NovelToon NovelToon
The Two Empresses

The Two Empresses

Status: sedang berlangsung
Genre:Petualangan / Supernatural / Contest / Mengubah sejarah / Perperangan / Romansa Fantasi
Popularitas:61.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saciel Arakawa

Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.

Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.

Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?

Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.

Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nightmare of a Witch

Normal POV

“Apa hanya segini saja?” celetuk Max sembari mengamati wajah lelap Saciel di depannya dengan tatapan datar, meski di dalam kepalanya masih tidak yakin gadis kecil nan imut itu adalah penyihir yang ia benci.

“Tenang, kita akan melompat ke kejadian tiga tahun setelahnya. Tragedi yang mengubah segalanya,” ujar Saciel sembari meraih sebuah kepingan cahaya di dekatnya dan menatapnya cukup lama. Ia menghela napas dan melemparnya ke udara, mengubah ilusinya dan kini mereka mendarat di padang bunga forget-me-not yang memikat para bocah untuk menikmati semburat biru keunguan dari bunga-bunga tersebut.

“Hei, kapan aku bisa bertemu kembaranmu?” celetuk Nero sambil tak henti-hentinya menatap Cerlina yang sibuk merangkai mahkota dari bunga tersebut.

“Yah, aku tidak yakin soal itu. Semoga saja secepatnya,” jawab Saciel sekenanya, agak tidak rela Nero mendadak tertarik pada saudari kembarnya.

“Ciel, berikan bunga warna lain!” sahut Cerlina sembari memamerkan mahkotanya. Phillip menggeleng dan bangkit berdiri, berjalan meninggalkan mereka sebentar dan kembali dengan seikat bunga cosmos berwarna merah gelap yang menebarkan aroma cokelat berpadu vanila yang sangat memikat.

“Ini hanya ingatan, tapi aku bisa mencium aromanya,” celetuk Max.

“Sihir ingatan mampu mengingat segalanya, bahkan aroma sekalipun. Kau bisa merasakannya berkat sihir ini,” balas Saciel sembari mengulum senyum saat dua gadis kecil tersebut berebut menerima buket bunga sederhana dan berakhir dengan Phillip membagi dua buket tersebut, lalu memberikannya pada mereka.

“Bunga apa itu, Kak?” celetuk Kezia sembari mengamati bunga itu lekat-lekat.

“Chocolate cosmos. Bunga yang tumbuh di benua Xalapa yang memiliki iklim hangat dan penghasil cokelat terbaik di Arkhenia. Bunga ini kadang dijadikan bahan makanan dan juga dekorasi kue,” papar Saciel. Dengan cekatan Cerlina langsung merangkainya hingga menjadi mahkota bunga yang sempurna.

“Cantik sekali,” puji Phillip tulus. Cerlina hati-hati meletakkan mahkota bunga itu di atas kepala Phillip dan tersenyum lebar melihat hasil karyanya.

“Kak Phillip terlihat ganteng,” celetuk Saciel kecil.

“Mana ada, bodoh. Terima kasih, Lina. Mahkotanya cantik sekali,” ujar Phillip kecil. Cerlina kecil mengangguk dan memberikan satu lagi untuk Saciel kecil, begitu pula sebaliknya. Kini mereka larut dalam tawa kebahagiaan dengan mahkota bunga bertengger di kepala mereka. Namun kebahagiaan mereka sirna ketika suara ledakan terdengar dari kediaman Arakawa.

“Apa yang terjadi?” tanya Kezia.

“...kau akan mengetahuinya,” balas Saciel sembari memindahkan mereka ke kediaman dan melihat Marie dan Daisuke tengah menghadang tamu tak diundang di depan pintu masuk dengan para pelayan. Para bocah yang baru kembali langsung dihadang kepala pelayan agar tidak masuk lebih dalam.

“Sebaiknya Nona-nona dan Tuan Muda tidak perlu masuk,” ujarnya.

“Kenapa? Apa yang terjadi?” jerit Saciel kecil. Jeritan tersebut mengalihkan perhatian para tamu dan salah satunya adalah Tetua Yorktown.

“Siapa dia?” tanya Nero.

“Salah satu petinggi para tetua, Yorktown,” balas Saciel sembari mengepalkan kedua tangannya hingga memutih. Tetua Yorktown menyeringai.

“Kebetulan subyeknya datang. Daisuke, kurasa kita bisa mempersingkat waktu tentang urusan itu,” ujarnya sembari mengarahkan tongkat jalannya pada para anak-anak. “Cerlina akan ikut denganku sebagai calon Pendeta Agung yang berikutnya.”

