NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Festival Desa

Malam itu begitu tenang. Nayan dan Ana duduk bersila di teras, mata mereka tertuju pada hamparan bintang yang menghiasi langit kelam.

"Kakak..." Ana memecah keheningan dengan suara kecilnya yang polos. "Apa paman Cakra itu suamimu?"

Pertanyaan itu telak mengenai sasaran. Nayan tersentak, dadanya tiba-tiba berdesir aneh. Ada semburat panas yang merambat ke pipinya—perasaan yang ia sendiri tidak mengerti.

"Eh? Buk—bukan. Dia bukan suamiku Ana ." jawab Nayan sedikit terbata. Ia berdehem, mencoba mengatur suaranya agar kembali tenang.

"Aku sama sepertimu, Ana. Aku tidak punya rumah, tidak punya siapa-siapa. Tuan Cakra hanya... orang asing yang baik hati yang telah mau menampungku."

Ana mengangguk-angguk kecil, seolah mencoba mencerna jawaban itu. Namun, di balik daun pintu yang sedikit terbuka, Cakra berdiri mematung. Kata-kata "orang asing" itu ternyata lebih menyakitkan daripada yang ia duga. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap di hatinya.

"Lagi pula, siapa yang sudi menikah dengan pengembara miskin . " batin Cakra tersenyum kecut, mengejek dirinya sendiri.

Cakra sengaja berdehem keras agar keberadaannya disadari, memutus obrolan Nayan dan juga ana .

"Cakra..." Nayan menoleh, sedikit terkejut.

"Ehm..aku hanya ingin mengatakan jika besok ada perayaan besar di desa ." ujar Cakra .

"Kepala desa mengundang semua orang. Kalau kau mau, ikutlah denganku dan Riu. Ajak Ana juga."

Mata Ana seketika berbinar. Ia melompat berdiri dan berlari kecil menghampiri Cakra.

"Sungguh, Paman Cakra? Aku boleh ikut?!" seru Ana penuh harap.

"Hm, tentu saja." jawab Cakra singkat .

Tanpa diduga, Ana langsung memeluk pinggang Cakra dengan riang. Tubuh sang Pangeran sempat menegang—ia tidak terbiasa dengan kontak fisik yang jujur dan hangat seperti ini. Namun perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Saat itulah Riu muncul . Ia berhenti sejenak, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tidak percaya.

"Ck, benar-benar seperti keluarga kecil yang bahagia." gumam Riu pelan, nyaris tak terdengar. Ia menyandarkan tubuh di tiang kayu, menatap tuannya dengan tatapan memperingatkan.

"Pangeran... kalau sampai Raja tahu kau bermain rumah-rumahan begini, kepalaku yang akan jadi taruhannya." batinnya dengan penuh frustasi .

.......

Pagi itu, alun-alun desa sudah penuh sesak. Cakra memperhatikan Nayan yang sedang sibuk merapikan baju Ana. Di matanya, Nayan hanyalah seorang wanita yang tegar namun rapuh karena tidak punya siapa-siapa.

Cakra melangkah mendekat, suaranya merendah dan terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

"Nayan, kau duluan saja dengan Ana . Cari tempat yang nyaman untuk melihat pertunjukan. Aku ada urusan sebentar dengan Riu, nanti aku langsung menyusul kalian."

Nayan mendongak, sedikit tertegun dengan kelembutan yang terselip dalam suara pria itu.

"Baiklah. Jangan terlalu lama, aku akan mengajak Ana untuk melihat lihat di sebelah sana ." jawabnya pelan sebelum menuntun tangan kecil Ana menjauh.

Cakra menatap punggung Nayan sampai hilang di kerumunan, lalu ekspresinya langsung berubah dingin saat berbalik ke arah Riu.

"Riu, siapa sebenarnya tamu kerajaan yang akan datang?" desis Cakra tajam. "Siapa pun dia, pasti sudah berkomplot dengan kepala desa untuk memeras rakyat kecil di sini."

Riu mengamati sekeliling dengan waspada. "Belum pasti, Pangeran. Kabarnya dia dari salah satu kerajaan bawahan kita."

Cakra mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.

"Kurang ajar. Terus awasi mereka, jangan sampai ada yang terlewat."

Baru saja Cakra hendak kembali menyusul Nayan tiba tiba Riu mencekal lengannya dengan kuat hingga langkah Cakra pun tertahan.

"Pangeran... ada satu hal lagi yang belum ku katakan ." bisik Riu serius . Cakra pun mendengarkannya .

" Hari ini Raja juga akan datang bersama permaisuri Suhita . "

Cakra tersentak. "Apa?!"

"Tenanglah Pangeran..,Beliau hanya datang untuk formalitas . Tidak akan mengganggu penyamaran kita . lanjut Riu.

" Tapi...."

Riu menjeda kalimatnya, tampak ragu untuk melanjutkan.

"Tapi apa, Riu? Katakan!" desak Cakra.

Riu menghela napas panjang. "Masalahnya bukan pada Raja, tapi pada Permaisuri Suhita. Jika sampai ibumu tau..." Riu melirik ke arah Nayan di kejauhan. " Kau bersama dengan seorang wanita seperti Nayan . Dia pasti akan mengamuk pangeran . Kau tau betul jika permaisuri sangatlah menjaga martabat mu . "

***

Di dalam kemewahan kereta kencana yang tertutup rapat, suasana terasa begitu dingin. Raja Indra menatap tajam ke arah Permaisuri Suhita, seolah memberi peringatan yang tak terbantahkan.

