NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH LIMA

Sejak malam itu—malam ketika kata-kata Althaf melukai hatiku lebih dalam daripada pisau—hubungan kami berubah drastis. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi tatapan teduhnya, bahkan tidak ada sisa-sisa manis yang dulu sempat singgah di antara kami.

Rumah mewah yang dulu terasa asing kini semakin membeku, seolah dinding-dindingnya ikut memusuhi keberadaanku. Saat aku berpapasan dengannya di koridor atau di dapur, kami hanya lewat begitu saja—tanpa sapa, tanpa sekadar lirikan. Seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.

Dan yang lebih menyakitkan, Althaf jadi jarang pulang. Bahkan minggu ini, bayangan tubuhnya tak pernah melewati pintu rumah. Malam-malamku diisi dengan keheningan yang menyesakkan, sementara aku hanya bisa menunggu suara pintu berderit, berharap dia kembali... meski aku tahu, harapan itu sia-sia.

Di kampus pun, aku merasakan tatapan asingnya. Di kelas, Althaf duduk tak jauh dariku, tapi rasanya jarak kami seperti lautan yang tak bisa kuseberangi. Ia tak pernah menoleh, tak pernah sekadar menatap, seolah aku hanyalah bayangan yang tak layak diperhatikan. Di kantin, saat kebetulan kami berada di ruangan yang sama, ia bisa bercakap ringan dengan teman-temannya—tapi ketika aku ada di sana, aku tak lebih dari udara.

Sakitnya bukan lagi seperti diremehkan... tapi seperti dihapuskan dari hidupnya.

Malam-malam aku menangis diam-diam di kamar, membenamkan wajah di bantal agar tangisku tak terdengar. Aku ingin marah, ingin membencinya... tapi semakin aku berusaha, semakin aku sadar: hatiku masih terus mencari sosoknya.

Dan itulah yang paling menyakitkan.

Aku merasa seperti hidup dalam dua dunia—satu dunia penuh dingin dan jarak yang ia ciptakan, dan satu lagi dunia kecil di hatiku yang masih mendamba kehangatan tatapan Althaf yang kini tak lagi kumiliki.

Kenapa hatiku harus selemah ini?

Kenapa aku harus jatuh pada seseorang yang sejak awal jelas bukan untukku?

Mas Althaf... aku bahkan tak berhak memanggil namamu dengan begitu lembut dalam hatiku. Aku ini siapa bagimu? Istri di atas kertas, pengisi kursi kosong di rumahmu, pelengkap statusmu di mata keluarga. Tak lebih.

Seharusnya aku ingat perjanjian kita. Tidak ada cinta, tidak ada hati yang terlibat. Hanya sebuah kontrak. Hanya hitam di atas putih. Tapi sekarang? Aku sudah mengkhianati kesepakatan itu. Aku sudah melanggar janji pada diriku sendiri.

Dan yang lebih menyakitkan... aku tidak bisa berhenti.

Aku tidak bisa berhenti mencintaimu.

Apa aku sudah gila? Atau memang cinta memang selalu segila ini?

Tapi satu hal yang pasti... mencintaimu adalah kesalahan terbesarku.

Karena pada akhirnya aku hanya akan hancur sendiri.

...***...

Sore itu, setelah seharian di kampus dengan hati yang masih gundah gulana, aku memutuskan pulang ke rumah ibu. Begitu pintu terbuka, aroma khas rumah menyergap—wangi kayu yang hangat, bercampur bau masakan yang entah kenapa langsung menenangkan dadaku.

"Ibuuu..." panggilku pelan.

Seperti biasa, ibu menyambutku dengan senyum lebarnya. Matanya berbinar penuh kasih, seolah seluruh rasa lelahku seketika luruh hanya dengan tatapannya. Ia meraih tanganku, menepuk lembut, lalu menarikku masuk ke dalam.

"Akhirnya pulang juga, Nak. Ibu kangen sekali," katanya, suaranya penuh haru.

Dan benar saja, di meja makan sudah tersaji hidangan sederhana yang amat kurindukan—tempe bacem manis legit buatan ibu, sayur asem dengan aroma segar daun kemangi, serta sambal terasi yang pedas menggoda. Aku tercekat, nyaris menitikkan air mata hanya karena melihat itu semua.

