NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:386
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Tangis Fania belum mereda. Bahunya masih bergetar pelan. Napasnya naik turun, tidak teratur kadang tertahan di tengah, kadang terlepas begitu saja.

Dan tangannya masih menggenggam kemeja Ronald, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri. Kain itu sedikit kusut di genggamannya. Jari-jarinya memutih. Terlihat jelas ia tidak sedang memegang, ia sedang bertahan.

Ronald diam beberapa detik. Tidak terburu-buru, tidak langsung bicara. Ia membiarkannya, memberi ruang bagi semua yang selama ini tertahan untuk benar-benar keluar.

Namun ketika tangis itu justru semakin dalam semakin berat seperti tidak ada tanda akan berhenti ia akhirnya bergerak. Pelan, hati-hati, tangannya terangkat. Sejenak ragu.

Bukan karena ia tidak ingin. Namun karena ia tahu selama ini, jarak itu dibuat oleh Fania. Dan ia selalu menghormatinya. Namun sekarang Fania tidak menjauh. Tidak menolak.

Dan itu cukup, lalu ia memeluk Fania. Bukan pelukan yang ragu. Bukan pelukan yang canggung. Namun pelukan yang familiar.

Hangat, menahan, dan menjaga. Seperti sesuatu yang sudah sangat dikenal oleh tubuh meskipun sempat hilang.

Tubuh Fania langsung merespons. Refleks.

Tanpa berpikir, ia tidak menolak, tidak pula kaku. Justru semakin mendekat. Seolah tubuhnya lebih jujur daripada pikirannya.

Wajahnya tenggelam di dada Ronald. Tangannya berpindah tidak lagi hanya menggenggam kemeja, namun memeluk balik.

Tangisnya pecah lebih keras, lebih dalam dan lebih jujur. Seolah semua yang ia tahan selama ini akhirnya menemukan tempat untuk jatuh.

Ronald mengusap punggungnya pelan naik turun, berulang. Ritmenya stabil, tidak terburu-buru.

Seolah ingin berkata. "Aku di sini, semuanya akan baik-baik saja.”

“Sudah.” Suaranya rendah, tenang. Hampir seperti bisikan. “Sudah, Fan”

Namun Fania menggeleng kecil, masih terisak.

“Tak bisa” Suaranya pecah.

“Tak bisa…” Ia bahkan tidak tahu apa yang tidak bisa.

Berhenti menangis? Mengontrol diri? Atau menerima bahwa ia masih peduli? Semua bercampur. Semua terlalu penuh.

Ronald tidak memaksanya berhenti. Ia hanya tetap di sana. Menahan, menenangkan, memberi ruang.

Untuk pertama kalinya ia tidak mencoba memahami dengan logika. Ia hanya hadir. Dan mungkin itu yang paling dibutuhkan Fania.

Beberapa menit berlalu. Tangis itu perlahan menurun. Masih ada namun tidak lagi meledak. Lebih pelan, lebih teratur.

Napas Fania masih berat. Namun tidak seberantakan tadi. Tangannya perlahan melemah. Genggamannya tidak sekuat tadi. Namun ia masih tidak sepenuhnya melepas.

Seolah belum siap, Ronald sedikit menjauh.

Perlahan, memberi ruang. Cukup untuk melihat wajahnya. Matanya merah, bengkak di sudutnya. Pipinya basah namun yang paling terlihat tidak ada lagi penyangkalan.

Tidak ada lagi topeng tenang yang ada hanya seseorang yang akhirnya jujur pada dirinya sendiri.

“Sudah?” tanyanya pelan.

Fania tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil. Namun jelas belum sepenuhnya. Masih ada sisa yang menggantung.

Ronald menghela napas pelan. Seolah menahan sesuatu yang ingin ia katakan namun belum saatnya.

“Ayo,” ujarnya akhirnya.

“Masuk ke kamar.” Nada suaranya stabil, tidak memaksa. Namun cukup tegas dan untuk pertama kalinya Fania menurut tanpa mempertanyakan.

Ia mengangguk kecil, lelah. Bukan hanya secara fisik namun juga emosional.

Ronald tidak melepasnya sepenuhnya, tangannya tetap di bahu Fania. Menuntun, pelan. Seolah tahu ia belum benar-benar kuat.

Mereka berjalan di koridor hotel. Terasa sunyi hanya suara langkah mereka. Dan sesekali tarikan napas Fania yang masih belum stabil.

