Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah gorden ruang perawatan, menciptakan garis-garis emas di lantai keramik yang dingin. Zavier mencoba bangkit dari ranjangnya, jemarinya meraba tiang infus yang setia menemaninya sejak kemarin. Kepalanya masih sedikit berdenyut, namun rasa kaku di tubuhnya membuatnya tak tahan untuk terus berbaring.
"Mau ke mana, Mas?" suara lembut Zaheera menghentikan gerakannya. Istrinya itu baru saja kembali dari kantin rumah sakit dengan wajah yang jauh lebih segar.
"Ke kamar mandi, Sayang. Mas mau cuci muka, rasanya lengket sekali," jawab Zavier sambil meringis pelan saat mencoba menapakkan kakinya ke lantai.
Zaheera segera menghambur mendekat. Dengan sigap, ia memegangi tiang infus dengan satu tangan dan merangkul pinggang Zavier dengan tangan lainnya. "Pelan-pelan, Mas. Aku bantu."
Zavier bersandar pada bahu Zaheera yang mungil namun kokoh baginya. Jarak yang begitu dekat ini membuat aroma sabun bayi dari tubuh Zaheera menyusup ke indra penciumannya. Zavier menoleh, menatap pipi istrinya yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Zaheera sambil menahan tawa, menyadari tatapan intens suaminya.
"Mas cuma berpikir... istri Mas ini kalau di rumah sakit kok tambah cantik ya? Apa karena lampunya, atau karena pahala merawat suami?" goda Zavier, suaranya sudah mulai kembali berat dan penuh energi.
Zaheera mencibir, namun pipinya memerah. Saat mereka sampai di ambang pintu kamar mandi yang sempit, Zaheera tidak melepaskan rangkulannya. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, sengaja menggoda Zavier yang mulai tampak salah tingkah.
"Mas... mau dibantu cuci mukanya? Atau mau dibantu yang lain?" bisik Zaheera tepat di telinga Zavier, nada suaranya berubah menjadi sangat manja—nada yang dulu selalu ia gunakan untuk meruntuhkan pertahanan Zavier.
Zavier tertegun, napasnya sedikit tertahan. Ia menatap Zaheera dengan mata yang menyipit, mencoba mencari sisa-sisa keberanian istrinya. "Zee... jangan memancing di air keruh. Ingat, Mas ini sedang diinfus."
Zaheera tertawa kecil, ia menyentuh dada Zavier dengan jari telunjuknya, memutar-mutar kancing kemeja rumah sakit itu. "Memangnya kenapa kalau diinfus? Bukannya dulu Mas selalu bilang kalau sakit itu obatnya cuma aku? Hm?"
Telinga Zavier seketika memerah padam. Ia teringat kejadian semalam, malam pertama mereka yang begitu emosional namun juga penuh dengan gairah yang terjaga. Zavier menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya di depan kegemasan istrinya ini.
"Kamu ini ya..." Zavier menarik pinggang Zaheera lebih dekat, mengunci tatapan mereka. "Jangan sampai Mas sembuh lebih cepat. Nanti kalau kita sudah pulang ke ndalem, ku buat kamu susah berjalan lagi sampai menangis, baru tahu rasa!"
Plak!
Zaheera memukul lengan Zavier yang tidak terinfus dengan cukup keras, wajahnya kini merah padam karena malu sekaligus teringat memori masa lalu mereka. "Mas! Mulutnya!"
Tawa Zavier pecah, namun segera berubah menjadi senyum penuh arti. Mereka berdua terdiam sejenak, terjebak dalam memori yang sama. Ingatan mereka melayang kembali ke masa SMA di Kota A.
Zaheera ingat betul, ada suatu masa di mana ia harus berpura-pura jatuh di depan teman-teman gengnya hanya untuk menutupi rasa sakit dan kesulitan berjalannya setelah malam yang panjang bersama Zavier. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali mereka melewati fase gila itu. Masa remaja yang penuh dengan rasa ingin tahu dan keberanian yang salah arah.
Namun, entah kenapa, malam pertama mereka sebagai pasangan halal kemarin terasa jauh lebih "gila". Zavier seolah kehilangan kendali atas rasa syukurnya. Ia tidak membiarkan Zaheera beristirahat, tidak membiarkan istrinya tidur sedikit pun. Setiap kali Zaheera memohon untuk berhenti, Zavier akan membisikkan doa dan kata-kata cinta yang membuatnya kembali luluh.
Berakhir dengan Zaheera yang menangis di pelukan Zavier Jam 1 Pagi—tangisan yang sama persis dengan tangisan pertama kali mereka melakukan kesalahan itu dulu. Namun kali ini, tangisannya bukan karena ketakutan atau rasa berdosa, melainkan karena rasa lelah yang dibalut kebahagiaan yang sah.
"Ingat kan, Zee? Waktu kamu harus digendong ke UKS karena alasan 'terkilir' padahal gara-gara aku?" bisik Zavier lagi, kali ini suaranya lebih lembut, ia menyandarkan keningnya ke kening Zaheera.
Zaheera menunduk, menyembunyikan wajahnya di dada Zavier. "Itu masalalu, Mas. Jangan dibahas lagi. Malu kalau Mas Azlan sampai tahu kelakuan adiknya yang seperti serigala ini."
Zavier terkekeh, ia mencium puncak kepala Zaheera yang tertutup jilbab. "Dulu kita memang gila, Zee. Tapi sekarang, Mas janji... meskipun nanti aku membuatmu 'menangis' lagi, itu akan menjadi tangisan paling bahagia dalam hidupmu. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi, tidak ada lagi pura-pura jatuh."
Zavier melepaskan rangkulannya perlahan, ia melangkah masuk ke kamar mandi dengan sisa tenaga yang mulai terkumpul. "Sudah, sana keluar. Tunggu di kursi. Jangan menggoda Mas lagi, atau infus ini akan kulepas sendiri sekarang juga."
Zaheera menjulurkan lidahnya, lalu berbalik keluar sambil tertawa riang. Ia duduk kembali di kursi samping ranjang, memandangi pintu kamar mandi yang tertutup. Di balik tawa dan godaannya, hatinya berbisik syukur. Pria yang di dalam sana adalah pria yang sama yang pernah membawanya ke lubang dosa, namun pria itu jugalah yang kini sedang menggandeng tangannya dengan sangat erat menuju pintu surga.
Penyatuan mereka bukan lagi sekadar pelampiasan hormon remaja, melainkan sebuah ibadah panjang yang melelahkan namun mendamaikan jiwa.
Zaheera menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit perih, tersenyum sendiri membayangkan masa depan mereka di bawah atap pesantren yang tenang ini.