NovelToon NovelToon
The Fallen Angel

The Fallen Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Sudah Terbit / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:393.4k
Nilai: 5
Nama Author: Poetry Alexandria

Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.

Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.

Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.

Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-25- The Key

Aku menutup lokerku dengan tak bersemangat. Waktu istirahat makan siang hampir berakhir dan aku belum mengganti pakaianku dengan pakaian olahraga.

Liz terlihat berjalan dengan wajah kusut menyusuri koridor, ia juga belum mengganti pakaiannya. Aku cepat-cepat menghampiri gadis itu saat kulihat ia berdiri lunglai di depan pintu lokernya.

"Ada apa?" tanyaku penasaran.

"Rasanya buruk sekali ..." Liz menutup wajahnya dan terisak.

"Ceritakan padaku. Apa kau sudah berbicara dengan Vincent?"

Saat istirahat makan siang tadi, Liz pergi menemui cowok itu untuk membicarakan hubungan mereka yang semakin memburuk. Sementara aku dan Becca di kafetaria dan sekarang Becca sudah menuju kelasnya di kelas sejarah.

Liz mengusap wajahnya yang nampak kusut dan kacau. Matanya merah dan sembab. Rambut pirangnya acak-acakan. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah penampilanku sama berantakannya dengan Liz? Karena jujur saja, aku pun sama merananya dengan yang dirasakan gadis sahabatku itu. Ini sudah hari ketiga semenjak Gabe menghilang bersama Lucifer tanpa kabar sama sekali dan tidak ada seorang pun yang bisa memberitahu keadaannya. Bahkan, rekan-rekan sejenisnya tak ada yang berbaik hati menyampaikan apakah Gabe baik-baik saja.

Aku hanya bisa menerka-nerka dan berharap kemungkinan baik terjadi padanya. Tapi, mengingat Gabe belum masuk sekolah membuatku merasa semakin takut dan cemas.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Ini berdampak buruk sekali untukku. Emosiku jadi naik turun. Aku merasa seperti orang bodoh dan konyol. Terkadang, untuk beberapa hal aku jadi sangat sensitif. Kemarin, aku sampai menangis meraung saat latihan drama pulang sekolah. Aku menangis hebat waktu melihat Emilly dan lawan mainnya beradegan mati di akhir drama. Jake Ramsey dan Mrs. Alison sampai melongo melihat tangisanku yang seperti bayi.

Mereka menanyakan apakah aku baik-baik saja. Kujawab bahwa akting Emilly benar-benar luar biasa. Aku sangat tersentuh. Ya, dan itu memang alasan yang jujur.

Aku tahu Liz pasti sangat sedih. Ia sudah lama naksir cowok itu sejak setahun lalu. Liz tidak pernah menangisi cowok setahuku dan aku cukup kaget melihatnya tersedu-sedu karena pertengkarannya dengan Vincent.

Aku masih menunggunya untuk bercerita, mencoba untuk tidak mendesaknya walau aku sendiri cukup penasaran. Selama ini Liz memang tidak pernah membahas apa sebenarnya persoalan yang mereka alami. Gadis itu hanya mengatakan bahwa hubungan mereka sedang tidak baik.

"Aku... melihat Vincent jalan berdua beberapa waktu lalu bersama Demi. Kau tahu, kan Demi itu naksir Vincent." Liz menjelaskan dengan suara parau.

"Benarkah?" tanyaku tak percaya. "Lalu, apa yang Vincent katakan?"

"Dia bilang itu omong kosong. Dia tidak punya hubungan apapun dengan Demi. Pokoknya, dia membantah tuduhanku."

Aku terdiam sambil menelan ludah. Bingung harus berkomentar apa. Liz menatapku. Ekspresinya tiba-tiba berubah sinis dan kesal.

"Aku tidak tahu dia sebrengsek itu," komentarku setelah beberapa saat terdiam.

"Yep, he's fucking asshole!" sahut Liz geram.

"Jadi, kau putus dengannya?"

Liz menunduk sambil menggeleng. "Belum. Dia bilang, dia tidak ingin putus. Itu cuma salah paham."

Aku mendesah. "Liz, apa kau sangat menyukainya?"

Liz mendongak dan menatapku dengan sedih. "Damn! I loved him."

"Jadi, kau tidak berniat untuk putus dengannya, kan walau dia menyakitimu?"

Ia kembali menunduk, mengangguk singkat. Matanya berkaca-kaca. "Kupikir aku hanya salah paham."

"Tapi, kau melihatnya jalan dengan Demi," sergahku.

"Ya, dia minta maaf soal itu dan mengatakan bahwa mereka tidak punya hubungan apapun. Kuharap aku cuma salah paham."

"Well, Liz. Boleh kuberi saran? Sebagai sahabatmu, aku ingin kau bahagia. Itu saja."

