Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita tangguh.
Fandyka
Aku duduk bersebelahan dengan Mila. Sedang tepat di depanku, Nawal dan seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai Tristan dan katanya berdarah Indo-Amerika.
Tenggorokanku tercekat. Aku menatap mereka dengan nanar. Mataku berkaca-kaca. Nawal? Tentu saja wanita mungil nan lembut ini masih tenang di tempat duduknya. Kenan masih berada dalam pangkuan Nawal. Pria yang bernama Tristan ini, duduk dengan anggun sembari melipat kedua tangannya di dada.
"J ja... jadi, Ken...Kenan putra kita?", Aku bersuara dengan lirih dan terbata-bata.
"Ya mas, dia anak kita". Nawal tampak tegar, kuat dan pembawaannya tenang seperti biasanya. Mila beranjak dan duduk bersimpuh di hadapannya.
"Mbak Nawal... Aku malu mbak, maaf mbak. Maaf atas semua kesalahan aku udah merebut mas Fandy dari embak". Dia menangis tersedu-sedu tanpa peduli banyak mata berhalu lalang yang melihatnya.
"Jangan meminta maaf padaku mil. Minta maaflah pada putraku, dia yang lebih menderita dari pada aku. Kamu tidak tau, seberapa terlukanya dia melalui hari-hari tanpa sosok seorang ayah, seberapa menderitanya dia melihat anak-anak lainnya bahagia hidup dengan keluarga lengkapnya".
Nawal hendak berdiri dan pergi sembari menggendong Kenan, tapi ia di tahan oleh lelaki di sebelahnya agar tak pergi. Matanya berkaca-kaca. Aku pun berdiri ingin berhambur memeluknya, tapi suara Tristan mengagetkanku.
"Mari kita pergi dan mencari tempat yang nyaman untuk kalian berbicara dari hati ke hati".
🌕🌕🌕🌕
"Jangan tanyakan Daddy ku aunty. Mom bilang aku punya Daddy, tapi Daddy ku sedang bekerja di luar negri yang jauuuuh sekali dan tak pernah pulang mengunjungiku. Kadang aku berfikir, Daddy kerja dan tak pernah pulang, sedang mommy juga kerja, kadang sampai pulang malam dengan wajah kusutnya. Apa mungkin Daddy tidak memberikan uangnya pada mommy? Itulah mengapa aku selalu curhat pada bintang. Aku hanya ingin tau sekaliiii saja, seperti apa wajah daddyku? Apa wajahku sama sepertinya? Mom bahkan tak memberiku ijin untuk melihat wajah Daddy melalui fotonya.".
Ucapan Kenan semalam benar-benar mengiang di otakku. Aku memejamkan mata sekilas, menikmati luka ini, menikmati sakit ini, menerima kenyataan bahwa disini, akulah yang paling bersalah. karna aku, istri dan anakku menderita.
Aku duduk di sebuah kursi memanjang di taman. Aku duduk dengan Mila di sampingku, sedang Nawal tepat di hadapanku. Tristan Pun masih setia berada di samping Nawal.
"Jadi, kenapa uncle dan aunty saling diam? Apa kalian sudah mengenal mommy ku?". Kenan mengerjapkan mata polosnya. Anak ini murni, tak ada emosi ataupun sakit hati maupun dendam. Rasa bersalah kian berkali kali lipat tumbuh di hatiku. Aku tak kuasa lagi hingga aku menangis di depan Kenan dan Nawal.
"Ya, Kenan. Kau benar. Kami sudah saling mengenal". Semua yang ada di sana menoleh ke arah Nawal. "Uncle Fandy adalah Daddy mu sayang. Dialah Daddy yang selama ini kau cari dan kau tanyakan". Sambung Nawal lagi dengan suara gemetar. Dia tak kuasa lagi menahan air matanya.
"No no no. Jangan bercanda mom. Tidak mungkin. Uncle Fandy bukan Daddy ku. uncle Fandy dan aunty Mila adalah suami istri. Bukankah anak itu terlahir dari pasangan suami istri? Mom Jihan mengatakan seperti itu padaku". Ucapnya dengan polos.
Aku sudah tak kuat lagi menahannya. Ku Raih Kenan dan ku dekap dia dalam rengkuhan ku. Aku menangis menyesali segala kesalahanku. Aku jahat. Aku bodoh.
"Kenan, ini Daddy nak. Aku Daddy mu. Maaf. Maaf karna telah jauh darimu selama ini".
"Huh. Aku tidak mengerti. Orang dewasa terlalu rumit. Dan kau Daddy ku? Aku tanya benarkah? Benarkah kau Daddy ku?". Aku mengiyakan apa yang Kenan katakan.
