Semua bermula ketika Vanessa yang memaksakan keinginannya untuk mengikat Calvin dalam ikatan pernikahan, dengan harapan bahwa pria itu akan mencintainya. Tapi yang terjadi, pria itu malah membencinya dan berusaha selalu menjaga jarak dengannya, bertahun-tahun menikah, pria itu ternyata masih memikirkan mantan kekasihnya.
Sampai saat Vanessa sekarat karena kanker yang menggerogoti tubuhnya, dia melihat, suaminya yang menggandeng mesra tangan seseorang yang menjadi alasan kenapa pria itu tidak akan pernah mencintainya.
Di sisa nafasnya, dia pun menyesali keputusannya saat itu. "Andai saja aku tidak pernah memaksa Calvin menikah dengan ku, mungkin aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan."
Karena sejak awal, hati pria itu memang bukan miliknya.
Dan yah, Tuhan pun mengabulkan keinginannya. Apakah Vanessa akan merelakan Calvin bersatu dengan mantan kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Bagi Orang Jahat
*Jangan lupa like dan vote dulu sebelum lanjut membaca ☺️
.
Sudah seminggu berlalu sejak peristiwa mengerikan di gubuk tua itu. Namun bagi Calvin, rasanya kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Luka batin akibat rasa takut hampir kehilangan separuh nyawanya itu tertanam sangat dalam di hatinya, dan itu mengubah seluruh hidupnya, terutama sikapnya terhadap Vanessa.
Pagi itu, matahari sudah cukup tinggi, namun Calvin belum juga beranjak dari sisi ranjang. Dia duduk di tepi kasur, tangannya menggenggam jemari Vanessa erat sekali, matanya tidak berhenti menatap wajah istrinya yang masih terlelap damai.
Sejak pulang dari hutan itu, Calvin hampir tidak pernah membiarkan jarak lebih dari lima langkah memisahkan mereka. Bahkan saat Vanessa tidur pun, dia selalu terjaga, bangun setiap jam hanya untuk memastikan bahwa wanita itu masih ada di sana, masih bernapas, dan aman di dekatnya.
Vanessa perlahan membuka matanya, dia tersenyum tipis saat melihat wajah suaminya yang tampak lelah namun di selimuti kekhawatiran. Dia mengerjapkan matanya pelan.
"Calvin ini sudah pagi, kamu tidak berangkat ke kantor?" tanyanya lembut.
Calvin menggeleng, lalu menunduk mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali seolah tidak ada hari besok. Dia menarik Vanessa agar bersandar di dadanya, memeluk pinggang wanita itu sangat erat.
"Tidak Sayang. Mulai hari ini, besok, lusa, dan entah sampai kapan, aku izin tidak masuk kerja." jawabnya santai.
Vanessa memukul dada pria itu main-main. "Nanti ayah marah." jelas jika suaminya tidak datang bekerja, ayahnya yang harus menggantikannya.
"Aku tidak perduli, yang penting aku tidak akan meninggalkanmu barang sedetik pun. Tidak akan." kekeuh pria itu yang membuat Vanessa lelah.
Wanita itu menghela napas panjang, merasakan betapa berubahnya suaminya. Sikap posesif Calvin kini sudah melampaui batas wajar. Ke mana pun dia pergi, Calvin selalu ada di sana. Bahkan ke kamar mandi pun, Calvin akan berdiri tepat di depan pintu sambil berbicara terus-menerus agar dia tahu istrinya masih ada di dalam.
Saat Vanessa ingin sekadar berjalan-jalan di taman belakang rumah, Calvin mengikutinya, tangannya pria itu tidak pernah lepas dari lengan atau pinggangnya, matanya mengawasi tajam setiap sudut, setiap semak, setiap orang yang lewat, seolah ada ancaman di mana-mana.
"Tapi kamu harus tetap masuk. Ayah mungkin bisa menghandle beberapa pekerjaan mu. Tapi kamu sekarang yang jadi pemimpinya." Vanessa kembali membujuk suaminya. Bukannya tidak suka pria itu ada di rumah, tapi yang namanya pekerjaan, apalagi suaminya itu bosnya, rasanya sangat tidak etis jika pria itu terus-terusan cuti.
"Iya-iya, bawel, tapi nanti ya, aku masih ingin melihat mu disisi ku." Calvin mengeratkan pelukannya pada bahu istrinya, membuat Vanessa sedikit terhimpit namun dia diam saja menikmati.
"Setelah apa yang terjadi dan setelah aku hampir kehilangan mu karena kelalaianku, Aku merasa harus selalu di sampingmu." gumam pria itu dengan tatapan mata kosong.
Vanessa hanya bisa diam, dia tersenyum tipis melihat ketakutan di mata suaminya. Calvin jelas masih trauma. Dan sepertinya pria itu benar-benar mencintainya.