"Dia baik selama ini, Keana. Kupikir aku akan memberinya kesempatan sekali lagi. Ia dan Demi hanya teman."

"Oke, baiklah. Putuskanlah apa yang menurutmu baik bagimu. Aku hanya berharap kau tidak akan menangisinya seperti ini lagi. Dia sudah cukup brengsek membuatmu kacau begini," kataku cepat, bayangan mematahkan batang hidung vincent dan menendang bokongnya berkelebat di otakku. Rasanya menyenangkan jika kulakukan.

Tiba-tiba, para murid berlarian menuju kafetaria dan berdesak-desakan untuk melihat sesuatu. Aku dan Liz mengikuti kerumunan anak-anak itu. Di dalam kafetaria yang sudah mulai sepi, berdiri Calvin, Nick dan Jeremy sedang mengeroyok seorang anak cowok. Aku terbelalak. Mereka memukuli Henry Stewart yang berkacamata---teman sebangkuku di kelas bahasa Inggris---dengan brutal. Henry tertelungkup di lantai saat kaki panjang Nick menendang perutnya dan Calvin menyiram pakaiannya dengan saus tomat. Anak-anak bersorak riuh. Sebagian merasa senang mendapat tontonan yang asyik.

"Calvin!" teriakku spontan.

Semua anak-anak, terutama Calvin menoleh ke arahku. Senyum jailnya lenyap saat matanya bertatapan denganku. Ia membuang muka, lalu menghempaskan botol sausnya ke lantai. Wajahnya cemberut. Ia masih marah padaku perihal kejadian waktu itu dan aku sendiri masih merasa sebal dengan pertanyaan konyolnya.

"Pahlawan kesianganmu sudah datang, Stewart!" Ia menyindir sinis. Nick dan Jeremy tertawa mengejek.

Aku berusaha mengabaikan sindirannya dan berlari menghampiri Henry Stewart yang masih tertelungkup di lantai, diikuti Liz. Hidung Henry berdarah dan matanya sedikit lebam. Aku memelototi Calvin, Nick dan Jeremy yang masih berdiri sambil bersiul-siul menyebalkan. Beberapa anak lain pun ikut membantu Henry untuk berdiri.

Terdengar suara peluit memekakkan di pintu kantin. Mr. Bekker berdiri menyeruak di antara kerumunan dengan wajah kesal.

"Morris, apa kau senang bersikap sok jagoan?"

"Dia menumpahkan makan siangnya ke baju dan sepatuku, Mr. Bekker. Aku hanya membalas. Sepatuku baru saja kubeli dan harganya mahal. Apa dia iri dengan sepatu baruku?" Calvin menyahut seraya menggoyang-goyangkan kakinya santai. Ada noda saus dan tumpahan sup di ujung sepatu dan pakaiannya. Nick dan Jeremy tergelak.

Mr. Bekker geleng-geleng kepala. "Ya, bisa kulihat harga sepatumu yang sangat mahal itu. Dan kau bisa memamerkannya juga di ruang Kepala Sekolah sekarang."

Anak-anak bersorak dan tertawa, sedangkan Calvin menggerutu. Ia melirikku sekilas sebelum berjalan meninggalkan kantin menuju ruang kepala sekolah.

"Stewart, kau juga ikut ke sana!" kata Mr. Bekker pada Henry yang baru saja bangkit berdiri. Ia kemudian berpaling ke arah Nick dan Jeremy dengan tatapan tajam. "Termasuk kalian, jagoan!"

Kerumunan seketika bubar diiringi bel masuk yang berbunyi. Aku dan Liz bergegas pergi ke ruang gym untuk mengganti pakaian olahraga sebelum Mr. Bekker memarahi kami jika terlambat.

*****

Hari ini latihan drama dibatalkan karena Mrs. Alison sedang tidak sehat. Aku merasa agak senang bisa pulang ke rumah lebih awal. Waktu pentas semakin dekat dan aku tidak terlalu kesulitan lagi untuk berakting. Kuharap segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

"Kurasa kau pasti sangat membenciku, kan?" Terdengar suara berseru di dekatku.

Aku menoleh dan mendapati Calvin tengah berdiri menyandar pada mobil sport-nya, menatapku sambil mengangkat kedua alis.

"Sangat," sahutku ketus. Lalu, meneruskan langkah menuju gerbang sekolah.

Ia dengan cepat menyusul dan berjalan di sampingku. Aku diam saja, mengacuhkannya---masih kesal dengan apa yang dilakukannya di kafetaria tadi.

"Apa kepala sekolah tidak memberimu hukuman? Kenapa kau bisa bersantai seperti ini?"

"Membersihkan toilet selama sepekan. Ugh... kau tahu betapa mengerikannya," ia menutup hidung sambil mengibas tangan dengan gaya sok dramatis.

