NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Dianggap

Istri Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Patahhati / Perjodohan / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:775.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Darmaiyah

Istri yang Tak Dianggap

Sinopsis

Azkia gadis berlesung pipi, gadis penyuka warna abu-abu itu tidak bisa menolak, saat lelaki yang dipanggilnya ayah itu menjodohkannya dengan anak sahabatnya.

Lelaki bernama Herman mendatanginya dua hari sebelum pernikahannya digelar, dia meminta kepada Azkia, agar membatalkan perjodohan ini, Azkia yang ingin berbakti pada ayahnya, dan tidak ingin membuat malu keluarganya, tentu saja menolak keinginan Herman, Herman sangat kecewa dengan penolakan itu, dia pun akhirnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.

Anjeli gadis cantik, pacar Herman sekaligus sahabat Azkia, dia mendatangi Azkia, Anjeli sangat marah padanya, karena menganggapnya telah menjadi pengkhianat, di saat Anjeli menampar dan memakinya, Herman yang sudah sah menjadi suaminya, malah memaki dan menyalahkannya. Azkia hanya diam tertunduk atas tuduhan-tuduhan yang dihujatkan padanya. Anjeli bahkan mengacamnya, tidak akan membiarkannya hidup bahagia.

Bagaimana kehidupan Azkia selanjutnya
Ayo, kepoi di sini
Selamat membaca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Wati

"Jangan salahkan aku, yang ingin menaklukkan hatimu kembali, salahkan dirimu yang sudah abai padaku."

By Rajuk Rindu

💝💝💝💝

Herman meminta Wati mengikuti perawat mendorong branskar yang membawa Anjeli ke IGD, Sementara Herman pergi ke apotek untuk menebus obat Arta.

Wati yang dari tadi mendengar pertengkaran antara Herman dan Anjeli, mengambil kesimpulan kalau wanita itu mengaku-ngaku sebagai ibunya Arta. Dasar wanita tak tahu malu.

"Mana mungkin Arta anak wanita itu, secara ibu Azkia begitu menyayangi Arta." guman Wati seraya mengintip Anjeli yang sedang diperiksa dokter.

Perawat menyerahkan tas tangan Anjeli pada Wati, dan meminta Wati menunggu di luar ruangan, Wati menenteng tas tangan Anjeli, kemudisn menuju teras rumah sakit, sedikit rasa takut, dibukanya resleting tas itu, dia mencari-cari sesuatu.

"Kenapa tidak ada, di mana wanita itu meletak?" Wati menggeledah isi tas Anjeli. Dengan menumpahkan isinya ke lantai. Sebuah benda pipih yang dicari Wati terjatuh, ternyata Anjeli menyimpannya di saku belakang tasnya.

Setelah menemukan apa yang dicarinya, Wati memasukkan kembali barang-barang Anjeli, kemudian meletakkan di kursi tunggu.

"Sudah tiga hari ibu Azkia pergi, kenapa dia tidak ada memberi kabar ya, apa tempatnya jauh, hingga tak ada sinyal." batin Wati seraya menekan nomor kontak Azkia.

Tut.. tut

Wati kaget, panggilan terhubung, spontan dibatalkannya panggilan , pada hal tadi dia hanya mencoba dan mengetes praduganya benar, kalau Azkia sedang di luar kota dan susah jaringan.

"Waduhhh! Bagaimana ini, jika ibu Azkia menelpon balik, aku harus ngomomg apa." batin Wati.

Dreeet... dreeet.

"Tuh kan! mati aku, angkat tidak, angkat tidak." Wati dilanda ambigu. Dia menatap layar ponsel itu, hingga berhenti bergetar. Bebebepa detik kemudian panggilan Azkia masuk lagi.

"Assalamualaikum, wati." terdengar suara Azkia mengucap salam, setelah Wati menekan tanda terima.

"I-ya bu." ujar Wati setelah menjawab salam Azkia.

"Ada apa wati?" tanya Azkia.

"Anu bu." Wati ragu mau bicara apa dengan Azkia.

"Kalau kuberitahu Arta sakit, nanti mengganggu kosentrasi kerja ibu Azkia, bagaimana ini." batin Wati.

"Hallo wati."

"Wati!. Hallo." Azkia berulang-ulang memanggil Wati. Karena suara Wati tak terdengar.

"I-iya bu, anu! non Arta."

"Ada apa dengan non Arta."

"Sakit bu." Wati langsung mendekap mulutnya, dia sudah terlanjur bilang kalau Arta Sakit.

"Arta? Sakit... Sakit apa wati?" tanya Azkia terdengar suaranya khawatir.

"Saya kurang tahu."

"Sekarang Artanya mana?"

"Ada diruang rawat."

"Sudah berapa hari?"

"Tiga bu, Arta selalu menanyakan ibu." ujar Wati lagi, kemudian menutup telponnya dengan ucapan salam.

