Kebahagiaan ku membuatku buta hingga mengabaikan kenyataan yang sesungguhnya, dan itu amat menyakitkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi wahyuningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poligami yang Sah!
Senyumku terbit mendengar apa yang diucapkan oleh Rena, sampai dia harus menyembunyikan kesalahannya dibalik pemahamannya tentang agama yang memang tidak pernah melarang siapapun untuk melakukan poligami. Aku tidak ingin berbicara secara agamis, aku juga cukup sadar bahwa aku tidak sedalam itu dalam mengimani islam ku.
“Apakah poligami itu sah di mata Allah saat poligami itu terjadi tanpa izin dari istri pertama? Lantas, kehidupan rumah tangga seperti apa yang Mbak Rena inginkan, padahal untuk membangun rumah tangga Mbak Rena juga menghancurkan hati wanita lain yang sebelumnya bahkan masih menjalani hubungan rumah tangga dengan suami mbak Rena,” tanyaku, jelas aku sangat membutuhkan jawaban dari pertanyaanku gitu. Kembali lagi, Aku tidak pernah membaca tentang hukum poligami karena aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan dipoligami oleh suamiku.
Rena terdiam untuk beberapa saat, Aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya saat itu. Tapi, lagi lagi Rena memang paling pintar menyembunyikan perasaannya seolah-olah dia tidak mengizinkan siapapun terutama aku untuk melihat dan menilai sekiranya Apa yang sedang dia pikirkan saat itu.
“Sah saja jika memang ada pria yang ingin berpoligami, asalkan dia bisa berlaku adil kepada dua wanitanya. Lagi pula, dengan atau tanpa izin darimu pernikahan kami berdua juga akan terjadi,” jawab Rena, bahkan aku bisa merasakan keraguan atas apa yang diucapkan oleh Rena sendiri.
Aku tersenyum, entah Rena pernah berpikir melalui sudut pandangku atau tidak, tapi sepertinya ilmu agama yang dimiliki oleh Rena terlalu dalam sampai dia hanyut oleh pemahamannya sendiri tak peduli benar atau tidaknya.
“Mbak Rena, Bagaimana bisa Mbak Rena percaya kalau Abang itu bisa adil? Syaratnya untuk berpoligami adalah harus bisa bersikap adil, bukan? Tapi, tidak ada satupun manusia yang bisa bersikap adil. Lagi pula, apa Mbak Rena pernah melihat para ustad dan pemuka agama yang melakukan poligami, dan ada yang benar-benar tanpa celah? Mbak Rena ini sedang bercanda, ya?”
Rena tampak menghela nafas, mungkin dia sadar bahwa posisinya mungkin saja tidak aman.
“Leora, memang benar tidak ada manusia yang dapat berlaku adil karena adil bukanlah sifat manusia. Bahkan, seorang hakim saja bukan hanya sekali dua kali melakukan kesalahan. Tapi, aku yakin sekali kalau Abang akan berusaha semampunya, adil mungkin selayaknya manusia.” ucap Rena yang terlihat meyakini sekali ucapannya sendiri.
Aku hanya bisa menghela nafasku, Aku tersenyum menganggap saja celotehan Rena itu mungkin saja memang benar.
“Leora, aku datang ke tempat ini benar-benar dengan perasaan yang sangat tulus. Aku juga berharap hubungan kita bisa seperti kakak dan juga adik, aku juga tidak merasa keberatan untuk menganggap Gozel seperti anak ku sendiri,” ucapnya.
Wah, aku terheran-heran sampai tidak tahan untuk tertawa.
Melihat aku tertawa, Rena nampak bingung tapi juga tidak mengatakan apapun soal itu.
“Berhubungan layaknya Kakak dan adik? Menganggap Gozel seperti anak sendiri? Mbak Rena ini sedang halusinasi atau apa, sih?” tanyaku, “setelah menghancurkanku dengan merebut suamiku, Mbak Rena masih mau menganggap anak yang sudah aku lahirkan dengan begitu banyak perjuangan, dan juga pedih hati sepanjang waktu karena aku mengetahui perselingkuhan kalian berdua di saat aku sedang kontraksi akan melahirkan. Mbak Rena, tidak usah repot-repot menganggap putriku sebagai anaknya Mbak Rena, anak aku pasti akan sangat malu memiliki Ibu seperti Mbak Rena, jadi aku harus menjaga perasaan anakku. Aku harap, Mbak Rena tidak mengatakan seperti yang Mbak Rena katakan itu,” ucapku kesal.
Rena sempat tertunduk untuk beberapa saat, Sepertinya dia merasa bersalah untuk apa yang terjadi padaku. Namun, anehnya aku masih bisa melihat keegoisan darinya yang masih ingin melindungi harga dirinya.
