NovelToon NovelToon
Sekretaris Kesayangan Bos

Sekretaris Kesayangan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Perjodohan / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻

Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.

Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Kita hadapi berdua, tolong jangan pergi!

Area penuh rambu, hati-hati ya ;)

Aroma sabun harum langsung menyapa hidung Kenzo saat Vinda keluar. Wajahnya segar, rambut panjangnya yang ikal setengah basah terurai dan sedang dikeringkan. Seketika otak Kenzo kosong melihat betapa cantiknya gadis itu. "Mas, kamu bawa baju ganti apa nggak? Seharusnya aku bawa kemeja Ayah tadi kalau tahu kamu ikut" Kenzo langsung memeluk pinggang rampingnya, lalu mencium rambut yang masih wangi itu dengan nakal. Vinda terkejut dan menggeliat gelisah.

"Kamu cantik sekali, sayang."

Si 'bos nakal' yang biasanya tak bisa menahan diri melihat tubuh wanita seksi, kali ini berusaha keras menahan diri agar tidak sembarangan menyentuh Vinda. Tapi anehnya Vinda sendiri seperti lupa karena merindukan belaiannya, lalu membalas pelukan itu dengan mendesah pelan. Dia melingkarkan lengan di leher Kenzo yang sibuk mengecup bibirnya, lalu duduk di pangkuan pria itu.

"Sstt… mas geli… sudah…"

"Aku pengen n3tek dulu sayang" Kenzo mengabaikan keluhan itu, malah makin rakus mengecup bagian sensitif tubuh Vinda, meremasi gundukannya dengan mulutnya yang semangat menyedot puncaknya lalu membuat area itu basah dan lengket, sampai gadis itu mendesah makin keras dan meremas rambut Kenzo kuat‑kuat.

"Ahhh mas...." Keluh gadis saat baju tidur piyama yang dia pakai sudah tak karuan, terbuka dan tak bisa menyembunyikan keindahannya.

"Aduh… sial,… aku tak tahan lagi."

Kenzo jatuh ke atas kasur, lalu membalikkan posisi hingga Vinda berada di bawahnya, melanjutkan ciuman mereka yang makin panas dan penuh nafsu. Dia memang pria normal, mustahil tetap tenang dalam situasi seperti ini, bagian bawah sudah segar bugar tak sanggup lagi bertahan.

Selama ini bagi Kenzo wanita hanyalah teman tidur dan pemuas hasrat—dia selalu memimpin dengan ganas, dan panas mendominasi, bisa bermain langsung tanpa pemanasan, membuat pasangannya mendesah nikmat. Tapi kali ini berbeda, untuk Vinda yang menjadi separuh jiwanya, Kenzo akan selalu memperlakukan dia dengan penuh cinta.

"Sstt… sial, Vinda… maaf, aku sungguh tak tahan lagi." Erang Kenzo saat puas memainkan ptg itu. "Lakukan saja mas, nggak apa-apa aku mau." Kenzo terkejut menatap gadis itu. Vinda mengangguk pasrah. Mungkin karena hatinya sedang sakit luar biasa, dia mau menyerahkan semuanya pada Kenzo, termasuk tubuhnya, pikiran bodoh yang berkecamuk di kepalanya, kalau dia dicintai, kalau Kenzo untuknya pasti mereka pasti akan tetap bersama.

Ciuman itu makin panas dan basah, hasratnya tak terbendung lagi. Kenzo mengecup dari leher, menjilat telinga Vinda, lalu ke tubuhnya yang lain, dia menurunkan gaun tidurnya hingga terlihat celana dalam berwarna merah muda. Ciuman itu bergerak turun ke perut rampingnya, lalu kembali menindih tubuh mungil itu dengan penuh hasrat.

Dengan cepat Kenzo melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuh Vinda. Kedua tangan lentik gadis itu meremas rambutnya merasakan melayang ketika Kenzo memànjakan tubuhnya. Vinda menggeleng dan mendesah keras saat dadanya dicumbu habis‑habisan. Dia masih takut, sesekali menutup rapat pahanya—karena ini pertama kalinya ada pria yang melakukan hal itu padanya.

Kenzo membuka pakaiannya sendiri, hingga ikutan polos, dia mendesah pelan saat berusaha masuk. Dia mencium bibir Vinda lagi, berusaha mengalihkan perhatiannya pelan‑pelan, ciuman panas mereka sampai membuat suara decapan bibir.

"Mass ahhh sakit...."

