Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Benar saja, setelah selesai makan siang, Aska mengajak Nuraa mengunjungi salah satu butik khusus gaun pengantin yang cukup terkenal di kota mereka.
Sebenarnya bisa saja Nuraa memakai gaun pengantin yang sebelumnya telah di siapkan untuk pernikahannya dengan Kevin, tapi Nuraa tidak ingin Aska menjadi salah paham padanya.
Satu persatu gaun pengantin sudah Nuraa coba, tapi belum ada satu pun yang Nuraa sukai.
Aska dengan sabar menunggu Nuraa yang sedang mencoba gaun terakhirnya, Aska menunggu sembari membaca majalah yang telah di sediakan oleh pihak butik.
"Gaun ini pas banget di tubuh mbaknya, anggun banget, tambahin riasan dikit, hasilnya bakalan makin anggun dan mempesona, Mbak," seru karyawati yang membantu Nuraa di ruang ganti.
Nuraa tersenyum sambil menatap pantulan dirinya yang ada di cermin besar.
"Kalo gitu saya ambil yang ini, Mbak. Tapi bentar ya, saya mau lihatin dulu ke calon suami saya di depan," balas Nuraa.
"Mari biar saya bantu." Karyawati tersebut memegang bagian bawah gaun yang Nuraa pakai.
Aska yang sedang serius membaca majalah, tidak menyadari Nuraa sudah berdiri di hadapannya.
"Ekheemm." Nuraa berdehem.
"Gimana?" tanya Nuraa.
Aska seketika langsung berdiri.
"Kamu cantik banget pake gaun ini, pas banget, saya suka," Aska menatap Nuraa dengan penuh cinta.
"Aku juga suka, kita ambil yang ini aja ya," balas Nuraa.
Aska angguk-angguk kepala sambil tersenyum menawan.
Nuraa akhirnya kembali ke ruang ganti, untuk melepas gaun pengantin tersebut, sementara Aska langsung mengurus pembayarannya di bagian kasir.
"Kamu mau kembali ke butik?" tanya Aska, saat keduanya sudah ada di dalam mobil.
"Iya, mobil aku ada di butik."
"Lusa, saya dan juga keluarga, akan datang ke rumah untuk melamar kamu secara resmi." Kata Aska, menggenggam lembut tangan kanan Nuraa.
"Vivi juga bakalan datang?" tanya Nuraa.
"Kalo kamu gak nyaman, saya gak akan ajak Vivi, lagian dia masih bisa hadir di pesta pernikahan kita nanti," jawab Aska.
"Gak kok, kata siapa aku gak nyaman? Aku cuma nanya aja, khawatir tapi cuma sedikit sih." Nuraa menempelkan jari telunjuk dan jempolnya, kemudian memperlihatkannya ke Aska.
"Tenang aja, semuanya pasti baik-baik aja, gak ada yang perlu di khawatirkan, soal ucapan Vivi waktu di kafe juga kamu gak perlu pikirin, dia cuma terlalu peduli sama kakaknya, dia berpikir— saya mau menikahi kamu, karena untuk menebus kesalahan yang sudah dia lakukan terhadap kamu."
"Semua ini karena salah saya, saya juga gak pernah memberitahukan Vivi tentang perasaan saya ke kamu," kata Aska dengan lembut.
"Mana ada si Vevoy itu gak tau soal perasaan kak Aska ke aku, aku yakin dia pasti sadar, tapi waktu itu kan kak Aska gak ada hubungannya sama aku, jadi dia ngerasa aman," bathin Nuraa.
Mobil Aska pun perlahan berjalan meninggalkan butik, sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, sesekali bertemu pandang dan tersenyum satu sama lain.
Aska larut dengan pikirannya sendiri, sementara Nuraa pun sama, Nuraa masih menebak- nebak kesalahan apa yang ia lakukan terhadap mantan sahabatnya tersebut di masa lalu.
Sampai hati sahabatnya tersebut mengkhianatinya bahkan seperti memiliki dendam dan tidak ingin Nuraa bahagia.
——————
Malam harinya di kediaman Evelyn...
Seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, terkecuali Evelyn, Evelyn memang lebih suka berada di dalam kamarnya, daripada berkumpul di ruang keluarga, apalagi di rumahnya ada Vivi.
