"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.
"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.
"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"
Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.
"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Ruby menggeliat dan mulai membuka kedua matanya perlahan, pinggangnya terasa kaku dan berat saat ia merasa ada sebuah tangan yang memeluk tubuhnya.
Netranya langsung membulat saat ia menyadari bahwa saat ini ia tak memakai pakaiannya, ia pun segera mengecek dengan membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya.
Ruby menghembuskan nafasnya lega saat ia mengetahui bahwa celana panjangnya masih menempel di di tempatnya.
Ruby juga tidak merasakan bagian bibir bawahnya nyeri. Karena jika Marco melakukan hal tersebut, pastinya akan terasa perih di bagian bibir bawahnya, karena ini adalah kali pertama jika memang Ruby melakukan hal tersebut dengan Marco. Setidaknya pria itu masih berbaik hati dan tidak mengambil kesempatan di saat ia sebenarnya bisa dengan sangat mudah melakukan hal yang ia ingin lakukan.
Saat Ruby hendak bangun dan mencari di mana pakaian yang berada, tangan kekar Marco menarik tubuhnya kembali ke dalam pelukannya.
"Tetaplah disini, hari ini ini mungkin salju akan turun dengan lebat."
Seketika Ruby memegang kedua buah dadanya yang masih polos tak terlapisi oleh apapun.
Dengan mudahnya Marco membalikan tubuh Ruby agar menghadap pada dirinya, alhasil tubuh yang sedang bertelanjang dada itu kembali sukses menempel, Marco menarik selimut agar mereka berdua tak kedinginan.
"Hari ini aku tak akan pergi bekerja jika kau ingin aku tetap berada disini." Ucap Marco tapi Ruby masih terdiam. Ia ingin sekali marah pada pria di hadapannya saat ini, tapi rasa hangat yang ia terima saat musim salju seperti ini membuatnya tiba-tiba diam seketika.
"Kenapa tidak menjawab?"
"Pergilah jika kau ingin pergi bekerja." Begitulah Ruby yang tak pernah sinkron dengan isi hatinya sendiri.
"Kau benar-benar ingin aku pergi?" Tanya Marco sekali lagi.
"Apa aku punya hak untuk itu?"
Karena kesal Marco menyibak selimut lalu bangun dari tidurnya, menyisakan Ruby yang sebenarnya menyesali ucapannya sendiri.
Marco langusng berkemas untuk berangkat bekerja. Karena hari ini salju turun lumayan lebat, Marco memakai baju hangat dan mantel yang tebal.
Ruby yang juga sudah memakai pakaian lagi pun mengahampiri Marco. Entah gadis itu dapat keberanian dari mana hingga dapat mengahampiri Marco yang hendak keluar dari kamarnya.
"Bolehkah aku ikut dengan mu?" Kata Ruby yang tiba-tiba menarik mantek Marco.
Langkah marco berhenti sejenak dan menoleh ke arah gadisnya itu.
"Hari ini aku ada pertemuan penting, apa kau yakin benar ingin ikut?"
"Bukankah akan sangat membosankan jika aku berada di kamar terus menerus?"
"Pakailah mantel dan baju hangat yang sudah aku siapkan, aku menunggumu di bawah." Ruby mengangguk pelan dan segeran membasuh wajahnya dan gosik gigi, setelah itu ia memakai baju hangat dan mantel yang sudah Marco siapkan.
Terukir senyum tipis di bibir Marco saat ia melihat gadis itu menuruni anak tangga, " Bukankah sudah ku katakan jika aku bisa membuatmu luluh kepadaku?" Gumamnya lirih, lalu segera berdiri saat Ruby sudah berada di hadapannya.
Ruby mengikuti langkah Marco dari belakang dan masuk ke dalam mobil.
"Kau membawanya? Apa itu tidak bahaya?" Kata Stive yang sudah duduk di kursi samping pengemudi.
"Dia akan tinggal di ruangan ku untuk sementara ketika kita akan meninjau barang dan bertemu dengan Madam Saritem."
Stive pun hanya mengangguk mengerti dan sesekali melirik ke arah Ruby yang hanya terdiam sejak tadi masuk ke dalam mobil.