Wati menarik napas lega, setelah menutup telponnya, dia kembali duduk di kursi tunggu. Di liriknya jam di layar hape, sudah menunjukkan pukul 11.00, pantas perutnya terasa lapar, dari tadi pagi dia belum sarapan. Dia bangkit dari duduk berniat ke kantin. Tapi teringat wanita itu. dia duduk kembali. Beberapa menit kemudian Herman datang membawa kantong plastik.

"Wati, tolong antar ini ke suster di ruang rawat Arta." Herman memberikan asoy plastik berisi obat kepada Wati. Wati pun pergi ke ruang rawat Arta.

"Bagaimana keadaan Anjeli, Dok?" tanya Herman saat dokter keluar.

"Apakah bapak suami? saya ingin bicara serius tentang penyakit Anjeli." kata dokter Daniel serius, seraya memegang bahu Herman.

"Ayuk keruangan saya." ujar dokter Daniel lagi, tanpa menunggu jawaban dari Herman.

"Anjeli terkena kanker otak stadium empat." ujar dokter Daniel.

"Apa? kanker dok?" Herman terkejut mendengar berita yang baru disampai dokter.

"Iya pak, pasien tidak boleh stres, karena stres akan cepat memicu sel-sel kanker berkembang dan menyerang organ tubuh yang lain." dokter Daniel menjelaskan.

Setelah mendengar penjelasan dokter Daniel Herman pun pamit ingin menemui Anjeli.

Klik..

Herman membuka pintu ruangan, dilihatnya Anjeli duduk ditepi ranjang seraya bertekuk lutut. Dan netra itu sembab dengan air mata.

"Anjeli, kamu yang sabar ya, kamu pasti kuat." ujar Herman sambil duduk disamping Anjeli, dia merengkuh tubuh Anjeli kepelukannya.

Herman mengusap rambut Anjeli, kemudian mencium puncak kepalanya, wanita yang dulu begitu dicintai dan telah memberinya seorang anak, kini sedang berjuang melawan penyakit, yang setiap saat siap merenggut nyawanya.

Mata Herman ikut mengembun, dia merasa sedih telah beberapa kali mengabaikannya, tubuh Anjeli yang kini berada dipelukannya menggigil dalam tangis.

"Cup, cup, sudah Anjeli." ujar Herman menenangkan Anjeli, seraya memeluknya semakin erat, seakan memberikan kekuatan pada wanita itu.

"Hidupku sudah tidak lama lagi, hiks..hiks..hiks." Isak Anjeli semakin kencang, hingga tubuhnya tergoncang hebat.

"Kamu tidak boleh bicara seperti itu." Harman merenggangkan pelukannya.

"Mungkin lebih baik aku mati, aku pun sudah tak punya siapa-siapa lagi, hiks..hiks..hika."

"Tidak Anjeli! kamu masih punya abang dan Arta, kami berdua membutuhkanmu." Herman tak tahu harus bicara apa. Sekarang yang dilakukannya hanya untuk menghibur.

"Jangan sedih lagi ya." ucap Herman meregangkan pelukkannya, kemudian memegang ke dua pipinya, seraya menatapnya dalam. Wajah yang dulu begitu ceria, kini terlihat sangat mendung.

Anjeli membuang tatapannya ke lantai, dia tak kuasa menatap mata elang Herman, yang terus mengalirankan letupan-letupan cinta yang tak pernah padam di hati. Mengingat Herman berubah karena wanita lain, tangisannya meledak kembali.

"Hiks.. hiks.. hiks."

"Anjeli! sudah sayang." Anjeli merasa tenang mendengar Herman mengucapakan kata sayang, seketika hatinya dipenuhi bunga-bunga setaman.

"Bolehkah, diakhir-akhir hidupku, aku habiskan bersama Arta." ujar Anjeli, dia menatap lurus wajah Herman. Dia berharap Herman menyetujuinya.

"Boleh, tentu saja boleh, dia kan anakmu" kata Herman seraya mengusap sisa air mata di pipi Anjeli.

"Terima kasih." lirih Anjeli sambil melepas pelukannya dan bangkit dari duduknya.

"Kamu mau ke mana?" tanya Herman saat melihat Anjeli turun dari tempat tidur.

"Ingin menemui Arta."

"Tunggu Anjeli, aku temui dokter Daniel dulu ya" Herman mencoba menahan Anjeli, bertepatan dengan kedatangan dokter Daniel.

"Dok, Aku dirawatnya dekat anakku saja ya." Anjeli merengek pada dokter Daniel.

"Jangan nekat dong Anjeli, di sini aku lebih leluasa mengontrol dan mengawasimu" ujar dokter Daniel memintanya mengerti.

"Tapi, dok... Hanya Arta satu-satunya, yang bisa membawa energi positif dalam hidupku." ujar Anjeli seraya memohon kepada dokter Daniel.

"Dok, boleh ya." ulang Anjeli lagi, seraya menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya.

