Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
TIS TIS TIS bunyi titisan air jatuh ketanah. Cahaya tertelan gelapnya alam bawah sadar. Dua orang yang saling berpandangan dengan penuh arti. Bersandar disamping sebuah cermin besar.
Wajah keduanya murung tampa adanya harapan. Mereka tengelam pada pikiran masing-masing.
“ Lagi-lagi tertipu” kata Melisa lirih untuk kesekian kali.
Suara yang rasanya sesak seperti didalam bawah air. Tengelam dalam keputus asaan. Darah mengalir dari perut mereka berdua. Rasa sakit tidaklah terasa lagi. air mata tidak keluar lagi bersama asa yang terputus.
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat sekeliling. Alam bawah sadar yang indah dengan warna warni keajabannya musnah seketika. Tumbuhan yang layu dengan awan hitam pekat menguasai langit.
Aku mengerakan tanganku merasakan rintikan air hujan yang semakin banyak. Air hujan membasahi tubuh kami. Darah yang mengalir ditubuh kami bersatu dengan air. Darah yang mengalir ke semua penjuru.
Aku melihat keadaan Toto yang murung dengan telinga yang turun. Bulu halus Toto yang basah kuyup dengan badan gemetar.
Aku menoleh kearah Melisa yang menyedihkan sama sepertiku. Wajah yang semula mulus kini membengkak dengan bibir robek.
Aku mencoba berdiri rasanya sakit semua. Aku merasakan tulang rusukku patah. Aku tersenyum kemudian tertawa seperti orang gila. Aku menyeret Melisa menghadap cermin.
“ KAU LIHAT KITA BERDUA... SUDAH CUKUP SATU HARI KITA DEPRESI... SUDAH WAKTUNYA KITA MENYERANG. KITA TAK AKAN KALAH DARI TOKOH SAMPINGAN SEPERTI MEREKA KARENA KITA SEORANG VILLIAN” teriakku.
Mataku hitam sehitam kegelapan. Aku merasakan hasrat menghancurkan yang begitu kuat. Tanganku mengepal erat memukul cermin hingga pecah. Tanganku penuh darah segar yangmengalir kebawah.
“ Aku muak dengan mereka” kata Melisa dingin.
Melisa mengambil pecahan kaca pada cermin kemudian menyatukannya. Melisa mengambil kaca tanpa adanya pelindung tangan. Tangannya tergores dan tertancap serpihan kaca. Darah segar mengalir dari telapak tangan Melisa.
Cermin sudah menyatu kembali. Kami memandang satu sama lain menyalurkan hasrat dan energi yang terpecah. Derasnya air hujan membasahi tubuh dan hati kami.
“ Apa rencana kita untuk membunuh mereka” kata Melisa dengan tatapan tajam.
“ Aku lebih suka menyiksa mereka daripada membunuh mereka” kataku tegas.
“ Terdengar menyenangkan” kata Melisa dengan seringai.
“ Mereka orang penakut terbukti dengan tindakannya maka mari kita tebar teror dan hancurkan hubungan kakak beradik itu” kataku tersenyum licik.
“ Kita hancurkan mereka secara mental dan fisik. Aku ingin tahu sejauh mana mereka bertahan dengan wajah munafik” kata Melisa yang haus darah.
Kami tertawa menyeramkan membuat Toto bersembunyi dibalik pohon. Mata Toto yang merah darah mengecil karena ketakutan. Ekor Toto yang mengembang menjadi satu menutupi tubuhnya. Sekarang Toto seperti sebuah bola berbulu.
---
Aku membuka kedua mataku berlahan. pada awalnya pandanganku buram lama kelamaan semakin jelas. Aku melihat sebuah dinding berwarna putih dengan infus ditanganku.
“ Putriku sudah sadar... ” kata ayah terharu bahagia.
Ayah segera memegang tanganku dengan erat. Ayah memgecup keningku dengan lembut. Paman Bekkyunie menekan tombol darurat yang terpasang diatas kepalaku. Tidak selang waktu lama seorang dokter paruh baya menghampiriku. Dokter dengan wajah tampan dengan kulit putih. Aku melihat tag nama yang terpasang dijas kebesarannya. Dokter yang bernama Choi Sebastian sedang memeriksa keadaanku.
“ Syukurlah Melisa sadar ini suatu keajaiban Melisa bisa sembuh total. Menginggat keadaan Melisa dengan beberapa tulang yang patah, terkena peluru dan terpapar gas beracun” kata dokter Choi kagum.
“ Ini semua berkat bantuan dokter” kata paman Bekkyunie.
“ Tidak ini semua berkat kita semua” kata dokter Choi senang.
