NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU PENGAMPUNAN.

Dinginnya angin pegunungan Alpen terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit, namun Fardan tidak peduli. Sudah tujuh hari ia menyisir desa demi desa, dari Zermatt hingga lembah Lauterbrunnen, namun jejak Alisha dan Ghifari seolah terkubur di bawah salju yang turun tanpa henti. Wajahnya yang dulu tegas dan segar kini tampak kuyu, dengan tulang pipi yang menonjol akibat kurang makan dan tidur.

"Tuan, kita sudah melewati sepuluh desa hari ini. Matahari hampir tenggelam," ucap Dewa dengan suara serak, mencoba mengingatkan bosnya yang keras kepala.

Fardan tidak menjawab. Matanya menangkap sebuah bangunan tua dengan arsitektur unik di kejauhan. Bangunan itu memiliki kubah kecil dan menara yang khas. Sebuah masjid di tengah hamparan salju Swiss. Seketika, hati Fardan bergetar hebat. Ia teringat pesan Henry di London untuk selalu memohon kepada Sang Pemilik Hati.

"Kita berhenti di sana, Dewa. Mari kita bersujud sejenak," ajak Fardan dengan suara yang lemah namun penuh keyakinan.

Di dalam masjid yang tenang dan hangat itu, Fardan membasuh dirinya dengan air wudhu yang dingin. Ia melaksanakan sholat dengan khusyuk, sesuatu yang baru ia pelajari namun kini menjadi satu-satunya kekuatannya. Dalam sujud terakhirnya, Fardan menangis tanpa suara. Ia menumpahkan segala sesak di dadanya, memohon petunjuk kepada Sang Rabb agar dipertemukan kembali dengan belahan jiwanya.

"Ya Allah, jika mereka adalah takdirku, tunjukkanlah jalannya. Hamba lelah, namun hamba tidak akan menyerah," bisik Fardan dalam doa yang panjang.

Setelah selesai berdzikir, Fardan melangkah keluar masjid dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Namun, kondisi fisiknya tidak bisa berbohong. Langkahnya limbung, dan Dewa dengan sigap menahan lengan bosnya itu.

"Tuan, wajah Anda sangat pucat. Tolong, kita istirahat satu jam saja. Anda bisa jatuh sakit lagi kalau seperti ini," mohon Dewa dengan wajah cemas.

"Tidak, Dewa. Sedikit lagi. Aku merasa mereka sudah sangat dekat," balas Fardan sambil terus memaksakan kakinya melangkah menembus tumpukan salju.

Saat mereka melewati sebuah pusat perbelanjaan kecil di pinggiran desa, mata tajam Dewa menangkap sosok yang sangat familiar. Seorang pria tinggi tegap berwajah campuran sedang menenteng beberapa tas plastik berisi bahan makanan dan perlengkapan musim dingin.

"Tuan! Lihat itu! Bukankah itu Lucas?" seru Dewa sambil menunjuk ke arah pria itu.

Jantung Fardan berdegup kencang. Ia melihat Lucas masuk ke dalam sebuah mobil jip tua. Tanpa membuang waktu, Fardan dan Dewa segera mengikuti mobil itu dari jarak yang aman. Mereka melewati jalanan menanjak yang berliku, menjauh dari keramaian penduduk, hingga sampai di sebuah lereng bukit yang terisolasi. Di sana, berdiri sebuah rumah kayu cantik yang tampak hangat dengan asap mengepul dari cerobongnya.

"Itu rumahnya... aku yakin itu mereka," gumam Fardan.

Tanpa menunggu mobil berhenti sempurna, Fardan langsung melompat keluar. Ia berlari menerjang salju yang setinggi lutut. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak karena udara dingin yang ekstrem, namun tekadnya mengalahkan rasa sakit itu. Ia mencapai teras rumah kayu tersebut dengan sisa tenaga yang ada.

TOK! TOK! TOK!

Fardan mengetuk pintu kayu itu dengan keras. Tangannya gemetar hebat. Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Di hadapannya, berdirilah seorang bocah lelaki kecil mengenakan sweter wol tebal. Wajah bocah itu adalah cerminan dirinya sendiri, namun dengan sorot mata yang jauh lebih cerdas dan dingin.