"Kamu baru pulang, Ka?" tanya bunda Aska.
"Iya, dari butik Nuraa, Bund." Aska menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa dan menyandarkan bahunya.
"Kak Aska serius soal mau menikahi Nuraa?" sela Vivi.
"Tentu saja. Kamu pikir kakak main-main?" balas Aska.
"Oyah, lusa bunda sama papah ada waktu, gak?" tanya Aska kepada kedua orang tuanya.
"Hmmm, Lusa?" papah Aska tampak berpikir.
"Ada, memangnya ada apa?" tanya papah Aska.
"Bunda juga ada waktu," sela bunda Aska.
"Evelyn belum pulang?"
"Ada di kamarnya, kamu seperti gak tau aja adik kamu yang satu itu, dia mana mau duduk dan kumpul di sini, apalagi kalo ada Vivi, heran bunda," gerutu bunda Aska.
"Vi... tolong panggilkan Evelyn ya, karena ada hal penting yang kakak mau sampaikan ke kalian semua," ujar Aska.
Vivi mengangguk dan segera berdiri dari duduknya.
Di ketukan yang ke 5 Evelyn dengan malas membuka pintu kamarnya.
"Kenapa?" tanya Evelyn acuh, berdiri di belakang pintu kamarnya yang terbuka setengah.
"Kak Aska tunggu di ruang keluarga, ada hal penting yang mau di sampaikan ke kita semua," jawab Vivi.
"Oh... palingan juga mau bilang soal hubungannya sama Nuraa, kayanya kaka kesayangan kamu itu udah kebelet nikah sama pujaan hatinya."
"Pujaan hati apanya, aku gak akan biarin kak Aska nikah sama Nuraa, karena aku gak hamil anak Kevin, Nuraa pasti lebih pilih balik lagi ke Kevin, kak Aska juga gak perlu nikahin dia lagi," balas Vivi sewot.
"Ya kita lihat aja nanti." Evelyn menutup pintu kamarnya dan berlalu pergi, meninggalkan Vivi yang berdiri mematung.
Saat melihat Evelyn hanya datang seorang diri, bunda Aska sigap berdiri.
"Vivi mana? Kenapa kamu datang sendiri? Kamu gak bikin hal yang aneh-aneh lagi kan, Eve?" bunda Aska mencecar anaknya dengan pertanyaan beruntun.
Evelyn mendengus dan memutar bola matanya.
"Bund, kenapa bersikap berlebihan? Memangnya apa yang akan di lakukan Evelyn? Anak bunda bukan hanya Vivi."
"Apa bunda gak sadar? Sikap bunda yang seperti ini, bisa membuat Evelyn terluka," tegur Aska.
Evelyn menatap sejenak ke arah Aska, ini kali pertama dirinya di bela oleh orang di dalam rumahnya.
"Bukan begitu, Ka. Kamu tau sendiri, dari SMP sampe terakhir Vivi keluar dari rumah ini, mereka berdua gak akur, ada aja ulah Evelyn ke Vivi," balas bunda Aska.
"Udahlah, Bund. Itu Vivi gak kenapa-kenapa." Aska menunjuk Vivi yang sedang berjalan ke arah mereka.
Bunda Aska bernapas lega dan kembali duduk, ia sama sekali lupa akan perasaan putri kandungnya sendiri.
Aska menatap sejenak ke arah Evelyn yang di lihatnya seperti tidak peduli dengan sikap sang bunda.
Hati Aska terasa nyeri melihat Evelyn yang tidak lagi ber reaksi apapun terhadap bunda mereka.
"Karena semuanya sudah ada di sini, aku mau menyampaikan kabar baik," ujar Aska.
"Kabar baik apa? Apa ini ada hubungannya dengan Nuraa?" tanya Vivi sangat tidak sabar.
"Sabar bos. Pelan-pelan, santai aja," timpal Evelyn dengan raut wajah datarnya.
Vivi mendengus dan mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Lusa aku minta papah, bunda, juga kalian berdua." Aska menatap bergantian ke arah Evelyn dan juga Vivi.
"Mendampingi aku untuk melamar Nuraa ke keluarganya," kata Aska lagi.
"Gak bisa!" Vivi berdiri dengan napas memburu.
Bersambung...