"Arh shit~… susah sekali ternyata."

Keringat bercucuran di mana‑mana, tubuh mereka saling menempel erat. Kenzo kesal karena miliknya yang besar susah masuk dan dia makin tak sabar. Dia terus berusaha menerobos meskipun Vinda terus mengeluh.

"Sakit mas… sakit sekali…" keluh Vinda terus-menerus "Tahan sebentar saja, sayang… maafkan aku. Kalau sakit, berteriak nggak apa-apa." Vinda mengangguk sambil menggigit ujung selimut. Saat keperkàsaan Kenzo akhirnya memaksa masuk dan merobek selaput dara gadis itu, dia menjerit keras, sampai telinga Kenzo hampir pecah.

Mereka saling merasakan kenikmatan itu, tangan bergerak menyentuh bagian paling sensitif, tubuh saling mendesak satu sama lain. Ruangan itu dipenuhi desahan napas yang berpadu.

"Aku hampir sampai, shit sayang ahh…"

Kenzo mengerang panjang memanggil nama Vinda berkali-kali dengan penuh nafsu.

"Ah~ mas… lebih cepat lagi…" Suara desahan dan gerakan tubuh mereka bercampur, aroma kehangatan cinta memenuhi kamar. Kenzo tak menyangka rasanya akan seindah ini bersama gadis yang masih perawan— sumpah dia seperti melayang nikmàt.

padahal sepuluh tahun lalu saat bersama Larasati, dia tak pernah merasakan kenikmatan sebesar ini.

"Sstt mas~… aku… aahh…" Segera setelah Vinda mencapai puncak kenikmatan, Kenzo mengubah posisi Vinda menjadi di atasnya. Bergerak makin cepat hingga tubuh Vinda terguncang keras.

Lima menit kemudian dia pun sampai di puncak, mengeluarkan di dalam benihnya,

lalu jatuh terkulai lemas di atas tubuh Vinda sambil terengah‑engah.

****

Matahari belum sepenuhnya tampak di ufuk timur, tapi Vinda sudah membuka mata. Dia meremas selimut yang menutupi tubuhnya, air mata jatuh membasahi pipi. Sejak semalam dia bukan lagi gadis perawan—pilihan berat yang diambilnya dengan hati pedih, dan sekarang dia harus siap menerima segala risiko. Termasuk pandangan orang yang mungkin menganggapnya sama saja seperti pelacur yang tidur dengan suami orang.

Vinda bangkit perlahan, mengabaikan rasa nyeri dan perih di bagian tubuhnya. Tulangnya rasanya seperti remuk, akibat semalam.

Dia mengambil piyama tidurnya yang tergeletak di lantai, lalu menoleh ke kasur sebelah. Kenzo masih tidur pulas, lelah sekali setelah percintaan semalam mereka yang berkali-kali dan bergelora. Hatinya makin perih, mungkin semalam adalah terakhir kalinya dia bisa mencium bibir pria itu dan menghirup aroma tubuh pria yang paling di cintainya.

Tertatih‑tatih Vinda masuk ke kamar mandi, bersandar di dinding bilik pancuran dan menangis sepuasnya di sana. Dia berusaha meyakinkan diri kalau pilihannya tak salah, tapi tetap saja, jika tidur dengan pria beristri sama saja dianggap perbuatan wanita murahan.

"Apa bedanya aku dengan pelacur sekarang?"

Tangisnya.

"Ayah… ampunilah aku…" tangis Vinda makin keras dengan tubuh lemas..

Vinda duduk di lantai kamar mandi, menangis puas di bawah air pancuran. Dia bukan gadis lagi, merasa kotor, merasa berdosa karena melayani suami orang semalam. Berkali‑kali dia memukul dadanya sendiri yang terasa sesak dan luka, sangat sakit mengetahui pria yang telah menyentuhnya sepenuhnya bukan miliknya. Setelah mandi lima belas menit, dia keluar hanya dengan berbalut handuk. Piyama tadi basah dan tak layak dipakai lagi.

Dengan mata sembab dia melihat Kenzo sudah bangun. Pria itu duduk di tepi kasur masih bertelanjang dada, sorot matanya penuh penyesalan. Segera dia menghampiri Vinda yang sibuk mencari baju ganti di koper.

