NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Enam

Kirana masuk ke kamar mandi sambil membawa handuk dan pakaian ganti. Pintu kamar mandi tertutup pelan, meninggalkan Samudera yang masih berdiri di tengah kamar, menggerutu sambil menatap resleting kebaya yang baru saja ia buka.

“Ngapain sih tadi ngomel panjang banget? Aku kan cuma bantu …,” gumam Sam setengah kesel, setengah … ya, sebenarnya dia masih kagum aja melihat Kirana yang hari ini cantiknya kaya baru keluar dari poster brand skincare mahal.

Kamar hotel tempat mereka menginap benar-benar gila mewahnya. Seprei putih lembut, lampu-lampu warm yang bikin suasana seperti honeymoon mahal, dan kelopak bunga mawar yang ditaburkan seolah kamar itu tahu-tahu berubah menjadi set film romantis. Ada lilin aromaterapi yang entah siapa yang nyalain, mungkin staf hotel. Baunya manis bercampur vanilla. Intinya, vibe-nya sudah seperti undangan tak resmi untuk hal-hal yang dilarang dalam kontrak yang mereka tanda tangani.

Sayangnya, vibes itu bertabrakan dengan kontrak sakral “no kontak fisik selain administrasi” yang dicanangkan Kirana.

Samudera menjatuhkan diri ke atas kasur, masih dengan batik modern yang ia kenakan. “Capek banget sumpah, nikahan sendiri gini rasanya kaya abis lari maraton lima hari.”

Ia memejamkan mata sebentar. Lalu membuka sebelah mata.

“Banyak yang naksir aku,” ulang Samudera memamerkan kalimat itu yang tadi ia lontarkan dalam rangka … entahlah, menjaga harga diri? Biar gak keliatan gugup? Atau biar Kirana tahu dia bukan sembarang cowok? Tidak ada yang tahu pasti. Bahkan Samudera sendiri ragu.

Ia berguling ke samping, menatap pintu kamar mandi yang tertutup.

“Artis juga ada,” ulangnya lagi, suara pelan tapi penuh gengsi.

Kemudian ia mendengus sendiri. “Tadi ngomong apa sih aku? Kek norak banget.”

Sam memijat pelipis. Hari ini terlalu panjang. Tapi otaknya justru sibuk memutar ulang wajah Kirana saat berkata tegas, “Ingat perjanjian kita, tidak ada kontak fisik.”

Bukan karena dia pengen macam-macam, ya sedikit penasaran lah, namanya juga lelaki normal, tapi lebih ke Kirana itu aneh. Dia sudah resmi menikah tapi cara ngomongnya kaya lagi tanda tangan kontrak kredit rumah.

“Yang penting semuanya lancar,” gumam Samudera. “Besok bisa tidur seharian.”

Hening beberapa detik.

“Eh tapi besok pasti ada acara keluarga lagi… yaelah.”

Di dalam kamar mandi, Kirana berdiri di depan cermin. Kebayanya sudah ia lepas. Rambutnya dicepol seadanya. Make-up mulai luntur, tapi justru itu membuat wajahnya tampak lebih lembut. Dia memandang pantulan dirinya, dan senyum kecil muncul tanpa ia sadari.

Hari ini dia menikah. Dengan lelaki yang tak pernah ada dalam rencana hidupnya. Terkadang memang terlihat aneh.

Dia menarik napas panjang, menegakkan bahu. “Oke. Kontrak tetap kontrak. Fokus. Jangan baper. Jangan mulai mikir-mikir aneh.”

Ia membuka shower. Air hangat mulai mengalir.

Tapi suara hati kecilnya nyeletuk, “Tapi tadi waktu dia buka resleting … kok deg-degan ya?”

Kirana buru-buru mengguyur wajahnya dengan air, seakan mau menghapus pikirannya sendiri.

Sementara itu di luar, Sam kembali bangun dari kasur dan mulai keliling kamar seperti orang bosan yang lagi nunggu antrian sembako. Ia mengambil botol air putih, minum, lalu menatap dekor bunga-bunga di atas meja kecil depan TV.

“Aduh … ini kamar emang niat banget sih,” katanya sambil menunjuk taburan kelopak mawar. “Ini staff hotel kurang kerjaan apa gimana.”

Ia melihat sebuah kartu kecil di meja. “Happy Wedding Night! Semoga malam ini penuh kehangatan dan cinta.” Samudera mendecak.

“Haduh! Tolong deh … kehangatan doang boleh lah … cinta jangan dulu. Kita masih kontrak.”

Ia langsung menepuk pipinya sendiri pelan. “Ngapain sih ngomong sendiri kaya orang gila.”

Dia kembali menatap pintu kamar mandi. Sudah hampir sepuluh menit. “Perempuan kalau mandi … ya gitu,” gumamnya. “Mandi kok bisa lebih lama dari skripsi dijilid.”

Tapi sebenarnya dia tidak keberatan menunggu. Karena untuk pertama kalinya seharian ini, dia bisa duduk dan merasakan fakta bahwa dia sudah SAH menikah.

“Aku suami orang, men …” gumam Sam. “Gimana dong ini …”

Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Kirana keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk, memakai piyama satin longgar warna putih keemasan yang entah dari mana, mungkin Mami Vania juga yang siapkan.

Sam langsung terpaku sebentar. Diam. Nggak berkedip. Karena Kirana terlihat beda. Dan cantiknya bukan yang heboh, tapi yang bikin dada tiba-tiba terasa penuh.

Dan itu, jelas mengganggu ketenangan batin seorang pria yang sedang berusaha menjaga kontrak nikah palsu. Kirana berhenti setelah melihat tatapan Sam.

“Apa?” tanya Kirana pelan.

Sam mengalihkan pandangan secepat kilat. “Ngg … nggak. Banyak air, ya? Maksudnya mandinya lama … air … mandi … ya begitu.”

Kirana mengerutkan kening. “Sam .…”

“Apa?!”

“Kenapa panik?”

“Siapa panik?!”

Kirana menatapnya datar. “Kamu panik.”

“Aku tidak panik!” bantah Sam keras, padahal telinganya memerah jelas.

Kirana tertawa kecil. Tawa lembut, singkat, tapi cukup untuk bikin Samudera terdiam total.

“Udahlah.” Kirana berjalan ke meja rias, menaruh handuk, dan mulai mengeringkan rambut dengan hair dryer hotel.

Sam memperhatikan punggung Kirana. Ada rasa aneh yang muncul, bukan yang gimana-gimana, lebih seperti campuran bangga, lega, dan ingin menjaga.

Dia memutar badan lagi dan menepuk pipinya. “Sam … tolong waras,” gumamnya pada diri sendiri.

Setelah beberapa menit, Kirana mematikan hair dryer. Ia duduk di pinggir kasur, menyadari Samudera belum berganti baju.

“Kok kamu belum mandi?” tanya Kirana.

“Capek,” jawab Sam singkat.

Kirana meliriknya. “Ya mandi dulu sana. Kamu bau keringet seharian.”

Samudera mendelik. “Eh! Ini parfum mahal tau! Aku masih wangi.”

Kirana mengibas tangan di depan hidungnya pura-pura dramatis. “Hmm … wangi apa … sedikit asem. Campuran parfum 4 jutaan dan keringet cowok. Very exotic.”

Sam menatapnya tidak percaya. “Kamu nge-roasting aku? Di malam pernikahan?!”

Kirana nyengir, “Kontrak nggak melarang nge-roasting.”

Sam mengambil bantal kecil dan melemparkannya pelan ke arah Kirana. “Ih dasar!”

Kirana tertawa lagi. Sam tiba-tiba berhenti bicara. Suara tawanya ringan, natural, dan tidak dibuat-buat, menghantam dadanya seperti bola pingpong panas.

Dia akhirnya bangkit. “Oke, aku mandi. Kalau nanti aku lama, jangan protes. Biar adil.”

Kirana mengangkat tangan. “Oke, oke.”

Sam masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup. Kirana menarik napas panjang, lalu memeluk bantal dan jatuh ke kasur.

Hari ini. Seharian ini. Semuanya terlalu cepat, terlalu besar, dan telah mengubah hidupnya. Dan kini dia berada di kamar pengantin bersama suami kontraknya sendiri.

“Astaga .…” Kirana menutup wajah dengan bantal. “Kenapa kaya mimpi aneh.”

Di dalam kamar mandi, Sam berdiri di bawah shower sambil memikirkan hal yang sama.

“Kenapa hidupku jadi begini ya, tadi pagi aku masih mikir sarapan bubur atau roti. Eh, sekarang udah nikah.”

Ia mengusap wajah. “Jangan mikir yang aneh-aneh, Sam. Ingat kontrak. Ingat perempuan itu galak.”

Hening sebentar. “Tapi cantik .…” Dia bicara sendiri.

Sam langsung memukul jidatnya pelan. “Stop! Stop!”

Ia mandi dengan sangat cepat, seperti takut air menyuruhnya memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Ketika keluar, rambutnya masih basah, kaos putih simple dan celana training sudah dipakainya. Ia menatap kamar.

Kirana sudah berbaring di kasur. Punggung menghadapnya. Tapi bahunya bergerak pelan, seperti sedang menarik napas panjang.

Lampu kamar sudah diredupkan. Dan suasananya mendadak intimate banget. Samudera mendadak merasa serba salah.

Tidur di kasur yang sama? Ya jelas! Ini kamar pengantin. Ada satu kasur. Bukan sofa terpisah. Tapi ya itu … kontrak mereka seperti suara alarm besar di kepalanya. Sam berdiri mematung.

Kirana membuka mata pelan. “Sam?”

Sam menegakkan badan. “Ya?”

“Kok berdiri terus?”

“Lagi mikir posisi tidur.”

Kirana memutar badan menghadapnya. “Sam … kasurnya gede banget. Kamu di situ, aku di sini. Kita nggak bakal sentuhan.”

Sam menunjuk garis tak terlihat di tengah kasur. “Ini garis batas ya?”

Kirana mengangguk seolah guru TK menjelaskan aturan main. “Iya. Jangan lewat.”

Sam melangkah perlahan, memanjat kasur, dan berbaring. Jarak mereka sekitar satu meter lebih. Tapi Sam tetap kaku seperti papan triplek.

Kirana melihatnya dan tertawa kecil lagi. “Santai. Tuhan tidak akan menurunkan petir kalau kamu tidur di kasur yang sama.”

Sam tidak menjawab. Ia memejamkan mata. Beberapa menit lewat. Suasana kamar terasa hening.

Sam membuka mata sedikit. “Kirana?” panggilnya. Kata Mbak sudah hilang dari panggilannya.

Kirana tidak merespons. Mungkin sudah tidur. Atau pura-pura.

Sam menatap siluetnya di bawah cahaya redup. Wajah Kirana tenang, rambutnya terurai sebagian, tubuhnya relaks.

Samudera merasa damai. Ia berbisik sangat pelan.

“Selamat malam … istri kontrak.”

Tapi Kirana membuka mata ternyata. “Sam,” gumamnya pelan, setengah mengantuk. Sam langsung menahan napas.

Kirana menambahkan, “Terima kasih untuk hari ini.”

Sam ingin menjawab sesuatu. Apa saja, tapi sebelum dia sempat bicara, Kirana menambahkan kalimat yang membuat jantung Samudera seperti berhenti sekejap.

“Besok … aku mau bicara sesuatu.”

Sam langsung duduk setengah badan. “Apa? Bicara apa?!”

Kirana menutup mata sepenuhnya. “Besok aja .…”

“Kir … Kirana? Hei? Jangan tidur dulu. Bicara apa maksudnya?!”

