NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sah yang dipaksakan

Malam itu udara di rumah Pak RT terasa semakin pengap. Lampu neon kuning berkedip pelan, menerangi wajah-wajah warga yang menunggu keputusan. Arka berdiri kaku di samping cantika , sementara Pak RT masih memegang ponselnya dengan layar yang menyala, menampilkan cuplikan video yang sudah mulai menyebar di grup komunitas lokal.

“kami sudah putuskan tidak ada jalan lain selain menikah ,” kata Pak RT tegas. “Kalian berdua harus dinikahkan malam ini juga. Kalau tidak, video ini akan terus beredar dan nama baik kalian berdua akan hancur. Cantika, kamu setuju atau tidak?”

Cantika menunduk dalam-dalam. Tangannya dingin dan berkeringat. Ia baru mengenal Arka kurang dari enam jam. Pemuda tampan berpakaian rapi itu memang menarik, tapi pernikahan? Itu sama sekali di luar bayangannya. Namun, bayangan ibunya yang sedang sakit di rumahnya membuat hatinya semakin berat. Kalau video ini sampai ke telinga ibunya, Cantika yakin ibunya bisa drop dan kondisinya semakin parah.

Dengan suara pelan tapi jelas, Cantika akhirnya menjawab, “Saya … menerima permintaan Bapak dan warga. Tapi ada syarat.”

Pak RT mengangkat alis. “Syarat apa?”

Cantika menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Saya tidak ingin ibu saya diberi tahu dulu. Beliau sedang sakit-sakitan di rumah . Kalau tahu mendadak seperti ini, saya takut ibu ngedrop. Nanti saya sendiri yang akan memberitahu beliau, dengan cara yang baik dan pelan-pelan. Untuk sekarang, tolong jangan hubungi ibu saya.”

Beberapa warga saling berpandangan. Seorang ibu paruh baya mengangguk mengerti. “Wajar, Bu. Orang tua kan mudah khawatir.”

Cantika melanjutkan, “Dan untuk wali nikah, saya hanya minta paman saya yang datang. Namanya Pak Hasan. Beliau tinggal tidak terlalu jauh dari sini, di desa sebelah ,Tolong hubungi beliau saja. Jangan libatkan keluarga besar dulu.”

Pak RT mengangguk setuju. “Baik. Itu masuk akal. Kami akan hubungi pamanmu sekarang juga.”

Tak lama kemudian, ponsel Cantika berdering. Ia mengangkat dengan tangan gemetar. Suara paman Hasan terdengar khawatir di seberang sana. “Tika? Ada apa malam-malam begini? Kamu kenapa?”

Cantika berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Paman, tolong datang ke rumah Pak RT di kampung ini. Ada masalah mendesak. Saya butuh Paman jadi wali nikah saya malam ini juga. Tolong jangan tanya banyak dulu, nanti saya jelaskan semuanya. Dan yang paling penting … jangan beri tahu Ibu dulu. Saya yang akan kasih tahu sendiri.”

Pak Hasan terdiam sejenak. “Nikah? Dengan siapa? Kamu baik-baik saja, Tika ?”

“Saya baik-baik saja, Paman Tolong datang secepatnya. Ini soal nama baik saya dan keluarga.”

Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Pak Hasan tiba dengan motor bututnya. Wajahnya tampak bingung dan cemas ketika melihat keponakannya berdiri di tengah kerumunan warga. Cantika langsung memeluk pamannya dan berbisik pelan, “Paman, maaf ya. Saya terjebak situasi. Nanti saya cerita panjang lebar. Sekarang tolong jadi wali saya. Maharnya nanti dari pihak laki-laki.”

Pak Hasan mengangguk berat. Sebagai paman yang paling dekat, ia tidak bisa menolak permintaan keponakannya. Meski hatinya gelisah, ia tetap mengikuti alur yang sudah disiapkan warga.

Prosesi pernikahan darurat itu digelar di ruang tamu Pak RT yang sempit. Penghulu dari masjid setempat sudah siap dengan buku nikah sementara. Arka dipaksa mengeluarkan uang tunai satu juta rupiah dari dompetnya sendiri untuk dijadikan mahar. Ia melakukannya dengan wajah tegang, tanpa sepatah kata pun.

