NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:631
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - Jarak Mendadak

Perubahan paling menyakitkan sering datang tanpa suara. Ia tidak selalu muncul lewat pertengkaran besar, pintu yang dibanting, atau kalimat perpisahan yang jelas arahnya. Kadang ia hadir dari hal-hal kecil yang pelan-pelan menghilang, sampai seseorang sadar bahwa yang dulu terasa dekat kini tak lagi bisa disentuh.

Itulah yang mulai dirasakan Airel Virellia beberapa hari terakhir. Dari luar, hidupnya masih berjalan seperti biasa. Ia tetap datang ke kampus, tetap duduk di kelas yang sama, tetap bekerja di toko buku pada jam yang sama, tetap pulang melewati halte yang sama. Namun ada sesuatu yang bergeser, dan ia merasakannya di hampir setiap sela hari.

Awalnya hanya pesan yang datang lebih lambat. Dulu Zev sering membalas dalam hitungan menit, kadang bahkan sebelum Airel selesai menaruh ponsel ke meja. Kini satu pesan bisa menunggu berjam-jam, lalu datang dengan jawaban pendek yang nyaris tak punya ruang untuk diteruskan.

Aku udah sampai rumah.

Oke.

Makan belum?

Sudah.

Besok kelas jam berapa?

Pagi.

Jawaban itu rapi, sopan, dan dingin. Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada godaan kecil yang dulu selalu diselipkan seolah sengaja membuat hari terasa lebih hangat. Tidak ada tanda bahwa orang di seberang sana sedang benar-benar hadir.

Airel mencoba memaklumi. Ia memberi banyak alasan sebelum memberi satu kesimpulan. Mungkin Zev sibuk. Mungkin ada urusan keluarga. Mungkin tugas menumpuk. Mungkin sedang lelah. Mungkin sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun.

Ia terus menumpuk kemungkinan agar tidak menyentuh satu jawaban yang paling menakutkan. Zev sedang menjauh.

Di kampus, perubahan itu terasa lebih jelas. Dulu Zev selalu muncul entah dari mana, seperti orang yang hafal jadwal hidupnya tanpa perlu bertanya. Kadang ia sudah berdiri di depan kelas sambil membawa dua kopi. Kadang ia muncul di perpustakaan dengan alasan mencari buku yang tidak pernah benar-benar dicari. Kadang ia sudah ada di halte saat sore, seolah kebetulan selalu memilih jam yang sama.

Sekarang kursi sebelahnya sering kosong.

Jika mereka bertemu di koridor, Zev tetap menyapa. Namun langkahnya tidak lagi berhenti, tidak lagi menyesuaikan ritme dengan langkah Airel, tidak lagi menciptakan percakapan dari hal-hal sepele.

“Hai.”

“Hai.”

“Kelas udah selesai?”

“Udah.”

“Oke.”

Lalu ia pergi.

Sesederhana itu. Dan justru karena sederhana, sakitnya terasa lebih aneh. Tidak cukup besar untuk diprotes, tetapi cukup nyata untuk melukai.

Pagi itu Airel duduk di kantin bersama Kalista sambil mengaduk minuman yang es batunya sudah mencair. Sendok di tangannya berputar tanpa tujuan, menabrak dinding gelas pelan-pelan.

“Kamu dari tadi ngaduk udara,” kata Kalista sambil menatap curiga.

“Aku mikir.”

“Mikirin Zev?”

Airel malas menyangkal. Energinya terlalu habis untuk pura-pura.

Kalista menyandarkan punggung ke kursi. “Kalian berantem?”

“Enggak.”

“Dia selingkuh?”

“Kalista.”

“Ya aku lagi cari opsi.”

Airel menatap meja beberapa saat sebelum menjawab. “Dia cuma berubah.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa hari.”

Kalista yang biasanya suka bercanda ikut serius. Ia menurunkan nada suara dan mencondongkan badan sedikit.

“Kamu tanya?”

“Aku tanya kabarnya. Dia jawab baik.”

“Maksudku tanya kenapa dia menjauh.”

Airel diam cukup lama. Suara mahasiswa lain di sekitar mereka terdengar jauh, seolah kantin mendadak menjadi tempat yang terlalu ramai untuk kesepian seperti ini.

Ia bisa bertanya. Sangat bisa. Namun ada sesuatu yang menahan lidahnya. Bukan gengsi, bukan keras kepala. Lebih mirip ketakutan yang dibungkus harga diri.

Bagaimana kalau Zev memang bosan.

Bagaimana kalau semua kedekatan mereka hanya fase singkat yang sudah selesai bagi satu pihak.