Sampainya di perusahaan Galo Company. Ruby bersikap biasa saja, sedangkan hatinya sedang memuji perusahaan Marco tersebut, selain megah arsitektur perusahaan Galo Company begitu elegan dan megah, jadi tidak heran jika Marco adalah orang yang terbilang sukses dengan usia muda. "Oh. Muda? Sejak kapan aku menilai dia muda?" Gumam Ruby dalam hati.
"Kau tunggu aku disini, jika kau butuh sesuatu kau cukup tekan tombol ini dan katakan apa yang kamu inginkan, mungkin aku akan sedikit lebih lama berada di luar." Ujar Marco menjelaskan adanya tombol berwarna merah untuk keperluan dirinya.
"Kamu tidak takut jika aku akan berbuat macam-macam di ruangan mu?"
"Betingkahlah dan aku tidak akan segan untuk menghukum mu." Bisik Marco di telinga Ruby.
Cup.
Marco bahkan mengecup kilas bibir Ruby sebelum ia meninggalkan gadis itu di dalam ruangan kerjanya.
Setelah kepergian Marco. Ruby mengitari ruangan kerja itu dengan rasa kagum saat melihat ruangan kerja mereka yang begitu tertata rapi dan bersih.
"Tidak ada debu sama sekali, dia benar-benar orang yang sempurna." Ruby memukul kepalanya sendiri saat ia lagi-lagi memuji pria yang ingin jauhi itu, tapi kini bukanua menjauh, Ruby seolah candu dan mulai terbiasa berada di dekatnya.
Karena belum sempat sarapan, perut Ruby terasa keroncongan, terlebih lagi di kuar sedang hujan salju, udara dingin seolah membuat perutnya sangat lapar.
Gadis itu menekan tombl merah tersebut lalu mengatakan apa yang ia ingin atau butuhkan.
"Tolong antarkan a full breakfast ke ruangan tuan Marco saat ini juga." Ucap Ruby saat ia menekan tombol merah tersebut.
A full breakfast adalah Makanan khas Inggris ini merupakan hidangan sarapan lengkap yang terdiri dari telur, bacon, sosis, kacang-kacangan, roti panggang, tomat, dan terkadang black pudding (sosis dari darah).
***
Di sisi lain Marco sedang meninjau barang yang akan mereka kirimkan segera kepada konsumen.
"Apa hanya ini yang tersisa?" Tanya Marco dengan menghisap satu batang rokok di tanganya.
"Ya, hanya ada ini yang tersisa, setelah ini terjual habis baru kita memproduksi barang yang baru dengan keaslian seratus persen. Apa kau setuju?"
"Seratus persen asli? Bukankah itu bisa membuat kesadaran orang benar-benar akan menghilang saat meminumnya?"
"Iya begitulah."
"Kita urus nanti jika semua barang ini sudah habis tak tersisa, Aku akan kembali ke perusahaan terlebih dahulu."
"Kau benar-benar khawatir dengan gadis itu?"
"Aku tidak suka kau terlalu ikut campur dalam urusan pribadi ku." Kata Marco dengan wajah dan tatapan yang datar.
"Baiklah aku mengerti." Jawab Stive yang langsung menyusul Marco yang berjalan ke arah mobil.
Di dalam ruangan Marco ternyata Ruby sedang tertidur di sofa setelah ia menghabiskan makan sarapannya.
Dengan tatapan tajam Marco kepada Stive. Pria itu tahu jika Marco melarangnya untuk ikut masuk ke dalam ruanganya.
Marco membuka mantel tebalnya dan juga jas yang ia pakai lalu menggantungnya di dekat kursi meja kerjanya. Kemudia ia mendekat Ruby yang tengah terpulas tidur di sofa.
Kedua netra Ruby pelan-pelan mulai terbuka karena merasakan wajahnya yang tersentuh oleh seseorang, dan siapa lagi kalau bukan ulah Marco yang membelai pipi Ruby.
"Kau sudah kembali? Kenapa cepat sekali? Aku bahkan masih mengantuk." Ucapnya lemah karena kantuk yang masih menyerang.
"Tidurlah lagi jika kamu masih merasa ngantuk, aku akan kembali bekerja."
"Kau sudah membangunkan aku dan kau malah ingin lanjut bekerja? Itu tidak adil bukan?"
Marco mengerutkan keningnya, ia merasa tabu dalam ucapan yang terlontar dari bibir gadisnya itu.
"Jadi apa yang kamu inginkan?"
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya