Bagi Heskala Regantara, kehidupannya di tahun 2036 hanya soal kerja, tanggung jawab, dan sepi. Ia sudah terlalu lama berhenti mencari kebahagiaan.
Sampai seorang karyawan baru datang ke perusahaannya — Aysha Putri, perempuan dengan senyum yang begitu tipis dan mata yang anehnya terasa akrab.
Ia tak tahu bahwa gadis itu pernah menjadi bagian kecil dari masa lalunya… dan bagian besar dari hidupnya yang hilang.
Lalu, saat kebenaran mulai terungkap, Heskal menyadari ...
... kadang cinta paling manis lahir dari kesalahan yang paling tak termaafkan.
•••
"The Sweetest Mistake"
by Polaroid Usang
Spin Of "Gairah My Step Brother"
•••
Bisa dibaca terpisah.
•••
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Polaroid Usang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
•••
Ruangan itu kembali sunyi setelah Zeline pergi.
Heskal masih berdiri di tempat beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena berharap Zeline kembali. Tapi karena kakinya belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan bahwa ia… dilepaskan.
Bukan ditolak.
Bukan diusir.
Ditinggalkan dalam posisi netral. Dan itu justru menyakitkan. Karena itu menunjukkan bahwa ada atau tidaknya dia, tidak berarti apa-apa bagi Zeline.
Ia menghembuskan napas panjang, lalu meraih ponselnya. Nama Zeline masih ada di layar percakapan terakhir mereka. Tidak diblokir. Tidak juga dibalas.
"Sekadar itu," gumamnya pelan.
Kata sekadar itu terasa lebih berat daripada makian apa pun.
•••
Hari-hari berikutnya berjalan… aneh.
Zeline tetap profesional. Tetap tepat waktu. Tetap bekerja dengan fokus yang nyaris dingin.
Dan Heskal, untuk pertama kalinya, belajar menahan diri.
Tak ada lagi milkshake di meja kerja Zeline. Tak ada lagi perhatian berlebihan. Tak ada upaya mendekat.
Hanya pandangan singkat dari kejauhan. Hanya jeda setengah detik lebih lama saat mata mereka tak sengaja bertemu. Hanya berbicara tentang pekerjaan.
Dan anehnya, justru itu yang paling membuat Heskal tersiksa.
•••
"Project Lumina lolos tahap pengujian awal."
Kalimat itu memecah suasana rapat besar siang itu. Beberapa orang bersorak kecil. Beberapa bertepuk tangan spontan.
Zeline mengangkat kepala dari laptopnya, matanya membesar sesaat, lalu tersenyum. Bukan senyum berlebihan. Tapi senyum puas.
Heskal melihat itu. Dan dadanya menghangat dengan cara yang tak pantas untuk diakui. Tiga bulan setelah pembicaraan mereka terakhir kali berlalu dengan begitu cepat tanpa disadari. Tanpa ada sesuatu yang istimewa.
"Kita bakal adain makan malam kantor," lanjut Heskal. "Sekalian apresiasi tim. Kalian sudah bekerja keras selama beberapa bulan ini, terutama Departement Research and Development."
Beberapa suara langsung bersahutan.
"Wajib hadir, Pak?"
"Di luar kantor?"
"Wajib," jawabnya singkat. "Santai tapi resmi."
"Jadwalnya nanti saya kabari lewat Liane." Lanjut Heskal.
Zeline menunduk lagi. Mengetik. Tenang. Namun jari-jarinya berhenti sesaat. Makan malam kantor. Di luar jam kerja. Tanpa sekat jabatan yang kaku.
Dan entah kenapa… ada perasaan tak enak yang pelan-pelan naik ke dadanya.
Dari ujung meja, Heskal menyandarkan punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, ia tidak berniat meminta apa pun.
Ia hanya ingin melihat, apakah jarak yang Zeline buat masih sekuat itu ketika dunia berhenti sejenak dari logika.
•••
Pintu rumah baru saja tertutup saat dua suara kecil menyambut hampir bersamaan.
"Mimia pulaaaanggg!"
Shala berlari duluan, langsung memeluk kaki Zeline. Noa menyusul, tapi berhenti satu langkah di depan, menengadah sambil senyum kecil.
