No Plagiat ❌
Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara akhirnya meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku terpesona
...Mobil perlahan memasuki area gedung apartemen yang menjulang tinggi, di bawah langit sore yang masih terang dan hangat. Daniel memarkirkan mobilnya dengan tenang, mesin masih menyala beberapa detik, sebelum akhirnya ia mematikannya....
...Daniel melepaskan sabuk pengamannya, memandang kearah Zhara Di sampingnya, Zahra masih duduk diam di kursi penumpang depan, tangannya terlipat di pangkuan, belum juga bergerak untuk keluar....
...“Sudah sampai,” ucap Daniel pelan, memecah keheningan tanpa terdengar memaksa....
...“Kak... Kita dimana?” tanya Zhara ragu, melihat tempat yang asing baginya....
...Daniel tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum lembut, ia membuka pintu mobilnya, melangkah turun, lalu ia menutup pintu mobil pelan di belakangnya. berputar ke sisi lain mobil, langkahnya tenang dan tidak tergesa, ia berdiri di samping pintu Zahra. Tangannya terulur, lalu membuka pintu dengan perlahan....
...“Silakan,” ucap Daniel singkat, wajahnya masih tersenyum....
...Zahra menatap sekitar dengan kebingungan begitu kakinya menapak keluar dari mobil....
...“Kak... kita mau kemana?” tanya zhara, Matanya menyapu area parkiran yang luas....
...Daniel berdiri di dekatnya, memperhatikan reaksi Zahra tanpa terlihat terganggu....
...“Ke tempat yang nyaman, untuk melanjutkan pembicaraan di kantin tadi.” Daniel mengulurkan tangannya pada Zhara....
...Zhara memegang uluran tangan dari Daniel, ia melangkah turun dari mobil, langkahnya sedikit ragu. Dengan lembut, Daniel menopang tangannya, memastikan Zhara berdiri dengan stabil. Tatapannya tenang, memberi rasa aman tanpa perlu banyak kata. Setelah Zhara benar-benar turun, Daniel perlahan melepaskan satu tangannya untuk menutup pintu mobil dengan pelan....
...Daniel mempersilakan Zhara untuk melangkah lebih dulu, berjalan berdampingan menuju lift. Saat pintu lift terbuka, Daniel memberi isyarat halus agar Zhara masuk terlebih dahulu. Setelah itu, ia ikut masuk dan berdiri di sampingnya. Tangannya terulur sebentar, menekan tombol lantai sepuluh....
...Pintu lift perlahan tertutup. Zhara menunduk, sementara Daniel sesekali meliriknya, seolah memastikan gadis itu baik-baik saja tanpa ingin membuatnya semakin canggung. Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya, hingga akhirnya lift berhenti....
...Ding!....
...Pintu lift terbuka, memperlihatkan lorong apartemen yang tenang di lantai sepuluh. Zhara melangkah keluar dengan perasaan yang masih ragu, matanya melihat sekeliling seolah mencoba mengenali tempat itu. Sementara Daniel berjalan di sampingnya, langkahnya tenang dan pasti, seakan sudah sangat familiar dengan setiap sudut lorong tersebut....
...Tanpa banyak bicara, Daniel mengarahkan langkah menuju salah satu pintu di koridor. Sesampainya di depan pintu 1005, Daniel berhenti. Ia menekan beberapa password di pintunya, ujung jarinya bergerak cepat namun pasti di atas keypad digital, menghasilkan bunyi bip pelan yang berurutan. lalu menatap Zhara sekilas. Tatapannya lembut, tenang, menenangkan tanpa perlu kata....
...Klik....
...Kunci pintu terbuka otomatis....
...Daniel mendorong pintu perlahan, lalu menoleh pada Zhara dengan tatapan yang tetap tenang....
...“Zhara...masuklah...,” ucapnya lembut, memberi jalan untuknya terlebih dahulu....
...Zhara memasuki ruangan apartemen Daniel, suasana di dalam terasa berbeda, tenang, hangat, dan tertata begitu rapi hingga terlihat hampir sempurna....
...Ruangannya cukup lenggang, di ruang tamu, sebuah sofa nyaman menghadap meja kecil dengan dekorasi sederhana namun elegan. Di sisi lain, dapur minibar tampak estetik dengan pencahayaan lembut yang memantul di permukaan meja, rak-rak kecil yang tersusun rapi, dan peralatan yang tertata. Tidak ada kesan berantakan sedikit pun....
...Dekat jendela besar, terdapat tempat duduk yang tampak nyaman. Tirai tipis membiarkan cahaya luar masuk dengan lembut, menciptakan suasana yang tenang, dan menenangkan. Zhara melangkah perlahan, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Lalu pandangannya beralih ke beberapa pintu kamar yang berjajar di sisi dalam apartemen....
...Ia berhenti....
