Sebuah takdir mempertemukan keempat gadis cantik dengan masa lalu yang kelam. Penghianatan, kebohongan, mereka rasakan dan terima dari orang-orang terdekatnya. Luka di masa lalu membuat mereka bangkit dan bersikeras untuk membalas dendam pada semua orang yang pernah menyakitinya di masa lalu. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan besarnya itu. Keempat gadis ini sosok yang sangat cerdik dan berbakat. Kehadiran mereka bagaikan bom peledak yang kapanpun bisa menghancurkan. Karena tekad kuatnya itu, di masa depan nanti dunia akan berada dalam genggamannya. Mereka inilah yang terlahir sebagai, "Queen of the World".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Yais, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGUNJUNGI RUMAH CLARIS
Melihat sebuah mobil yang keluar dari rumah itu, Jun Myeon langsung mengikutinya. Setelah mengantar Layla pulang, Ji-Hoon langsung kembali ke kantor. Di tengah perjalanan dia mendapat telepon dari Jun Myeon.
"Halo, ketua."
"Ada apa?"
"Orang yang kau bilang tadi baru saja keluar. Sepertinya dia pergi dengan salah satu gadis itu. Tapi aku tidak tahu siapa."
"Baguslah. Terus ikuti mereka."
"Baik."
Hari sudah sore. Anya merasa cemas karena putrinya Xenia belum juga pulang. Dia mencoba menghubungi ponselnya tapi mati. Lantas dia menghubungi ponsel Jae Sung selaku sopir putrinya.
"Halo, nyonya."
"Apa kau bersama putriku?"
"Ya."
"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkannya. Kalian dimana?"
"Nona memintaku untuk membawanya ke salon. Dia bilang ingin mengganti model rambutnya."
"Baiklah, jaga putriku baik-baik. Bawa dia kembali dengan aman."
"Baik."
Dalam perjalanan, anak buah Jasmine merasa curiga dengan mobil yang ada di belakangnya. "Sepertinya ada yang mengikuti kita, nona." ucap anak buahnya.
Saat dilihat ke belakang, lagi-lagi anak buah Ji-Hoon yang mengikutinya. Jasmine meminta anak buahnya untuk membawa dia ke jalanan yang sepi. Dia akan buat perhitungan padanya. Jun Myeon merasa heran kenapa Jasmine melintasi jalanan sepi. Tidak lama mobil yang ditumpangi Jasmine berhenti.
"Kenapa mobilnya berhenti? Siapa yang akan dia temui di tempat sepi seperti ini?" ucapnya bingung.
Terlihat Jasmine keluar dari mobil. Dia pergi menemui Jun Myeon di belakang.
"Keluarlah!" pinta Jasmine.
"Dia tenyata tahu jika aku mengikutinya." ucap Jun Myeon.
Jasmine menatap anak buahnya untuk melakukan sesuatu.
"Kenapa kau mengikutiku? Apa tidak ada pekerjaan lain?" tanya Jasmine.
"Aku..."
"Ah, sudahlah. Pasti Ji-Hoon yang sudah menyuruhmu untuk mengikutiku bukan?"
Ketika mereka sedang berbincang, secara diam-diam anak buah Jasmine mengempesi ban mobil Jun Myeon.
"Bisa aku meminjam ponselmu?" pinta Jasmine.
"Untuk apa?"
"Pinjam saja sebentar."
Jun Myeon memberikan ponselnya pada Jasmine. Dia menyuruh anak buahnya untuk melanjutkan perjalanan. Sementara ponsel Jun Myeon dia bawa bersamanya.
"Ponselku..."
"Kau ambil saja ponselnya sendiri saat aku tiba di rumah nanti." ucap Jasmine melangkah pergi.
"Ayo kita pergi!" ucap Jasmine pada anak buahnya.
"Baik, non."
Saat Jun Myeon akan mengejarnya, dia melihat semua ban mobilnya kempes. Dia terlihat sangat kesal.
"Menyebalkan! Jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak mau menerima tugas itu dari ketua." gerutu Jun Myeon.
"Bagaimana ini? Tidak mungkin ada bengkel di tempat sepi seperti ini. Mana ponselku dibawa gadis itu lagi..." Jun Myeon kebingungan. Dia terpaksa berjalan untuk mencari taksi sementara mobilnya ia tinggal di sana.
***
Hari sudah malam. Jasmine tiba di rumah Claris. Rumah yang tidak terlalu besar hanya saja halaman depannya yang cukup luas. Terlihat adik laki-laki Claris yang sedang menemani ayahnya di luar. Jasmine datang menghampiri mereka.
"Permisi!"
"Kau mencari siapa?" tanya adik laki-laki itu.
Tidaka lama Claris keluar. Dia sangat terkejut melihat kedatangan Jasmine.
"Untuk apa kau datang kemari?" Claris sepertinya tidak menerima kedatangan Jasmine. Dia meminta adik laki-lakinya supaya membawa sang ayah masuk.
"Pergi dari rumahku sekarang juga!" pinta Claris.
"Aku bisa membantu perekonomian keluargamu." ucap Jasmine. "Kau tidak perlu masuk dalam timnya Xenia."
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kau mengatakan seperti itu karena ada niat tersembunyi bukan?"
"Aku tidak memiliki niat apapun. Aku hanya tulus ingin membantumu. Karena dulu aku juga pernah berada di posisi sepertimu." ucap Jasmine.