Bagaimana kalau ia satu-satunya orang yang masih menganggap semuanya berarti.

“Aku enggak mau maksa orang buat dekat sama aku,” katanya pelan.

Kalista menatapnya lama. “Itu bukan maksa kalau kamu cuma minta kejelasan.”

Kalimat itu masuk ke telinga Airel, tetapi tidak sampai menenangkan. Kejelasan terdengar sederhana bagi orang yang tidak harus menerima jawabannya.

Sore hari di toko buku, lonceng pintu berbunyi dan Airel refleks menoleh.

Bukan Zev.

Seorang ibu masuk sambil menggandeng anak kecil. Airel langsung kesal pada dirinya sendiri. Ia membenahi rak komik terlalu keras sampai beberapa buku bergeser.

Beberapa pelanggan datang silih berganti. Setiap kali pintu terbuka, matanya terangkat tanpa izin. Ia mulai sadar berapa sering tubuh bisa berharap lebih cepat daripada akal.

Saat jam istirahat, ia membuka ponsel.

Tidak ada pesan baru.

Airel menggigit bibir, lalu mengetik lebih dulu.

Kamu sibuk?

Balasan datang dua puluh menit kemudian.

Lumayan.

Malam ini ke kampus?

Enggak.

Oh.

Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Tidak ada lanjutan.

Dulu satu kata seperti itu akan dibalas dengan candaan, pertanyaan baru, atau minimal gangguan kecil yang sengaja dibuat agar obrolan tidak mati. Sekarang percakapan berakhir seperti pintu yang ditutup pelan.

Malamnya hujan turun tipis. Udara dingin menempel di kaca jendela kamar. Airel berdiri di tempat yang sama seperti banyak malam sebelumnya, memandangi jalan depan rumah yang basah dan sepi.

Dulu ia sering berdiri di sana untuk menunggu seseorang dari masa lalu. Seseorang yang membawa janji dan bayangan panjang dalam hidupnya.

Sekarang ia menunggu seseorang yang masih ada, masih bisa dihubungi, masih berjalan di kota yang sama, tetapi terasa jauh.

Ternyata itu lebih menyiksa.

Jika seseorang benar-benar pergi, hati dipaksa menerima kehilangan. Namun jika ia masih di sekitar, masih bisa dilihat, masih bisa dipanggil, tetapi memilih menjauh, luka menjadi samar dan panjang.

Tidak cukup jelas untuk ditangisi.

Tidak cukup ringan untuk diabaikan.

Ponselnya bergetar.

Nama Zev muncul di layar.

Jantung Airel berdebar cepat sebelum ia membuka pesan.

Besok tugas presentasi jadi jam 10.

Ia membaca kalimat itu beberapa kali. Hanya informasi kelas. Tidak ada sapaan. Tidak ada tambahan. Tidak ada alasan kenapa mendadak menghubunginya.

Ia ingin menertawakan diri sendiri karena masih sempat berharap lebih.

Oke, makasih.

Beberapa detik kemudian tanda dibaca muncul.

Tidak ada balasan lagi.

Keesokan harinya presentasi berlangsung di aula kecil lantai tiga. Airel datang lebih awal, memilih duduk di baris tengah, lalu menata laptop dan kertas materi dengan tangan yang terlalu sibuk untuk ukuran presentasi sederhana.

Zev masuk lima menit sebelum dosen datang.

Ia melihat Airel, mengangguk singkat, lalu berjalan ke baris belakang dan duduk bersama beberapa teman lain.

Jauh.

Airel menatap layar proyektor agar matanya tidak berkhianat. Sepanjang sesi, ia bisa merasakan kehadiran Zev di belakang. Aneh sekali bagaimana seseorang bisa terasa dekat dan jauh pada saat bersamaan.

Saat gilirannya presentasi, ia bicara lebih cepat dari biasanya. Tangannya dingin, tapi suaranya stabil. Ketika selesai, dosen mengangguk puas.

Setelah kelas bubar, Kalista sengaja menarik Airel lebih lama membereskan laptop. Mahasiswa lain mulai keluar sambil bercakap-cakap.

Zev berjalan melewati mereka.

“Airel.”

Ia menoleh cepat.

“Kamu tadi presentasinya bagus.”

Kalimat sederhana itu nyaris membuat semua kecewa beberapa hari terakhir runtuh begitu saja.

“Makasih,” jawabnya.

Namun Zev sudah melanjutkan langkah sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi.

Kalista memijat pelipis. “Ini cowok maunya apa sih?”

“Aku juga pengin tahu.”

