NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

"Aku harus berjuang sekuat tenaga, menjauh dari jurang-jurang kematian yang menganga, dari parit-parit petaka maut yang haus darah, dari sungai-sungai yang mengering dan menyimpan rahasia kelam, dari kebun-kebun yang gagal dituai dan hanya menyisakan kehampaan. Aku tidak ingin kelak terjebak berlama-lama di dunia orang mati, menjadi bagian dari mereka yang terlupakan. Ini adalah jalan hidupku, cita-cita jiwaku, meskipun terdengar asing dan aneh bagi kebanyakan orang. Ini adalah jalan semangatku, tangga yang harus kutegakkan ke atas, menembus langit kegelapan. Lawan kematian adalah kehidupan, dan ruas menuju ke sanalah yang harus aku tempuh. Aku tidak peduli dengan apa yang mungkin dikatakan orang-orang, prinsipku adalah pakaianku, apabila aku melepaskannya, maka aku akan telanjang, telanjang dari makna, telanjang dari tujuan." Ucap Laura, mengukir komitmennya.

Jalanan lurus dengan tiang-tiang lampu penerang yang berdiri bagai prajurit sunyi, memberinya kesan suasana tenang. Ia dapat sedikit merelaksasi sarafnya yang sempat menegang hingga ambang batas, membuatnya melepaskan begitu banyak kegelapan yang terpendam. Kini, Laura merasakan dirinya sedikit lebih lapang, namun kelapangan itu hanya sementara, seperti jeda singkat sebelum badai.

Suara sirene ambulans yang melengking tiba-tiba menusuk kesunyian malam, membelah kegelapan dengan urgensi yang mencekam. Deru mesinnya menderu, seolah didorong oleh desakan malaikat maut, melesat membelah jalanan. Laura, dengan refleks cepat membanting setir ke kiri, menepi sejenak, memberi laluan bagi ambulans untuk melaju kencang. Namun, pandangannya tak sengaja terpaku pada noda merah pekat yang mengotori bagian belakang ambulans itu. Darah. Darah segar yang masih menetes, memantulkan kilau mengerikan di bawah sorot lampu jalan. Laura mengerjap, memastikan apa yang dilihatnya. Ya, itu benar-benar darah, merah kental dan mengalir.

Seketika itu juga, realitas di sekelilingnya hancur, melebur menjadi mimpi buruk yang semakin brutal. Jalanan di hadapannya bukan lagi aspal kelabu, melainkan hamparan merah kehitaman yang mengalir deras, bagai sungai darah kental yang menggenang dan meliuk. Bau anyir menyeruak, menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis yang memualkan. Potongan-potongan telapak tangan, jari-jari yang terputus dengan kuku-kuku yang patah, berserakan di mana-mana. Hamburan isi otak berwarna abu-abu keputihan, dengan gumpalan darah dan rambut yang melekat, tercecer menjijikkan di atas genangan.

Ratusan kendaraan, dari sedan mewah hingga truk besar, hancur lebur, saling bertumpuk, berjungkir balik dengan kondisi mengenaskan. Logam-logam penyok melengkung dalam bentuk-bentuk aneh, ban-ban meledak, dan puing-puing berserakan sejauh mata memandang. Pecahan kaca, tajam dan berkilauan, menyelimuti aspal seperti kristal-kristal kematian. Roda-roda terlepas dari porosnya, menggelinding liar, menumbuk apa saja yang menghalangi.

Di tengah kekacauan yang mengerikan itu, terhampar ratusan tubuh, kaku dan tak bernyawa. Mayat-mayat bergelimpangan dalam posisi-posisi tak wajar, sebagian terhimpit reruntuhan, sebagian lagi terlempar jauh dari kendaraan mereka. Wajah-wajah pucat pasi, mata terbelalak kosong menatap langit yang kelam, seolah dijeda untuk menyaksikan kengerian yang baru saja terjadi. Mulut mereka sedikit terbuka, seolah masih ingin berteriak, masih ingin mengambil napas terakhir yang tak pernah datang. Darah mengering di sudut-sudut bibir, membasahi pakaian yang compang-camping. Beberapa tubuh terpotong-potong, bagian-bagiannya terpisah melarikan diri dari konstruksi raga yang penah menghimpunnya, menciptakan pemandangan yang paling menjijikkan dan tak terperikan.

Pemandangan mengerikan itu membentang nyata, sebuah galeri kengerian tanpa henti sepanjang hampir satu mil. Di setiap jengkalnya, hanya ada korban, terdiam kaku dalam pose terakhir mereka, bagaikan patung-patung kematian yang membeku. Namun, seolah melewati batas tak kasat mata, tiba-tiba saja kengerian itu lenyap. Kondisi jalanan seketika kembali normal, aspal kelabu membentang lurus di bawah sorotan lampu jalan, dan beberapa kendaraan melaju santai seperti biasanya.