"Aku tidak bisa lama-lama. Jika kau berubah pikiran, datang lah ke alamat rumah ini." ucap Jasmine sambil memberikan alamat rumahnya. Saat mereka di luar, sang adik datang menemui kakaknya.
"Kak, aku sangat lapar. Di kulkas semua bahan makanan sudah habis. Beras pun tidak ada." ucap adiknya.
Claris merasa sangat sedih. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dia tidak bisa menghidupi ayah dan adiknya dengan baik. Dia sering kali meminjam uang pada tetangganya untuk membeli beras dan lauk. Tapi tidak lagi sekarang karena hutang yang kemarin belum ia lunasi.
"Aku akan memesan makanan untuk kalian." ucap Jasmine sambil mengelus kepala adik laki-laki itu.
"Jangan pura-pura baik seperti itu." ucap Claris.
"Terserah apa yang kau pikirkan. Tapi setidaknya pikirkan adik dan ayahmu. Apa kau akan membiarkan mereka terus kelaparan? Jika kau tidak mau menerima sesuatu dariku, tidak apa-apa. Tapi jangan halangi aku untuk memberikan sesuatu pada adik dan ayahmu. Harga dirimu itu sangat tinggi. Adikmu kelaparan saja kau masih menolak bantuanku."
"Jangan memarahi kakakku." ucap adik laki-laki itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Oh iya,, siapa namamu?" tanya Jasmine.
"Clay."
"Oke Clay, aku akan memesan makanan enak untukmu. Apa kau bisa menunggunya?"
"Tentu."
Jasmine menyuruh anak buahnya untuk membeli makanan. Clay membawa Jasmine masuk ke dalam. Clay memberitahu Jasmine jika dia putus sekolah karena harus menjaga ayahnya yang sedang sakit.
"Ayahmu sakit apa?" tanya Jasmine.
"Dia mengalami kecelakaan saat mengantarku ke sekolah. Dokter bilang kakinya itu lumpuh. Jika ayah melakukan trapi mungkin dia sudah bisa berjalan kembali. Tapi kakak tidak punya biaya yang cukup untuk itu."
"Berapa usiamu?"
"Dua belas tahun."
Dari dalam kamar, Claris hanya mendengar perbincangan mereka. Dia merasa sangat sedih karena tidak bisa memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya. Sudah cukup lama berbincang, akhirnya sopir tiba. Dia membuka bagasi mobilnya dan membeli banyak bahan makanan.
"Tolong bawa ke dalam semua bahan makanan itu." pinta Jasmine pada sopir.
"Baik, nona."
"Banyak sekali makanannya." ucap Clay.
"Ini untuk kebutuhan sehari-hari kau dan ayahmu." jawab Jasmine.
Jasmine menghidangkan makanan yang sudah jadi di meja makan. Banyak makanan yang ia pesan untuk makan malam mereka. Clay pergi menemui kakaknya di kamar. Tidak lama dia keluar dan melihat makanan yang sudah siap di meja makan. Clay mengajak kakaknya itu untuk melihat isi kulkas mereka.
"Kakak itu membuat kulkas kita terisi dengan penuh." ucap Clay.
"Tidak perlu memberikan kami semua ini," ucap Claris.
"Aku memberikannya untuk adik dan ayahmu. Aku tidak memintamu untuk menerimanya. Tapi ingatlah! Kau tidak hidup seorang diri. Adik dan ayahmu membutuhkan semua ini." ucap Jasmine.
Tidak lama Jasmine menemui Clay untuk berpamitan.
"Aku harus segera pulang. Jaga dirimu dan ayahmu." ucap Jasmine.
"Apa kau akan berkunjung lagi kemari?" tanya Clay.
"Tentu saja. Kalau begitu aku pergi dulu. Dah..."
"Dadah..."
****
Malam itu, Bara pulang lebih awal. Saat di meja makan, tidak lama Xenia datang dan ikut bergabung dengan mereka. Raut wajah Xenia tidak seceria biasanya.
"Aku suka dengan gaya rambut barumu itu," puji Bara pada adiknya.
Xenia mengabaikan semua orang. Bahkan dia tidak menjawab pujian kakaknya itu. Sebagai seorang ibu, Anya tahu jika anak gadisnya itu sedang ada masalah.
"Kau kenapa sayang?" tanya Anya lembut.
"Aku tidak suka dengan rambut baruku ini." ucap Xenia dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kau tidak suka, kenapa kau memotongnya?" tanya Anya.
"Semua gara-gara gadis itu." ucap Xenia terlihat kesal.
"Gadis yang mana? Apa kau bermasalah dengan salah satu gadis yang ada di kampus?" tanya Bara.
Xenia menceritakan kejadian tadi siang pada semua orang.
"Apa mereka sudah dihukum?" tanya sang ayah.
"Sudah, tapi hukumannya sangat ringan. Mereka hanya dijemur di lapangan selama tiga jam." jawab Xenia.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menemui dan memberikan pelajaran pada gadis itu." ucap Bara terlihat marah saat tahu adiknya diperlukan buruk oleh ketiga gadis itu.
Bara langsung pergi untuk menemui gadis itu. Anya terlihat khawatir karena putranya itu pergi dengan rasa marah. Dia takut terjadi apa-apa padanya di jalan.
"Tolong hentikan putramu itu, suamiku." pinta Anya pada Jihan.
"Biarkan saja dia membalas sikap kasar mereka pada Xenia. Kenapa aku harus menghalanginya?"
"Tenanglah ibu. Kakak pasti akan baik-baik saja." ucap Xenia.
****