...“Sangat rapi, aku merasa nyaman dan tenang...” ucap Zhara memandang kearah Daniel dengan wajah kagum....
...Daniel tersenyum mendengar pujian dari Zhara, Ia memang sudah mencari tahu tentang Zhara sebelumnya, termasuk bagaimana gadis itu begitu perfeksionis dalam banyak hal. Detail kecil, kerapian, kenyamanan, semua itu sangat penting bagi Zhara....
...“Zhara... menggunakan seragam kerja seharian pasti tidak nyaman.” Daniel mengulurkan sebuah tas ke arahnya. “Sebelum kamu selesai bekerja, saya sudah memesankan baju yang nyaman untuk kamu pakai.”...
...Zhara menatap tas itu beberapa detik, lalu beralih menatap Daniel. Ada sedikit kebingungan di wajahnya....
...“Aku...” Zhara merasa bingung dan canggung....
...“Di dalamnya ada tiga set baju yang nyaman,” lanjut Daniel pelan. “Kalau kamu mau… kamu bisa ganti dulu.”...
...Zhara ragu sejenak, jemarinya perlahan menerima tas itu. Saat ia membukanya sedikit, terlihat beberapa lipatan pakaian yang sudah disiapkan dengan rapi....
...“Terimakasih, kak Daniel...” ucapnya lirih, ia mengangkat wajahnya lagi, menatap Daniel....
...Daniel mengangguk kecil, tersenyum hangat lalu mengarahkan pandangan ke salah satu pintu di dalam apartemen. “Kamar mandi di sebelah sana.”...
...Zhara mengikuti arah yang ditunjuk Daniel, lalu bergegas memasuki kamar mandi. Begitu pintu tertutup, ia menghela napas pelanIa berdiri sejenak di sana, memandang pantulan dirinya di cermin. Seragam yang ia kenakan tampak kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat kusam dan kelelahan....
...Zhara membuka tas yang diberikan Daniel. Di dalamnya, beberapa pakaian yang tersusun rapi menyambutnya. Jemarinya menyentuh kain itu dengan hati-hati, memilih baju yang menurutnya paling nyaman dipakai, masih merasa asing dengan perhatian yang ia terima....
...Zhara mulai mengganti pakaiannya, beberapa menit kemudian, ia menatap kembali ke cermin. Penampilannya kini lebih santai, lebih nyaman, dan entah kenapa, perasaannya jadi sedikit riang. Ia merapikan seragamnya kembali, memasukan ke dalam kantong tas....
...Selesai....
...Perlahan, ia melangkah menuju pintu kamar mandi, tangannya sempat berhenti di gagang pintu, jantungnya kembali berdetak tak beraturan, perasaan aneh kembali memenuhi dirinya. Ia menarik nafas pelan, seolah mempersiapkan diri....
...Zhara membuka pintu dan melangkah keluar. Pandangan matanya langsung tertuju ke arah dapur. Daniel berdiri di sana, membelakanginya, tengah sibuk memasak sesuatu. Ia mengenakan celemek sederhana, tangannya bergerak dengan terampil, mengaduk masakan di atas kompor....
...Daniel menyadari kehadirannya. Ia menoleh, dan untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Daniel tersenyum melihat Zhara yang kini sudah berganti baju, terlihat lebih segar dan cantik....
...“Zhara... duduk dulu sebentar, disana...” ujar Daniel, pandangannya mengarah sofa....
...Zhara menganggukkan pelan, ia melangkah mendekat sofa perlahan duduk. Matanya masih mengarah melihat Daniel yang sedang memasak di dapur. Ia memandang dengan rasa terkesima, Daniel terlihat sangat tampan, dan membuatnya terlihat berbeda....
...Lengan kemejanya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan garis tangan yang tegas saat ia mengaduk masakan dengan gerakan terampil. Setiap gerakannya terasa ahli, seolah ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Cahaya lampu dapur yang hangat jatuh di sisi wajahnya, menegaskan rahang yang tegas dan tatapan fokus yang sedikit menunduk....
...Di momen itu, Daniel bukan hanya terlihat tampan. Ia terlihat mempesona, dengan cara yang tenang, dewasa, dan tanpa perlu berusaha menarik perhatian siapa pun....
...Melihatmu seperti itu setiap hari, aku rela kau nikahi kapanpun kak Daniel. guman Zhara dalam hati, ia mengangkat tangannya, lalu menopang dagunya dengan lembut. Ciptaan Tuhan mana lagi yang kamu dustakan Zhara, merem melek pun, laki laki matang itu tetap terlihat mempesona. ...
...Daniel yang sedang mengaduk masakan itu perlahan menghentikan gerakannya, seolah merasakan tatapan yang sejak tadi tertuju padanya....
...Ia menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan Zhara. Sudut bibir Daniel terangkat tipis, melihat Zhara yang berdiri dengan dagu bertumpu di tangannya, memperhatikannya tanpa sadar....