[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Mobil hitam Rylan bergerak melintasi hiruk pikuk kota di bawah teriknya matahari jam 3.
Vino yang sedang mengendarai mobil itu sesekali Melihat ke arah spion, mengintip Pergerakan tuannya.
Rylan bersandar, matanya terpaku ke luar jendela. menatap kosong kendaraan yang lewat, dan bangunan bangunan tinggi yang menyilaukan, hatinya tak ada disana.
"tuan, kenapa tidak menunjukan dokumen bukti itu Pada mereka tadi?"
"tidak, itu tidak perlu. jika mereka masih berkeras, baru akan ku tunjukan."
Vino ber-oh pelan, mengerti maksud Rylan
Rylan memejamkan mata, merenung sedikit tentang masa lalu.
Saat itu, dia masih berumur 8 tahun. kakeknya masih dalam keadaan sehat. Mereka bermain catur bersama.
"Rylan, kau harus bisa mengambil keputusan cepat, memperkirakan langkah lawanmu, 5 langkah kedepan, tanpa meninggalkan strategi."
"aku ... aku mengerti kakek." ucap Rylan, menggerakkan kudanya maju, melahap mentri milik kakeknya.
"Checkmate." kakeknya menaruh ratu tepat 2 langkah didepan raja putih.
"Kakek menang lagi"
"Kau juga sudah berusaha keras. mari ganti permainan." Kakeknya mengeluarkan satu set kartu remi.
"kau harus berhasil mengambil kartu yang kuinginkan dalam sekali coba."
begitulah Rylan dilatih oleh kakeknya sejak kecil, Setiap aspek dalam dirinya harus sempurna, sampai akhirnya dia memikul beban nyata di usia 16 tahun.
"kau harus ..."
"kau tidak boleh ..."
tapi didalam hatinya, Rylan tau, kakeknya menyayangi dia. kakeknya melakukan semua ini demi kebaikan dia Sendiri, dan demi Lion group.
"Tuan, kita sudah sampai."
Suara Vino menyadarkannya kembali ke dunia nyata. Rylan membuka mata, turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, kali ini dengan normal, tanpa menendang Pintu.
itu adalah rumah yang dibelinya, terpisah dari warisan Sang kakek, agar orang tuanya tinggal jauh dari keluarga besar yang munafik.
Rumah itu pas, tidak besar dari tidak kecil, sederhana tapi elegan. dari langit langit Sampai ke lantai, warna Putih menenangkan mata, dihiasi Perabotan berwarna netral.
Rylan berjalan Pelan menuju dapur. ibunya sedang memasak, ditemani ayahnya, yang membantu memotong bahan.
"hei Rylan, kau sudah kembali. apa Pekerjaan di kantor sudah selesai?" tanya Ivana, ibunya Rylan.
"Pekerjaanku?" Rylan tiba-tiba teringat Diana. "Sebenarnya belum selesai, tapi aku punya waktu."
"oke, kalau begitu ayo makan sedikit. Vino juga, ayo, jangan malu malu."
"oke, ma aku tunggu di ruang makan saja."
"terima kasih tante." ucap Vino.
"Sayang, apa bawang ini sudah boleh dimasukan?" tanya Marvin kepada istrinya.
"boleh. astaga, kenapa kau menangis?"
"ini semua salah bawang."
mereka berdua tertawa bersama. Rylan yang melihat itu tersenyum, memutuskan untuk tidak memberi tau orang tuanya tentang kunjungannya ke mansion agar mood mereka tidak rusak.
\\\\\\\
aku menyandarkan kepalaku ke kursi, memejamkan mata sebentar. mataku berkunang kunang setelah melihat entah berapa ribu kata.
Jam menunjukan pukul 16:30 sore. masih ada sekitar 30 menit sebelum pulang kerja. aku ingin melanjutkan Pekerjaanku, tapi rasanya lelah sekali. aku menguap.
tunggu sebentar lagi, aku pasti bisa selesaikan semua ini.
Tapi tanpa sadar aku malah terlelap. aku bermimpi adegan yang sama, yang sudah pernah aku mimpikan. Di gang kecil yang gelap, bersama CEO Rylan.
aku tersentak bangun. wajahku Panas. apa-apaan mimpi tadi? aku mencengkram ... eh, apa ini? rasanya ini bukan Punyaku. Aroma Parfum pria masuk ke hidungku.
