Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Singa Betina Beraroma White Tea
Mobil SUV mewah itu berhenti tepat di depan gerbang SMA Angkasa. Raka (17 thn) terlihat sangat enggan turun. Wajahnya yang tampan tapi babak belur itu pasti bakal jadi pusat perhatian.
"Lo beneran mau masuk? Nggak malu punya anak tiri yang baru keluar dari sel?" tanya Raka sinis, mencoba menutupi rasa gelisahnya.
Gisel merapikan poninya, menyemprotkan sedikit lagi parfum white tea yang segar, lalu menoleh ke arah Raka dengan senyum paling cerah. "Malu itu kalau kita nyerah sebelum bertempur, Raka. Sekarang turun, tunjukin kalau kamu punya 'Ibu' yang nggak akan biarin kamu dipojokkan sendirian."
Gisel melangkah masuk ke ruang BK dengan penuh percaya diri. Di sana, sudah menunggu Pak Satrio, guru BK paling killer yang terkenal tidak punya belas kasihan.
"Selamat siang, Pak Satrio yang terhormat," sapa Gisel dengan nada ceria namun tegas. Aroma segar dari tubuh Gisel seketika mengubah suasana ruang BK yang biasanya pengap dan mencekam.
Pak Satrio menatap Gisel dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Anda ibunya Raka? Anda terlihat... sangat muda. Dan Raka, wajah kamu itu... apa kamu baru saja terlibat perkelahian lagi?"
"Maaf memotong, Pak," sela Gisel sebelum Pak Satrio sempat mengintimidasi Raka. "Raka memang melakukan kesalahan, dia bolos dan merokok. Saya tidak membenarkan itu. Tapi soal wajahnya, dia baru saja mengalami kecelakaan kecil saat mencoba membantu orang. Bukankah itu sisi positif yang harus kita hargai?"
Raka tertegun di samping Gisel. Ia tidak menyangka Gisel bakal berbohong demi melindunginya.
"Tapi laporan yang saya terima, Raka ini sudah tidak bisa diatur—"
"Pak," Gisel maju selangkah, menatap langsung mata Pak Satrio. "Dunia ini sudah cukup dingin buat anak seumur Raka yang kehilangan ibunya. Tugas kita sebagai orang dewasa adalah memberi dia arah, bukan cuma hukuman yang bikin dia makin memberontak. Raka itu pintar, dia cuma butuh 'warna' baru di hidupnya. Jadi, tolong jangan keluarkan SP dulu. Saya sendiri yang bakal pastikan dia nggak bakal bolos lagi."
Gisel mengeluarkan kartu namanya (yang sebenarnya kartu nama Dewa yang ia bawa-bawa). "Kalau Raka bikin masalah lagi, Bapak bisa hubungi saya kapan saja. Tapi untuk sekarang, saya mohon Bapak beri dia satu kesempatan lagi demi masa depannya."
Pak Satrio terdiam, terpesona oleh keberanian dan aura positive vibes yang dipancarkan Gisel. Setelah diskusi panjang, akhirnya Raka hanya diberikan sanksi skorsing tiga hari, bukan SP atau DO.
Begitu keluar dari ruang BK, Raka menatap Gisel dengan tatapan yang sedikit berbeda. "Kenapa lo belain gue? Padahal gue udah kasar sama lo."
Gisel tertawa renyah sambil mencubit hidung Raka. "Karena itu tugas seorang Ibu, Raka. Lagian kalau kamu di-DO, nanti Mas Dewa marah besar, terus jatah bulanan aku dipotong. Kan aku yang rugi!"
Raka mendengus, tapi kali ini ada sedikit senyum tipis di bibirnya. Tanpa ia sadari, ia mulai merasa rileks berada di dekat Gisel.
"Sekarang pulang! Aku laper, ayo kita mampir beli es krim dulu sama Digo!" seru Gisel riang sambil menarik tangan Raka menuju mobil.
Di dalam mobil SUV yang melaju menjauh dari SMA Angkasa, suasana mendadak hening. Digo (4 thn) sudah tertidur pulas di car seat-nya setelah lelah menangis tadi. Gisel (23 thn) fokus menyetir, sesekali melirik Raka (17 thn) yang terus menatap ke luar jendela dengan sisa darah di bibirnya.
"Masih sakit?" tanya Gisel lembut, memecah kesunyian
Raka tidak menjawab, tapi bahunya yang tegap tampak sedikit bergetar. Gisel menepikan mobil di sebuah taman yang sepi, mematikan mesin, lalu berbalik menatap Raka sepenuhnya.
"Raka, dengerin aku. Aku nggak akan lapor ke Papa kamu soal balap liar atau penjara tadi, asalkan kamu jujur. Kenapa? Kamu anak CEO paling kaya, fasilitas kamu lengkap. Buat apa taruhan nyawa di jalanan cuma demi uang?"
Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat. Suaranya terdengar pecah saat akhirnya ia bicara. "Gue nggak butuh uang Papa. Uang dia itu... uang 'berdarah' yang bikin dia lupa sama nyokap gue. Dia cuma tahu kasih kartu kredit, tapi nggak pernah tahu kalau panti asuhan tempat nyokap dulu sering bantu itu mau digusur."
Gisel tertegun. "Panti asuhan?"
"Mama ku itu anak yatim piatu, Gisel. Sebelum meninggal, dia punya janji buat renovasi panti itu. Tapi setelah dia pergi, Papa cuma kasih sumbangan sekali, terus lupa. Dia terlalu sibuk sama dunianya sendiri." Raka menyeka matanya dengan kasar. "Gue butuh seratus juta buat lunasin tunggakan lahan mereka bulan ini. Dan satu-satunya cara cepat ya cuma balapan."
Hati Gisel mencelos. Di balik sifat dingin dan pemberontak Raka, ternyata ada hati yang sangat mulia demi menjaga memori ibunya. Gisel mendekat, menghirup aroma maskulin Raka yang bercampur debu, lalu tanpa ragu ia menarik kepala Raka ke bahunya.
"Bodoh banget sih kamu," bisik Gisel. "Kenapa nggak bilang dari awal? Kamu pikir aku nikah sama Papa kamu cuma buat dandan cantik doang?"
Raka sempat menegang, tapi wangi white tea dari leher Gisel yang sangat rileks perlahan membuatnya luluh. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Gisel.
"Seratus juta itu gampang buat aku, Raka. Besok kita ke panti itu. Aku yang bakal urus semuanya. Tapi janji sama aku... jangan pernah balap liar lagi. Kalau kamu mati di jalanan, siapa yang bakal jagain janji nyokap kamu? Siapa yang bakal jagain Digo sama Alya?"
Raka terdiam, memproses kata-kata Gisel yang ceplas-ceplos tapi sangat masuk akal. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada orang dewasa yang benar-benar mendengarkannya tanpa menghakimi.
"Lo... beneran mau bantu?" tanya Raka pelan, menjauhkan kepalanya sambil menatap mata bulat Gisel.
"Tentu saja. Tapi ada syaratnya," Gisel kembali ke mode nakalnya, mengerlingkan mata. "Kamu harus panggil aku 'Kakak cantik' selama seminggu ke depan. Gimana?"
Raka mendengus, tapi kali ini ia benar-benar tersenyum. "Dih, najis."