Aku duduk, lalu mulai menyendok makanan dengan lahap. Setiap suapan terasa seperti obat penawar luka. Manisnya tempe bacem, asam segarnya kuah sayur, pedas sambal yang menusuk lidah—semua bercampur, menutup kekosongan yang akhir-akhir ini terus menggerogoti hatiku.

"Makan yang banyak ya, Senjani," ucap ibu lembut, menatapku penuh kasih. "Sepertinya kamu kurusan, Ibu lihat. Kamu nggak makan yang benar, Nak?"

Aku menunduk, tersenyum hambar. "Iya, Bu... belakangan ini Senja memang kurang selera makan. Bukan karena nggak ada makanan, cuma... mungkin kepikiran tugas kampus." Suaraku serak, berusaha terdengar ringan.

Ibu mendesah kecil, lalu menyentuh pipiku dengan jemarinya yang hangat. "Nak... nggak boleh begitu. Kamu ini anak perempuan, masih muda. Jangan biasakan tubuhmu kekurangan gizi, nanti sakit. Apa pun yang kamu hadapi, jangan sampai bikin kamu lupa makan. Ingat, tubuh kamu itu juga titipan Allah. Kamu harus jaga."

Kalimat itu menohokku. Sederhana, tapi terasa menembus dinding hatiku yang rapuh. Aku menunduk lebih dalam, menyuap nasi bersama tempe bacem. Rasanya manis, tapi lidahku seperti kehilangan rasa karena ada sesuatu yang jauh lebih getir dalam dadaku.

Seketika, mataku basah. Butir air mata menetes pelan, jatuh bercampur dengan nasi di piringku. Aku buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan, berusaha menyembunyikan dari ibu. Aku tersenyum tipis, pura-pura sibuk mengunyah, agar beliau tidak curiga.

"Iya, Bu..." suaraku nyaris bergetar. "Senja janji bakal makan teratur lagi."

Ibu tersenyum lega, lalu menuangkan sayur asem ke mangkokku. "Kalau bosan sama masakan Mbak di rumah, kamu bisa masak sendiri. Ibu tahu kamu suka masak, kan? Anggap itu hiburan. Jangan terus-terusan ditahan dalam hati, Nak."

Aku tercekat. Ibu seakan bisa membaca isi hatiku meski aku tak pernah berkata apa-apa. Aku mengangguk kecil, menunduk lagi, membiarkan air mata lain jatuh diam-diam.

Dengan suapan tempe bacem yang manis di lidah, aku merasa benar-benar pulang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada damai yang merambat ke dadaku, meski bercampur perih yang tak bisa kuucapkan.

Aku masih sibuk menyuap nasi dan tempe bacem ke mulutku ketika tiba-tiba suara lembut ibu memecah keheningan.

"Kamu... sedang ada masalah dengan suamimu, ya?" tanyanya pelan, tapi tegas.

Sendok di tanganku berhenti seketika. Aku tercekat, menoleh ke arah ibu dengan mata melebar. Entah bagaimana, ibu selalu bisa membaca isi hatiku meski aku berusaha keras menutupinya.

"Ibu lihat dari wajahmu, Senja. Ada sesuatu yang kamu simpan. Ceritakan pada Ibu, Nak."

Aku menghela napas panjang, berusaha tersenyum, tapi ujung bibirku bergetar. "Nggak, Bu..." suaraku lirih. "Senja cuma lagi capek aja."

Ibu menatapku lama, sorot matanya penuh kasih tapi juga tajam, seolah menembus pertahananku. Jemarinya meraih tanganku di atas meja, hangat dan menenangkan.

"Kalau memang ada masalah dengan suamimu, jangan dihindari, Nak," ucapnya perlahan, seperti menasihati tanpa menghakimi. "Kalian berdua sudah dewasa, sudah mengikat janji. Pernikahan itu menyatukan dua kepala, dua hati. Perbedaan itu pasti ada, itu wajar. Tapi masalah nggak akan selesai kalau terus dihindari."

Dadaku sesak. Sendokku kugenggam erat, menahan gemetar. Aku akhirnya membuka suara, pelan dan nyaris pecah.

"Tapi, Bu... bukan Senja yang menghindar. Mas Althaf yang menjauh dari Senja. Dia... seperti nggak mau bicara lagi."

