NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Sentuhan yang Dikenali

Kegelapan yang kini mengurung Aurora ternyata membawa berkah tersendiri bagi jiwanya yang rapuh. Tanpa indra penglihatan yang bisa memicu trauma visual terhadap wajah-wajah yang dulu selalu menatapnya dengan kebencian, Aurora mulai mengandalkan sisa indra lainnya: pendengaran, penciuman, dan sentuhan.

Di dunia hitamnya yang baru, tiga sosok pria yang mengaku sebagai kakaknya itu menjelma menjadi kehadiran yang berbeda. Aurora tidak mengingat nama atau kesalahan masa lalu mereka, namun tubuhnya mulai merekam frekuensi kehadiran mereka dengan cara yang unik.

Sosok pertama adalah yang paling sering berada di sisinya. Pria yang memanggil dirinya Arvin.

"Ra, minum airnya perlahan. Masih agak hangat," bisik Arvin lembut. Tangannya yang besar namun gemetar menuntun ujung sedotan ke bibir Aurora yang pucat.

Setiap kali Arvin mendekat, Aurora selalu mencium aroma minyak telon bercampur parfum maskulin yang samar. Sentuhan tangan Arvin saat membenarkan selimutnya selalu terasa sedikit terburu-buru namun penuh dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah-olah Aurora adalah barang pecah belah yang bisa hancur jika ditekan terlalu keras.

"Kak Arvin," panggil Aurora pelan setelah meneguk airnya. "Tangan Kakak... kenapa kasar sekali? Di sini ada perban, ya?" Jemari kurus Aurora meraba punggung tangan Arvin, merasakan tekstur kain kasa yang membungkus luka akibat hantaman ke dinding tempo hari.

Arvin menarik napas tersedak, mencoba

menahan air matanya agar tidak terdengar oleh Aurora. "Ah, ini... kemarin Kakak tidak sengaja jatuh saat buru-buru mau menjengukmu. Tidak apa-apa, tidak sakit kok."

"Jangan jatuh lagi, Kak. Nanti kalau Kakak sakit, siapa yang membacakan buku biru ini untukku?" Aurora meraba buku catatan bersampul beludru yang kini selalu ada di atas pangkuannya. Di dalam kegelapannya, suara serak Arvin saat membacakan doa-doa kecil dari buku itu adalah jangkar yang membuatnya merasa aman.

Sosok kedua adalah yang paling jarang bicara, namun kehadirannya memberikan rasa tenang yang kokoh. Pria itu bernama Eros.

Eros biasanya datang menjelang malam, setelah menyelesaikan badai hukum yang ia tebarkan untuk menghancurkan keluarga Ranisatya di luar sana. Setiap kali Eros memasuki ruangan, Aurora bisa mendengar derap langkah sepatu pantofel yang tegas namun mendadak melambat drastis saat mendekati ranjangnya.

Sentuhan Eros berbeda dengan Arvin. Saat Aurora mengalami sesak napas di tengah malam akibat pompa VAD yang bekerja terlalu keras, sebuah telapak tangan yang lebar, hangat, dan sangat stabil akan diletakkan di atas keningnya. Sentuhan itu tidak bergerak, hanya diam di sana, menyalurkan kekuatan yang membuat badai panik di dada Aurora perlahan mereda.

"Tidurlah, Aurora. Kakak di sini. Tidak akan ada yang berani menyakitimu lagi," suara bariton Eros malam itu terdengar seperti pelindung yang tak tertembus. Aurora tidak tahu bahwa pria yang memberikan rasa aman ini adalah pria yang sama yang beberapa hari lalu menendang pintu kamarnya hingga jeblos. Dalam lupa, Aurora menemukan kedamaian yang hakiki.

Dan sosok ketiga adalah Juna. Di mata visual Aurora yang mati, Juna adalah keheningan yang bergerak. Juna jarang menyentuhnya, namun setiap kali Juna ada di kamar, Aurora bisa mendengar ketukan konstan dari jemari yang mengetik di atas keyboard laptop.

Anehnya, suara ketukan itu justru menjadi terapi tersendiri bagi Aurora. Itu membuktikan bahwa ia tidak sendirian di dalam kegelapan. Terkadang, Juna akan meletakkan sebuah benda kecil di tangan Aurora—potongan es batu yang dibungkus kain kasa untuk mengompres bibirnya yang kering, atau buah jeruk yang sudah dikupas bersih dari serat-serat putihnya agar mudah ditelan.

"Lidahmu masih hambar, kan? Makan ini. Vitamin C bagus untuk detoksifikasi obat di saraf matamu," ucap Juna datar tanpa intonasi emosi, namun tangannya tetap menahan mangkuk di bawah dagu Aurora agar jusnya tidak menetes ke baju rumah sakit.

Sementara ketiga putranya perlahan mulai diterima di dalam dunia baru Aurora, Bramantyo Tenggara justru semakin terasing.