"Baiklah." ujar Daniel.

"Tapi ingat, jika ada apa-apa, cepat hubungi saya." kata dokter Daniel lagi.

"Terima kasih dok." ucap Anjeli.

"Dokter, infusnya dibuka saja ya." pinta Anjeli lagi, sekarang dia merasa sudah enakan.

Dakter Daniel mendekatinya, kemudian mengecek dan memeriksaan keadaan Anjeli, setelah merasa cukup, dia pun memanggil suster, memintanya untuk membuka infus yang baru beberapa menit nangkring di lengan Anjeli.

Herman meraih tangan Anjeli, kemudian menggandengnya, mereka berdua menyusuri trotoar rumah sakit, menuju ruang rawat inap Arta, Anjeli bergelayut manja di lengan Herman yang kekar.

Klik..

Herman memutar handle pintu kamar di mana putrinya dirawat. Anjeli masih tetap dengan posisi bergelayut di lengan Herman.

Wati menatap tajam pada dua makhluk yang baru masuk, pemandangan itu, tiba-tiba membuat Wati merasa tidak menyukai wanita yang berdiri di samping Herman, entah kenapa ada rasa muak dihatinya. Mungkin karena dia merasa kalau Herman telah mengkhianati Istrinya.

"Tante Anjeli." panggil Arta saat melihat Anjeli masuk beriringan dengan ayahnya.

"Arta sayang." Anjeli memeluk Arta kemudian mencium puncak kepalanya.

"Sini, biar mama yang suapin makannya." ujar Anjeli seraya mengambil piring dari tangan Wati.

"Mama?" gumam Wati menatap lurus wajah Anjeli.

"Ehhh.. Aku hanya merasa kalau Arta sudah kayak anakku, jadi aku pengen Arta memanggilku dengan sebutan mama, bolehkan sayang." ujar Anjeli membuat alasan agar Wati tidak merasa curiga.

"I-iya, Anjeli ini tante Arta." ujar Herman ikut meyakinkan Wati.

"Tante? tapi kenapa wanita itu begitu manja dengan pak Herman." batin Wati.

Arta memandang Anjeli sejenak, kemudian berpindah pada ayahnya, seakan dia meminta persetujuan dari Herman, Herman mengangguk membalasan tatapan putrinya.

"Boleh tante." ujar Arta, wajahnya berbinar bahagia.

"Terima kasih sayang." Anjeli kembali memeluk Arta.

Wati yang memandang adegan peluk-pelukan Anjeli dan Arta, merasa ada sesuatu yang mirip antara keduanya. Wati menatap silih berganti.

"Hidung dan bibir Arta sangat mirip dengan wanita itu, apa mungkin dia memang ibu kandung Arta." diam-diam wati membandingkan keduanya.

*****

Jangan lupa like, komen dan votenya ya para readers.

Terima kasih🙏🙏

1
falea sezi
astaga kayaknya si semua novelnya peran cwek di buat bodoh semua pantes like dikit
falea sezi
kapok azab laki. tukang selingkuh
falea sezi
sibbangsat rani
falea sezi
Wati ne pembantu munafii
falea sezi
jijik laki. plin plan
falea sezi
masih boodh aja kau
falea sezi
bner g usah ngurusin anak pelakor
falea sezi
azkia gugat cerai deh jangan bodoh kau di jadiin baby sitter doank
falea sezi
azkia ne tololnya astaga cm di jadiin istri cadangan dia mau ya allah
Aulia Ananda
thor knp azkia dibikin sgt bod h jengkel aq thor
nand channel
gara2 si kuntilanak Anjeli kasihan Arta, anak sekecil itu di ombang ambingkan perasaan nya...
nand channel
ini yg goblok othor nya...segitu nya merendahkan azkia, ttp buat azkia menunggu lelaki sangat keparat itu, lelaki plinplan dan babgsat
nand channel
jijik mendengar herman sok berdebar2, lelaki plin plan dan mau enak mu aja
nand channel
wanita yang tak punya pendirian, wanita lemah
nand channel
baguslah azkia pergi dan mencari bahagia nya sendiri, pasti banyak yg mencintai nya
nand channel
yang benar aja thor, udah mau mati masih meluk2 suami orang, mau ditendang malaikat langsung ke neraka ntar...
nand channel
nohhhh...gak hanya gak di anggap sebagai istri di selingkuhin lg...pelihara terus bodoh mu azkia
nand channel
wanita lemah dan bodoh, menciptakan neraka sendiri di hidup nya...nikmatilah kebodohanmu bego.
udah gak dianggap suami, di rendahkan, di maki2, di sakiti, dikasari, di beri madu, jagain anak madu lagi...sempurna ketololan mu sbg wanita
nand channel
perempuan bodoh kau azkia
nand channel
ada ya manusia sebodoh azkia ini, nikmatilah penderitaan mu *bodoh*
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!