Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata maaf.
"Waalaikumsalam.." Rumi melepas kepergian sang suami dengan senyum di bibir.
Ini manis ya Allah, Rumi suka!
Lestari jantungnya baru juga tenang, tapi, tiba-tiba melihat Jaya kembali berlalu dihadapannya.
Jantungnya kembali berdetak kencang, hatinya terus mewanti pacarnya lebih tampan dari Jaya.
Namun kala dibandingkan, jelas sekali pacarnya...
Astaga lestari jadi ketar-ketir karenanya.
Setelah kepergian Jaya, Rumi juga bergegas mandi, karena dia ingin menunggu sang suami untuk makan siang bersama.
Dan benar saja. Begitu pulang dari masjid suaminya berjalan ke dapur, Rumi mengekor dibelakang, dan kala Jaya duduk di kursi yang tersedia begitu sigap Rumi menyiapkan makan siang untuknya. Tapi, kali ini Jaya tak mengijinkan.
"Sudah, dek. Mas bisa ambil sendiri." ucapnya mencegah istrinya agar tak terlalu melayaninya.
"Nggak papa, Mas," kata Rumi, tersenyum hangat.
Jaya menggeleng pelan, ditariknya perempuan itu untuk duduk di bangku yang berada di dekatnya.
"Jangan terlalu capek!"
Rumi tidak capek, jika usahanya dihargai seperti ini.
"Aku nggak capek, kok, Mas." sesekali, Rumi mengusap perutnya, ia ingat Jaya akan mengajaknya ke dokter kandungan besok. Ia harap berita baik menyertai mereka.
Usai makan siang, Jaya mengajak istrinya ke kamar. Sudah saatnya Rumi tahu kerumitan hatinya. Jaya tidak mau Rumi terus tersakiti akan sikapnya belakangan ini.
"Mas mau bicara sama kamu, kamu ada waktu?"
Rumi yang baru duduk di bibir tempat tidur mengangguk.
"Rumi..." desah Jaya ketika ingin memulai ceritanya. Rumi sendiri tidak sabar ingin mendengar apa yang akan suaminya bicarakan.
"Ini soal aku ... dan kesehatanku." ujar Jaya yang akhirnya membuat keputusan untuk jujur.
"Maaf, karena dua bulan ini aku tidak manusiawi, jujur aku tengah mengalami tekanan mental yang tidak dapat ku terjemahkan dengan kata-kata, intinya dua bulan ini, Mas rutin ke psikiater." ujar Jaya dengan tatapan mata fokus pada Rumi.
Lelaki itu menghela napas, ia selipkan jemari tangannya pada jemari tangan Rumi kemudian ia kecup tangan yang bertaut itu.
"Semua karena rasa bersalah ku, aku pernah merasa menjadi orang yang paling bersalah ketika pergi meninggalkan istri yang ku cintai dan tidak berada di sisinya ketika dia menghembuskan napas terakhirnya, begitu juga yang terjadi padaku dua bulan lalu, rasa bersalah melihatmu dianiaya oleh bajingan itu, mengorek luka yang belum kering di hidupku." setetes air mata lolos membasahi pipi Rumi.
"Aku merasa jadi laki-laki paling buruk sedunia Rumi."
Rumi terisak. "Mas_"
Jaya menghapus air mata sang istri, senyum semanis madu ia berikan.
"Soal Zahra, aku tidak berniat melarang kalian untuk saling dekat, sejak istriku meninggal aku sudah memasrahkan dia pada Abah dan Umah, mereka hanya memiliki satu putri dan kini sudah pulang kepangkuan-Nya, Zahra sudah seperti pengganti Dinar, biar dia berada di sana, kita masih bisa memiliki beberapa anak, tapi mereka_"
Deg!
Jadi, selama ini, mertuanya itu bukankah orang tua kandung Jaya?
"Ceritanya rumit, singkatnya, sebelum menjadi menantu mereka, aku adalah putra angkat Abah dan Umah."
Dan mengalir lah cerita Jaya tentang masa lalunya.
Rumi menjadi pendengar yang baik, sampai suaminya kini berbaring di pangkuannya dengan bibir yang terus komat-kamit.
"Mas_" Rumi mengeluh ketika Jaya menenggelamkan wajahnya di perut yang kini ada buah hati mereka.
"Maaf sudah mengabaikan kalian selama ini."
Rumi tersentuh dengan segala perlakuan Jaya hari ini. Terlebih mendengar penjelasan lelaki itu perihal Harsa yang sempat patah tulang karena amukannya.
Jaya juga menyakinkan jika mantan suaminya itu belum sempat bertindak lebih jauh selain gigitan yang meninggalkan trauma untuk Rumi.
********
Pagi itu Rumi dan Jaya sedang menikmati sarapan ketika Lestari baru datang dengan ojek online nya.
"Maaf, Bu, saya terlambat ..." Lestari tampak menyesal.
Rumi yang membukakan pintu untuk ARTnya.
"Enggak kok, gak papa. Masuk, ayo masuk." Rumi mempersilahkan, dan Lestari mengekori masuk nyonya nya tersebut yang mengajaknya hingga ke dapur. Di mana, ternyata ada Jaya yang tengah makan di sana, tatapan mata Lestari seketika fokus ke pria tampan dengan gaya makanya yang elegan tersebut. "Lestari, kamu sudah makan?" tanya Rumi.
