Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Mata-mata
Gerakan Yvone sangat cepat, merebut pisau dari tangan si pria gemuk. Lalu menusukkan ke telapak tangan pria itu.
Senjata makan tuan.
Argghhhh
Teriakan mengudara.
Yvone tersenyum tipis. “Mulutmu sangat bau!”
Yvone meludah.
Sementara Sui hanya bisa membeku di tempat. Mulutnya terbuka, menunjukkan sebuah keterkejutan.
“Rasakan itu!”
Tendangan diberikan Yvone tepat di perut pria itu, hingga membuatnya terjengkang ke belakang dan terjatuh ke aspal.
Dua anak buahnya segera menghampiri dan melihat pisau yang masih menancap di telapak tangan bosnya dengan tatapan ngeri. Tusukan pisau itu nyaris membelah tangannya.
“Kenapa kalian hanya melihat saja? Cepat lakukan sesuatu!” teriak pria itu murka.
Kedua bawahan itu saling pandang, kemudian menatap ke arah Yvone yang kini berdiri dengan tatapan garang.
“Masih mau melawan?” tantang Yvone. Berkacak pinggang.
Alih-alih menerima tantangan Yvone. Kedua pria itu justru menggeleng ketakutan. Mereka sampai gemetaran.
“Tidak, Nyonya. Maafkan kami!”
“Cepat pergi dari sini! Jika tidak pergi, maka aku akan merobek mulut kalian yang selalu berkata kotor itu!”
“Ba-baik, Nyonya.”
Kedua anak buah itu segera berlari, tetapi kembali berbalik dan membantu bos mereka yang kesakitan untuk bangkit, lalu membawa pergi bersama mereka.
Yvone menatapnya puas.
Setelah para preman itu tak terlihat, Sui segera mendekati Yvone. “Nyonya, Anda tidak apa-apa?” Sui memeriksa tubuh Yvone dari atas sampai bawah.
“Aku tidak apa-apa, Sui.”
“Nyonya bagaimana Anda bisa…” Ucapan Sui tertahan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Rose yang dikenal lemah selama ini, kini melawan tiga preman sekaligus. Bahkan melukai salah satu dari mereka dengan pisau. Sui juga melihat gerakan Rose seperti seorang ahli.
Melihat raut wajah Sui, Yvone segera tersadar bahwa apa yang ia lakukan telah mengejutkan Sui. Naluri bertarung Yvone sangat kuat. Sehingga bila ada orang yang mengusiknya, Yvone tidak akan segan-segan untuk menghajarnya.
Sementara Rose, mungkin tidak akan berbuat demikian. Dan Yvone sama sekali tidak terpikirkan hal itu. Mungkin ada baiknya jika tadi dirinya tidak melawan.
“Emm…Sui, bisakah kau merahasiakan ini dari siapa pun?”
Sui segera tersadar. Bagaimanapun Rose telah menyelamatkannya.
Sui mengulas senyum, kemudian mengangguk. Ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk setia dan menjaga Nona Mudanya ini. Tetapi, apa yang baru saja terjadi justru membuatnya malu. Bukannya dirinya yang melindungi, justru Rose yang melindunginya.
“Kalau begitu, ayo kita pulang, Nyonya. Taksi sudah datang.” Kendaraan yang dipesan melaju pelan dan berhenti di depan Yvone dan Sui.
Saat itulah Yvone menyadari keberadaan seseorang. Mata Yvone menangkap seorang pria duduk di dalam mobil berwarna hitam yang terparkir di seberang jalan. Dengan gerakan cepat, Yvone segera berlari ke sana, tetapi pria itu lebih dulu menjalankan mobilnya.
“Sial!”
Sui segera menghampiri Yvone. “Nyonya, ada apa?”
“Ada orang yang mengintai kita. Sepertinya preman tadi orang suruhannya,” ujar Yvone dengan tatapan yang tak lepas dari jalanan.
Mendengar itu, Sui terkejut bukan main. “Apa? Jika benar begitu, siapa yang sudah melakukannya?”
“Entahlah, bisa jadi Arsen atau Brighita!” Tatapan Yvone tajam.
“Tuan? Untuk apa dia memata-matai kita?” tanya Sui penasaran. Jika Brighita, itu mungkin, tetapi Arsen. Rasa-rasanya Sui tidak percaya.
“Mana ku tahu, ayo pulang. Aku tidak sabar ingin memberi pelajaran pada mertuaku itu?”
“Apa?”
Di ruangan yang luas, Arsen menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya. Rapat baru saja usai, dan Arsen segera menuju ke ruangannya untuk beristirahat.