"Sudah bangun?" Suara berat itu membuatku kaget.
"CEO Rylan ?! k-kapan kau kembali?!"
"Sekitar 25 menit yang lalu." jawabnya, tanpa mengalihkan Pandangan dari komputernya, "lain kali kalau mau tidur naikan Suhu AC nya dulu, kau kedinginan tadi."
"CEO tidak marah?" aku bertanya hati hati.
"tidak juga. kau pasti kelelahan setelah mengerjakan semua itu."
aku terdiam menatap jas milik CEO Rylan. tanganku bergerak cepat untuk melipatnya, dan mengembalikannya pada CEO.
"terima kasih CEO. dan... aku minta maaf."
"Santai Saja." CEO Rylan mengambilnya.
Ponsel di atas mejaku berdering pelan. tuan Gavin yang menelepon. aku segera mengangkatnya.
"Apakah kau sudah Pulang? aku menunggu di parkiran perusahaanmu."
"Oh, oh! baik lah! aku segera kesana!"
Aku menutup telpon, harap harap cemas memandang CEO Yang juga sedang melihatku.
"ada apa?" CEO Rylan bertanya.
"em, aku punya janji dengan seorang teman. bolehkah aku Pulang Sekarang?"
"Pulang lah, toh Sudah jam 5 lewat juga."
aku berterima kasih Pada nya, Segera merapikan barang barang ku, dan turun lift dengan tergesa-gesa, tidak tau lagi dengan apa yang terjadi selanjutnya di ruangan itu.
Rylan mengendus jas miliknya yang terlipat rapi.
"ini ... aroma Diana" gumamnya pelan.
'apa yang aku pikirkan?' batinnya. dia beranjak, melihat lewat balkon, Diana naik ke mobil seorang pria.
rasa itu pun muncul. seperti sengatan listrik, menjalar ke setiap sel di tubuhnya. matanya menyipit, dan tanpa alasan yang jelas, dia mendadak tidak suka mobil berwarna krem.
\\\\\\\
"tuan Gavin, sebenarnya kau tak perlu sampai menjemputku kemari, aku bisa pergi kesana sendiri."
"tidak apa apa aku tidak ingin kau kesulitan. ngomong ngomong, kau baru pindah ke sini tak berapa lama kan?"
"ah, iya tuan Gavin."
"kau cepat beradaptasi juga ya. apakah kau sudah punya Pacar?" tuan Gavin bertanya cepat.
"hah?" aku sedikit shock, memastikan apa aku tak salah dengar.
"Tak apa jika kau tak ingin memberitahu aku. aku tak akan memaksamu." dia mencengkram erat setir mobil.
'bukan begitu tuan Gavin. aku hanya terkejut saja. aku belum pernah punya pacar, dan belum pernah berpikir Sampai kesana juga." aku tersenyum.
"oh.. apakah kehidupan kantormu menyenangkan? apa bos nya baik pada mu?"
"ya, tentu saja aku senang bisa bekerja di Lion Group."
Percakapan terus mengalir tenang. tuan Gavin Sangat friendly, dia juga sopan, tau batasnya. hal ini yang buat aku Senang berbicara dengannya.
tanpa terasa, kami akhirnya Sampai ke tujuan. tuan Gavin Segera disambut oleh temannya, dan dia juga memperkenalkan aku pada temannya.
"nona mau rumah yang seperti apa?"
"rumah yang kecil Saja, 1 kamar, 1 wc, 1 dapur, mungkin yang seperti itu. lalu, terletak di atau dekat Pusat kota, dekat Lion Group." aku menjelaskan.
"Maaf nona, rumah seperti yang barusan disebut hanya ada di pinggiran, kalau di pusat kota, rumah terkecil Itu 2 kamar, 2 wc, 1 ruang tamu, 1 dapur, teras depan dan belakang. jarak rumah ini ke Lion group sekitar 1 kilometer saja.'
"hm... boleh. berapa harganya?" tanya ku
dan tak disangka, harganya jauh lebih rendah dari ekspetasiku membuatku sedikit curiga, tapi bukan ke arah negatif.
"bukan, tolong Sebutkan harga Penuh yang asli."
dia bertukar pandang dengan tuan Gavin.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