Tidak ada jawaban. Nafas Kirana sudah stabil. Sam menatapnya lama.

1
Tamirah
Kenapa papanya Kirana gak intropeksi diri, kalau selama ini dia lebih sayang sama anak tiri nya dibandingkan dgn anak kandungnya . Tentu saja biar aman dan nyaman Kirana memilih keluar dari rumah itu .
Ternyata sdh nikah pun Tisa dan suaminya masih jadi tanggungan papanya.Gitu kok papanya Kirana gk nyadar.
Tamirah
Repot ya kalau sdh iri dan benci jatuhnya jadi fitnah. Irfan juga sebagai suami sama jahat nya tahu kalau istri nya berbohong tapi diam saja . mereka cocok sama sama monster.
Tamirah
Kalau Kirana bingung dgn harga kebaya dan perhiasan yg dibelikan Samudra karena harga nya selangit,bahkan Kirana penasaran siapa Samudra yg sebenar nya.
Sedangkan Tisa heran kenapa gak dibawa kebutik tapi diajak ke toko pakaian biasa.Buat penasaran para readers....!!!
Tamirah
Brondong pun bisa lebih bersikap dewasa dibanding kan orang dewasa bila menyangkut orang yg disayangi.
Tamirah
Selalu label ibu tiri dikenang sebagai ibu yg jahat dan kejam Dan sekali selaku seorang ayah Akan Menuruti apa kata istri barunya.Bagi suami di mengalah untuk kepentingan dirinya nya karena untuk menumpahkan hasrat biologis nya.tapi bagi anak sambung nya menjadi Mala petaka.
padahal tidak semua ibu tiri itu jahat.
Ning Suswati
yaaa selesai deh
Ning Suswati
males sih sebenernya, ayah kandung demi lobang berjalan jadi buta dan tuli lebih memenyingkan lobangnya, y gitulah laki2, makanya jadi bitir itu banyak yg jahat, karena ingin menguasai sepenuhnya
🌹🪴eiv🪴🌹
suka terharu liat keluarga sakinah
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
🌹🪴eiv🪴🌹
pengalaman nggak tuh 🤣
Ning Suswati
hai tissa nikmati aja kisah hidupmu, bukannya sdh menjadi pilihanmu merampas laki2 gk modal.banget hihihihi, gk ayah kandung gk butir gk satir semua penjahat dlm rumah tangga sendiri, nikmati saja semua nya
🌹🪴eiv🪴🌹
waktu dr.mika ngajak Irfan ketemuan aku tahu Irfan bukan orang baik,eh ternyata malahan dia borokokok 👻
🌹🪴eiv🪴🌹
kan......
🌹🪴eiv🪴🌹
sudah mika
Kirana sudah mulai meleleh 🥳
Ning Suswati
mantu pilihan, baguslah tuhan tdk tidur, sampai dg sampah ya busuk juga akhirnya, gk bisa bayangkan seandainya tuhan kasih jodoh irfan dg kirana, laki mokondo gk punya harga diri, gk punya urat malu🤭🤣
Ning Suswati
baru minta maaf selama ini kemana aja, anak kandung dianiaya anak orang lain di manja dipuja,
Ning Suswati
kok sam tanpa komunikasi lagi dg kirana, seakan kirana bukan siapa2, terus apa urusannya kan tissa punya suami
Ning Suswati
paket lengkap, mungkin tuhan sdh mengatur semuanya hanya kita tinggal.menjalaninya, diberika njln berliku, bertebing, batu batuan sampai kakipun terasa berdarah, namun dg janjinya tuhan yg menentukan segalanya
Ning Suswati
hhhhhh sam nikmati aja sekarang siapa dirimu, anak yg teraniaya karena sdh ada saingan kelas berat hhhh
Ning Suswati
rasain tuh kamu sam, cari seblak tuh sampai dapat
Ning Suswati
dasar laki2 gk tegas, y emang bukan jodoh kali sama kirana,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!