"Kau akhirnya sampai juga, Tuan Fardan," ucap Ghifari datar, seolah sudah memprediksi kedatangan ayahnya.

Fardan tersenyum sangat lemah, air mata jatuh membasahi pipinya yang membeku. "Akhirnya... Ayah menemukan kalian."

Pandangan Fardan tiba-tiba mengabur. Dunia di sekitarnya seolah berputar hebat. Tubuhnya yang sudah mencapai batas maksimal itu akhirnya menyerah. Fardan tumbang ke depan, namun sebelum wajahnya menyentuh lantai, Lucas yang baru saja datang dari arah samping dengan sigap menangkap tubuh pria itu.

"Bawa dia masuk, Paman Lucas. Letakkan di depan perapian," perintah Ghifari dengan suara tenang namun tegas.

Alisha, yang mendengar keributan dari arah dapur, berlari menuju ruang tamu. Ia terpaku di tempat saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang terkulai lemas di pelukan Lucas. Wajah pria itu sangat pucat, dengan bibir yang membiru karena kedinginan.

"Fardan?" desis Alisha, matanya membelalak tidak percaya. "Bagaimana dia bisa sampai di sini?"

"Dia mencari kita tanpa henti selama seminggu, Bunda. Tubuhnya sudah kehabisan energi," jelas Ghifari sambil menutup pintu rumah untuk menghalau angin malam yang menusuk.

Alisha mendekat dengan ragu. Ia melihat Dewa masuk dengan napas terengah-engah, tampak sangat khawatir. "Nyonya, tolong bantu Tuan Fardan. Dia benar-benar mengabaikan kesehatannya hanya untuk menemukan Anda dan Ghifari."

Alisha merasa hatinya berdenyut sakit. Rasa marah yang selama ini ia pelihara seolah mencair melihat kondisi Fardan yang begitu mengenaskan. Ia segera mengambil selimut tebal dan membantu Lucas merebahkan Fardan di sofa panjang dekat perapian yang menyala.

"Lucas, tolong buatkan teh jahe hangat. Dewa, kau juga beristirahatlah di dapur, ada makanan di sana," ujar Alisha dengan suara yang bergetar.

Setelah semua orang pergi ke arah dapur, tinggallah Alisha dan Ghifari yang berdiri menatap Fardan. Alisha perlahan duduk di samping sofa, menyentuh dahi Fardan yang terasa sangat dingin. Ia melihat saku jas Fardan sedikit terbuka, menampakkan sebuah buku kecil dan tasbih.

"Dia membawa buku tuntunan sholat?" tanya Alisha lirih, menatap putranya.

Ghifari mengangguk. "Ayah sudah bertaubat di London, Bunda. Dia juga sudah membereskan kekacauan di Jakarta. Nenek dan Tante Maya sekarang ada di pesantren untuk belajar agama."

Alisha terdiam seribu bahasa. Ia menatap wajah suaminya yang sedang tidak sadarkan diri itu. Ada guratan kelelahan yang luar biasa di sana, namun juga ada kedamaian yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Kenangan tentang kebersamaan mereka dulu kembali berputar di kepalanya, bercampur dengan kebenaran yang baru saja ia ketahui dari Ghifari tentang fitnah Sherly.

Tiba-tiba, jemari Fardan bergerak kecil. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kayu rumah itu sebelum akhirnya tertuju pada wajah Alisha yang sedang menunduk di sampingnya.

"Alisha... apakah ini surga?" bisik Fardan dengan suara yang hampir menghilang.

Alisha mengusap air matanya, ia mencoba untuk tetap bersikap tegar. "Bukan, ini di Swiss. Kenapa kau senekat ini, Fardan? Kau bisa saja mati di tengah jalan tadi."

Fardan mencoba tersenyum, meski itu terlihat sangat menyakitkan. "Jika aku mati dalam perjalanan mencarimu, setidaknya aku mati saat sedang menuju cintaku. Maafkan aku, Alisha. Maafkan semua kebodohanku."