Pembukaan tirai realitas yang mengerikan itu memang tidak berlangsung lama, namun cukup untuk mengukir bekas mendalam di jiwa Laura. Meskipun demikian, jauh di lubuk hatinya, Laura menyadari bahwa ruas jalanan ini menyimpan begitu banyak kisah tragis, peristiwa kecelakaan yang tak terhitung jumlahnya, merenggut nyawa dan tersembunyi di balik permukaan yang tenang. Apa yang ia saksikan tadi bukanlah sekadar halusinasi, melainkan penampakan seluruh korban yang mengalami akhir tragis, memori kolektif yang direkam hari demi hari di atas aspal, tahun demi tahun di sepanjang jalurnya, nama-nama orang mati yang menjadi tumbal di atasnya. Semua jiwa yang terhempas di jalanan ini, menunggu untuk dilihat, didengar, dan akhirnya, untuk diingat.

Meluncur menembus kegelapan malam yang kacau, itulah yang dirasakan Laura sejak ia berkunjung di pekuburan. Ia menjejakkan kaki di atas orang-orang yang tergulung tanah, melangkahi tengkorak yang dibiarkan terpendam, menghitung beberapa pusara yang mirip seperti perut mengandung, menyimpan misteri kehidupan yang dirampas kematian. Dari siang yang mencekik benak emosionalnya dengan bayangan penghukuman, hingga malam yang mengejutkan dadanya dengan penampakan yang tak terduga.

"Aku seperti menjalankan misi di waktu tengah malam," bisik Laura pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tersedak. "Yah, mungkin ini tentang upaya menerobos di bawah ketiadaan terang... aku berlari dari sisi gelap yang mencekam menuju ke sisi benderang... meninggalkan duka kematian yang menghancurkan menuju ke arah kehidupan yang tenang... menjauh dari layu gandum menuju kesuburan ladang... membalik keguguran janin menuju ke arah kelahiran yang sempurna sehingga ia dapat dipandang. Ketika semua orang tertidur lelap dalam kebodohan mereka, aku terbangun oleh mimpi buruk yang nyata. Ketika semua orang terbangun dan menjalani hidup seolah tak ada yang salah, aku akan tetap berusaha terjaga meski mendesah, menyerap setiap intuisi yang tersembunyi dengan akal yang diasah."

"Dan aku akan selalu menelusuri," lanjut Laura dengan raut pucat dan kedua matanya yang memerah. "Aku memiliki perasaan cinta yang harus kujaga, kuletakkan, dan tidak ada penghubung untuk mengaktualisasikan sebuah cita-cita cinta selain adanya kehidupan sebagai wadah yang membawa siang dan malam, berputar membawa seluruh kisah romansa yang meliputi setiap pasang hati yang saling mencintai. Dan karena itu aku juga bertanya, apakah mayat laki-laki masih mencintai mayat perempuan? Apakah mayat perempuan masih memiliki gairah di bawah batu nisan? Setiap serpihan harta pengetahuan yang diinginkan hati yang haus kebenaran, akan aku simpan rapat dalam peti jiwaku. Memberi peta kepastian untuk meninggalkan dunia orang mati, aku yakin akan janji kebaikan yang turun dan ditepati, janji bahwa akan ada cahaya di ujung kegelapan ini." Gelora Laura di antara arus deras tapak perenungannya yang mencoba merangkai arti, ia tak ingin hanya sekedar menduga-duga.

Tak terasa, hamparan kebun teh yang biasanya menenangkan kini terasa sedikit berbeda, menjadi dua sisi jalan yang ia lalui dalam keheningan. Hanya ada sedikit penerang, remang-remang, dan bayang-bayang gunung Salak terlihat samar di kejauhan oleh rembulan yang pucat, seperti bayangan raksasa yang mengawasi. Laura terus saja mengemudikan mobilnya, menerobos jalanan yang lebarnya sedikit terbatas, merasakan setiap guncangan dan lubang sebagai pengingat dari degup jantungnya. Sebelum akhirnya ia memasuki sebuah kawasan pemukiman, rumahnya berada di titik paling ujung, seperti tempat persembunyian terakhir.

Kedua orang tua Laura sedikit dilindas kecemasan, ada perasaan sakit yang menindih hati mereka, dan hal itu memang telah menggelut dalam lebih dari satu pekan terakhir. Menurut mereka, ada begitu banyak perubahan mencolok pada diri Laura, baik tentang kepribadian, pola pikir yang kian aneh, dan tutur katanya yang kental dibumbui metafora-metafora kelam. Laura memang tak terbuka, ia lebih memilih menyembunyikan sebagian besar pengalaman apokaliptiknya, menutupnya melalui isyarat dengan kisah-kisah pengganti, semacam ungkapan replika dari kejadian yang sebenarnya ia alami, mencoba melindungi mereka dari renung kegelapan yang telah merasukinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!