Mas?” tanya laki-laki bertubuh tegap dan berotot. Seseorang yang sebelumnya menatap tajam Faza.
“Apakah bisa parkir mobil disini, Pak? Di trotoar penuh.”
“Gak bisa, Mas. Tempat ini sudah tidak dipergunakan sejak lama.”
“Tapi, ada mobil terparkir disini, Pak.”
Rasa kesal langsung menyelimuti laki-laki itu. Tampak jelas ada sesuatu hal disembunyikan.
Drrrt.
Bunyi notifikasi masuk ke handphone Faza, berbarengan dengan pintu lift terbuka. Dari tempat Faza berdiri bisa dilihat ada empat laki-laki dewasa keluar.
Namun, dari empat laki-laki itu. Ada satu yang mencuri perhatian Faza. Karena hanya sosok itu yang usianya paling tua.
“KELUAR SEKARANG JUGA ATAU AKU SERET KAMU!”
Sangking kencangnya bentakan petugas keamanan klub pada Faza. Hingga mencuri perhatian para gerombolan laki-laki itu.
Faza yang tidak ingin identitasnya terbaca memilih memalingkan wajahnya. Lalu berjalan menjauh meski sudut matanya terus mengawasi sosok tersebut.
Sedangkan sosok laki-laki yang usianya masuk lansia itu terus memperhatikan Faza. Menatap tajam tanpa berkedip sedikitpun.
“Tuan, silahkan masuk ke mobil. Jet pribadi Anda sudah menunggu untuk perjalanan selanjutnya.”
Suara dari salah satu bawahan laki-laki itu mengalihkan perhatiannya dari sosok Faza, yang bayangannya mulai menghilang dari pandangan.
“Heam.”
Hanya derheman saja yang diberikan oleh laki-laki misterius itu. Lalu masuk ke mobil mewah dilengkapi perlindungan tingkat tinggi. Tujuannya jelas ke beberapa kota tempat bisnisnya berada.
Sedangkan Faza tanpa sengaja memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Detak jantungnya benar-benar sulit untuk dikendalikan saat menatap mata sosok laki-laki misterius itu
‘Sial, ada apa dengan diriku? Kenapa dadaku terasa sangat nyeri sekali. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Kenapa auranya sangat kuat membuatku sesak?,’ batin Faza tidak tenang.
Dengan langkah panjang Faza berjalan menuju mobil yang digunakan untuk mengawasi. Tentang identitas laki-laki tersebut biarkan ia cari.
“Belum balik?”
“Belum, Ndan.”
BRUK!
“Ndan.”
Huff!
Bantingan pintu mobil serta suara nafas yang terdengar dari bawahan Faza. Langsung mengalihkan perhatian Faza yang juga baru masuk ke mobil. Menghilangkan rasa nyeri sekaligus sesak yang sebelumnya menyelimuti.
“Tinggalkan tempat ini sekarang juga!” perintah tegas Faza ke bawahan lain ketika mengetahui ada hal tidak beres terjadi di dalam klub.
Hal itu Faza lihat dari wajah pucat bawahannya. Menandakan waktu lama berada di dalam klub bagaikan akhir kehidupannya.
“Siap, Ndan.”
Sesuai perintah Faza. Kini mobil yang mereka gunakan untuk mengintai mulai menjauh. Faza mengawasi sekitar jika ada yang mengikuti.
“Minumlah! Untuk mengurangi kegugupan.”
“Siap, terima kasih banyak, Ndan.”
Sebotol air mineral langsung habis hanya dalam sekali teguk.
Setelah merasa keadaannya membaik. Bawahan Faza menyerahkan barang bukti penyelidikan yang ia dapat di dalam klub.
“Ini, Ndan.”
Faza mengambil barang bukti itu. Untuk foto dia mengawasinya dengan seksama.
“Empat orang ini?”
“Meskipun tidak terlalu jelas. Saya sangat yakin, laki-laki ini adalah petinggi mereka, Ndan,” tunjuk bawahan Faza ke sosok yang sebelumnya membuat dadanya terasa nyeri dan sesak.
“Target bersama putrinya (Sisil) memberikan foto para korban selanjutnya. Sesuai dengan penuturan target. Jika mereka berasal dari yayasan yang saat ini Ndan awasi.”
“Kurang ajar,” geram Faza.
Faza sama sekali tidak menyangka jika Wilona beserta putrinya sudah lama menekuni bisnis ini. Jaringan rapi hingga butuh bertahun-tahun untuk dibuka.
“Bagaimana dengan keadaan di dalam?”
“Bisa keluar dalam keadaan selamat sudah termasuk mukjizat, Ndan. Untung saja ada orang lain yang berhasil mengalihkan perhatian mereka.”
“Orang lain?”
“Benar, Ndan.”
“Sepertinya mereka di pihak kita.”
‘Sepertinya mereka orang-orang dibawah perintah Ndan Satria,’ batin Faza yakin.
“Apakah mereka mengenali identitasmu?”
“Aku pastikan tidak, Ndan.”
“Terima kasih banyak atas kerja keras kalian.”
“Siap, sudah menjadi tugas, Ndan.”
Setelah mendengar penuturan bawahannya. Faza mulai membuka isi rekaman percakapan di luar video. Percakapan di dalam ruangan tertutup dengan keamanan tingkat tinggi. Hingga kamera gagal menembusnya.
Ceklek!
“Anda telah membohongi saya, Tuan,” ucap tiba-tiba perempuan setelah suara pintu tertutup.
“Bicaralah yang jelas,” ucap santai laki-laki misterius dengan suara berat.
“Anda mengatakan perempuan itu sudah mati. Tapi, nyatanya dia bersama keluarganya masih hidup hingga saat ini,” ucap perempuan di dalam rekaman suara.
“Yang paling menjengkelkan. Bayi dalam kandungannya saat ini merepotkanku dan juga putriku,” tutur perempuan itu menahan suaranya.
“Saat ini aku datang menagih janji Anda, Tuan,” ucap sosok perempuan itu secara beruntun.
“Apakah kamu meragukan kemampuanku, wahai ibu pejabat?”
Tenggorokan Faza terasa tercekat mendengar obrolan dua orang di rekaman suara. Sangatlah wajar jika sampai bawahannya kesulitan bernafas dalam menyelidiki kasus ini.
“Aku bisa menyingkirkan apapun yang menjadi hambatan. Tidak sulit bagiku untuk melakukannya.”
“Apakah Anda sedang mengancam saya?” potong cepat perempuan itu tidak terima.
“Saya sudah memberikan apapun yang kamu inginkan. Jadi, saya meminta hasilnya,” geram perempuan itu.
“Memberikan semua yang aku inginkan atau yang kamu harapkan?” tanya balik laki-laki misterius.
Sunyi hal itu yang Faza rasakan. Sepertinya mereka berdua tampak saling menatap dan menyerang satu sama lain.
“Aku sama sekali tidak pernah memintanya. Justru kamu sendiri menawarkan semua itu untuk keinginanmu,” ucap laki-laki itu memecah keheningan.
“Bukan, bukanlah seperti itu. Lebih tepatnya untuk mewujudkan dendammu.”
Deg!
Faza secara reflek melepas kancing kemeja bagian atas. Membuka kaca mobil untuk mendapatkan udara sebanyak-banyaknya.
Percakapan antara dua orang di dalam rekaman suara sangat menekan emosi dan juga kejiwaannya. Memberikan tekanan secara bertubi-tubi tanpa sentuhan langsung.
Ceritanya keren 👍