“ Iya dokter” kata ayah singkat.
“ Kalau begitu saya pamit undur diri ada pasien yang harus saya tangani dan Melisa kamu harus banyak istirahat” kata dokter Choi memberi nasehat.
Dokter choi pergi meninggalkan ruanganku bersama paman Bekkyunie. Aku memandang ayah tajam.
“ Mengapa ayah memasukkanku kesini? Lalu bagaimana Yan, Gio dan tawananku?” tanyaku khawatir.
Ayah menghelan nafas kasar tangannya yang rapuh memengang tanganku. Tangannya memberikan kehangatan.
“ Keadaanmu lebih parah dari mereka. Ayah sudah membawamu kedokter pribadi ayah semuanya tidak berhasil. Ayah terpaksa membawamu kemari karena hanya dokter Choi yang mampu menyembuhkanmu” kata Ayah menjelaskan.
Ayah tersenyum hangat memandangku. Mata ayah menatapku dengan penuh kehangatan. Tangan ayah membelai wajah pucatku.
“ Ayah tidak ingin kehilanganmu...” kata Ayah lirih.
Aku mendengar perkataan ayah rasanya hatiku teriris. Air mataku keluar tanpa aba-aba. Aku memeluk ayah dengan erat.
“ Maaf... telah membuat ayah khawatir” kataku lirih dengan isakan.
Aku tertidur dipelukan ayah akibat obat yang diberikan suster diinfusku. Ayah memberingkan tubuhku dengan pelan. Ayah mengecup keningku dengan lembut. Kemudian ayah meninggalkanku sendirian diruangan berwarna krem muda.
Melisa membuka mata dengan cepat. Melisa melepaskan infus yang menempel dipergelangannya. Melisa turun dari ranjang dengan rasa sakit diperut.
Melisa meringis menahan rasa sakit. Melisa tetap bangun untuk melakukan olahraga kecil untuk menambah stamina.
Melisa berhenti saat mendengar suara langkah kaki mendekat ruangan. Melisa memasang infus ditangannya. Melisa memejamkan mata membiarkan suster memeriksa keadaannya.
---
Aku melirik kalender yang menujukan hari saptu. Aku merasa bosan hanya berbaring diranjang. Aku melihat indahnya langit merah kekuninggan dari balik jendela.
“ Aku bosan seharian hanya berbaring tak berdaya” kataku mengeluh.
KRETT suara pintu terbuka aku menoleh melihat suster yang datang memeriksa infusku. Sebuah senyum misterius terpasang dibibir manisku.
“ Suster aku ingin jalan-jalan” kataku
“ Tidak bisa Melisa harus istirahat” kata suster
“ Aku merasa lebih baik saat berada diluar ditambah kakiku terasa kram” kataku sedih dengan raut wajah memelas. Aku melirik suster yang menghelan nafas.
“ Baiklah tapi suster temani” kata suster lembut.
Aku mengangguk dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahku. Aku melihat suster tersipu malu.
Suster membawaku kesebuah taman. Taman rumah sakit ^^ yang indah dengan berbagai bunga yang ditata dengan rapi. Angin spoi-spoi yang menerpa wajahku menenangkanku. Aku bersyukur bisa menikmati waktu sore dengan damai.
Aku melirik melelui ekor mataku suster sedang dipanggil. Aku melihat ada sorot kebinggungan diwajahnya. Aku memengang tangan suster dengan binggung. Aku membuat gerakan mengangguk.
“ Aku akan tetap berada disini menunggu suster menjemputku” kataku sambil tersenyum.
Suster membalas senyumanku kemudian pergi meninggalkanku. Sebelum pergi suster mengusap kepalaku. Aku memandang kepergian suster dengan datar.
“ Mengapa semua orang suka mengusap kepalaku memangnya aku kucing” kataku protes.
PYARRR suara benda yang pecah. Aku penasaran menuju kesumber suara. Aku berjalan dengan tangan terinfus mendekati sosok yang sedang mengeluarkan air mata. Aku melihat sosok itu tampak kacau dengan tangan terluka dan pakaian berantakan.
Aku memperhatikan lingkungan sekitar taman yang sepi pengunjung. Aku memperhatikan sosok itu sampai dia tenang. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya dengan kotak obat ditanganku. Aku mengambil kotak obat yang tersedia disekitar taman.
“ Kupikir kau harus mengobati luka tanganmu” kataku lembut.
Aku melihat sosok itu menoleh kearahku. Aku terkejut melihat sosok itu adalah Alex. Aku segera mengubah ekpresiku menjadi datar kembali. Aku mendekati Alex dengan berlahan.