Pertanyaan Rumi menyadarkan Lestari seketika, ia rasanya ingin memukul kepala sendiri karena suami orang lah yang ia kagumi.
"Su-sudah, Bu. Saya langsung kerja aja."
Lestari kembali menilik wajah rupawan itu, tak ada ekspresi apapun, bahkan sekedar meliriknya saja tidak.
Lestari bertanya-tanya, apa tuan nya memperlakukan seorang wanita begitu cuek, termasuk pada istrinya? Namun Rumi terlihat sangat mencintai Jaya dengan sepenuh hati dengan keinginannya berbakti yang perempuan itu katakan.
"Mm ... Lestari, hari ini saya sama suami saya mau ke rumah sakit buat cek kandungan. Kamu tolong jaga rumah, ya." Rumi memberitahu.
Lestari mengangguk. "Baik, Bu. Siap!" Lestari terlihat patuh. "Saya permisi dulu, Pak, Bu." Lestari melihat Jaya terakhir kali, pria itu tetap makan tanpa membalas sapaannya, aneh sekali.
Setelah Lestari beranjak pergi.
Rumi pun duduk di sebrang Jaya, ikut makan bersama sang suami, dan selesai sarapan mereka pun ingin segera ke rumah sakit guna memeriksakan kandungan.
Tapi, rencana mereka sepertinya akan tertunda karena begitu pintu rumah terbuka sosok yang Rumi takuti berada di ambang pintu.
Wanita itu menatap Rumi yang masih tercengang.
"Kalian mau pergi?" tanya tamu tersebut dengan santainya.
"Rumi!" Suara Jaya terdengar memanggil, Rumi menoleh dan terlihat Jaya berjalan kearah mereka.
"Hassan ... Ibu kangen kamu!" perempuan itu melewati Rumi begitu saja dan menubruk tubuh tegap Jaya dengan pelukannya.
"Kenalkan, Ini Jenifer yang mengurus ibu selama ini." tanpa memperdulikan keberadaan Rumi, Nyonya Sanjaya menarik tangan wanita yang dibawa datang bersamanya setelah merenggangkan pelukannya pada Jaya.
"Ada apa Ibu datang kesini?" tanya Jaya mengabaikan tangan Jenifer di udara.
"Begini caramu menyambut Ibu yang melahirkan mu?" sembur nyonya Sanjaya pada putranya.
"Begitu cara Ibu mengabaikan nyonya rumah ini?" Jaya balik bertanya.
Tatapan mata wanita itu tampak merendahkan ketika menoleh pada Rumi. Jaya tidak suka melihatnya.
"Ibu pikir, kamu sudah membuang sampah pada tempatnya!"
Rumi menunduk, kalimat wanita yang bergelar sebagai ibu mertuanya itu amat dingin dan berhasil menusuk. Aura di sekitar wanita itu, Rumi sadari, benar-benar seperti tumpukan jarum. Sakit kala berada di sekitarnya.
"Ibu, Cukup! Harus berapa kali aku memohon, tolong jangan ikut campur urusan rumah tanggaku."
"Ibu tidak akan ikut campur jika seandainya kamu mendapatkan wanita sepadan dengan kita, tapi ini? Wanita ini bahkan sudah seperti barang bisa dipakai dengan lelaki yang bukan suaminya."
"IBU!!" teriak Jaya lantang.
Rumi menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. Dia juga bisa merasakan kemarahan Jaya. Melihat dari bentakan pria itu yang mengejutkan.
"Ibu datang ke sini untuk mengenalkan wanita yang layak untuk menjadi istri serta rahim yang pantas untuk mengandung keturunan Sanjaya, Harsa!"
"Saya hanya akan menikah dengan wanita yang saya pilih, maaf jika saya kali ini masih tetap membenci kehadiran Ibu!" tekan Jaya pada setiap kalimatnya.
"Kamu yang lebih tahu dimana letak surga bagi anak laki-laki, Hassan Sanjaya!" adu argumen antara ibu dan anak dimulai.
"Dan ibu pikir jika saya menuruti kemauan ibu, saya akan tetap mendapatkan surga?" Jaya menarik napasnya pelan, seperti mencoba untuk mengontrol emosinya agar tak over.
"Jika saya menyakiti istri saya, apa saya tetap akan mendapatkan surga, Bu?!" Tanya Jaya pada nyonya Sanjaya.
Sementara Rumi cuma bisa diam. Dia masih menunduk, sesekali menyeka air matanya yang seperti tidak mau berhenti mengalir.
"Tolong, jangan ikut campur urusan saya. Saya tidak akan pernah meninggalkan istri saya."
Rumi kini ditarik oleh Jaya ke dalam pelukannya. Dan setelahnya Jaya langsung menutup pintu.
Lestari yang ikut menyaksikan keributan tersebut, semakin terpesona dengan sikap gentleman Jaya. Tapi, wanita itu juga langsung hilang harapan ketika melihat seberapa besar keperdulian Jaya pada sang istri.
Benar kata orang. Yang cuek dan acuh bukan berarti tak mencintai. Mungkin saja di depan orang Jaya cuek dengan istrinya, tapi kala berdua siapa yang tahu?
#######
Masih mau lanjut?
Atau mau digantung nih?
Like, komen, vote, dan bintang limanya.
Happy reading...
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?