Calvin terlihat takut jika dia hilang.
Oh iya, bagaimana kabar dua orang yang menculiknya.
kedua pasangan itu sudah berpindah ke ruang tengah, keduanya menonton rangkaian berita pagi ini.
Di ruang tengah, televisi menyala menayangkan berita utama pagi itu. Gambar wajah Daffa dan Aurel terpampang jelas di layar, diapit oleh dua petugas berseragam yang mengiringi mereka keluar dari gedung pengadilan.
Suara penyiar berita terdengar jelas memenuhi ruangan:
"Pengadilan Negeri menjatuhkan vonis hukuman berat bagi kedua terdakwa dalam kasus penculikan berencana yang menghebohkan kalangan pengusaha kemarin. Daffa divonis 15 tahun penjara dan denda sebesar 2 Miliar Rupiah atas dakwaan penculikan berencana dengan niat jahat serta perbuatan tidak menyenangkan. Sementara itu, Aurel yang terbukti menjadi kaki tangan dan pembantu utama dalam rencana kejahatan ini divonis 8 tahun penjara."
"Majelis hakim mempertimbangkan bahwa kejahatan ini direncanakan dengan sangat matang, dilakukan dengan cara memanipulasi kepercayaan korban, serta memiliki dampak psikologis yang sangat berat bagi korban dan keluarganya. Hukuman ini dijatuhkan sebagai efek jera agar tidak ada lagi warga negara lain yang menjadi korban obsesi gila seperti ini."
Vanessa menatap lekat layar itu, akhirnya dia bisa bernafas lega. Dia melihat wajah Daffa yang kini tampak hancur, penuh amarah dan penyesalan saat digiring masuk ke dalam mobil tahanan. Pria yang dulu menatapnya penuh nafsu itu kini hanya menjadi sampah masyarakat yang akan membusuk di balik jeruji besi bertahun-tahun lamanya. Begitu pula Aurel, wanita itu menangis histeris menyadari masa depannya hancur karena perbuatan buruknya.
Calvin mematikan televisi dengan cepat, dia kembali menarik Vanessa masuk ke dalam pelukannya yang tidak akan pernah dia lepas. Dia sama sekali tidak merasa kasihan pada kedua orang itu. Baginya, hukuman itu masih terlalu ringan. Seandainya hukum ada di tangannya, Dia akan mengurung mereka seumur hidup agar dunia bersih dari orang-orang yang berani mengganggu keselamatan istrinya.
"Mereka sudah mendapatkan apa yang pantas mereka terima." gumam Calvin dingin.
Vanessa mengangguk tenang. "Setidaknya mereka sudah mendapatkan akibat dari perbuatannya."
"Lalu bagaimana dengan Deon?" tanya Vanessa yang dibalas gelengan kepala oleh suaminya.
"Aku tidak tahu." jawab pria itu kemudian menarik tubuh istrinya dan kembali merengkuhnya.
Lagipula itu bukan urusannya. Tapi jika Deon masih mau menerima Aurel, sepertinya ada yang salah dengan otaknya.
...
Didalam sel yang terasa dingin itu.
Terdengar suara langkah kaki dari seorang penjaga yang sibuk membuka gembok sel milik Aurel.
"Ada pengunjung."
"siapa?" tanyanya penasaran. Tapi polisi itu diam dan mengiringnya ke ruangan yang biasa dipakai untuk menjenguk narapidana.
Mata wanita itu membola saat melihat keberadaan kekasihnya.
Deon menunduk sembari menunggu kekasihnya duduk di atas kursi.
"De...on." panggil wanita itu lirih. pria itu menegakkan kepalanya. Terlihat sorot kecewa di mata pria itu.
"Kenapa?" tanya Deon yang membuat lidah Aurel kelu.
Pria itu kembali menunduk. "Padahal aku sudah memperingati mu sebelumnya."
Benar. Ucapan pria itu benar. Deon pria baik, bahkan pria itu menawarkan uangnya untuknya, tapi dia tetap serakah dan malah tergiur dengan uangnya Daffa.
"Maaf." suaranya tercekat.
pria itu mengangguk. Bahkan dia dengan mudah memaafkan perbuatan wanita itu.
"Aku tidak bisa mengeluarkan mu." sebenarnya bisa, tapi siap-siap saja dia berhadapan dengan Calvin.
Aurel mengerti. Lagipula dia kembali berurusan dengan Vanessa yang dimana mereka memiliki power disini.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan menunggu delapan tahun lagi." Deon berdiri, tersenyum tipis saat menatap kekasihnya.
"Aku pulang."
Pria itu berbalik arah, berniat untuk pergi.
"Deon." panggilnya lagi. Pria itu menoleh.
"Aku mencintaimu."