Tidak ada percakapan, tidak ada yang mencoba memecah suasana. Karena semua yang perlu dirasakan sudah terjadi.

Di belakang Livia berdiri. Menatap mereka pergi. Tangannya menyilang di dada. Namun ekspresinya lebih lega.

“Finally” gumamnya pelan. Bukan karena masalah selesai. Namun karena akhirnya Fania berhenti lari.

Mark berdiri di sampingnya, lebih diam. Lebih mengamati.

“Dia kuat juga ya,” ujar Livia pelan.

Mark tidak langsung menjawab.

“Bukan kuat,” katanya akhirnya.

“Hanya selama ini dia menahan.”

Livia meliriknya lalu mengangguk kecil.

“Iya” Dan untuk pertama kalinya tidak ada yang perlu mereka lakukan.

***

Pintu kamar terbuka. Ronald mempersilakan Fania masuk. Fania melangkah masuk dengan pelan. Seolah setiap langkahnya dipikirkan.

Matanya menyapu ruangan. Rapi, bersih, tertata, namun terasa asing. Padahal ini bukan hal baru namun konteksnya berbeda.

Ronald masuk setelahnya, menutup pintu. Suara klik itu terdengar jelas. Menandai satu hal tidak ada lagi gangguan dari luar. Hanya mereka berdua.

Hening. Namun kali ini lebih berat, lebih nyata. Fania berdiri di tengah ruangan dan tidak bergerak. Seolah tidak tahu harus mulai dari mana.

Biasanya ia akan langsung menghindar atau menciptakan jarak. Namun sekarang ia tidak melakukan apa-apa.

Ronald mendekat. Namun tetap menjaga jarak. Ia tidak ingin Fania merasa tertekan lagi.

“Duduklah,” ujarnya pelan.

Fania mengangguk kemudian duduk di tepi tempat tidur. Tangannya masih sedikit gemetar. Ia meletakkan clutch di samping. Lalu menatap kosong ke depan.

Ronald berjalan ke meja mengambil air. Kembali, memberikannya.

“Minum.”

Fania menerimanya.

Tangannya kembali bersentuhan dengan Ronald. Kali ini ia tidak langsung menarik. Ia hanya membiarkan. Sebentar. Baru kemudian mengambil gelasnya.

Ia minum perlahan, satu tegukan. Berhenti, menarik napas. Lalu melanjutkan.

Ronald berdiri di depannya, tidak duduk. Seolah menjaga jarak emosional namun tetap hadir.

Ia menatap Fania, namun tidak menekan da tidak menuntut. Hanya menunggu dan anehnya itu terasa lebih berat daripada dipaksa bicara.

Karena sekarang keputusan untuk bicara ada di tangan Fania. Dan itu menakutkan.

Fania menunduk menatap gelas di tangannya. Pikirannya mulai kembali berisik. Namun tidak seperti sebelumnya. Sekarang lebih jelas dan lebih jujur.

Ia mengingat semuanya, kesepakatan mereka. Kata-kata yang pernah ia ucapkan, cara ia menjaga jarak, cara ia menolak. Dan sekarang semuanya terasa seperti berbalik.

Perlahan, menyakitkan.

Ronald akhirnya bicara.

“Fan…” Suaranya lebih lembut. Tidak ada sinis, tidak ada jarak yang dibuat-buat.

“Setelah ini kita bicara.” Kalimat itu sederhana. Namun berat. Karena itu berarti tidak ada lagi lari. Tidak ada lagi alasan.

Fania diam beberapa detik. Tangannya sedikit mengencang di gelas. Lalu perlahan ia mengangguk. Kecil namun jelas. Dan itu sudah cukup.

Ronald menghela napas pelan. Seolah akhirnya mereka sampai di titik yang tidak bisa dihindari lagi.

Hening kembali. Namun berbeda. Bukan hening yang dingin. Namun hening yang menunggu.

Fania mengangkat wajahnya perlahan, menatap Ronald. Tidak lama. Namun cukup untuk memperlihatkan ia tidak lagi bersembunyi.

Ada takut, ada ragu. Namun juga ada kesiapan kecil. Yang sebelumnya tidak pernah ada. Dan mungkin itu awal dari semuanya.

Bukan penyelesaian. Namun awal, karena untuk pertama kalinya Fania tidak lagi mencoba menang. Tidak lagi mencoba benar. Namun mencoba jujur.

Dan itu jauh lebih sulit. Namun juga jauh lebih nyata.

"Baiklah, kita akan bicara"

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!