NovelToon NovelToon
CINTA SI TUAN BUCIN

CINTA SI TUAN BUCIN

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: V Lestari

Camelia dan Sbastian dipertemukan dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan. Berawal dari niat baik Camelia yang ingin mengembalikan ponsel yang ia temukan di tepi jalan, tapi niat tersebut malah membuatnya harus menanggung banyak kesulitan.

Hingga akhirnya ia membuat sang pemilik ponsel, Sbastian putus dengan tunangannya dan dirinya harus menjadi tunangan sementara.

Siapa sangka benih-benih cinta akhirnya tumbuh di antara mereka. Perjalanan cinta mereka tidak mudah. Semua karena Isabel, mantan tunangan Sbastian. Ia melakukan segala cara untuk memisahkan Camelia dan Sbastian.

Apakah Isabel berhasil?

Apakah Sbastian akan berhenti memperjuangkan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERUSIR

Pagi ini Camelia terbangun karena mendengar suara gaduh di halaman rumah, awalnya ia pikir suara itu berasal dari adik-adiknya yang sedang sibuk bermain, mereka memang terkadang seperti itu. Terlalu bersemangat sehingga mereka membuat keributan yang teramat sangat.

Akan tetapi tak lama kemudian terdengar suara Siska berteriak, ia tidak mendengar dengan jelas apa yang diteriakan Siska, tapi bukankah Siska memang selalu seperti itu, ia selalu berteriak bahkan untuk hal-hal kecil. Kehilangan pensil alis saja ia bisa histeris sampai berhari-hari.

Camelia kembali menyampirkan selimut hingga ke kepalanya, berusaha meredam keributan yang terjadi. Ia masih sangat mengantuk.

Namun, kemudian ia kembali mendengar suara Bu Lastri yang berteriak dan terdengar suara beberapa anak sepertinya menangis. Camelia buru buru bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar.

Betapa terkejutnya ia dengan apa yang dilihatnya di ruang utama. Semua barang-barang di ruang utama berantakan dqn sepertinya barang-barang dari kamar pun sudah dikeluarkan dengan paksa, terbukti dari apa yang ia lihat. Bantal, kasur, selimut dan pakaian semuanya berantakan tertumpuk jadi satu di ruang utama.

"Siapa kalian hah? Kenapa kalian melakukan ini kepada kami?" Triak Bu Lastri sambil menangis.

Camelia berjalan menghampirinya. "Ada apa, Bu?" tanyanya bingung.

"Entahlah, Mel. Mereka tiba-tiba saja datang dan mengobrak-abrik rumah kita." Bu Lastri menangis sambil memeluk Camelia.

"Sudah Ibu jangan menangis, biar Amel yang tangani." Camelia berusaha menenangkan Bu Lastri.

Ia kemudian menghampiri salah seorang dari enam laki-laki bertubuh besar yang sedang sibuk mengobrak-abrik setiap kamar yang ada dibangunan itu.

"Maaf, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian melemparkan barang-barang kami keluar?" teriaknya kesal.

Pria bertubuh besar itu meliriknya sekilas, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Camelia dengan nada yang kelewat tinggi dan terkesan di buat-buat.

"Rumah ini harus dikosongkan saat ini juga!" katanya tajam.

"Melihat dari cara kalian yang bertamu secara tidak sopan, aku sudah tahu, kalau kalian berusaha untuk membersihkan rumah ini."

"Kami mengusir kalian, bukan membantu kalian bersih-bersih." ujar pria berbadan besar tersebut kepada Camelia.

"Terserah apa kata kalian, yang jelas kalian sudah mengganggu kami. Sekarang cepat keluar dari rumah kami atau aku panggilkan polisi," ancam Camelia kepada pria besar itu.

Pria itu hanya tertawa dan berbicara kepada teman-temanya. "Haiii Gaeees, gadis kecil ini marah dan mengusir kita dari sini. haha," ujarnya sambil meremas bokong Camelia.

Camelia terkejut dan refleks langsung menampar pria itu.

"Dasar perempuan sialan," teriak pria itu dengan marah, lalu ia pun menampar Camelia hingga Camelia jatuh tersungkur, Camelia meringis, dan menyentuh bibirnya yang terasa basah. Benar saja, ada darah di sudut bibirnya.

Pria itu lalu masuk ke kamar Camelia dan mulai melempari barang milik Camelia. Camelia menghadangnya, tapi pria itu lebih kuat dari Camelia, ia mendorong Camelia hingga terjatuh.

