NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN MALAM

Setelah diskusi panjang mengenai draf kerja sama logistik antara Wiratama Trading dan perusahaan keluarga Anton, Reni Silvia tampak sangat puas. Baginya, Anton bukan sekadar mitra bisnis, melainkan jawaban atas kegelisahannya mengenai masa depan Alina. Dengan senyum elegan yang jarang ia tunjukkan, Reni menutup map dokumen di atas meja lobi.

"Anton, karena kerja sama ini sudah resmi kita sepakati, bagaimana kalau malam ini kamu makan malam di rumah kami? Anggap saja ini perayaan kecil atas kembalinya sahabat lama Alina," ajak Reni dengan nada yang sangat ramah, namun terselip keinginan kuat seorang ibu di dalamnya.

Anton tampak sedikit tersipu, ia merapikan jas biru dongkernya dengan gerakan yang sopan. "Terima kasih banyak atas undangannya, Tante. Saya tentu sangat ingin hadir. Tapi, jika Tante tidak keberatan, saya harus pulang ke rumah dulu sebentar. Saya baru sampai di Jakarta pagi tadi dan belum sempat menemui Ayah secara resmi," jawab Anton malu-malu. Meski bicaranya tertuju pada Reni, matanya terus saja melirik ke arah Alina yang berdiri di samping ibunya.

Alina sendiri menunjukkan sambutan yang sangat hangat—pemandangan yang bisa membuat staf kantor pusat pingsan karena terkejut. Sang Ratu Es seolah mencair. Ia terus menatapi Anton dengan tatapan penuh binar hingga pemuda itu melangkah keluar dari lobi dan menghilang di balik pintu lift. Ada getaran masa lalu yang kembali berdenyut di dada Alina, sebuah kenyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kepergian Anton tiga tahun lalu.

Di sisi lain kota, matahari sore mulai turun di ufuk barat Pelabuhan Tanjung Priok. Bima sedang duduk di atas ban bekas sambil menghitung lembaran uang di tangannya. Hari ini adalah hari gajian, momen yang paling dinanti oleh seluruh penghuni pelabuhan. Di tengah asyiknya menghitung lembaran rupiah, ponsel di saku rompi oranyenya bergetar hebat.

"Halo, Sus? Ada apa? Tumben telepon, kangen ya sama aura pemimpin masa depan?" sapa Bima dengan kepercayaan diri yang meluap-luap.

Susi di seberang telepon mendengus, namun jantungnya tetap saja berdegup kencang. "Dih, pede banget sihh! Bima, aku mau tanya, nanti malam kamu ada acara nggak? Ini kan akhir pekan, dan jujur aja... Aku udah lama nggak ketemu sejak kamu di pelabuhan."

Bima terkekeh, suara mesin derek di latar belakang menjadi musik pengiringnya. "Wah, sayang banget Sus. Aku harus pulang. Kebetulan hari ini kan gajian, jadi aku mau makan malam spesial sama Ibu di rumah. Mau bakti sosial sama perut sendiri dan Ibu," jawab Bima.

Mendengar kata 'Ibu', mata Susi langsung berbinar. Ini adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu. "Ya udah! Kalau gitu, aku ikut makan malam di rumahmu ya? Sekalian aku mau ketemu sama... calon..." Susi tersentak, lidahnya terpeleset. "...eh, salah! Maksudnya Mama kamu! Eh, Ibu kamu maksudnya!" ralat Susi dengan wajah memerah padam di balik meja kerjanya.

Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mau ketemu Ibu? Ya boleh sih, tapi rumahku nggak pakai AC semesta lho, cuma kipas angin putaran rendah. Ya sudah, kalau kamu maksa, datang aja. Sekalian aku mau buktiin ke Ibu kalau aku punya teman wanita, biar Ibu nggak nyangka aku jadian sama kontainer pelabuhan terus."

Sementara itu, di sebuah kantor pribadi yang tersembunyi, Rijal Adiwijaya sedang menatap peta jalur distribusi Wiratama bersama Nathan. Aroma cerutu mahal memenuhi ruangan itu saat Rijal mulai membeberkan tahap pertama rencana penghancurannya.

"Dengar, Nathan. Kita main halus dulu," bisik Rijal sambil menunjuk satu titik pelabuhan. "Siapkan barang-barang yang seratus persen legal untuk tahap awal. Kita bangun kepercayaan Alina dulu. Biarkan dia merasa kalau kerja sama denganmu adalah keuntungan besar."

Nathan mengangguk paham, senyum liciknya terlihat di balik kepulan asap. "Lalu kapan main keintinya, Jal?"

"Sabar. Setelah tiga atau empat kali pengiriman berjalan mulus, baru kita masukkan 'hadiah' utamanya. Masukkan barang-barang ilegal—elektronik selundupan atau apa pun yang dilarang—ke dalam satu kontainer besar. Setelah peti kemas itu berada di atas truk pengiriman kita, aku akan meminta orang dalam di pihak penerima untuk melapor ke pihak berwajib." Rijal tertawa dingin. "Alina akan terjebak. Dia yang menandatangani surat jalannya, dan dia yang akan bertanggung jawab atas barang selundupan itu. Wiratama akan runtuh dalam semalam."