Mataku memanas, airnya sudah menggenang.

Ibu menghela napas, wajahnya lembut tapi penuh ketegasan. "Kalau memang begitu, berarti kamu yang harus menghampiri, Nak. Mengalah dulu. Bukan berarti kamu kalah, tapi kamu yang lebih bijak."

Aku langsung menunduk, menahan tangis. "Tapi, Bu... Senja juga kesal. Mas Althaf sering sekali melarang ini-itu, padahal menurut Senja... itu nggak masuk akal. Rasanya seperti... Senja hidup bukan sebagai dirinya sendiri lagi."

Ibu menepuk tanganku lembut, nadanya semakin serius. "Senja, dengar Ibu baik-baik. Dia itu suamimu. Imam dalam rumah tanggamu. Surga kamu ada di ridho suamimu. Kalau dia menegur, kalau dia melarang, pasti ada alasannya—meskipun kamu belum bisa melihat alasannya sekarang. Jangan buru-buru menolak."

Aku terdiam. Kata-kata ibu menusuk begitu dalam, sekaligus membuat dadaku semakin sesak.

"Anak Ibu yang cantik ini harus ingat," lanjut ibu, menatapku penuh kasih sayang. "Kalau dia keras, kamu yang harus lembut. Kalau kamu ikut keras, nggak akan pernah ada jalan tengah. Jangan biarkan gengsi merusak rumah tangga yang baru kamu bangun."

Aku akhirnya tak kuasa menahan tangis. Butir air mata jatuh ke piringku, bercampur dengan kuah sayur asem. "Tapi, Bu... Senja takut. Senja takut kalau ternyata... nggak cukup baik buat dia."

Ibu langsung meraihku, memeluk pundakku erat. "Tidak ada istri yang sempurna, Nak. Yang ada hanya istri yang mau belajar bersama suaminya. Pulanglah malam ini, temui Althaf dengan hati dingin. Katakan apa yang kamu rasakan, jangan dipendam. Kalau dia menutup pintu, kamu yang harus mengetuk lebih keras. Ingat, pernikahan itu bukan siapa yang menang, tapi siapa yang bertahan."

Aku menangis semakin kencang dalam pelukan ibu. Suara tangisku tertahan di dadanya, sementara hatiku bergetar mendengar setiap nasihatnya.

Aku berjalan keluar rumah dengan langkah gontai, udara sore menyapa wajahku. Cahaya matahari yang hampir tenggelam terasa menyilaukan, tapi tak mampu mengusir gelap yang menggantung di hatiku.

Suara ibu masih terngiang-ngiang, seakan setiap katanya menempel di dadaku: "Kalau dia keras, kamu yang harus lembut. Kalau dia menjauh, kamu yang harus menghampiri."

Aku menarik napas dalam, namun dada ini tetap sesak.

"Kenapa aku seperti ini, ya Allah?" bisikku lirih dalam hati. "Kenapa aku harus jatuh cinta pada dia... pada Althaf? Padahal dari awal aku tahu, aku nggak boleh punya perasaan ini. Dari awal aku janji... pernikahan kami cuma kontrak. Nggak lebih. Nggak boleh berharap, nggak boleh bermimpi. Tapi kenapa hatiku berkhianat?"

Kakiku berhenti di depan gerbang kecil rumah ibu. Aku memandang ke langit yang mulai berwarna jingga. Air mata kembali jatuh tanpa bisa kutahan.

Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Rasa sakitnya begitu nyata, seperti ada pisau yang menusuk perlahan ke dalam dada.

Dengan napas tersengal, aku melangkah lagi. Kali ini menuju rumah yang belakangan lebih terasa dingin dibanding hangatnya pelukan seorang suami.

Namun, di dasar hatiku, ada secuil harapan kecil—semoga saat aku membuka pintu rumah nanti... aku masih bisa menemukan Althaf di sana, dan semoga... masih ada sedikit celah untuk aku masuk ke dalam hatinya.

1
+62
lovyu.. ❤️
+62
tidak ada pelakor disini.. 🌚
+62
lagi 🌚
+62
jangan ada konflik lagi 🥺
+62
jangan ada konflik lagi ya 🥺
+62
apdet banyak2 🦖
+62
semoga ga ada perselingkuhan
+62: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!