Lalu pria itu melanjutkan aktifitasnya melempari barang milik Camelia, hingga akhirnya Pria itu menyentuh buku pemberian Sbastian.

"Jangan sentuh!" Teriak Camelia, "Sedikit saja kamu sentuh barangku itu, maka akan kubuat kamu menderita selamanya," ancam Camelia.

Pria itu tertawa, "Oooh, ya. Dasar perempuan sialan, aku mau lihat, bagaimana cara kamu membuat aku menderita, hahaha." Lalu ia mengangkat tubuh Camelia dan menghempaskannya ke atas kasur.

Camelia mengerang, pria berbadan besar itu kemudian menguasai tubuh Camelia. Camelia berteriak, tapi pria itu tertawa semakin kencang.

"Kamu bilang akan membuatku menderita seumur hidup, hah? Aku hanya akan menderita kalau setiap hari selama sisa hidupku akan ada seorang anak yang bolak-balik minta di belikan mainan, maka mari kubantu kamu untuk membuatku menderita. Mari kita buat anak-anak. Hahaha."

Camelia meronta, berusaha melepaskan diri dari pria besar itu. Tetapi semua usahanya terasa sia-sia, tubuhnya terasa melemah karena kehabisan tenaga. Ia mulai menangis dan putus asa, pasrah pada apa yang akan terjadi, tapi kemudian terdengar suara seorang pria berteriak.

"Bedeb*h!" Lalu pria itu menendang pria bertubuh besar yang sedari tadi berusaha untuk menguasai tubuh Camelia.

Pria bertubuh besar itu terjatuh, tubuhnya menghantam meja rias milik Camelia. Saat tubuhnya sudah bebas, Camelia dengan cekatan bangkit dari tempat tidurnya. Ternyata pria itu adalah Alvian, Alvian menyelamatkan kehormatannya.

Tanpa ampun Alvian menghajar habis-habisan pria itu. Alvian memang jago sekali bela diri, maka tidak heran walaupun badannya tidak sebanding dengan pria itu, tapi Alvian dengan mudah melumpuhkannya.

Bukan berarti Al tidak mendapat pukulan sama sekali, beberapa kali Camelia menjerit saat pria itu melayangkan tinju ke wajah Alvian, tapi pada akhirnya pria itu lah yang babak belur. Merasa tidak dapat mengalahkan Alvian, pria itu berlari keluar dari kamar.

Camelia merosot, ia terlihat kacau sekali. Rambutnya berantakan, sudut bibirnya berdarah, dan sweater yang ia kenakan sobek pada bagian pundak.

Alvian menghampirinya.

"Mel, kamu gak apa apa?" Tanyanya cemas.

Camelia diam saja, hanya air mata yang dengan deras mengalir di sudut matanya.

"Mel, sudah. Sekarang sudah ada aku, jangan menangis lagi." Alvian lalu menarik Camelia ke dalam pelukannya.

Camelia meraung, ia menangis sejadi-jadinya dipelukan Alvian. Ia masih ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya seandainya Alvian tidak datang tepat waktu.

"Shut, shut, sudah, ya." Alvian masih terus menenangkan Camelia, Camelia mendongak menatapnya.

"Makasih Al, untung kamu datang," katanya dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya.

Al tersenyum lalu mengusap air matanya."Aku gak akan biarkan hal buruk terjadi sama kamu, Mel, gak akan pernah," ujarnya terdengar tulus.

"Kamu berdarah." Camelia sambil mengusap sudut bibir Alvian yang banyak mengeluarkan darah.

"Kayaknya ada beberapa gigiku yang terlepas. Otw jadi kakek kakek dong aku, ya," ucap Alvian, berusaha untuk bercanda.

Camelia tersenyum lalu kembali memeluk Alvian dengan erat. Al menepuk-nepuk pundaknya.

"Ayo kita lihat bagaimana keadaan di luar sana," ajak Alvian, lalu mereka bangkit berdiri. Alvian mengambilkan sweater baru untuk Camelia, karena sweater yang dikenakan Camelia sobek.

Lalu Alvian menggandeng tangan Camelia menuju ke halaman rumah. Di halaman terlihat Bu Lastri dan Siska sedang bicara dengan pemilik bangunan tersebut.

Bu Lastri dan Siska terkejut melihat keadaan Alvian dan Camelia, mereka lalu berlari menghampiri Camelia dan bertanya dengan cemas apa yang terjadi sehingga mereka bisa berdarah seperti itu.