“Persetan! Sejak kapan anak bangsawan menjadi Pendeta Agung? Kalian tidak akan mengambil anak-anakku!” maki Daisuke sembari mengeluarkan pedang dari lubang hitam di sampingnya. “Ini hanya akal-akalan kalian untuk meruntuhkan kekuatan kami.”

“Daisuke, sejak kapan kau melanggar sabda yang turun dari Dewa Oorun? Ini tidak seperti dirimu,” balas Tetua Yorktown.

“...aku tidak sebakti itu pada Oorun, Yorktown. Kalau kau bersikeras merebut anakku, berarti kau siap berperang denganku,” balasnya. Marie berpaling pada anak-anak dengan mata berlinang.

“Lari!”

Sang kepala pelayan langsung menggendong dan berlari meninggalkan tempat itu, diikuti beberapa pelayan di belakang untuk membantu menghalangi pengejar.

“Mama! Papa!” panggil Cerlina kecil sembari berusaha keras untuk memberontak, namun Albert tetap menahannya dan terus berlari masuk ke dalam hutan yang membuat Saciel sedikit bergidik karena mengingat memori menakutkan yang pernah terjadi waktu itu. Tidak mereka pedulikan jerit kesakitan dari para pelayan yang menjadi garda depan demi melindungi anak-anak.

“Albert, turunkan aku!” sahut Phillip tenang.

“Maaf, Tuan Muda. Saya tidak mungkin menurunkan Anda saat situasi kita sedang tidak baik-baik saja. Tolong bersabarlah, kita akan segera meninggalkan wilayah Arakawa dan mencari bantuan dari Seven Eternal Wi…” kata-katanya terputus ketika ia berhenti dan melihat Tetua Erika berdiri di sisi luar hutan yang lain bersama dengan pasukan prajurit. Seraut wajah penuh kemenangan dari penyihir wanita tua itu menjadi bendera kematian bagi Albert.

“Ternyata benar, kalian pasti akan kemari untuk kabur. Nah, permainan sudah berakhir, berikan Cerlina Arakawa padaku. Yang lain kupastikan tidak akan disakiti,” ujar Tetua Erika. Albert perlahan menurunkan anak-anak dan mengeluarkan pedang, mengarahkan mata pedangnya pada pasukan Tetua Erika.

“Kehormatanku adalah melindungi Nona Cerlina, Nona Saciel dan Tuan Muda Phillip. Kalian tidak akan bisa merenggutnya dariku,” balas Albert. Tetua Erika berdecih.

“Bunuh dia.”

Albert langsung membuat perisai untuk melindungi anak-anak dan maju menyerang para prajurit dengan kecepatan di luar nalar, bahkan untuk para demi human yang menonton kilasan ingatan milik Saciel. Satu per satu semua tumbang tanpa ada yang mati, tinggal Tetua Erika dan Albert yang masih berdiri di gelanggang penuh gejolak sihir yang memanas.

“...ah, aku lupa kau ini bukan penyihir biasa. Tapi, apa kau yakin bisa mengalahkanku?” ujar Erika sembari menjentikkan jarinya dan ratusan pedang terbang di belakangnya, siap untuk ditembakkan kapanpun.

“Gila, dia ternyata hebat juga,” puji Max, setengah mencela. Saciel hanya mengangkat bahu, menyaksikan pertarungan dahsyat antara sang kepala pelayan Arakawa dengan salah satu pendiri tetua. Albert mampu mengimbangi kecepatan tembakan pedang yang dilontarkan, namun seiring waktu berjalan ia makin melambat dan luka perlahan mulai menghiasi tubuhnya yang sudah tidak muda lagi. Tetua Erika mengulum senyum.

“Albert, tunjukkan kekuatanmu sebagai mantan jenderal perang. Jangan ragu, itu hanya membuatmu terlihat lemah saat ini,” ejeknya. Albert menggeleng.

“Melawanmu tidak perlu sekuat tenaga, Erika. Aku hanya mengalah sedikit untuk memberi waktu pada Tuanku,” balasnya tenang. Sebelum Tetua Erika memahami apa yang dimaksud, tembakan anak panah melesat cepat dan menusuk pundak Tetua Erika. Ia mengangkat wajah dan melihat Marie berada di atas sapu terbang dengan panah yang baru saja menembakkan anak panah yang menancap di tubuhnya.

“Hm, Marie ternyata. Percuma saja kau mengganggu…hei, di mana anak-anak?!” jeritnya saat ia tidak melihat anak-anak di balik perisai yang dibuat Albert. Daisuke perlahan menampakkan diri bersama anak-anak di belakangnya, pedang berlapis api siap di tangan.

