bagaimana mungkin aku lupa dengan masa itu, bagaimana mungkin aku lupa dengan kenangan kisah cinta kita, yang kita jalin bertahun tahun lamanya, dan tidak pernah ku sangka kisah kita berakhir dengan pengkhianatan yg sadis, kau balas cinta dan pengorbanan ku dengan luka yg begitu hebat, hingga luka itu merubah ku menjadi bukan diriku, hari hari ku di penuhi rasa dendam, hingga muncul niat dalam pikiran ku untuk membunuh mu, namun takdir berkata lain.
aku nyaris kehilangan akal sehat, dan hampir gila dengan alur cerita hidup ku, hingga aku kehilangan arah tujuan hidup ku, sampai pada suatu hari tuhan menghadirkan se orang wanita yg menyadarkan ku, dan menyelamatkan hidup ku, dia merubah hidup ku menjadi berarti, dan bangkit meraih mimpi ku, hingga tuhan mempersatukan ku dengan dia, dan tuhan menganugrahkan kebahagiaan yg luar biasa tak pernah ku rasakan dalam hidup ku bersama dia sebelumnya.
dan kau lah jawaban doa dalam hati ku. HANUM RUSYDAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi liburan mendaki gunung
Waktu terus berjalan dan hari hari berganti, kini tiba waktu yg telah elina dan maya tentukan untuk pergi liburan.
Saat itu mereka sedang berkumpul di suatu tempat yg telah di janjikan, sebagian sudah duduk santai di dalam mobil bus, dan sementara elina, dony dan juga maya masih berada di luar menunggu semua berkumpul.
Satu persatu teman teman datang dan sudah siap untuk pergi berangkat, namun saat itu aku belum datang, aku masih dalam perjalanan.
" Kemana sih kamu kang.." gegerutu elina sambil melihat ke arah jalan.
" Coba kamu telpon lagi lin.." ucap maya di dekatnya.
" Udah, katanya lagi di jalan.." ucap elina.
" Bentar lagi nyampe kali.." ucap dony.
Dan sementara aku, saat itu aku masih dalam perjalanan, saat itu aku di antarkan oleh teman ku dengan mengendarai motor vespa ku, aku di bonceng oleh teman saat itu.
" Buruan entar gue ketinggalan ini.." ucap ku kepada teman ku yg membawa motor ku itu.
" Iya iya sabar, bentar lagi juga nyampe.." ucap teman ku, dan tak lama kemudian tiba tiba motor ku mati.
" Lah kenapa ini mati motor..? " Ucap teman ku dengan heran.
" Hadehh ada ada aja sih ah, coba sini gue yang bawa.." ucap ku, lalu aku dan teman ku turun dari motor, saat aku mencoba menghidupkan motor ku, motor ku tidak mau menyala, motor ku mogok.
" Sialan ada ada aja sih ah, gue lagi buru buru juga, udah gue jalan kaki aja dah, udah gak jauh ini.." ucap ku.
" Terus gue gimana ini.." tanya teman ku.
" Entar gue telpon si kampret buat jemput loe ke sini, gue lagi buru buru soalnya, ya gue cabut dulu ya.." ucap ku.
" Yaudah iya dah, hati hati loe di jalan.." ucap teman ku.
" Iya, gue pergi dulu ya.." ucap ku, lalu aku berlari melanjutkan perjalanan ku sambil menggendong tas.
Dan sementara teman teman ku sudah menunggu ku di sana, saat itu mesin bus sudah menyala dan bersiap untuk berangkat, dan sementara teman yg lain sudah masuk ke dalam bus, yg masih di luar hanya elina, maya dan dony, elina gegerutu dan panik karena aku tak kunjung datang, lalu elina mencoba menhubungi ku lagi, saat hendak akan menghubungi ku, ia melihat ku dari kejauhan sedang berlari menghampiri mereka.
" Nah itu si satria.." ucap dony melihat ku
" Kang buruan kanggg, ini udah mau berangkat.." ucap elina berteriak kepada ku.
" Iya kang, cepetan kang, semangat kang.." ucap dony berteriak mengejek ku, dan sementara maya tertawa.
" Apa sih kamu don.." ucap elina dengan malu.
Sesampainya aku di hadapan mereka, aku membungkukan badan dan menghela nafas panjang karena capek berlari.
" Capek banget..hah.." ucap ku dengan nafas yg tercekat.
" Udah ayo naik ayo.." ucap dony.