Malam harinya, kediaman mewah Reni Silvia di Jakarta Selatan tampak berkilau. Meja makan panjang sudah dihias dengan lilin aromatik dan hidangan kelas atas. Anton datang tepat waktu, membawa sebotol minuman non-alkohol premium sebagai buah tangan. Di meja makan itu, hadir pula Rijal yang duduk dengan wajah kaku, berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya meski jabatannya telah dibekukan.

Rijal menatap Anton dengan tatapan menyelidik. Ia merasa curiga. Seingatnya, Anton sudah sangat lama tidak berhubungan dengan putri tirinya. Kenapa tiba-tiba muncul di saat posisi Rijal sedang di ujung tanduk? Apa pemuda ini hanya pion baru Reni untuk menjatuhkanku? batin Rijal penuh waspada. Namun, sebagai pemain watak yang handal, Rijal memilih diam dan memantau setiap gerak-gerik Anton. Ia ingin melihat sejauh mana kedekatan Anton dengan Alina sebelum ia memutuskan apakah Anton harus ikut "dihabisi" dalam rencananya atau tidak.

Makan malam di rumah itu berlangsung dalam ketegangan yang tersembunyi. Di permukaan, mereka membicarakan bisnis dan nostalgia, namun di bawah meja, ada perebutan pengaruh yang sedang terjadi. Alina tampak begitu ceria, sesekali tertawa mendengar cerita Anton, sementara Reni mengamati dengan senyum kemenangan.

Kontras dengan suasana formal di rumah Alina, suasana di rumah sederhana Bima justru penuh dengan kebisingan yang. Susi datang dengan membawa dua kantong besar berisi bingkisan. Wajahnya dipoles makeup yang lebih niat dari biasanya, berharap bisa menarik hati Ratih, ibu Bima.

Begitu pintu dibuka, Bima langsung menyambut dengan mata melotot melihat banyaknya bingkisan di tangan Susi. "Wah, Sus! Tahu aja kalau aku lagi butuh asupan energi kosmik! Sini, biar aku yang bawa," kata Bima sambil berusaha merebut kantong plastik itu, mengira isinya adalah makanan kesukaannya.

"Eits! Jangan sentuh, Bimaaaaa!" pekik Susi sambil menjauhkan kantong itu dengan gaya manja yang dibuat-buat. "Ini semua buat Ibu kamu, bukan buat kamu! Lagian, emang kamu perempuan apa pakai lipstik, bedak, sama pembalut? Ini tuh perlengkapan skincare biar Tante Ratih makin awet muda!"

Bima terdiam sesaat, mengerjapkan matanya dengan bingung. "Pembalut? Buat apa kamu bawa itu ke sini? Apa rumahku sedang berada dalam siklus bulan purnama?"

Ratih, yang baru keluar dari dapur, hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya dan tamunya itu. Ia menerima bingkisan dari Susi dengan hangat. "Aduh, nak... repot-repot sekali. Ayo duduk, kita makan malam apa adanya ya."

Melihat kedekatan Susi yang begitu antusias membantu di dapur dan cara Susi menatap Bima, hati Ratih merasa sangat lega. Ada harapan besar di matanya. Mungkin gadis ini yang bisa menyembuhkan khayalan-khayalan absurd Bima dan membawanya kembali ke bumi, batin Ratih penuh harap.

Malam itu, di dua rumah yang berbeda strata sosial, terjadi makan malam yang sama-sama berkesan namun dengan tujuan yang jauh berbeda.

Di rumah Bima, meja makan penuh dengan tawa dan bau sambal terasi. Susi dengan gigih berusaha menunjukkan bakatnya sebagai "calon menantu idaman" di depan Ratih, sementara Bima sibuk menjelaskan teorinya bahwa rasa pedas sambal adalah bentuk komunikasi dari partikel cabai yang sedang protes.

Sedangkan di rumah Alina, denting sendok perak pada piring porselen terdengar sangat elegan namun dingin. Anton terus memberikan perhatian manis pada Alina, membuat Reni tersenyum puas. Namun di sudut meja, Rijal terus menatap mereka dengan mata yang menyimpan kegelapan. Sebuah ketegangan yang tidak disadari oleh Alina maupun Anton, bahwa di balik senyum ramah Rijal, ada sebuah badai besar yang sedang disiapkan untuk menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mulai tumbuh itu.

Dua dunia, dua rencana. Susi berjuang demi cinta, sementara Rijal bersiap untuk bencana. Dan di tengah semua itu, Bima masih sibuk berdebat dengan ibunya tentang apakah kipas angin mereka mengandung energi magnetis yang bisa menarik keberuntungan atau tidak.

1
ALWINDO BM
..........
sitanggang
novel stress pantesan sepi👎🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!