"Kau jahat dad. Kenapa kau lama sekali bekerja dan tak pernah pulang? Bahkan kau dan aunty Mila sepasang suami istri. Apa itu benar?".
"Maaf". Hanya kata maaf yang mampu ku ucapkan saat ini.
"Kenan". Tristan membuka suara. "Daddy mu hanya tersesat dalam perjalanan pulang. Bisakah kau memaafkan Daddy mu? Aku tau kau anak baik dan berhati malaikat". Sambungnya lagi dengan senyum kecil dan melipat kedua tangan di dadanya. Sungguh, saat ini Tristan datang sebagai malaikat penolongku.
"Baiklah dad. Jadi aku harus memanggilmu Daddy?'. Aku mengangguk tersenyum meski air mata ini terus mengalir. Rasa haru bercampur bahagia, sesal dan sakit, membaur jadi satu.
"Oh Really? oh mom.... aku punya Daddy. Apa ini mimpi? oh my god, Aku bertemu Daddy... Thank you dad, kau sudah kembali pulang". Ocehannya semakin menampar keras sisi lain dari diriku.
"Ekhmm....". Suara Tristan menghentikan ocehannya Kenan....
"Jagoan. Jadi boleh kah kalau uncle Tristan mengajak mommymu kencan?". Sontak semua mata melotot mendengar permintaan Tristan. Tak terkecuali Nawal.
"Yes uncle. Bawa saja mom......"
"Tidak....." Tristan terkekeh pelan.
"Aku hanya menggodamu sweetheart. Aku bukan pria tak bermoral yang akan merusak rumah tangga orang lain demi mendapatkan orang yang ku cintai".
Perkataan Tristan telak memukul ku dan Mila. Mila semakin menahan nafasnya dalam tangisan. Aku tau itu. Tapi aku tetaplah tidak mampu melakukan apapun.
"Baik lah mas Fandy. Aku rasa pertemuan kita cukup sampai disini. Hari sudah mulai malam. Aku akan kembali ke tempat tinggalku. Turunkan Kenan dan biarkan ikut pu....".
"No mom. Biarkan aku ikut Daddy pulang. Bukankah aku tidak pernah tinggal bersama Daddy?"
"Tidak sayang. ikutlah pulang dengan mommy. Kau bisa bertemu atau bahkan bermain dengan Daddy mu lain waktu".
"Apakah aku akan ditinggalkan lagi oleh dad?". Sungguh, hatiku teriris mendengar jawaban putraku yang polos ini.
"Tidak sayang. nanti, kita akan bertemu lagi. Sekarang ikutlah pulang dengan mommy mu. Dad akan berkunjung kerumah mommy mu lain waktu".
"Baiklah dad. Dad janji?". ucapnya sambil menjulurkan jari kelingkingnya ke arahku. aku pun menyambutnya dan tersenyum kecil.
"Dad janji. Dad tidak akan meninggalkanmu". jawabku mantap. Aku mengalihkan pandanganku pada Nawal. "Na, bolehkah aku meminta nomor ponsel dan alamat tempat tinggalmu?".
Nawal sedikit ragu dan dia menoleh pada Tristan. Seakan meminta persetujuan lelaki ini. Jujur saja, hatiku berdenyut nyeri menyaksikan interaksi mereka. Tapi, aku bisa apa? Aku bahkan hanya lelaki brengsek yang selalu menyakiti mereka.
"Baiklah mas. Aku akan memberikannya padamu. Tapi ingat, kau hanya boleh mengunjunginya bukan berarti kau akan mengambilnya dariku". Aku mengangguk paham, tidak protes ataupun membantah yang Nawal ucapkan. Nawal memberiku ijin bertemu putraku saja, itu sudah suatu keajaiban. Aku tidak akan meminta lebih dari itu. Aku sadar posisiku. "Dan, Aku menunggu surat cerai darimu".
Aku terpaku. Tubuhku terpaku. Aku syok dan bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
"Aku berhak bahagia kan mas? bukankah selama ini aku juga membiarkan kamu dan Mila bahagia?" Sambungnya lagi. dia kembali menangis begitupun juga denganku. Kesalahanku di masa lalu, telah melukai kami semua selama ini.
"Maaf. Ya, kamu benar. mungkin setelah ini, aku akan mengunjungi kalian lagi. Aku ada banyak pertanyaan untukmu. Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Kenan untukku. Terima kasih".
"Jangan berbicara seperti itu mas. Bukankah Kenan juga anakku?". Dia tertawa dalam tangis. Ku lihat, Mila semakin menakis dan wajahnya sedikit pucat. "Aku pamit ya mas. Jangan sungkan untuk mampir. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian". sambungnya lagi sambil tersenyum.
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel