Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.
Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.
Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.
Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—
God Rank, ranah sang Dewa Perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pewaris Barat
Selasar marmer putih yang menghubungkan taman dalam dengan area aula pertemuan utama terasa semakin bising oleh derap langkah dan gaung obrolan ribuan murid baru. Elena Aurelius masih berjalan di tengah dengan langkah kaki yang ringan dan penuh energi, sementara Sylvia Frost berjalan di sisi kirinya sembari sesekali mendekap kertas konfirmasi asramanya dengan jemari yang masih sedikit kaku. Sander Duster sendiri melangkah di sisi kanan mereka, menjaga ritme jalannya tetap konstan dengan pandangan lurus mengamati situasi di sekitar.
Lencana Frost Wolf perak di dada kiri Sander dan lencana serigala es milik Sylvia yang berjalan berdampingan dengan Putri Pertama kerajaan terus memicu pandangan segan dari setiap kelompok bangsawan yang mereka lewati. Kombinasi antara kekuatan militer Utara dan otoritas takhta mengunci mulut para pengkritik yang sebelumnya sempat berbisik miring mengenai rumor sirkulasi energi Sander.
Namun, sebelum mereka benar-benar mencapai pintu gerbang aula utama yang dijaga oleh barisan ksatria berbaju zirah perak, sesosok pemuda melangkah keluar dari arah jalur persimpangan barat taman. Kehadiran pemuda tersebut langsung memutus perhatian kerumunan orang di sekitarnya karena penampilannya yang luar biasa mencolok dan memancarkan karisma yang sangat berbeda.
Pemuda itu berusia empat belas tahun, memiliki postur tubuh yang tegap dengan tinggi badan yang hampir setara dengan Sander. Rambutnya yang berwarna perak keputihan dipotong rapi, membingkai wajahnya yang tampak tegas namun tenang. Sepasang matanya yang berwarna hijau zamrud memancarkan kilatan kecerdasan yang sangat tajam dan penuh observasi, menandakan bahwa ia adalah tipe orang yang lebih suka menganalisis keadaan sebelum bertindak. Ia mengenakan jubah sutra abu-abu berkerah tinggi dengan lencana elang perak yang terukir indah di atas lempengan batu zamrud di dada kirinya.
Dia adalah Gideon Valentine, putra bungsu dari Grand Duke Vane Valentine, sang penguasa wilayah dataran barat Elegrand Kingdom yang dikenal dengan julukan Ksatria Elang Perak.
Berbeda dengan sebagian besar anak bangsawan tinggi yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat dan dikelilingi oleh barisan pengawal pribadi yang kaku, Gideon berjalan sendirian dengan kedua tangan yang dimasukkan santai ke dalam saku jubahnya. Tidak ada riak Life Energy berlebih yang ia pancarkan secara sengaja untuk mengintimidasi orang lain, meskipun statusnya sebagai ksatria ranah Silver Rank di usia muda sudah menjadi rahasia umum di kalangan petinggi kerajaan.
Saat pandangan mata hijau zamrud milik Gideon bergeser melintasi koridor, ia langsung mengenali sosok Elena dan lambang Frost Wolf yang berada di dada Sander. Sebuah senyuman tipis yang sangat ramah dan tulus mengembang di wajah tampannya. Ia mengubah arah langkah kakinya, berjalan santai menghampiri kelompok Sander tanpa menunjukkan gelagat politik atau niat buruk tersembunyi.
"Selamat sore, Tuan Putri Elena," sapa Gideon dengan nada suara yang sangat tenang, halus, dan penuh dengan etika kesopanan seorang bangsawan tinggi yang tanpa cacat. Ia memberikan sebuah lambaian hormat kecil dengan menundukkan kepalanya sedikit, sebelum beralih menatap Sander dan Sylvia bergantian. "Dan melihat lencana luar biasa di dada kalian berdua, Anda pasti Tuan Muda Sander Duster dari Aethelgard, dan Nona Sylvia Frost. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan kalian di hari pertama akademi ini."
Elena tertawa renyah melihat kehadiran pemuda perak tersebut, langsung melambaikan tangannya dengan akrab. "Ah, Gideon! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini di pelataran dalam. Kupikir kau sedang sibuk membantu kakakmu, Valerie, di ruang pengawas Student Council sejak fajar tadi."
Gideon menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang tampak sedikit jenaka. "Kak Valerie melarangku mendekati ruang pengawas karena ia mengatakan pembawaanku yang terlalu santai bisa merusak kedisiplinan para ksatria senior, Elena. Jadi, aku memilih untuk berjalan-jalan sendiri melihat arsitektur kuno di sekitar taman ini."
Gideon kemudian memfokuskan kembali sepasang mata hijaunya pada sosok Sander. Berbeda dengan murid-murid bangsawan lain yang memandang Sander dengan tatapan menilai, meragukan, atau bahkan meremehkan karena desas-desus sirkulasi tubuhnya, tatapan Gideon murni dipenuhi oleh rasa penasaran dan rasa hormat yang jujur. Sebagai seorang jenius yang memiliki kemampuan observasi yang sangat tajam, Gideon dapat merasakan bahwa cara berdiri, penempatan pusat gravitasi, dan kerapatan struktur fisik Sander terasa sangat kokoh, seolah-olah seluruh tanah di bawah kakinya tunduk pada pijakan pemuda Duster tersebut.
"Aku sudah banyak mendengar tentang ketangguhan militer Utara, Sander," ucap Gideon sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Sander dengan gerakan yang sangat terbuka. "Ayahku selalu memuji bagaimana Grand Duke Gabriel memimpin pasukan di garis depan badai. Bertemu denganmu hari ini membuktikan bahwa cerita tentang kekuatan fisik klan Duster bukanlah sekadar bualan sejarah."
Sander menatap uluran tangan Gideon untuk sesaat, merasakan ketulusan yang murni dari pemuda Valentine ini. Ia menyambut uluran tangan tersebut, menjabatnya dengan cengkeraman tangannya yang besar dan terasa sangat keras seperti bongkahan besi tempa.
"Terima kasih atas pujianmu, Gideon. Sebuah kehormatan juga bagiku bisa bertemu dengan pewaris dari House Valentine yang terkenal dengan kecerdasan strateginya," jawab Sander dengan nada suara bariton yang datar namun sarat akan rasa menghargai.
Tepat saat telapak tangan mereka saling melepaskan diri, sepasang mata emas Behemoth yang sejak tadi menyipit di atas bahu Sander mendadak melebar sedikit. Kucing hitam itu mengarahkan pandangannya langsung ke arah dada Gideon, mendeteksi getaran sirkulasi energi angin murni yang mengalir sangat rapi di dalam pembuluh darah pemuda perak tersebut. Sebuah desisan batin yang terdengar malas namun tidak sekritis sebelumnya kembali menggema di kepala Sander.
(Manusia perak ini sedikit lebih menarik dibanding perempuan cahaya tadi, Sander. Aliran energinya bergerak seperti pusaran angin sepoi-sepoi di atas padang rumput, tidak terlalu silau dan cukup stabil untuk ukuran makhluk fana berumur belasan tahun. Setidaknya dia memiliki otak yang berfungsi dengan baik karena tidak mencoba bertindak bodoh di depan kita.)
Sander memberikan usapan kecil pada punggung Behemoth menggunakan ujung jarinya, memberi sinyal batin agar kucing hitam itu tidak terus mengomentari setiap orang yang mereka temui.
Gideon yang melihat pergerakan Behemoth di bahu Sander tampak sangat tertarik. Mata hijaunya berbinar melihat bulu hitam legam dan sepasang mata emas kucing tersebut yang memancarkan kilatan kesombongan alami yang sangat tidak biasa untuk seekor hewan peliharaan.
"Kucing yang sangat unik, Sander. Pembawaannya terlihat sangat angkuh, seolah-olah ia sedang memandang rendah seluruh kompleks akademi ini dari atas bahumu," ujar Gideon sembari terkekeh pelan, melangkah selaras di samping kiri Sander saat mereka kembali melanjutkan berjalan bersama menuju gerbang aula.
"Dia memang memiliki sifat yang sedikit sulit diatur, Gideon. Namanya Behemoth," jawab Sander pendek.
Elena yang berjalan berdampingan dengan Sylvia di depan mereka menoleh ke belakang dengan wajah gembira. "Gideon, karena kita berempat kebetulan berada di rute jalur yang sama dan belum mendapatkan jadwal makan malam resmi dari asrama, bagaimana jika setelah pengarahan selesai nanti kita semua makan bersama di paviliun tengah?"
Gideon langsung menganggukkan kepalanya dengan senyuman ceria tanpa ragu sedikit pun. "Tentu saja, Elena. Itu adalah tawaran yang sangat bagus. Kebetulan aku tahu sebuah tempat di dekat danau taman yang menyajikan hidangan daging rusa panggang madu yang sangat enak. Aku yakin Nona Sylvia dan Sander juga akan menyukainya."
Sylvia Frost yang mendengar nama daging rusa panggang madu khas Utara disebut langsung memberikan senyuman kecil yang lembut, merasa bahwa suasana canggung yang ia rasakan sejak tiba di ibukota kini telah sepenuhnya mencair berkat kehadiran orang-orang di sekitarnya.
Keempat remaja yang mewakili pilar-pilar tertinggi dari kekuatan, takhta, dan strategi Elegrand Kingdom itu pun terus melangkah bersama memasuki gerbang besar aula pertemuan utama. Di atas bahu Sander, Behemoth kembali menyandarkan dagunya sembari memperhatikan interaksi kelompok kecil tersebut dalam diam. Sang penguasa kuno terpaksa mengakui di dalam lubuk batinnya, bahwa kombinasi manusia yang mulai berkumpul di sekeliling partner manusianya ini adalah awal dari sebuah pembentukan kelompok yang sangat aneh namun akan menjadi sangat merepotkan bagi siapa saja yang berani mencari masalah dengan mereka di Elegrand Royal Academy.
folback aku yah ehehe