Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Hari Kamis pun tiba.
Kebetulan Yurika memiliki waktu luang setelah makan malam. Mengingat undangan kakaknya, ia memutuskan datang ke bar tersebut.
Ini adalah kunjungan pertamanya. Sebelumnya, jadwalnya selalu terlalu padat sehingga ia tidak pernah sempat datang memberikan dukungan secara langsung.
Begitu masuk, Yurika sedikit terkejut. Bar itu jauh lebih mewah dan luas daripada yang ia bayangkan.
Berbagai fasilitas tertata rapi. Karena malam masih belum terlalu larut, suasana belum mencapai puncak keramaiannya. Seorang DJ terlihat duduk santai sambil mengobrol dan menikmati minuman di sudut ruangan.
Yurika mengambil tempat di dekat bar. Tak lama kemudian, Futaka datang membawa segelas minuman untuknya.
“Jarang sekali kau mau datang ke sini.”
Yurika menyipitkan mata. “Jadi, acara spesial apa yang kau siapkan untuk perayaan ini?”
Futaka menatapnya datar.
“Jadi kau datang hanya karena ingin tahu soal itu?”
“Benar.”
Futaka menggeleng pasrah.
“Aku mengundangmu untuk menikmati malam ini, bukan untuk menginterogasiku. Minumlah sepuasnya, asal jangan sampai mabuk.”
Yurika tertawa kecil lalu mengangguk.
Saat matanya menyapu ruangan, ia menyadari beberapa teman dari sang kakak sedang diam-diam memperhatikannya dengan rasa penasaran.
Yurika tersenyum ramah dan melambaikan tangan sebagai sapaan. Respons itu langsung membuat suasana menjadi lebih santai.
“Tidak heran Futaka begitu protektif,” salah satu dari mereka berkata sambil tersenyum. “Kau bahkan lebih cantik daripada yang kami bayangkan.”
Yang lain ikut menimpali. “Benar. Kami sudah sering mendengar tentangmu. Kenapa kakakmu menjagamu seketat itu?”
Yurika tertawa. “Mungkin kalian harus menanyakan itu langsung padanya.”
“Ngomong-ngomong, apa yang biasanya dia katakan tentang kami?”
Yurika berpikir sejenak. “Dia bilang kalian orang-orang yang baik dan sopan.”
“Benarkah?”
“Ya.”
Mendengar jawaban itu, beberapa orang langsung tertawa puas.
“Kalau begitu kami merasa terhormat. Lagipula, hubungan kami dengan Futaka sudah seperti keluarga. Jangan khawatir, tidak ada yang berani macam-macam padamu.”
Percakapan pun mengalir dengan santai.
Semakin lama, Yurika merasa mereka semua cukup mudah diajak berbicara. Ia duduk bersama mereka, menikmati minuman sambil mengobrol ringan.
Sementara itu, malam terus berjalan. Lampu-lampu mulai meredup, musik semakin keras, dan suasana bar berubah menjadi lebih hidup.
Para tamu berdatangan tanpa henti.
Lantai dansa perlahan dipenuhi oleh pria dan wanita yang larut dalam irama musik, menandai dimulainya suasana malam yang sesungguhnya.
Bar semakin ramai seiring bertambah larutnya malam.
Lampu-lampu berwarna-warni berpendar di seluruh ruangan, memantulkan cahaya merah, biru, dan ungu ke wajah para pengunjung yang memenuhi setiap sudut tempat itu. Musik berdentum cukup keras hingga membuat lantai dansa bergetar pelan, sementara gelak tawa dan percakapan bercampur menjadi satu dalam suasana yang riuh.
Yurika duduk di salah satu kursi bar yang berada di bagian tengah ruangan. Dari tempat itu, ia bisa melihat hampir seluruh area dengan jelas.
Di sekelilingnya, para pria dan wanita datang silih berganti. Ada yang sedang minum bersama teman-teman, ada yang tertawa sambil bermain permainan minum, dan ada pula yang berdiri di dekat lantai dansa menikmati musik.
Karena posisi duduknya cukup terbuka, Yurika bisa dengan mudah mengamati orang-orang di sekitarnya.
Sementara itu, Futaka sebagai pemilik bar tidak terlalu sibuk malam ini. Sebagian besar pekerjaan sudah diserahkan kepada para karyawan yang berpengalaman.
Saat sedang mengobrol dengan seorang kenalan di dekat area VIP, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada pintu masuk.
Langkahnya langsung terhenti, matanya sedikit menyipit. Dia menatap beberapa saat untuk memastikan dirinya tidak salah lihat.
Pria yang baru saja masuk itu memang orang yang dia kenal. Seseorang yang selalu berhasil membuat suasana hatinya memburuk hanya dengan kemunculannya.
Orang di sampingnya menyadari perubahan ekspresinya.
"Siapa yang kau lihat?"
Futaka mendengus pelan. "Musuh lama."
Pria itu menoleh lagi ke arah pintu. Begitu melihat siapa yang dimaksud, dia langsung mengerti.
"Austin? Dia musuh mu?..."
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