Tak lama kemudian, Renata memasuki ruangan. Dengan senyum lebar, ia menghampiri meja kerja Arsen dan berdiri di hadapannya.
“Aku sudah mereservasi tempat untuk makan siang,” kata Renata.
Arsen yang tampak lelah, menatap malas ke arah Renata. “Hanya makan siang saja untuk apa mereservasi tempat?” tanya Arsen tampak tidak senang.
“Bukankah kau tidak suka keramaian? Biasanya juga begitu ‘kan?”
Arsen menghela napas panjang. “Kita makan di dekat sini saja.”
“Tapi…aku…”
Suara ketukan pintu terdengar. Menghentikan ucapan Renata.
“Masuk!” titah Arsen.
Pintu didorong dari luar, seorang pria dengan setelan hitam muncul. Kabel earphiece menggantung di bawah telinga. Langkahnya tampak berwibawa dan penuh perhitungan. Pria itu mendekati meja kerja Arsen dan berdiri tak jauh dari Renata.
Melihat kedatangan pria itu, raut wajah Arsen menjadi lebih bersemangat. Arsen segera menegakkan tubuhnya.
Sementara Renata merasa sebaliknya. Ia kesal lantaran kedatangan pria ini telah mengganggu rencana makan siangnya bersama Arsen.
“Daniel, bagaimana? Apa kau mendapatkan sesuatu?”
Daniel Lin adalah orang kepercayaan Arsen. Pria berdarah campuran China Rusia. Tingginya sekitar 189 cm. Memiliki keahlian dalam berbagai bidang termasuk meretas sistem perangkat lunak.
Jika Daniel sudah turun tangan, itu artinya ada sesuatu yang cukup serius. Sialnya, Renata tidak tahu apa itu.
Daniel melirik ke samping, memberikan kode tersembunyi.
Melihat itu, Arsen segera memberi perintah pada Renata untuk meninggalkan ruangan.
“Renata.”
Hanya dengan satu anggukan saja, Renata mengerti apa yang harus ia lakukan. Renata semakin penasaran, pembicaraan macam apa sehingga harus mengusir dirinya. Meski begitu, Renata tidak punya pilihan lain.
“Kalau begitu aku permisi.” Renata melirik ke arah Daniel sekilas kemudian segera melangkah meninggalkan tempat.
“Jangan lupa tutup rapat pintunya.”
Renata yang sempat menghentikan langkahnya, kembali melanjutkan. Hentakan kakinya menunjukkan sebuah amarah. Sampai di luar, Renata segera menutup pintu sesuai dengan perintah Arsen.
Renata tak lantas pergi, tetapi berdiri depan pintu. “Sejak kapan Arsen merahasiakan sesuatu dariku!” gerutu Renata. Ia ingin sekali menguping pembicaraan mereka. Tetapi ia mengurungkannya karena semua akan percuma, jarak pintu dengan meja Arsen cukup jauh.
Pada akhirnya, Renata harus menelan kekecewaannya.
“Silakan duduk!” titah Arsen. Pria itu menggiring Daniel untuk menuju ke sofa yang ada di sudut ruangan. Ia ingin berbicara dengan santai.
“Terima kasih, Tuan.”
“Jadi apa yang kau dapatkan?” tanya Arsen tanpa basa-basi.
Daniel menarik napas panjang, kemudian menjawab, “Awalnya tidak ada yang aneh, Tuan. Nyonya memang pergi ke rumah sakit, lalu mengunjungi kedua orang tuanya. Tapi saat pulang, ada kejadian yang tidak terduga.”
“Apa itu?” tanya Arsen penasaran.
“Tiga orang preman datang dan menghadang Nyonya.”
“Apa?” Arsen terkejut, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. “Lalu, apa kau menolongnya?” tanya Arsen sambil menebak kejadian selanjutnya.
Daniel menggeleng lemah. Ia mendorong kacamatanya perlahan kemudian menjawab, “Justru di sinilah letak tak terduganya, Tuan. Nyonya menghajar mereka dengan tangannya sendiri.”
“Apa?” Arsen lebih terkejut lagi. Detik selanjutnya, ia tertawa kecil. “Jangan bercanda, Daniel.”
“Saya tidak bercanda, Tuan. Nyonya bahkan berhasil melukai salah satu dari mereka dengan pisau,” lapor Daniel lagi.
“Apa kau bilang? Rose-ku berani melakukan itu?” Tatapan Arsen berubah kosong. Dipenuhi ketidakpercayaan.
“Ya, Tuan. Jika Anda ragu. Coba Anda lihat ini.” Daniel mengeluarkan ponselnya, lalu memutar rekaman video yang ia dapatkan.
Melihat itu, Arsen seketika membeku.