"Gak apa-apa bu, cuma luka sedikit, kami berjuang melawan laki-laki jelek yang berusaha mengobrak abrik rumah kita, tapi ya beginilah hasilnya," ujar Alvian sambil tersenyum, berusaha membuat Bu Lastri tidak terlalu khawatir.

Camelia hanya diam sambil menunduk, Alvian meliriknya lalu semakin erat menggenggam tangannya.

"Percuma, Al, bangunan ini sudah dibeli orang lain dengan harga tinggi, kita harus pindah dari sini hari ini juga," ujar Bu Lastri.

"Benarkah?" tanya Alvian, lalu ia menghampiri si pemilik bangunan, masih dengan menggenggam tangan Camelia.

"Apa benar rumah ini sudah Anda jual?" tanyanya dengan marah.

"Ya, benar! Dan kamu tidak berhak marah apalagi menatap saya dengan tatapan seperti itu," ujar sang pemilik bangunan dengan ketus.

"Aku sama sekali tidak marah karena kamu menjual bangunan jelekmu ini, tapi cara kamu untuk meminta kami pindah dari sini sungguh keterlaluan. Apa gak bisa kamu bicara baik-baik pada kami, bukannya mengirim preman-preman sialan itu untuk mengobrak-abrik barang barang kami," ujar Alvian dengan marah.

"Apa kalian bersedia pergi kalau aku meminta dengan cara baik-baik? Orang rendahan seperti kalian itu tidak tahu diri, kalian pasti menolak dengan segala macam alasan," ujarnya sambil mendelik.

"Mulutmu itu sepertinya harus diberi pelajaran." Alvian maju dengan tangan mengepal, tapi kemudian Camelia menahannya.

"Al," ujarnya lirih. Alvian menatap Camelia, wajah gadis itu terlihat ketakutan, mungkin ia masih trauma melihat kejadian baku hantam di dalam kamarnya tadi. Maka Alvian mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran kepada pemilik bangunan itu.

"Baiklah, beri kami waktu untuk pindah dari sini. Tidak mungkin kami langsung pergi begitu saja. Banyak barang yang harus kami bereskan," ujar Alvian.

"Baiklah, aku beri waktu sampai sore ini. Lewat dari waktu itu, aku tidak mau tahu dan tidak mau dengar alasan kalian." Lalu ia pergi meninggalkan kekacauan yang sudah dibuatnya.

Camelia merosot, kakinya terasa lemas sekali. Ia terduduk di rerumputan. Pemandangan menyedihkan terlihat jelas di hadapannya, adik-adik asuhnya yang menangis sedang berusaha di tenangkan oleh Siska, perabotan mereka yang dikeluarkan dengan brutal berantakan di halaman rumah, bahkan kursi goyang tempat Bu Lastri biasanya menghabiskan waktu dengan menonton TV pun tak luput dari kebrutalan mereka. Kursi itu patah pada bagian kakinya. Kasur busa milik adik-adiknya pun tergeletak berantakan di halaman rumah.

Camelia bangkit menghampiri Putri, adik asuhnya yang cantik. Ia yang paling kecil di panti, umurnya baru tiga tahun. Ia sedang menangisi boneka barbie-nya yang kehilangan sebelah tangannya.

"Hai, Put Sayang, kenapa nangis?" tanya Camelia lembut sambil menggendongnya.

"Kak Mel, tangannya ilang. Boneka Putli tangannya ilang. Hiks," lirihnya sambil menangis menunjukan bonekanya yang kehilangan satu tangan.

"Tadi om yang gendut itu talik boneka putli, tangannya lepas, Kak," lanjutnya.

Camelia mengusap pipi tembam gadis kecil yang ada di gendongannya itu.

"Jangan nangis, ya, Sayang, nanti Kak Mel bantu cari tangannya."

Gadis itu mengangguk, lalu Camelia menurunkannya dari gendongan.

"Sekarang Putri main di halaman belakang dulu, ya, Kak Amel, Kak Al, sama Mba Siska mau beresin barang-barang ini dulu. Nanti kalau sudah beres pasti tangan boneka putri ketemu."

Putri kembali mengangguk lalu berlari menuju ke halaman belakang, tempat anak-anak lain diarahkan oleh Siska. Setidaknya mereka tidak melihat lebih lama kekacauan yang terjadi di luar sini.

"Bagaimana ini? Kita harus kemana." Siska bertanya sambil membereskan pakaian-pakaian yang berantakan, "Seharusnya mereka datang dan bicara baik-baik, gak kayak gini," ujar Siska sambil terisak.