“Aku tidak berselingkuh dengan Abang, hubungan kami bisa dibilang taaruf karena kami juga tidak berpacaran sama sekali,” ucap Rena, seperti yang aku katakan dia mencoba untuk melindungi harga dirinya. Mungkin, dia juga ingin melindungi harga diri suamiku yang sepertinya sudah sangat buruk di mataku.
“Mbak Rena datang ke kontrakan ini ingin melawak atau apa, sih? Taaruf kata Mbak Rena? Taaruf kok dengan suaminya orang, eh Apa mungkin kalau dengan orang yang single Mbak Rena tidak berhasil?” tanyaku, jelas saja pertanyaan itu sekaligus menjurus kepada penghinaan.
Rena nampak menggigit bibir bawahnya, Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi berbicara denganku terbukti dengan matanya yang memerah menahan tangis.
“Sepertinya, sulit bagimu untuk mengontrol emosi. Sekeras aku mencoba untuk menjelaskan padamu, dan memberikan pengertian dengan cara yang baik dan juga sopan, kau tidak bisa menerimanya. Aku pulang saja dulu, Maaf mengganggu waktumu, leora.” ucap Rena, dengan segera dia bangkit dari duduknya dan keluar dari kontrakan.
“Assalamualaikum,” ucap Rena sebelum dia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke mobilnya.
Aku tidak ingin menjawab salam yang diberikan Rena padaku, Maka itu aku hanya diam saja dan membiarkan sepasang mataku terus memperhatikannya sampai dia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah kontrakanku.
Sungguh, aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang seperti Rena yang seolah-olah sangat banyak ilmu agama dan juga sosial yang dia punya. Akan tetapi, Entah mengapa di mataku dia seperti tong kosong yang tidak memiliki isi sama sekali di setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
Aku masuk ke dalam, dan segera aku menutup pintu kontrakan. Aku masuk ke dalam kamar, menemani Gozel di sana sampai akhirnya suamiku pulang sekitar pukul 08.00 malam.
“Assalamualaikum...” ucap suamiku sembari membuka pintu kontrakan yang sudah aku buka kuncinya.
“Waalaikumsalam,” jawabku.
Suamiku berjalan sampai ke ruang tengah, sepatunya sudah dia lepas begitu dia mau masuk dan dia letakkan di rak sepatu bersebelahan dengan pintu utama.
“Sayang,” Panggil suamiku. “Tadi Rena datang ke sini?”
Aku sejenak terdiam sebelum pada akhirnya aku menjawab, “Iya. Kenapa?”
Suamiku nampak menghela nafasnya, tapi entah kenapa respon itu membuatku kesal padahal Suamiku belum mengatakan apa pun.
“Iya, tadi dia menghubungi Abang. Dia sepertinya menangis, memang pembicaraan apa yang kalian bahas?” tanya suamiku penasaran.
Aku tersenyum, menangis katanya? Padahal, aku yakin sekali usia Rena pastilah jauh lebih dewasa daripada aku. Bahkan, wajahnya saja terlihat lebih tua daripada suamiku, tapi kenapa dia selebay itu sampai obrolan sedikit saja membuatnya menangis?
“Aku tidak tahu pembicaraan yang mana yang membuat Mbak Rena menangis, lagi pula aneh sekali kalau dia menangis bukan? Padahal, suamiku yang direbut olehnya, tapi kenapa dia yang menangis? Mungkin, istilah makin tua makin menjadi memang cocok dan akan mulai bekerja di usia Abang dan mbak Rena.”
sama ibuku di bawah pergi ke Jakarta dr Jogjakarta. sampai lulus sma sy baru nyari bpkku, bukan apa2 minta tabggung jawab utk kuliah thn 80 an. ketemu minta niayackuliah.dia sfh bahagia dgn pelakor dan anak2nya.
sakit hati dan dendam, sy tdk pernah menyalahkan ibunsy. sy juga perempuan bisa merasakan sakit hati ibu. setelah lulus kuliah sy kerja diperusahaan besar. dan sy sdhbtdk pernah liat dan datang lg kerumah bpk saya . tdk sudi banget..dpt kabar bpk koma pemhulih darah pecah 3 bln di rscm. sy tdk pernah datang utk liat.najissssssss. di hubungi oleh kakaknya bpk.klu bpk sy mau ketemu. udh sakratul maut. dg terpaksa sy datang. sy bisikin apa coba.. cepat matilah kau pejaga neraka sdh nunggu. bpk sy menangis dlm koma. emang gw fikirin!!! 2 hr kemudian mampus tuh org tua. dikabarin. sy tdk datang..sudi amat sampai skrg saya tdk pernah ziarah.