Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Di balik pintu ruang kerja yang temaram, Gus Azlan terduduk kaku. Di hadapannya, sebuah kitab klasik terbuka lebar, namun matanya tidak tertuju pada barisan teks Arab gundul yang suci. Jemarinya yang biasanya tegas membalik lembaran demi lembaran kitab, kini gemetar saat ia menarik sebuah lembaran kertas kusam yang terselip di bagian paling belakang.
Itu bukan sekadar kertas. Itu adalah potongan foto lama, kenangan dari sebuah perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi bertahun-tahun silam. Di sana, Azlan berdiri tegak dengan piala di tangan, mengenakan jas almamater pesantren yang kebesaran. Dan di sudut foto itu, berdiri seorang gadis dengan senyum yang sangat tipis namun meneduhkan.
Azalea Maheera.
Nama itu adalah gema yang selalu memantul di dinding hati Azlan, sebuah melodi indah yang kini berubah menjadi simfoni kepedihan. Azlan mengenalnya sejak mereka masih memakai seragam merah putih. Azalea adalah santri kesayangan Abi Luqman, seorang gadis yang tumbuh di asrama sejak kecil karena pengabdian orang tuanya pada pesantren.
Azlan ingat betul bagaimana para ustadz dan ustadzah selalu memuji kesempurnaan jilbabnya yang menjuntai hingga ke pinggang. Tutur katanya selembut embun pagi, dan hafalannya... Azalea adalah satu-satunya santriwati yang bisa menandingi kecepatan hafalan Azlan.
Saat mereka menginjak usia 15 tahun—usia di mana idealisme remaja sedang memuncak—Azlan pernah berbisik di balik tirai pembatas aula saat mereka sedang membersihkan perpustakaan.
"Aku akan melamar mu dengan Surah Ar-Rahman, Lea. Maharku bukan emas, tapi 30 juz yang tertanam di kepalaku," ucap Azlan kala itu dengan dada membusung, penuh bualan remaja yang belum mengenal beratnya menjaga pandangan dan komitmen.
Azalea hanya menunduk, wajahnya memerah di balik kain kerudungnya yang tebal, namun matanya memancarkan binar setuju yang paling jujur.
Waktu berlalu, dan Azlan menyelesaikan studinya di Mesir. Hal pertama yang ia lakukan setelah menginjakkan kaki kembali di tanah air adalah menulis surat taaruf. Ia melipat kertas itu dengan sangat hati-hati, memasukkannya ke dalam amplop putih bersih, dan mengirimkannya kepada keluarga Azalea melalui perantara seorang ustadz senior kepercayaan Abi nya.
Namun, takdir Allah bukanlah sesuatu yang bisa ditebak oleh rencana manusia.
Tiga hari setelah surat itu dikirim—hari di mana Azlan seharusnya menerima jawaban yang ia harapkan—sebuah badai menghantam Pesantren Al-Iman. Kabar duka menyebar seperti api di tengah padang rumput kering. Orang tua Azalea Maheera, sepasang suami istri yang sangat dihormati di kota itu sebagai tokoh masyarakat, mengalami kecelakaan maut. Mobil mereka hancur berkeping-keping di jalan lintas provinsi. Keduanya meninggal di tempat.
Azlan merasakan dunianya runtuh seketika. Surat ta'arufnya belum sempat dibalas, bahkan mungkin belum sempat dibaca.
Abi Luqman segera mengajak seluruh ustadz dan Azlan untuk bertakziah ke kediaman Azalea. Di rumah megah yang kini diselimuti bendera kuning itu, Azlan mencari sosok gadis pemegang mahkota hafalan Al-Quran tersebut. Ia berharap bisa memberikan kekuatan, atau setidaknya menunjukkan bahwa ia ada di sana.
Namun, saat ia sampai di pemakaman, pemandangan itu menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Sesosok gadis berdiri di depan liang lahat yang masih basah. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang ketat. Tidak ada lagi jilbab indah yang menutup rambutnya. Rambut panjangnya terurai liar, hanya ditutupi selendang tipis yang berkibar tertiup angin makam. Kacamata hitam besar menutupi matanya, seolah ia tidak ingin dunia melihat kehancuran di dalamnya.
Iman seorang Azalea sedang diuji di titik nadir. Kehilangan dua pilar hidupnya secara mendadak membuat fondasi jiwanya retak.
Seminggu setelah pemakaman, berita mengejutkan sampai ke telinga ndalem. Kabar itu berhembus kencang di pasar, di pengajian, hingga ke ruang-ruang santri.
Azalea Maheera, sang bunga pesantren, telah membuka jilbabnya sepenuhnya. Yang lebih menyakitkan bagi Azlan adalah saat ia mendengar bahwa di lengan dan bahu putih gadis itu kini terukir tato—sebuah bentuk pemberontakan pada takdir yang ia anggap tidak adil.
"Azalea sudah pindah ke Kota A," lapor seorang ustadz pada Abi Luqman. "Kabarnya... dia tidak lagi memeluk keyakinan yang sama dengan kita Kyai. Dia merasa Tuhan telah merenggut segalanya darinya, maka dia melepaskan Tuhan dari hidupnya."
Azlan yang mendengar itu dari balik pintu hanya bisa terduduk lemas di lantai ubin yang dingin. Ia merasa gagal. Ia merasa Surah Ar-Rahman dan 30 juz yang ia janjikan sebagai mahar kini hanya menjadi pajangan di dalam ingatannya.
Kini, bertahun-tahun kemudian, di saat adiknya Zavier sedang menikmati manisnya pernikahan dengan Zaheera, Azlan masih terperangkap dalam duka yang sunyi. Ia melihat foto lama itu—foto di mana Azalea masih menjadi 'Lea' yang ia puja kesuciannya.
"Zavier memintaku menikah..." bisik Azlan pada bayangan di foto itu. "Bagaimana aku bisa menikah, jika hatiku masih tertinggal, mengikuti jejak seorang gadis yang kini memandang langit dengan cara yang berbeda dariku?"
Azlan menghela napas panjang, menutup kitabnya dengan gerakan lambat. Ia tahu, di suatu tempat di Kota A, Azalea Maheera mungkin sedang menjalani hidup yang sangat jauh dari nilai-nilai pesantren. Tuhan yang disembah Azlan kini bukan lagi Tuhan yang disembah oleh gadis yang ia cintai.
Pintu rahasia hatinya kembali ia kunci rapat. Azlan bangkit, merapikan jubahnya, dan bersiap untuk mengimami shalat Isya.
Di depan para santri, ia adalah Gus Azlan yang tegas dan tanpa celah. Namun di hadapan sajadahnya nanti, ia adalah seorang pria yang masih menangis menanyakan satu hal pada Sang Pemilik Takdir: Apakah ada jalan pulang bagi sebuah jiwa yang pernah mencintai-Mu, lalu pergi karena luka?