Siang itu, dapur khusus VIP Rumah Sakit Pusat Tenggara tampak lengang. Di depan sebuah kompor induksi modern, sang penguasa dinasti Tenggara berdiri dengan celemek putih yang tampak sangat tidak pas dengan setelan kemeja mewahnya. Di atas meja marmer, berserakan beras organik, panci kecil, dan kaldu ayam.

Bramantyo sedang mencoba memasak bubur.

"Tuan Besar, biar saya saja yang lanjutkan. Tuan bisa terluka," ucap Bi Inah yang sengaja dipanggil dari rumah utama untuk membantu, wajahnya dipenuhi rasa cemas melihat tuannya memegang pisau dapur dengan canggung.

"Diam, Inah. Saya bisa sendiri," sahut Bramantyo dingin, meskipun tangannya yang biasa menandatangani berkas akuisisi perusahaan kini tampak kaku saat mengaduk beras yang mulai mengental di dalam panci.

Pria itu teringat kata-kata Profesor Gunawan bahwa lidah Aurora mulai kehilangan rasa akibat keracunan obat. Kenangan lama kembali memukulnya: mendiang istrinya, Amalia, dulu selalu memasak bubur dengan kaldu jamur khusus setiap kali jantungnya melemah. Bramantyo mencoba mengingat-ingat resep itu, mencoba memasukkan rasa penyesalannya ke dalam semangkuk makanan yang berharap bisa diterima oleh putri yang telah ia telantarkan selama enam belas tahun.

Dua jam kemudian, Bramantyo berdiri di ambang pintu kamar rawat Aurora membawa sebuah mangkuk keramik kecil. Ia melihat Arvin sedang menyisir rambut Aurora dengan jari-jarinya.

Bramantyo melangkah masuk dengan sangat perlahan. "Aurora..." panggilnya, suaranya yang biasa menggelegar kini terdengar sangat parau dan ragu-ragu.

Aurora menolehkan kepalanya ke arah suara. Alisnya berkerut kecil. Indra penciumannya menangkap aroma kaldu yang sangat familiar—aroma yang mengingatkannya pada masa kecil yang samar—namun di saat yang sama, dadanya mendadak terasa sedikit sesak. Trauma psikologisnya terhadap suara berat itu masih menyisa di alam bawah sadarnya.

"Siapa... ya?" tanya Aurora, suaranya mencicit ketakutan. Ia secara insting meraba lengan baju Arvin, mencari perlindungan.

Melihat reaksi ketakutan itu, Bramantyo menghentikan langkahnya. Jaraknya masih tiga meter dari ranjang, namun ia merasa jarak itu adalah jurang yang tak akan pernah bisa ia seberangi. Ia menurunkan mangkuk bubur itu ke atas meja dekat pintu.

"Ini... ini paman yang menjaga rumah sakit ini," ucap Bramantyo berbohong, memutus sebutan 'Papa' demi menjaga agar detak jantung putrinya tidak melonjak panik. "Paman membawakan bubur untukmu. Makanlah yang banyak agar matamu bisa cepat melihat kembali."

Bramantyo berbalik dengan cepat, melangkah keluar ruangan sebelum air matanya jatuh di depan anak-anaknya. Di koridor yang sepi, pria perkasa itu bersandar pada dinding, menggenggam foto tua berlapis darah di saku kemejanya.

Hukuman untuk Bramantyo ternyata jauh lebih kejam: ia diizinkan memberikan seluruh kekayaannya untuk mempertahankan napas Aurora, namun ia dilarang menyebut dirinya sebagai seorang ayah di depan putri kandungnya sendiri.

1
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
merry
bodoh klian tu gk ketulungan,,, skrg nikmati penyesalan klian😄😄😄😄ngurung nenek peot klian percm krn bntr lg juga msk lubang kubur seblm nikmatin hukumm ya,,,
Ridhasulistiasih
jd bingung.. nenek lastri bukannya asisten rumah tangga dan dia sayang sama aurora ya
merry
hati klian gk tergerak,, kalian gk pyn hati nurani ajj ,, bodoh juga sekolah tinggi cm Percy tahayul bgtuan,,, pdhl klo mkr pkai otak aku rsa klian gk bkln menyesal seperti skrg krn klian saudra satu rahim sm mmu msk gk ada hati nurani dikit pun
Ridhasulistiasih
kakaknya yg satu lg kemana thor?? si gavin kok gak diceritain lg??
Ridhasulistiasih: bukan, ituloh dibab awal dijelasin punya kakak 4: eros sisulung yg kaku, gavin si atletis tempramental, juna si jenius yg pendiam dan arvin si pemberontak...nah si gavin kemana? trus yg waktu disekolah ad alumni dtg itu si gavin kan, yg buat aurora dihukum lari keliling lapangan...
total 2 replies
merry
bpk bajingann iblis ajj gk gt x sm ank ya,,, bisa ap si ank kcil sampai bunuh istri mu,, penyesalan mu gk ada gunanya pak
merry
/Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/buat lh mrk penyesalan bgtt dh nyiksa adiku sndri klo pun sdr buat aura gk ingt siapa mrk lgg gk ingt itu saudranya mungkin itu lh hukuman terberat buat saudranya Aurora
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!