Ghifari melangkah mendekat, berdiri di sisi lain sofa. "Kau lulus ujian pertama, Ayah. Kau menemukan kami tanpa bantuan teknologi apa pun dariku. Itu artinya, kau memang mencari dengan hati."

Fardan menoleh ke arah putranya, matanya berbinar haru. "Terima kasih, Ghifari. Terima kasih sudah memberiku kesempatan."

Alisha berdiri, ia merasa emosinya tidak stabil jika tetap berada di sana. "Istirahatlah dulu. Jangan banyak bicara. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu."

Namun sebelum Alisha pergi, Fardan menarik lembut ujung baju Alisha. "Jangan pergi lagi, Alisha. Aku tidak sanggup kehilangan kalian untuk kedua kalinya. Aku akan melakukan apa pun, bahkan jika aku harus tinggal di desa ini selamanya sebagai pelayanmu, aku bersedia."

Alisha tidak menjawab, ia hanya terisak pelan dan segera berlari menuju dapur. Ada rasa lega yang luar biasa di hatinya, namun juga ada ketakutan akan masa lalu yang masih membayangi. Sementara itu, Ghifari tetap duduk di dekat ayahnya, menatap pria itu dengan tatapan yang mulai melunak.

"Ayah harus kuat jika ingin mendapatkan Bunda kembali," ucap Ghifari. "Karena setelah ini, ada kakek Henry yang harus Ayah hadapi."

Fardan mengangguk pasti. Ia tahu perjuangannya belum berakhir, namun setidaknya malam ini, ia bisa tidur di bawah atap yang sama dengan orang-orang yang paling ia cintai. Di luar, badai salju masih mengamuk, namun di dalam rumah kayu itu, kehangatan mulai menyelinap masuk ke dalam hati yang dulunya beku.

1
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Amy
coba ganti panggilannya kaka othor, masa suami istri tdak ada romantis2nya
Lali Omah: iy betul ganti donk thorrr sedikit romantis gt biar seneng bacanya
total 1 replies
Lia siti marlia
wel wel wel di tunggu pa alex🤣
Linda Muslimah: Seru lanjut kak 🤭
total 1 replies
Tata Hayuningtyas
jgn kelamaan up nya thor 🤭
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan ga bertele2
Amy
Cobalah terbuka alisha, karna seapik apapun kau menyembunyikan masalah, ada anakmu yg super, bisa membaca setiap masalah🤭
Lia siti marlia
untung ada gifari apapun yang di sembunyikan ibunya pasti akan ketahuan olehnya 😄👍
Lia siti marlia
sayng banget yah ayah hrnry sama alisha dan gifari saking sayang nya semua sudah di persiapkan secara matang👍
Lia siti marlia
lucu kamu fardan .....aduh gifari sampai kamar mamjmu di sadapnya nanti kalau mamahmu sama ayahmu lagi bikin adek buat kamu kamu jangan ngintpnya 🤭
Lia siti marlia
semangat fatdan💪
Uba Muhammad Al-varo
karma dibayar lunas dan langsung di terima Maya dan ibunya
Uba Muhammad Al-varo
Fardan........ inilah perjuangan sesungguhnya baru dimulai

perjuangan
Uba Muhammad Al-varo
Fardan ditinggal pergi oleh Alisa dan Ghifari 😭😭😭
Uba Muhammad Al-varo
good 👍👍👌 Fardan kamu tegas jangan kamu mau dikibulin melulu oleh ibu dan kakak mu
Uba Muhammad Al-varo
baru deh melek matanya Fardan setelah selama ini merem karena diselimuti kelicikan ibu dan Sherly
Uba Muhammad Al-varo
good job Ghifari........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
kemenangan sementara ditangan Ghifari tapi perang ini belum usai /Hey//Hey/
Uba Muhammad Al-varo
pertarungan akan dimulai antara bocah dan CEO dingin 🤔🤔🤔
ceuceu
Anak Maya berapa kok ga ada?
tapi di sebutkan anak anak maya
Uba Muhammad Al-varo
Ghifari.........👍👍👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!