"Ingatlah Suhita!" suara Raja rendah namun penuh penekanan. "Kita datang ke sini tanpa undangan resmi. Jika nanti kau melihat Cakra sekalipun, jangan pernah tunjukkan identitasnya. Tak boleh ada satu pun warga yang tahu siapa dia, sampai kita berhasil menyeret dalang di balik semua kekacauan ini.

Suhita hanya tersenyum tipis, merapikan selendang sutranya dengan anggun. "Aku mengerti, Yang Mulia. Kau tidak perlu terlalu cemas," jawabnya tenang, meski sorot matanya sulit ditebak.

Pandangan Raja Indra kemudian beralih ke sudut lain kereta. Alisnya bertaut saat melihat sosok Putri Rani yang duduk manis di samping Permaisuri.

"Putri Rani..." panggil Raja, membuat gadis itu sedikit tersentak. "Bukankah kerajaanmu sendiri sedang dilanda masalah? Mengapa kau tidak tetap di sana untuk membantu, alih-alih ikut dalam perjalanan ini?"

Suhita segera memotong sebelum Rani sempat menjawab. "Ah, Raja... jangan terlalu kaku. Aku sendiri yang mengajak Putri Rani ikut bersama kita . " bela Suhita sambil menepuk pelan tangan Rani.

"Bukankah sudah sepatutnya calon istri Cakra mulai tampil di depan publik? Anggap saja ini kesempatan agar rakyat mulai mengenalnya."

Raja Indra tidak menyahut lagi. Ia hanya memalingkan wajah, menatap ke luar jendela dengan ekspresi datar yang menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam.

Rani terdiam, namun jemarinya meremas kain gaunnya dengan kencang. Ia bisa merasakan penolakan yang nyata dari sang Raja.

" Sial... pria tua ini benar-benar tidak menyukaiku.." batin Rani sambil mendengus kesal.

" Aku harus mencari cara agar dia berpihak padaku, atau posisi ini tidak akan pernah aman. "

......

Suasana di alun-alun desa semakin sesak. Meskipun banyak penguasa wilayah kecil yang hadir dengan pengawalan ketat, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa sosok di dalam kereta kencana sederhana yang baru saja melintas adalah penguasa tertinggi Kerajaan Selatan. Raja Indra sengaja menanggalkan kemegahannya agar bisa memantau pengkhianatan di tanah ini secara langsung.

Cakra masih berdiri melindungi Nayan dan Ana di balik kerumunan, matanya tajam mengawasi pergerakan di panggung utama desa.

"Kenapa kau tampak begitu tegang, Cakra?" tanya Nayan pelan. Ia menyadari napas Cakra yang memburu dan genggaman tangannya yang mengeras pada bahunya.

"Hanya pejabat-pejabat kecil yang datang, bukan?" Tanya Nayan .

Cakra tidak menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ayahnya—Raja Agung yang ditakuti seluruh negeri—berada hanya beberapa jarak dari mereka.

Pandangan Cakra kemudian teralih pada seorang pria paruh baya dengan jubah ungu gelap yang baru saja turun dari kudanya. Itu adalah Raja Galuh, penguasa wilayah barat yang selama ini dikenal bermuka dua. Sikapnya sangat mencurigakan ia tidak bergabung dengan barisan tamu lainnya , melainkan sibuk memberi isyarat rahasia kepada beberapa pengawal yang menyebar ke arah kerumunan warga.

"Riu, kau perhatikan Raja Galuh." desis Cakra saat pengawal setianya itu mendekat.

"Dia tidak tahu kalau Ayahanda ada di sini. Lihat bagaimana dia berbisik dengan orang yang di sana itu. Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu di tengah keramaian ini."

Riu mengangguk. "Sepertinya mereka pikir ini saat yang tepat untuk membagi-bagi wilayah perbatasan, Pangeran. Mereka merasa aman karena mengira Raja Agung sedang berada jauh di pusat istana ."

Tiba-tiba, suara riuh warga terhenti saat Kepala Desa menaiki panggung dengan wajah pucat pasi. Ia tampak gemetar, seolah sedang dipaksa oleh seseorang untuk menyampaikan pengumuman.

"Warga sekalian! Hari ini kita kedatangan tamu terhormat yang akan membawa kemakmuran bagi desa kita!" seru Kepala Desa dengan suara bergetar.

Nayan menyipitkan mata. Instingnya sebagai pendekar mulai bergejolak. "Ada yang salah, Cakra. Para pengawal di sisi panggung itu... mereka bukan prajurit desa. Mereka tentara bayaran."

Deg...

Cakra seketika tertegun. Ia menatap Nayan dengan tatapan menyelidik yang tajam.

"Bagaimana kau bisa tahu, Nayan? Bagaimana kau bisa sedetail itu menyimpulkan kalau mereka kemungkinan adalah tentara bayaran?" tanya Cakra, suaranya rendah namun menuntut jawaban.

Nayan tersentak, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia merutuki lidahnya yang bergerak lebih cepat dari pikirannya. Sial, insting 'Dewi Kematian' miliknya hampir saja menghancurkan penyamarannya yang ia bangun susah payah sebagai Nayan.

"Ehmm... itu... aku sebenarnya..." Nayan terbata, otaknya berputar cepat mencari alasan yang masuk akal.

Namun, penjelasan Nayan seketika buyar. Perhatian semua orang di alun-alun mendadak teralih. Tanpa tiupan terompet, tanpa sambutan resmi, sebuah iring-iringan berkuda merangsek masuk ke tengah kerumunan dengan sangat tenang namun mengancam.

Bersambung.....

🐼🐼🐼🐼

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!