Ketika tiba giliran ijab kabul, suasana menjadi hening. Penghulu membacakan kalimat ijab dengan suara jelas:

“Saya nikahkan engkau, Arka Pradipta bin Bapak Pradipta , dengan cantika putri binti almarhum surya, dengan mas kawin uang tunai satu juta rupiah dibayar tunai.”

Arka menatap lantai sejenak. Dadanya naik turun dengan cepat. Dengan suara datar dan berat, ia mengucapkan kabul:

“Saya terima nikahnya Cantika Putri binti almarhum surya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Penghulu bertanya keras, “Sah?”

“SAH!” jawab para warga serempak dengan suara yang penuh semangat. Sorak kecil terdengar dari beberapa sudut ruangan. Bagi mereka, masalah sudah selesai. Kampung mereka “aman” kembali.

Cantika merasa lututnya lemas. Ia baru mengenal Arka kurang dari enam jam, dan kini pria itu secara resmi menjadi suaminya di mata agama dan adat kampung. Pak Hasan sebagai wali hanya bisa menghela napas panjang sambil memegang bahu keponakannya. “Kamu yakin, Tika ?” bisiknya pelan.

Cantika hanya mengangguk lemah. “Tidak ada pilihan lain, Paman.”

Setelah prosesi selesai, warga mulai pulang satu per satu sambil memberi selamat. Beberapa ibu bahkan memeluk Cantika dan berbisik, “Alhamdulillah, sekarang semuanya beres. Kamu sudah jadi istri sah.”

Ketika ruangan mulai sepi, Arka dan Arumi akhirnya bisa berbicara berdua di teras belakang rumah Pak RT. Pak Hasan duduk tidak jauh dari mereka, memberi ruang tapi tetap mengawasi.

“Maafkan aku,” kata Arka pelan, suaranya penuh penyesalan. “Ini semua karena aku ajak kamu ke gubuk itu. Kalau aku tahu akan begini, aku tidak akan pernah …”

Cantika menggeleng. “Kita berdua sama-sama korban keadaan. Aku sudah bilang ke Pak RT dan warga, aku tidak mau ibuku diberi tahu dulu. Beliau sedang sakit. Nanti aku yang akan kasih tahu sendiri, pelan-pelan. Aku takut kalau ibu langsung dengar berita ini, kondisinya bisa drop.”

Arka mengangguk mengerti. “Aku juga tidak mau keluargaku tahu dulu. Ayahku sedang sibuk tender besar. Kalau tahu aku menikah mendadak karena skandal, bisnis keluarga bisa kena dampak.”

Mereka terdiam cukup lama. Angin malam yang dingin menyapu wajah mereka.

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Cantika akhirnya. “Kita sudah sah menikah. Tapi aku tidak mau tinggal disini. Aku masih punya pekerjaan dan rumah sendiri.”

“Aku juga begitu,” jawab Arka. “Kita buat kesepakatan tertulis. Pernikahan ini hanya di atas kertas. Tidak ada hubungan suami-istri. Kita pura-pura normal di depan orang kalau terpaksa, tapi di belakang kita tetap hidup masing-masing. Setelah video ini reda dan warga tidak lagi mempermasalahkan, kita urus perceraian secara diam-diam.”

Pak Hasan yang mendengar percakapan itu ikut angkat bicara. “Paman setuju dengan rencana itu. Tapi ingat, Tika , pernikahan itu bukan main-main. Meski darurat, tetap ada tanggung jawab. Jangan buru-buru cerai kalau belum ada jalan keluar yang baik. Dan soal ibumu, memang lebih baik kamu yang kasih tahu sendiri.,Tapi bila ibumu mendesakku ,maka akan akan memberitahu dengan pelan

Cantika mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Terima kasih, Paman. Maaf sudah merepotkan Paman malam-malam begini.”

"Tidak apa apa Cantika ,walaupun ini pernikahan dadakan kamu ,aku berharap kalian bisa berjodoh,dan rumah tangga kalian menjadi rumah tangga sakinah mawadah warahmah,dipenuhi kebahagiaan.

"Aamiin."

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!