"Vinda sayang…" Kenzo memeluk pinggangnya dari belakang. Kalau semalam dia tak kuasa menahan hasrat, pagi ini dia sangat menyesal melihat wajah gadis itu yang tampak begitu sedih dan habis menangis. "Maafkan aku… maaf karena tak bisa menjagamu malah merusak kamu seperti ini. Maafkan aku, Sayang,"

Dia mengecup bahu Vinda yang masih berbau sabun, lalu merapatkan pelukan saat merasakan tubuh gadis itu bergetar kembali karena tangis.

"Jangan menangis lagi, kumohon… maafkan aku."

"Ini bukan salahmu saja, mas. Aku juga menginginkannya dan membalas setiap sentuhanmu dengan sukarela." Kenzo makin menyesal. Dia mengecup rambut yang masih agak basah itu, lalu menatap Vinda yang melepas handuk dan berganti pakaian di hadapannya tanpa malu, karena sejak semalam dia sudah hafal setiap jengkal tubuh gadis itu.

"Kamu mau ke mana? Ini masih pagi sekali lho." Matahari baru saja terbit, tapi Vinda sudah rapi mengenakan gaun bersih dan menyisir rambutnya dengan wajah sedih.

"Pergi ke Malang, tentu saja sesuai rencana awal."

"Vinda… bisakah kamu berubah pikiran dan kembali ke Jakarta saja? Kumohon, aku tak mau melepaskan kamu mulai saat ini."

Kenzo merasa bertanggung jawab. Dia sudah berjanji akan menjaga Vinda apa pun yang terjadi, sudah mengambil kehormatan gadis itu, jadi tak mungkin dia membiarkannya pergi begitu saja.

"Aku mungkin tak sanggup menghadapi semua masalah di Jakarta nanti, rasanya terlalu berat." Vinda menangis lagi, menyembunyikan wajah di dada bidang Kenzo dan membiarkan pria itu membelai rambutnya.

"Kita hadapi berdua saja, seberat apa pun masalahnya. Tolong, kamu ikutlah aku pulang ke Jakarta, aku akan menjagamu mulai sekarang"

"Mas. Mungkin mengatakannya mudah, tapi kenyataannya lain. Bagaimana nanti pandangan orang pada kita? Lalu bagaimana dengan wanita itu… istrimu? Dia pasti akan menghinaku lagi dan menyebutku pelacur."

"Cukup, Vinda! Kamu sama sekali bukan pelacur! Jangan pedulikan mulut orang lain, apalagi omongan Larasati. Dia bukan siapa‑siapa bagiku, cuma masa lalu. Istri yang sesungguhnya bagiku, hanyalah kamu, kelak. Tolong jangan tinggalkan aku sayang"

Vinda terisak makin keras, lalu melingkarkan kedua lengan di pinggang Kenzo yang kembali mengecup bibirnya.

"Kita pulang ke Jakarta pagi ini. Tolong jangan pergi menjauh sedikit pun, aku butuh kamu lebih dari apa pun sekarang."

"Baiklah… hhh… mungkin memang takdirku harus begini, menjadi wanita simpananmu, mas." Vinda akhirnya luluh dan setuju.

"Bukan begitu maksudnya. Kurang dari delapan bulan lagi, aku akan benar‑benar menjadi milikmu seutuhnya aku bersumpah akan menceraikan Larasati begitu dia melahirkan." Vinda terkekeh kecil dan mengangguk. Sekali sudah terlanjur tercebur tak ada gunanya ragu lagi. Soal bahagia atau menderita nanti, dia pasrah saja pada takdir.

1
Ananda Boy
kak aku baru mampir, yeay season 2😍😍😍
Ananda Boy
kakk ini blm tamat kan
Ananda Boy
next
Ananda Boy
Bagus banget 😍
Ananda Boy
deg degan aku
Ananda Boy
bagus buku ini, semngat kakak author 😍
Ananda Boy
😍😍😍😍
Ananda Boy
kasian vinda
Ananda Boy
ini Novel bikin aku tadinya ketawa sekarang nangis 😭🤣
Ananda Boy
bikin emosi aj 😭
Ananda Boy
jahat banget si Laras 😭
Ananda Boy
next ka🤭
Ananda Boy
benci aku sama mantan nya Kenzo
Ananda Boy
vjnda km beruntung
Ananda Boy
next ka😍😍
Ananda Boy
wahh makin seru 😍
Ananda Boy
huhhh😭😭
Ananda Boy
lucu 🤣🤣
Ananda Boy
sabar pak Ken 🤣
Ananda Boy
beneran bikin ngakak, Vina itu lucu banget 😄🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!