Alvian datang menghampiri Camelia yang masih berdiri mematung. Ia tahu kenapa semua ini terjadi, semua ini terjadi karena dirinya, ia tidak mungkin salah menebak. Semua ini pasti perbuatan Isabel.

Air mata kembali mengalir dari sudut mata indahnya. Alvian berdiri tepat di sampingnya, Camelia kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Alvian.

"Bagaimana ini, Al? Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya dengan suara lirih. "Semua ini salahku, gara gara aku semua ini terjadi. Seandainya saja ... seandainya saja ...!" Camelia tidak dapat menyelesaikan perkataannya, ia hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu kembali terisak.

Alvian meletakan tangannya pada pundak Camelia dan meremasnya dengan lembut.

"Nanti saja kita pikirkan, sekarang mari kita masuk dulu, aku obati lukamu." Alvian kemudian menggandeng tangan Camelia dan menuntunnya ke dalam rumah.

Bu Lastri dan Siska juga sudah kembali masuk ke dalam rumah, untuk sementara membiarkan barang-barang itu berantakan di halaman rumah. Toh mereka tidak tahu harus memulai dari mana untuk membersihkannya.

***

"Aw, pelan-pelan, Al." Camelia merintih saat Alvian membersihkan darah yang mengering di sudut bibirnya.

"Maaf. Pasti akan memar dan bengkak beberapa hari ke depan, Mel," ujar Alvian saat selesai membersihkan luka Camelia.

"Iya, gak apa-apa, sudah lebih baik kok. Sekarang sini, kamu juga babak belur," ujar Camelia sambil menarik Alvian agar mendekatkan tubuhnya kepada Camelia.

Camelia mulai membasuh luka Alvian dengan air hangat, mulai dari wajahnya, hingga telapak tangannya yang lecet.

"Sakit?" Tanya Camelia.

"Iya!"

"Sakit banget ya?"

"He'em. Sakit banget waktu aku lihat laki-laki jelek itu mau menyakitimu," ujarnya sambil memandang lurus pada Camelia, "Maaf aku datang terlambat, jika aku datang tepat waktu pasti laki-laki jelek itu gak akan sempat untuk melukai wajahmu," ujarnya lalu memberikan sentuhan lembut pada sudut bibir Camelia.

Camelia tersenyum. "Justru aku bersyukur kamu datang di saat-saat terakhir, kalau kamu gak datang tadi entahlah aku mungkin sudah--"

Alvian meletakan jarinya di bibir Camelia. "Shut, jangan bilang apa-apa lagi, yang tadi sudahlah, jangan diingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja. Lihat saja, lain kali akan kuhabisi laki-laki itu," ujar Alvian dengan nada serius.

Camelia tersenyum lalu kembali membersihkan luka pada tubuh Al.

"Sudah," ujarnya sambil menghembuskan napas, "Kamu tahu, Al kalau aku paling takut ngelihat darah, sejak kecil aku paling panik kalau lihat darah, tapi semenjak kamu makin besar, kamu benar-benar menjadi ujian untuk phobiaku ."

"Oh ya, kenapa aku jadi ujian buatmu?"

"Kamu selalu saja berdarah, saat kita masih SD kelas empat sampai enam, kamu selalu pulang dengan keadaan terluka. Entah hidungmu, entah bibirmu. Ada saja yang membuat Bu Lastri berteriak padaku untuk mengambilkanmu perban."

"Oh itu karena kamu selalu menangis saat keluar dari kelas."

"Oh ya, kalau aku yang nangis, kenapa kamu yang terluka."

"Aku tahu, Mel kalau komplotan anak nakal di sekolah kita dulu selalu mengejekmu. Mereka selalu bilang kamu dan aku anak buangan, apa kata mereka saat itu tentang kita? aku lupa?"

"Anak sampah!"

"Ya itu dia, kita ini anak sampah. Aku gak masalah dengan ejekan itu, toh mungkin aja mereka memang benar, tapi aku tahu kamu gak tahan dengan ejekan itu, makanya setiap pulang sekolah kusempatkan memberi mereka pelajaran. Keren kan?" ujar Al dengan penuh percaya diri.

Camelia tersenyum mengejek kepada Al, "Keren itu kalau kamu gak ikutan babak belur!"

"Eeeh jangan salah Mel, kalau satu lawan satu pasti aku gak akan babak belur. Lah mereka berempat, jelas aja kalau aku babak belur."

Camelia tertawa. "Halaaah ngeles aja bisanya."

"Kamu gak percaya?" tanya Al.

"Iya, aku gak percaya." ujar Camelia lalu bangkit berdiri. Ia mulai membereskan barang-barang disekitarnya yang berantakan.

"Oh, ya, Al, ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada di sini? kamu sudah bebas atau kamu kabur dari penjara?" tanya Camelia dengan bingung.

"Ada yang bebasin aku dari dalam sana, aku gak tau siapa. Lagi pula mereka gak bisa menemukan cukup bukti untuk menahan aku lebih lama. Itulah sebabnya aku dibebaskan." ujar Alvian dengan senyum bahagia.

"Syukurlah kalau begitu, maaf gak bisa menyambut kepulanganmu dengan lebih baik." Camelia memeluk Alvian dan mengecup pipinya. "Al ku tersayang." Tambahnya sambil tersenyum manis.

"Jangan lakukan hal itu lagi Mel."

"Lakukan apa?"

"Itu ...." Al memperagakan cara Camelia mengecup pipinya.

Camelia tertawa. " Oke, oke, Al sudah besar, sudah gak mau di cium pipi."

"Iyalah, aku sekarang maunya di sini," ujar Al sambil menunjuk bibirnya.

"Hah! Ogaah iiih," teriak Camelia sambil bergidik.

"Loh kenapa, 'kan aku sudah bilang I love you." Al kemudian menghampiri Camelia, Camelia menghindar lalu berlari keluar ruangan. Sementara Alvian mengejar di belakangnya sambil terus berteriak manja minta di cium.

"Ayolaah Camelia, I love you."

"Iih, enggak. Bu, Al, Bu, kayaknya otaknya mulai rusak gara-gara ditinju sama preman tadi."

"Ayo dong, Mel, sekali aja," ujar Alvian masih terus mengejar Camelia.

***

"Bagaimana?"

"Dia sudah bebas, Pak."

"Baguslah, jangan sampai Isabel tau kalau pemuda itu sudah bebas."

"Baik, Pak."

"Dan satu lagi, tolong bersihkan rumah lama saya yang ada di samarinda. Saya yakin akan membutuhkannya dalam waktu dekat ini."

"Baik, Pak."

Semoga semua yang kulakukan ini dapat mengurangi rasa bersalahku.

Bersambung ....

💕💕💕

1
Lee Je hoon
sukaaaaa.
Lee Je hoon
langsung putus 😅😂
Lee Je hoon
cuma seles doag yg bisa pakai jas sama dasi 😂
Lee Je hoon
au bayangin si sbasti ini kok kayaknya cool banget ya 😍
Lee Je hoon
ya ampun ngakak di akhir😂
™febri@n.*
ini beneran tian g ad ...sia" thor baca dri awal klo ending nya begini 😭😭😭haddeehhh ...
™febri@n.*
Kecewa
™febri@n.*
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
™febri@n.*
baru baca sdh kepicut thor😘
Novia Lestari: hehe he, maka sih, Kak 😊
total 1 replies
Jamilah MiuShop Samarinda
baru mulai baca yang ini 😁
Nelly Katanya
kalo udah ke Samarinda knpa GK sklian ke Tenggarong aj pak..
Nelly Katanya
jujur aja dgn keadaan Camelia. biar enak urusan nya. jgn bohong, nanti akan ada kebohongan lagi demi menutupi kebohongan yg lain👌
Nelly Katanya
sweet banget dua ank manusia itu.
Nelly Katanya
saran yg bijak Amel. dan Sebastian keputusan nya tepat👍
Nelly Katanya
apa kah yg terjadi. akan kah lonceng memaaf kan Amel. atau malah sebalik nya memanfaat kan
Nelly Katanya
seegitu nya GK mau kah Bastian SMA Amel. kusumoahin Lo kena penyakit bucin
Nelly Katanya
yeye enak donk Camelia otw ke Jakarta, sekalian aj jalan² ke Monas🤣🤣
Nelly Katanya
si Amel ada² saja rencana nya🤣🤣 iya kali kmu tga ngdorong Rian sebastian. klo GK baper nanti🤣🤣
Nelly Katanya
salah sendiri si penlefon nya nyerocos trus kyk mercon ukuran jumbo
EN_aqkeru
ini mah plaza Balikpapan 😁
Novia Lestari: hehehe bener banget, Mba. 🤭🤭
makasih sudah membaca CINTA SI TUAN BUCIN. 🙏
karena ini tulisan pertama saya, jadinya agak berantakan. Mau revisi belum sempat pun 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!