" Iya ayo buruan sat.." ucap maya, dony dan maya pun naik ke dalam bus.
" Iya bentar, engap, nafas dulu.." ucap ku.
" Kok kamu jalan kaki, katanya di anter sama temen pake motor.." tanya elina.
" Iya, tadi motor nya mogok ada ada aja, untung udah deket.." ucap ku.
" Ada ada aja, yaudah yuk naik masuk , udah mau berangkat ini.." ucap elina, lalu maya memanggil ku di dalam bus untuk segera naik.
" Yuk, kamu bawa tas keril gede gitu kayak yg kuat aja nanti bawa nya..! " Tanya ku sambil berjalan naik masuk ke dalam bus dengan elina.
" Iya banyak bawaan aku soalnya, ya nanti kan kamu yg bawa di sana..hehe.." ucap elina.
" Bisa ajah, yaudah iya gak ppah nanti aku yg bawa.." ucap ku.
Setelah masuk ke dalam bus, aku duduk berdua dengan elina, dan tak lama kemudian pun bus berangkat mengantarkan kami ke tujuan.
Perjalanan cukup lumayan jauh, banyak teman ku yg tertidur di dalam perjalanan, elina pun tertidur, ia tertidur bersandar di bahu ku, aku tersenyum menatap wajah elina yg tertidur.
Sesampainya di sana, semua turun dan bergegas bersiap siap untuk mendaki, seblum jalan kami berdoa bersama demi kesalamatan kami, dan saat itu pemandu jalan memperingatkan kami tentang aturan aturan di tempat itu, dan setelah itu kami pun berangkat berjalan mendaki gunung tersebut.
Dalam perjalanan kami di manjakan dengan suasa alam yg indah dengan pepohonan besar di sekeliling kami, udara sangat begitu sejuk dengan di iringi kicauan buru burung merdu dan suara hewan lainya yg membuat semakin terasa di alam liar, di tengah perjalan dengan riang dan lelah elina memvidio perjalanan kami dengan camera yg elina bawa, ia mencandai dan menyemangati ku sambil memvidio ku dari depan, kemudian elina meminta bergantian kepadaku memegang camera nya itu, lalu aku memvidio dirinya sambil asik bercanda tawa denganya, aku juga memvidio maya dony dan teman teman ku.
Dan tak lama kemudian pemandu jalan mulai menghitung, untuk memastikan bahwa tidak ada yg tertinggal, ia mulai menghitung dari dirinya, menyebutkan angka satu, yg di belakangnaya menyebut angka dua, terus begitu sampai orang paling belakang.
Saat itu aku berjalan di posisi di depan elina, dan maya di belakang elina, dan dony di belakang maya, saat bagian dony menghitung bagian dirinya, bukanya menyebutkan angka urutan dia kebarapa, dony malah kentut dan terdengar jelas. Sementara aku dan teman teman ku menertawakanya, begitu juga dengan dony pelakunya. Dan sementara teman ku yg berada di belakang dony, ia langsung menghentikan langkah kakinya sambil menutup hidung.
" Sialan loe don, bau kampret, brengsek loe ah.." ucap teman ku dengan kesal yg berada di belakang dony itu, sementara dony malah mengetawainya sambil terus jalan.
" Udah hirup aja, sehat.." ucap dony.
" Jorok banget sih loe don ah.." ucap maya di depanya.
" Dari pada gue tahan pendem, jadi penyakit, entar sakit, sama kayak cinta.." ucap dony
" Gak jelas loe ah.." ucap maya.
Kami terus berjalan, dan sesampainya di tempat perkemahan, kami pun ber istirahat sejenak, saat itu belum sampai ke puncak, hanya sebagian saja yg mau ke puncak, karena yg lain sudah tidak sanggup mendakinya, saat itu yang ikut ke puncak hanya beberapa orang saja, aku, elina, dony, maya dan beberapa teman ku.
Aku ber istirahat sejenak di tempat perkemahan itu sebelum melanjutkan perjalana menuju puncak gunung itu, dan beberapa teman yg lainya sedang sibuk mendirikan tenda.
Setelah itu tak lama kemudian aku elina, dony, maya dan beberapa teman ku melanjutkan lagi perjalanan menuju puncak, kali itu aku dan yg lain menunda tas keril kami di tempat perkemahan itu, aku dan yg lainya hanya membawa beberapa peralatan dan persediaan sedikit saja, karena kami tidak akan lama lama untuk berada di puncak sana.