NovelToon NovelToon
My Bodyguard My Love

My Bodyguard My Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Fantasi Wanita / Kehidupan di Kantor / Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Una Rofia

Sabrina Delina Arnabella yang lahir dengan nama belakang Alvarendra sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan hubungan antar dirinya dengan ayahnya Winata Alvarendra karena ayahnya memutuskan hubungan dan menikahi wanita yang memiliki satu anak bernama Renata Wijaya.

Besar tanpa sosok ayah dan harus menghadapi kenyataan kalau ibunya meninggal karena kecelakaan mobil semakin memperburuk mental Sabrina.

Namun sebuah kabar kalau ayahnya meninggal membalikkan seluruh kondisinya, tanpa diduga seluruh aset milik Alvarendra jatuh ketangan Sabrina.

Ancaman dan teror serta kelicikan dari Renata yang ingin merebut segalanya semakin membuat Sabrina waspada.

Bagaimanakah cara Sabrina mengatasi semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Rofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Sampai di villa itu Vano langsung diarahkan oleh seorang pelayan yang mengantarnya untuk menemui pemilik Villa ini.

" Silahkan, nyonya dan tuan ada di dalam " kata pelayan Itu dari balik dinding kaca Vano bisa melihat kedua orang itu.

" Tuan " sapa Vano saat posisi mereka sangat dekat.

" Akhirnya kau datang juga " balas Winata yang sejak tadi dia sibuk memandangi istrinya yang tengah asyik merawat bunga-bunga miliknya itu.

" Duduklah " Vano lantas duduk berseberangan dengan Winata, tak lama seorang pelayan datang dan menyajikan minum di depan Vano seolah itu adalah hal biasa yang mereka lakukan saat dia datang kesini.

" Bagaimana kabar putriku? " tanya Winata.

" Diluar cukup baik, tapi dia hancur dari dalam dan anda sangat tahu itu " kata Vano dia bisa bicara dengan santai saat bicara dengan Winata meskipun bahasa yang dia gunakan cukup formal.

" Vano, kenapa tidak bilang kalau kamu akan datang " Devira yang semula sibuk dengan tanaman bunganya lantas meninggalkan aktivitasnya begitu menyadari kehadiran Vano disana.

" Bagaimana Sabrina? dia baik-baik saja kan? apa sesuatu terjadi padanya? " Devira langsung memberondong Vano dengan pertanyaan tentang Sabrina.

" Nyonya tenang saja, nona Sabrina baik-baik saja hanya saja akhir-akhir ini dia kurang istirahat " jawab Vano.

" Sudah kubilang rencanamu untuk membuat Sabrina menjadi pemimpin Alvarendra hanya akan menyita seluruh waktu istirahatnya saja. Putri kita kurang istirahat dan aku tidak mau kalau sampai dia sakit " Devira menatap suaminya dengan tajam.

" Ini adalah satu-satunya cara agar Renata tidak mengganggu keluarga kita lagi " Winata berkata dengan nada lembut. Jauh dilubuk hatinya dia juga sangat khawatir dengan putri semata wayangnya itu.

" Kenapa anda menyuruh saya datang kemari tuan? " tanya Vano.

" Tentang Dean, akulah yang membuat perusahaannya kacau. Pasti dia berpikir kalau Sabrina lah yang melakukannya, dan mengenai proyek itu sejak aku masih memimpin Alvarendra ada beberapa orang yang memang Renata tempatkan menjadi anak buahnya " kata Winata.

" Kalau boleh saya katakan anda terlalu gegabah tuan, masalah ini justru akan membuat nona terkena dampaknya meskipun kita tahu kalau bukan dia yang melakukannya. Akhir-akhir nona sedang bersikeras untuk memimpin dia perusahaan yang namanya sangat besar pasti ada tekanan sendiri yang tengah ia alami '' Sabrina memang tidak pernah bilang kalau dia lelah namun tatapan matanya bisa menjelaskan segalanya selelah apa dirinya sekarang.

" Aku tahu, tapi kita harus sedikit memberi Dean pelajaran. Masalah ini tak akan membuat dirinya mati, menuduh Sabrina pun dia tidak memiliki bukti jadi dia tidak akan menyerang Sabrina karena hal ini " balas Winata, dia tipe orang yang akan memikirkan dampak baik buruknya jika akan melakukan sesuatu.

" Saya harus segera kembali, jaga diri kalian baik-baik jika perlu pengawalan untuk keluar langsung hubungi saya " kata Vano.

" Kamu tenang saja Vano, kita berdua akan aman disini lagipula seluruh anak buah mu mereka tahu caranya bekerja " balas Winata.

Disisi lain Sabrina tengah menerima pesan berisi ancaman untuk tidak lagi melanjutkan proyek yang ambruk itu. Namun, Sabrina tidak akan menyerah hanya karena sebuah ancaman dari seorang pengecut itu. Mereka tak lebih dari orang-orang yang mencari perhatian untuk mendapatkan lebih banyak simpati.

" Siang nona Sabrina " ucap seseorang yang baru datang.

" Duduklah Glen " kata Sabrina seperti biasa dia akan menemui Glen jika ada sesuatu penting dan itu dilakukan ditempat yang cukup rahasia.