Aku mengambil tangan Alex yang terluka. Aku melirik Alex tidak bergeming ataupun mengeluarkan satu katapun. Aku segera mengobati luka Alex dengan obat yang kubawa.
Aku sudah mengobatinya kemudia pergi meninggalkan Alex. Aku berhenti saat Alex memengang tangan kananku.
“ Kenapa kau berada disini?” tanya Alex penasaran.
“ Seperti yang kau lihat aku pasien disini” kataku acuh.
“ Gadis beruang” kata Alex yang membuatku memandangnya.
Alex menariku pelan untuk duduk dekat dengannya. Aku mengikuti keinginan Alex. Kepala Alex bersandar dibahuku. Aku berusaha untuk membuat jarak yang dihentikan dengan tangan posesif Alex. Aku melirik Alex dengan tajam.
“ Disini aku bertemu dengan periku” kata Alex lirih.
Aku terdiam saat Alex mulai menceritan masa lalunya bersama Olivia. Sebuah informasi yang tidak boleh dilewatkan. Kupasang kedua teliga untuk mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Alex.
“ Aku pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua kakiku patah. Mendengar perkataan dokter
membuat hidupku hancur. Cita-citaku menjadi pembalap seketika musnah. Aku benar-benar depresi dengan kenyataan ini. Sampai periku datang menghiburku. Periku menemaniku saat aku terpuruk sampai aku orang
tuaku membawaku keluar negeri untuk menjalani perawatan hingga aku bisa berjalan seperti ini. Aku meminta periku untuk menunggu kedatanganku” kata Alex tersenyum.
“ Bertahun-tahun berlalu aku datang kemari untuk bertemu periku. Saat aku datang menemui periku. Aku ditampar dengan kenyataan bahwa periku menaruh hati pada seseorang. Seseorang yang merupakan rivalku” kata Alex tersenyum kecut.
Aku penasaran dengan hubungan Alex dengan Elgartara. Aku yang diam mendengarkan mencoba membuka mulut.
“ Kenapa kalian menjadi rival?” tanyaku penasaran.
“ Dia lawanku saat balapan yang menyebabkan aku kecelakaan” kata Alex acuh.
Aku menutup mulutku yang tadi terbuka. Aku tidak menyangka ternyata Elgartara dan Alex sudah menjadi rival sejak kecil. Aku mengelengkan kepala menghelan nafas.
“ dunia sekecil daun kelor” gumanku lirih.
Alex berlahan mengangkat kepalanya untuk menatapku. Alex memegang tanganku dengan erat.
“ Gadis beruang bantu aku untuk move on dari periku maksudku dari Olivia” kata Alex memohon.
Matanya memancarkan beban berat yang selama ini ditanggungnya. Aku tidak tega melihat seseorang kesulitan.
“ Baiklah” kataku pasrah.
Alex tersenyum senang dengan perkataanku. Alex refleks memelukku dengan mengucapkan terimakasih. Aku membalas pelukan Alex sambil mengusap punggungnya.
“ Melisa” kata suster memanggil namaku.
Kami melepaskan pelukan masing-masing. Aku segera berdiri tiba-tiba rasa sakit diperutnya terasa. Aku sedikit terhuyun kesamping. Tanganku refleks memengang perutnya.
Aku berlahan berdiri dengan tegak memasang senyuman kearah suster. Aku berjalan mendekati suster. Tiba-tiba tubuhku melayang keudara refleks tangan kananku mencari pengangan dileher Alex. Aku digendong Alex ala bridal style.
“ Melisa sebenarnya kamu sakit apa?” kata Alex khawatir.
Aku membuang muka tidak tahan melihat wajah tampan Alex dari dekat. Aku mencoba menyusun kata untuk berbohong namun lidahku kelu. Aku menghelan nafas kesal ‘mengapa kebalikan dari Melisa’.
“ Aku...” kataku mengantung.
“ Kamu sakit perut karena diet ketat” kata Alex menyambung perkataanku.
Aku menoleh kearah Alex dengan membulatkan mata. Aku terkejut atas pikiran Alex terhadap Melisa.
“ Sudah kuduga kamu diet karena melihat vidio waktu Elgartara mengendong Oliviakan” kata Alex tersenyum kecut.
Aku diam seribu bahasa mencoba memahami perkataan Alex. Aku melirik Alex yang tidak kunjung membuka mulut. Alex membawaku menuju ke ruanganku. Kami didampingi oleh suster yang sedang memegang infusku. Aku merasakan rasa kantuk menghampiriku. Aku tertidur lelap menuju alam bawah sadar digendongan Alex.
***