Hari-hari berikutnya tidak banyak berubah. Zev tetap hadir, tetapi setengah. Masih peduli pada hal-hal tertentu, lalu menghilang sebelum kedekatan sempat tumbuh lagi.

Jika Airel lupa membawa payung, tiba-tiba ada payung tersandar di depan kelas tanpa nama. Jika ia batuk saat kuliah, botol air hangat muncul di meja dari teman yang katanya hanya titipan. Jika ia pulang malam dari toko buku, pesan masuk singkat.

Sampai rumah kabarin.

Namun ketika Airel membalas setelah sampai, pesan itu hanya dibaca.

Tanpa jawaban.

Tanpa lanjutan.

Seolah Zev ingin memastikan ia baik-baik saja, tetapi menolak berdiri dekat saat ia sendiri butuh kejelasan. Perhatian itu masih ada, namun orangnya seperti mundur beberapa langkah.

Airel mulai lelah.

Bukan lelah mencintai.

Lelah menebak.

Suatu sore ia melihat Zev di taman belakang kampus sedang berbicara dengan Naresta. Perempuan itu tampak serius, sesekali menggerakkan tangan saat bicara. Zev berdiri diam dengan wajah lebih muram dari biasanya.

Airel berhenti cukup jauh.

Ia tidak mendengar isi percakapan mereka. Namun ia melihat Naresta menyentuh lengan Zev sebentar, seolah menenangkan sesuatu. Zev tidak menghindar.

Dada Airel langsung tenggelam.

Ia berbalik sebelum mereka melihatnya. Langkahnya cepat menuju gedung parkir, lalu naik ke tangga darurat yang sepi dan dingin. Di anak tangga tengah ia duduk sambil menunduk, memeluk tas di pangkuan.

Tangannya gemetar tipis.

Ia marah pada dirinya sendiri karena cemburu pada sesuatu yang bahkan tidak ia pahami. Namun yang paling menyakitkan ternyata bukan Naresta.

Melainkan kenyataan bahwa Zev lebih memilih membuka jarak dengannya, lalu tetap membiarkan orang lain berada dekat.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari bawah tangga.

Rave muncul sambil membawa dua kaleng soda.

“Aku nebak kamu di sini.”

Airel mengusap mata cepat. “Kamu ngikutin aku?”

“Aku nyari orang yang kabur kayak tokoh drama.”

Ia duduk di sebelahnya dan menyerahkan satu kaleng. Tidak ada pertanyaan berlebihan. Tidak ada tatapan kasihan yang membuat orang makin rapuh. Hanya kehadiran yang tenang.

Rave membuka sodanya sendiri. Bunyi desis kecil memenuhi sela sunyi.

Setelah beberapa saat, Airel bicara pelan.

“Kalau seseorang berubah tiba-tiba, berarti dia emang dari awal enggak sungguh-sungguh ya?”

Rave menoleh.

“Belum tentu.”

“Terus?”

“Bisa jadi dia lagi perang sama sesuatu yang enggak kamu tahu.”

Airel tertawa hambar. “Kenapa semua orang suka rahasia-rahasiaan?”

“Karena jujur itu mahal.”

Ia menatap lurus ke depan, ke dinding semen yang kusam dan lampu tangga yang mulai redup.

“Tapi orang lain enggak seharusnya jadi korban.”

Kalimat itu membuat Airel diam. Karena benar. Apa pun alasan Zev, kebingungan ini nyata dan jatuh ke dirinya.

Malamnya, di kamar, Airel membuka percakapan dengan Zev cukup lama. Jari-jarinya mengetik satu kalimat lalu menghapus. Mengetik lagi, menghapus lagi. Ia menatap nama di layar seperti sedang menatap pintu yang tak tahu apakah harus diketuk atau ditinggalkan.

Akhirnya ia mengirim satu kalimat pendek.

Kalau kamu memang mau jauh, bilang aja.

Pesan terkirim.

Dibaca sepuluh menit kemudian.

Tidak ada balasan.

Airel menatap layar sampai mata terasa panas. Ia menunggu satu menit lagi. Lalu lima menit. Lalu sepuluh.

Tetap sunyi.

Ia mematikan ponsel, meletakkannya di samping bantal, lalu memeluk lutut di atas kasur. Lampu kamar dimatikan, menyisakan cahaya tipis dari luar jendela.

Di tengah gelap itu, ia menyadari sesuatu yang pahit.

Ternyata kehilangan tidak selalu dimulai saat seseorang pergi. Kadang ia dimulai ketika seseorang masih ada, tetapi memilih tak lagi tinggal di tempat yang sama dalam hati kita.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!