Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kepulan Asap dan Kabar dari Seberang
Kedai Kopi Pak Dirman yang terletak di gang sempit belakang sekolah selalu menjadi saksi bisu atas segala sumpah dan siasat anak-anak SMA Bangsa. Udara di dalam kedai itu pengap, dipenuhi oleh aroma pekat kopi hitam yang berpadu dengan kepulan asap rokok dari belasan pemuda berseragam putih abu-abu. Sore itu, keriuhan kedai seolah mereda sejenak tatkala siluet Jenawa Adraw muncul di ambang pintu.
Jenawa melangkah masuk dengan tenang, mengabaikan beberapa pasang mata yang masih menatapnya dengan sisa-sisa tanda tanya. Ia menarik sebuah kursi kayu kosong di hadapan Seno, lalu menoleh ke arah meja kasir.
"Pak Dirman, kopi hitam seperti biasa untukku, dan tolong penuhi pesanan anak-anak ini. Semuanya aku yang tanggung," seru Jenawa dengan suara baritonnya yang mengalun mantap.
Sorak-sorai tertahan terdengar dari sudut-sudut kedai. Ketegangan yang sempat mengendap sejak pagi tadi menguap perlahan seiring dengan pesanan yang berdatangan. Seno, yang duduk berhadapan dengan Jenawa, menggeser asbak ke tengah meja. Rona kekesalan di wajahnya telah banyak berkurang, namun sepasang matanya masih menyiratkan keingintahuan.
"Kau beruntung traktiran ini datang di saat dompet kami sedang menipis, Wa," ucap Seno seraya menyesap rokoknya. "Tapi jangan kira segelas kopi bisa membuat kami lupa pada kejanggalan kemarin sore."
Jenawa menerima cangkir kopinya yang masih mengepul, mengaduknya perlahan. Ia menatap pantulan wajahnya pada cairan hitam pekat tersebut, sebelum akhirnya menengadah menatap Seno.
"Aku tidak meminta kalian untuk lupa, Seno. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti," ucap Jenawa lugas. Bahasanya tertata, namun ketegasannya tak bisa dibantah. "Aku berdiri di barisan paling depan bukan untuk mencari mati konyol atau membahayakan nyawa orang lain. Jika kau berpikir membiarkan seorang siswi terjebak di tengah lemparan batu adalah sebuah kebanggaan, maka kita memiliki definisi kehormatan yang jauh berbeda."
Seno terdiam. Kawan-kawan yang duduk di meja sebelah pun ikut memasang telinga. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyela saat Jenawa sedang berbicara dari hati ke hati.
"Aku tidak pernah mundur dari garis pertahanan SMA Bangsa. Kau mengenalku lebih dari siapa pun," lanjut Jenawa, suaranya sedikit merendah. "Namun, aku tak akan lagi membiarkan amarah buta mengendalikan pergerakan kita. Mulai saat ini, kita tidak akan menyerang lebih dulu jika tidak diprovokasi, dan kita pastikan area perseteruan tidak melibatkan warga atau murid yang tak bersalah."
Seno menghela napas panjang, mematikan puntung rokoknya ke dalam asbak. "Terserah kau sajalah, Panglima. Selama kau tidak meninggalkan kami saat kawan-kawan Pelita menyerang, kami akan mengikuti aturan mainmu."
Sebuah senyum tipis akhirnya terukir di wajah Jenawa. Ia mengangkat cangkir kopinya, dan Seno membalasnya dengan mengangkat gelas es tehnya—sebuah isyarat perdamaian tanpa kata di antara dua sahabat karib tersebut.
Namun, ketenangan di kedai itu tak berlangsung lama.
Seorang siswa kelas dua menerobos masuk dengan napas tersengal. Kemejanya basah oleh keringat, dan matanya membelalak panik. Ia langsung berlari menghampiri meja Jenawa.
"Bang Jenawa! Bang Seno!" serunya dengan dada kembang kempis.
"Atur napasmu dulu, Bimo. Ada apa gerangan kau berlari layaknya dikejar setan sore-sore begini?" tegur Seno seraya mengerutkan kening.
Bimo menelan ludah, menatap Jenawa dengan raut cemas. "Agam... Agam dari SMA Pelita. Mereka baru saja berkumpul di ujung jalan perbatasan. Kudengar dari anak-anak yang lewat, Agam sesumbar bahwa Panglima SMA Bangsa telah kehilangan taringnya. Mereka berencana memblokir jalan utama besok sore untuk memancing kita keluar."
Suasana kedai seketika senyap. Nama Agam sudah lama menjadi duri dalam daging bagi anak-anak SMA Bangsa. Pemuda itu adalah pimpinan kubu seberang yang dikenal licik dan tidak mengenal aturan main yang adil.
Seno menggebrak meja, membuat cangkir kopi bergemeretak. "Keparat! Mereka benar-benar menantang kita! Kita tidak bisa tinggal diam, Wa. Besok sore kita gempur mereka sebelum mereka sempat memblokir jalan!"
Jenawa tidak segera merespons. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, raut wajahnya kembali keras dan dingin. Otaknya berputar cepat, menghitung probabilitas. Jalan utama yang disebutkan Bimo adalah jalur yang sama yang sering dilewati oleh para siswa untuk pulang, dan yang terpenting... itu adalah jalur menuju gang sempit tempat kediaman Sinaca.
Jika Agam benar-benar memblokir jalan itu esok sore, maka keamanan Sinaca akan kembali terancam. Jenawa teringat akan janjinya pada gadis itu di bawah pohon mahoni tadi—sebuah janji untuk memastikan jalanannya aman, sebuah janji untuk berjalan di sisinya.
"Seno," panggil Jenawa. Nada suaranya terdengar begitu tenang, namun ada aura mematikan yang menguar darinya. "Berapa banyak anak yang bisa kau kumpulkan untuk berjaga esok hari?"
"Sebanyak yang kau minta, Wa," jawab Seno cepat, matanya menyala penuh semangat.
"Bagus," ucap Jenawa seraya bangkit berdiri. Ia meletakkan selembar uang pecahan besar di atas meja, jauh lebih dari cukup untuk menutupi seluruh tagihan kedai.
Ia menatap kawan-kawannya satu per satu. "Esok sore, kita tidak akan menunggu di simpang tiga. Kita akan menjemput mereka di batas wilayah sebelum mereka berani menjejakkan kaki di jalan utama. Aku ingin area tersebut bersih sebelum bel pulang sekolah berbunyi."
Sorak-sorai penuh semangat dan ketukan meja menggema di seluruh penjuru kedai. Jenawa membalikkan badan dan melangkah keluar, meninggalkan keriuhan itu di belakang punggungnya.
Di luar, langit senja mulai memudar, digantikan oleh warna jingga pekat yang perlahan berubah gelap. Jenawa merogoh saku celananya, merasakan angin malam yang mulai berembus dingin. Ia tidak pernah menyukai peperangan, namun esok hari, ia memiliki sebuah alasan baru yang tak terbantahkan untuk turun ke medan juang. Bukan demi nama besar SMA Bangsa, melainkan demi memastikan bahwa seorang gadis bernama Sinaca dapat melangkah pulang tanpa harus menundukkan kepala pada rasa takut.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