“Erika, menyerahlah. Cerlina tidak akan menjadi Pendeta Agung seperti apa yang kau inginkan,” ujar Daisuke tegas. Max mengerucutkan bibirnya, kecewa akan akhir yang biasa saja.

“Yang benar saja?” celetuknya.

“Ini belum berakhir,” balas Saciel tenang. Tetua Erika hanya diam, namun senyumnya merekah ketika seorang prajurit yang muncul entah darimana menusuk tepat di perut dari belakang, menciptakan kerusuhan dan teriakan dari anak-anak. “Kerja bagus.”

“Daisuke!”

“Papa!”

Daisuke jatuh berlutut, namun dengan cepat memindahkan anak-anak ke tempat lain yang jauh dari jangkauan. Albert berniat menolong, namun Tetua Erika menghentikannya dengan sabetan pedang besar yang menyilang di punggungnya. Ia tertawa puas dan menembakkan pisau ke arah Marie, namun wanita itu berhasil mengelak sebelum mengenainya.

“Menjauhlah!” sahut Daisuke sembari mengerang menahan rasa sakit. Marie menggelengkan kepala.

“Ini jebakan…untuk memisahkan kita…”

“Oh, kau cukup cerdas. Sayang, tidak secerdas yang kukira,” ujarnya sembari mengetuk tanah dua kali dan memamerkan anak-anak yang muncul dengan tangan terikat oleh rantai sihir.

“Bagaimana…” kalimat Marie terputus ketika salah satu tetua muncul setelah anak-anak dengan membawa potongan kepala salah satu pelayan Arakawa. Daisuke meraung.

“BAJINGAN! KAU MEMANG KEPARAT! JANGAN SENTUH ANAK-ANAKKU DENGAN TANGAN KOTORMU!”

“Nah, lihat aku, bocah. Kau akan pergi bersamaku, tanpa campur tangan orang tuamu,” ujar Tetua Erika sambil menarik paksa dagu Cerlina kecil yang menangis ketakutan melihatnya. Saciel dan Phillip memberontak, menendang Tetua Erika dengan tenaga mereka yang hanya membuang energi mereka. Tanpa pandang bulu dipukulnya dua anak lain hingga mereka berdarah, memantik api kebencian di dalam Daisuke dan Marie.

“Jalang! Jangan kau lukai anak-anakku!” maki Marie sembari menembakkan anak panah dan membekukan tangannya, lalu memberikan tembakan selanjutnya yang mematahkan tangan wanita itu. Daisuke mencabut paksa pedang yang menancap di punggungnya dan memberikan pukulan telak di wajahnya sambil merenggut paksa dua anak, namun Cerlina gagal diraih karena Tetua Erika melemparkannya sebelum tangannya mampu menyentuhnya. Gadis kecil berambut ungu itu langsung ditangkap oleh seseorang bertudung hitam kelam, nyaris tidak bisa menampakkan wajahnya bahkan bibirnya sekalipun.

“Lepaskan Lina!”

“Kau akan bertemu dengannya kelak, di kehidupan berikutnya mungkin. Kita pergi, Erika,” ujar si bertudung sembari berbalik membawa Cerlina yang meraung-raung memanggil orang tua dan saudaranya.

“Lina!” jerit Saciel sembari mencoba mengejar dengan kaki kecilnya, namun ia jatuh tersandung batu dan dagunya berdarah terbentur tanah yang keras hingga membuatnya menangis. Phillip bergegas membantu dan memeluk Saciel, menahan air mata yang menumpuk. Namun tangisan gadis kecil di pelukannya menghancurkan benteng pertahanan hingga ia pun larut dalam tangis.

“CERLINA!”

Tiba-tiba semuanya gelap, membuat Kezia menjerit panik dan memeluk Nero yang ada di dekatnya. Perlahan cahaya mulai menerangi ruang memori itu, namun para demi human terkejut ketika pemandangan padang bunga menjadi abu-abu.

“Apa yang terjadi?” tanya Kezia.

“...semua pemandangan langsung suram setelah kehilangan Cerlina. Tidak ada kebahagiaan, tidak ada tawa riang, yang ada hanyalah suasana tegang akibat peperangan yang pecah lagi setelah seminggu Cerlina diambil paksa. Tapi…” wanita berambut merah itu tidak melanjutkan ceritanya, membiarkan mereka terpaku pada kehadiran Phillip yang datang dengan wajah muram. Wajah mungil nan elok harus menerima perban yang menutupi sebelah matanya akibat pukulan keras yang dilakukan Tetua Erika. Saciel yang duduk sendiri di padang bunga menoleh, air mata mengalir deras di kedua pipinya.