" Bagaimana penyelidikanmu? " tanya Sabrina menatap tegas Glen yang ada dihadapannya.

" Bunga dan hadiah yang selalu dikirimkan kepada anda memang sudah ada yang mengaturnya. Apa anda benar-benar tidak ingat siapa pemilik inisial itu? " tanya Glen meminta Sabrina untuk mengingat sesuatu.

" PB? apa aku mengetahuinya? " tanya Sabrina.

" Ingat kembali nona, anda tahu betul siapa pemilik inisial itu " balas Glen.

" Jangan bermain tebak-tebakan denganku Glen, katakan dengan jelas siapa orang itu kepalaku benar-benar pusing sekarang " Sabrina tak berbohong mengenai kepalanya yang terasa pusing belakangan ini memang dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk istirahat karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.

" Papa bear apa nona tidak mengingatnya? " mendengar itu Sabrina langsung ingat betul siapa orang itu.

" Dia sudah mati Glen, tak mungkin hadiah itu datang disetiap momen pentingku jika pengirimannya sudah mati " kata Sabrina sambil sedikit tertawa.

" Dan apa anda yakin kalau dia benar-benar sudah mati? " Glen menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan tegasnya seakan dia ingin menegaskan satu hal.

" Nona, Tuan Winata adalah orang yang cerdas, segalanya telah dipersiapkan olehnya dengan sangat matang bahkan kita tidak akan pernah bisa menebak jalan pikirannya. Lalu apakah Tuan Winata akan membiarkan dirinya mati begitu saja? " tanya Glen.

" Bisa saja dia adalah orang yang bodoh, karena kebodohannya itulah siapa saja bisa membunuhnya dengan sangat mudah " jawab Sabrina.

" Tapi saya tidak berpikir begitu " balas Glen.

" Lalu apa kau ingin mengatakan kalau dia masih hidup? ayolah Glen aku bahkan melihat petinya masuk dan terkubur dibawah tanah " Sabrina tidak bisa mempercayai begitu saja dugaan Glen yang menurutnya aneh.

" Apa anda melihat bagaimana kondisi Tuan Winata di dalam peti itu? " Sabrina kembali terdiam, memang benar dia tidak melihat Winata di dalam peti itu karena memang dia tidak sudi untuk melihatnya.

" Kemungkinan itu bisa saja terjadi, tapi satu hal yang harus anda tahu anda tidak akan sampai dititik ini jika Tuan Winata benar-benar meninggalkan anda " kata Glen.

Setelah pertemuannya dengan Glen Sabrina duduk terdiam diruangannya tangannya memijit pelan kepalanya yang semakin terasa berdenyut itu.

Pintu terbuka Vano masuk dengan langkah tegasnya dan langsung berdiri dihadapan Sabrina yang bahkan tidak menatapnya.

" Anda baik-baik saja? " tanya Vano yang melihat Sabrina memijat kepalanya itu.

Mendengar suara Vano, Sabrina langsung menurunkan tangannya dan memperbaiki posisi duduknya.

" Siapa kamu? " tanya Sabrina dengan tiba-tiba.

" Zevano Selio Askar " jawab Vano tanpa ragu.

" Kau pikir aku tidak tahu? Kedatanganmu dengan begitu tiba-tiba pasti ada maksud lain bukan? " kata Sabrina disertai seringaian diwajahnya.

" Apa yang anda pikirkan nona? " tanya Vano mencoba untuk tenang, perempuan dihadapannya ini tidak bisa ia taklukkan dengan mudah banyak cara yang dia bisa lakukan untuk mencari jawaban atas semua pertanyaannya.

" Pergi kemana kau beberapa jam ini? " tanya Sabrina.

" Saya sudah bilang kalau ada urusan diluar " jawab Vano.

" Urusan? bukan misi lain yang coba kau jalankan? " kata Sabrina.

" Apa yang coba anda tegaskan pada saya nona? " Vano menangkap maksud lain dari setiap perkataan yang Sabrina lontarkan padanya, dia seperti tengah menunggunya untuk mengatakan sesuatu tanpa sengaja beruntungnya dia mempunyai kontrol yang bagus hingga jawaban yang keluar dari mulutnya tak akan menjatuhkannya sedikitpun.

" Pergilah, aku tidak ingin melihatmu sekarang " Sabrina memalingkan wajahnya tak ingin melihat Vano lagi.

Vano menatapnya sebentar sebelum dia berbalik untuk pergi dari ruangan itu, senyum tipis muncul diwajahnya dan jelas Sabrina tidak akan melihat senyum itu bahkan mengartikan apa maksud senyumannya.

1
Hind's S
wooo nggatheli enggak tayang2....
Ina Yulfiana
karyanya bagus awal baca langsung marathon buat baca para tokohnya uga gk menya menye tegas wibawa dan bersikap dewasa jd makin semngt bcanya dan bikin candu ...11
Ina Yulfiana
gmn reaksi Sabrina lo kedua orang tuanya masih hidup dan ternyata selm ni hanya sandiwara betapa kecewanya cih pasti ...

next semngt sukses selalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!