NovelToon NovelToon
System Toko Sepuluh Ribu Alam

System Toko Sepuluh Ribu Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Ruang Ajaib
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.

Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.

Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pria itu menyodorkan selembar kertas foto hasil cetakan. Dari jarak dua puluh meter, dengan penglihatan matanya yang sudah diperkuat, Hao Qi bisa melihat jelas foto tersebut. Itu adalah tangkapan layar dari kamera CCTV jalanan. Menampilkan wajah Hao Qi saat berjalan keluar dari Klub Biliar Macan Hitam.

Mahasiswa yang dicegat itu menggelengkan kepalanya ketakutan.

"T-tidak tahu, Tuan. Saya belum pernah melihatnya."

"Cih."

Pria berjas hitam itu berdecih kasar dan mendorong bahu mahasiswa itu hingga hampir terjatuh. "Pergi sana!"

Hao Qi yang melihat kejadian itu tidak langsung panik. Ia menghentikan langkahnya dan berdiri di balik sebuah tiang listrik beton yang cukup besar, menyembunyikan sebagian besar tubuhnya.

"Mereka mencariku?" Hao Qi bergumam dengan senyum tipis di bibirnya. "Dan mereka punya rekaman CCTV-ku."

Ia memusatkan pikirannya, mempertajam indra pendengarannya melampaui batas manusia normal. Suara bising kendaraan dan obrolan mahasiswa di sekitarnya perlahan memudar, menyisakan suara percakapan kedua pria berjas hitam itu.

"Hei, Kakak Ketiga," pria berjas hitam yang satu lagi menyalakan sebatang rokok. "Apakah kita perlu repot-repot turun ke jalanan mencari satu mahasiswa miskin ini? Bos Besar terlalu melebih-lebihkannya."

Pria yang dipanggil Kakak Ketiga melipat foto itu dan memasukkannya ke saku jas.

"Jangan bodoh. Wang Lei si babi gemuk itu memang tidak berguna, tapi dia tidak berani berbohong pada Bos Besar. Wang Lei bilang, Ah Kun petarung terbaiknya tangannya patah hanya dalam satu gerakan santai. Mahasiswa bernama Hao Qi ini bukan orang biasa."

"Hah..." pria yang merokok itu menghembuskan asapnya. "Maksudmu dia diam-diam adalah praktisi bela diri? Di usia semuda ini?"

"Bos Besar curiga begitu. Makanya kita ditugaskan langsung. Kita harus membawanya hidup-hidup ke markas untuk diinterogasi. Kalau dia punya latar belakang sekte bela diri, kita harus berhati-hati. Kalau dia hanya kebetulan kuat, kita patahkan kedua kakinya dan buang ke sungai."

Mendengar percakapan itu, Hao Qi mengangguk-angguk pelan dari balik tiang listrik.

"Praktisi bela diri? Bos Besar? Ternyata dugaanku benar. Wang Lei hanyalah anjing penjaga untuk kelompok mafia yang jauh lebih besar," Hao Qi membatin dengan tenang.

Hao Qi menganalisis situasi di depannya. Ia bisa saja keluar dari persembunyiannya sekarang dan menghajar kedua pria berjas itu sampai babak belur. Namun, melakukan perkelahian brutal di tengah jalan raya yang ramai pada sore hari adalah tindakan bodoh. Identitasnya akan terekspos, polisi akan datang, dan ia tidak akan bisa hidup tenang di kampus lagi.

"Aku butuh tempat yang lebih sepi kalau mau berurusan dengan mereka. Tapi untuk sekarang, mari kita tes seberapa bagus teknik baruku ini untuk kabur."

Hao Qi tersenyum. Ia menarik tudung jaket tipisnya untuk menutupi kepala, lalu melangkah keluar dari balik tiang listrik. Ia tidak berlari menjauh. Sebaliknya, ia berjalan santai mengarah ke gerbang kampus, yang mengharuskannya melewati mobil van hitam itu dalam jarak sekitar lima meter.

Saat Hao Qi berjalan mendekat, Kakak Ketiga yang sedang mengawasi jalanan tiba-tiba menoleh. Matanya menyipit di balik kacamata hitamnya. Instingnya yang tajam menangkap postur tubuh yang familier dari pemuda bertudung itu.

"Hei! Kau yang bertudung!" teriak Kakak Ketiga dengan suara keras.