Zeline menunduk, membuka kedua tangannya. Dua tubuh kecil itu langsung menempel.
"Capek, Mi?" Noa bertanya pelan.
"Dikit," jawab Zeline sambil mengusap rambut mereka, "Aman kan pulangnya tadi?"
Zeline tak bisa menjemput mereka tadi karena lembur membuat laporan perkembangan Project Lumina untuk dikirim pada AI-RynTech.
"Aman, Mi! Miss Ginna juga jajanin kita esklim!" Balas Shala menyebut salah satu karyawan Daycare.
Shala menguap lebar. "Shala lapeeell…"
Zeline tertawa kecil. "Iya, iya. Ayo makan, Mimia udah beliin makanan."
•••
Makan malam berjalan seperti biasa.
Shala sibuk memilah lauknya. Noa makan rapi, pelan, sesekali melirik piring adiknya.
"Shala nggak mau yang ijaau," protes Shala.
"Itu sayul," jawab Noa sabar. "Bial pintel."
"Aku udah pintel."
"Belom," bantah Noa datar. "Makan sayul dulu."
Zeline tersenyum tipis melihat mereka. Tiba-tiba Shala mengangkat wajahnya.
"Mimia…"
"Iya?"
"Besok Mimia masih kelja lagii?"
"Iya," jawab Zeline mengangguk.
Shala cemberut. "Kelja mulu…"
"Besok masih Jumat, Sabtu baru libur." Jawab Zeline.
Noa diam sebentar, lalu bertanya pelan, hati-hati. "Keljanya sama Om itu, ya?"
Zeline berhenti mengunyah, berpikir hendak menjawab apa karena tau siapa yang Noa maksud.
"Om yang tinggi. Yang waktu itu dateng. Yang wangi banget." Jelas Noa.
Shala ikut mengangguk. "Iyaa… Om Heskaal. Udah lama nggak ketemu, entah kenapa Shala kangen Om Heskal, Mi."
Pengakuan itu keluar dengan polos. Ringan. Tapi dada Zeline langsung menegang. Zeline menunduk. Menyembunyikan ekspresinya.
"Mimia dekat sama Om itu?" Tanya Noa, sudah sejak lama ia penasaran.
"Om itu cuma temen kerja Mimia," balas Zeline akhirnya. "Nggak dekat juga."
Shala mengunyah, lalu bertanya polos, ringan, "Bukan ayah, ya?"
Zeline tersentak. Sendok makannya terjatuh hingga bunyi dentingan keras antara sendok dan piring terdengar.
Noa menatap sendok yang akhirnya jatuh ke lantai, "Shala, tolong ambilin sendok balu buat Mimia."
Shala turun dari kursinya, sementara itu Noa kembali menatap Mimianya. "Nanti Noa mau nonton kaltun boleh, Mi?"
"Shala juga mau!" Seru Shala membawakan sendok baru.
Zeline berusaha tersenyum, "Boleh, habisin makanannya dulu, ya."
Anak-anak itu patuh. Karena dunia mereka sederhana.
Tapi Zeline tahu, setiap perkataan mereka tadi juga menyiratkan keinginan.
Keinginan memliki sosok Ayah.
•••
Malam semakin larut.
Shala dan Noa sudah tertidur. Zeline berdiri di depan pintu kamar mereka lebih lama dari biasanya.
Dua anak kecil itu tidur tenang. Tak tahu apa-apa tentang nama, masa lalu, atau kesalahan orang dewasa.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Email Perusahaan.
[Undangan Makan Malam Regantis Group – Sabtu, 19.00, Valert Hotel]
Dear: Aysha Putri, Penanggung Jawab Partnership Lumina Project.
Zeline menatap layar itu lama.
Ia mematikan ponselnya. Lalu menyandarkan kepala ke pintu kamar anak-anaknya.
Pelan.
Seolah berharap, kalau ia berdiri cukup lama di sini, dunia di luar tidak akan ikut masuk.
•••
oh iya boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe)
boleh cek profil ku ya kak... nama judul ceritanya Pernikahan yang tak terduga
PLISSSSSSSS
😭😭😭😭😭