“...Ciel, jangan menangis. Aku akan selalu bersamamu dan kita akan menyelamatkan Lina bersama,” ujarnya lirih. Saciel kecil terdiam, memetik bunga forget-me-not di dekatnya dan mengulurkannya pada Phillip dengan senyum tulus.

“Maukah Kakak berjanji?”

“Janji apa?”

“Jangan tinggalkan kami?” pintanya lirih. Phillip termangu, lalu berlutut layaknya ksatria dan memasang ekspresi datar seperti biasanya.

“Aku, Phillip Arlestine, akan setia dan selalu melindungi keluarga Arakawa hingga titik darah terakhir. Aku adalah ksatriamu dan Cerlina. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membelot darimu,” sumpahnya. Saciel bengong, namun tawa kecil meluncur dari bibirnya.

“Kalo begitu Kak Phillip, janji ya akan selalu bersama kami?” balasnya dengan senyum merekah.

Saciel langsung menghentikan kepingan memori dan terkejut melihat Kezia menangis di pelukan Nero, mata sembab dari Nero dan ekspresi bersalah dari Max. Mereka kembali ke realita dan Bibi Claudia datang dengan teh dan kudapan manis yang baru saja selesai dibuat.

“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Bibi Claudia, heran dan penasaran dengan apa yang terjadi.

“Hanya membuka memori menyakitkan,” balas Saciel tenang, menuangkan secangkir teh dan menyeruputnya tanpa gula.

“...ah, kenapa aku tidak melihat Bibi di dalam ingatan Kak Ciel?” tanya Kezia sembari membersit hidungnya.

“Ah, Bibi Claudia baru bergabung menjadi bagian keluarga Arakawa setelah perang berakhir. Untuk detailnya akan kuceritakan di lain waktu,” balas Saciel. “Bibi, apa Phillip ada di kamarnya?”

“Saya tidak yakin, Nona. Terakhir saya lihat Tuan Muda keluar vila, tapi beliau tidak memberitahu saya mau pergi ke mana,” balas Bibi Claudia. Saciel diam, lalu berdiri meninggalkan ruang tamu dan membiarkan kakinya berjalan sesuka hati. Langkahnya terhenti ketika sosok orang yang ia cari terlihat di padang bunga mawar kaca yang memantulkan cahaya dari Lumen Orb yang ada di sekeliling Phillip. Sebelum gadis itu memanggilnya, ia sudah berbalik dengan ekspresi datar.

“...kau masih berniat membuat kontrak dengan iblis itu?” tanya Phillip.

“Tentu saja. Anjing neraka akan sangat membantu di kemudian hari, walau itu akan merusak nama baikku sih,” balas Saciel mantap. Phillip terdiam, lalu menghela napas kesal dan menjitak kepalanya cukup keras hingga ia mengaduh.

“Bodoh, kau tidak akan kubiarkan ternodai. Kalau memang itu keputusanmu, aku akan menuruti untuk kali ini. Tapi janji padaku, kau tidak akan mati,” balas Phillip ketus. Saciel langsung melompat memeluk Phillip dan tertawa riang.

“Aku tidak akan mati semudah itu jika kakakku terus mendukungku. Jangan khawatir, membunuh anjing neraka tidak sesulit itu.”

1
Srirahayu Rahmadani
mmm
Mega AK
lanjut
@aini*_Thalita
semangat Thor
salam dari Carlos'Revenge
Mega AK
lanjutkan
Mega AK
lanjut
Langit Malam
Semangat dan terus semangat ya kak..

Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
Ania Haris Riyadi
seru banget ceriranya tor
Vronc
menarik sekali
Vronc
menarikkk
Shine
Hallo author, ijin promote, yuk baca novel ku yang berjudul " Pesonamu Memikat Hatiku " yang baru saja update episode, cerita nya menarik loh, jangan lupa tinggalin like, comment, dan share ya dan jangan lupa untuk terus baca ya chapter selanjutnya
Ayu Ungraini
ceritanya seru
@aini*_Thalita
semangat Thor
After.Story
aku mampir nih
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya

AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Dinda Natalisa
Hai author aku mampir nih kasih like jangan lupa mampir di novel ku "menyimpan perasaan" mari saling mendukung.
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Senja
Lanjut kakak. Dapet salam dari Senja dan Zona berondong, jangan lupa mampir
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌 👍
Melisa: mampir juga di novelku kk.

judulnya KESUCIAN YANG TERNODA.

mohon dukungannya ya kk.
terima kasih.🙏
total 1 replies
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌
Dewi Masita
k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!