Ia langsung melangkah maju dengan cepat, menjulurkan tangan kanannya untuk mencengkeram bahu Hao Qi. Jarak mereka hanya tinggal tiga meter.

Hao Qi tidak menoleh. Senyum di bibirnya justru semakin lebar. Ia mengalirkan seutas energi hangat dari perutnya ke kedua telapak kakinya.

"Langkah Angin."

"Wush!"

Langkah kaki Hao Qi yang tadinya santai tiba-tiba berubah. Ia sama sekali tidak terlihat sedang berlari kencang. Gerakannya tetap seperti orang berjalan biasa, namun jarak yang ia tempuh dalam satu langkah sangat tidak masuk akal. Tubuhnya seperti bergeser menembus ruang.

Hanya dalam kedipan mata, ia menyelinap melewati celah di antara kerumunan mahasiswa yang baru keluar dari minimarket.

"Hah?"

Tangan Kakak Ketiga hanya mencengkeram udara kosong. Ia terhuyung sedikit ke depan karena salah memperhitungkan jarak. Ia membuka kacamata hitamnya dengan cepat, menatap ke arah kerumunan dengan bingung.

Pemuda bertudung yang tadinya hanya berjarak tiga meter di depannya kini sudah berada dua puluh meter jauhnya, menyatu dengan lautan mahasiswa di area gerbang kampus, dan kemudian hilang dari pandangan sama sekali.

"Ke mana perginya anak tadi? Cepat sekali!" Kakak Ketiga menggertakkan giginya kesal.

Temannya membuang puntung rokoknya dan berjalan mendekat. "Ada apa? Kau melihat targetnya?"

"Aku melihat anak yang mirip dengannya. Tapi gerakannya aneh. Tiba-tiba saja dia menghilang di keramaian. Sudahlah, ayo kita cari di area kos-kosan di belakang kampus. Dia tidak akan bisa sembunyi untuk selamanya."

Dari kejauhan, tepat di balik pagar tembok kampus, Hao Qi menurunkan tudung jaketnya. Ia menoleh ke belakang sekilas dan tertawa kecil.

"Langkah Angin ini benar-benar luar biasa. Mereka bahkan tidak sadar aku menggunakan teknik khusus. Di mata mereka, aku pasti hanya terlihat seperti orang yang tiba-tiba terselip di keramaian."

Hao Qi kembali melanjutkan langkahnya menuju asrama dengan perasaan sangat rileks. Bahaya dari mafia lokal mungkin sedang mengintainya, tapi dengan kekuatan yang terus bertambah dari Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam, ia sama sekali tidak merasa takut. Permainan petak umpet di Jiangjing baru saja dimulai, dan Hao Qi berniat menjadi pemain yang menentukan aturannya.

1
Hadi Hadi
up up
Orimura Ichika
udah mulai klaim klaim tuh si rubah 🗿
Manusia Biasa
Yakin mbak ... paling - paling dirimu calon haremnya besok
Manusia Biasa
mata empat, jir baru saja ternyata pakai kacamataa/Sob/
Manusia Biasa
gg keren thor perkembangan novelnya banter banget. Masuk lamanan rekomendasi terus, tinggal nunggu waktu naik rangking fiksi pria🤣
Aoooo: makasih kak/Smile/
total 1 replies
Manusia Biasa
Kapan bisa gini ya bangun-bangun dapat notifikasi m-baking/Shy/
Manusia Biasa
Biasa MC
Dell AliNka
lah pake beli vila kok masih sisa 5 jt
Hadi Hadi
sikat
Pecinta Gratisan
mantap💞 thor
Pecinta Gratisan
bantai thor
Pecinta Gratisan
mantap thor⚡🔨 cerita nya💞
Riyanganz
👍👍
Riyanganz
ceritanya menarik,semoga aja kedepannya ga monoton ceritanya
Orimura Ichika
nggak bisa nabung 🗿
Orimura Ichika: penasaran Thor sama lanjutannya🤭
total 2 replies
Gege
lucuan versi bogelnya jiuer ...🤣🤣
Aoooo: cute sekali /Drool/
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Sebut Saja Chikal
yaah nunggu lg 😅
Hadi Hadi
up up up up up 😍😍😍
Gege
mantabbb...selalu apik dan epic updetannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!