"Lalu, kenapa kau tidak mengerjakannya?" Aku menatapnya bingung.

Setahuku untuk anak-anak bermasalah yang suka berkelahi di sekolah akan diberi hukuman membersihkan toilet setelah jam pelajaran usai atau jika hukuman itu tidak mempan, mereka harus mengikuti kelas tambahan saat liburan musim panas. Tentu itu adalah hal yang buruk. Siapa yang mau menghabiskan liburannya di sekolah.

"Itu sesuatu yang mudah, Keana. Aku cukup membayar anak kelas Sophomore untuk menggantikanku melakukannya." Ia menyahut enteng.

"Sangat mengesankan," kataku sarkastis. "Kuharap Kepala Sekolah kita tidak akan mengetahuinya."

Ia cuma tertawa. Lalu, sorot matanya berubah serius. "Aku tidak melihat Gabriel beberapa hari ini. Padahal aku sudah ingin sekali menghajarnya."

Aku melototinya. "Jangan macam-macam!"

"Kau masih marah padaku?" ia bertanya.

"Tidak. Kau yang marah padaku." Aku menghentikan langkah lantas bersidekap.

Ia mengendikkan bahu. "Kenapa kau tidak jujur padaku?"

"Soal apa?"

"Kau menyukai Gabriel."

Aku melengos sebal. "Bisakah kau berhenti bertanya sesuatu yang bodoh seperti itu?"

"Tidak. Aku tidak bisa berhenti sampai kau menjawabnya."

"Kau menyebalkan sekali, kau tahu!"

"Aku memang menyebalkan."

"Ugh ... aku benar-benar membencimu," gerutuku.

Ia tertawa pelan. "Oke, maafkan aku soal kemarin. Tapi, aku sungguh kesal kau pergi dengannya."

"Kau tidak berhak kesal. Kau bukan pacarku," tukasku jengkel.

"Jadi, apa kau sudah jadian dengannya?"

"Sayangnya belum."

"Wow. Sangat melegakan!" sahutnya. Tangannya mengelus dadanya dengan gaya berlebihan. Mau tidak mau membuatku sedikit tersenyum melihat kelakuannya yang konyol.

"Mau kuantar pulang? Kau sudah tidak marah lagi, kan?"

"Entahlah. Lebih baik aku pulang jalan kaki saja."

"Oh, ayolah. Aku sudah kangen ingin ngobrol lagi denganmu. Kita kan sudah beberapa hari tidak saling bicara." Ia mengedipkan mata dan menarik tanganku menuju mobilnya. Kemudian

membukakan pintu, mempersilakanku masuk sembari tersenyum lebar.

Aku menurut dan masuk ke dalam mobilnya. Gerimis kecil mulai turun membasahi bumi. Awan bergumpalan menutup sebagian langit yang kelabu. Udara sangat dingin hari ini. Musim gugur sebentar lagi berakhir dan berganti ke musim dingin.

"Sebenarnya saat itu aku ingin mengajakmu bertemu pamanku. Kau bilang tertarik untuk bicara dengannya," ia berkata begitu masuk ke mobil. Seperti biasa tangannya dengan cepat memasang sabuk pengamanku.

Mendengar ia membicarakan pamannya, membuatku teringat tentang Lucifer dan Gabe. "Apa aku bisa menemuinya sekarang? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya."

"Dia sudah kembali ke San Fransisco. Mungkin dia akan kemari lagi musim semi nanti."

"Sayang sekali," gumamku sambil menatap ke jendela. Gerimis yang turun semakin lebat.

Sebuah mobil Volvo silver milik Dalton mendadak berhenti di depan gerbang, menutupi jalan. Calvin terpaksa menghentikan laju mobilnya dan mengumpat. Tangannya menekan klakson berkali-kali dengan tak sabar.

"Sih Crawford itu ngapain, sih? Apa dia sengaja mencari gara-gara? Sial!" Ia mengeluarkan kepalanya dan berteriak kesal. "Hei, jalankan mobilmu, Brengsek! Atau kau lebih suka aku menabrak bemper belakangmu?"

Dalton tidak menyahut. Di belakang kami, mobil-mobil siswa lain yang ingin keluar pun sudah mengular. Beberapa mengklakson tak sabar.

"Persetan denganmu, Morris!" Dalton mengeluarkan jari tengahnya melalui jendela mobil.

Calvin berdecak. "Dia cari mati ternyata." Dengan tergesa-gesa, ia membuka sabuk pengamannya. "Tunggu sebentar, Baby. Aku harus memberinya pelajaran."

"Calvin, bisakah kau tidak mencari gara-gara?" kataku mencoba menenangkannya. "Kau baru saja mendapat hukuman."

"Dia yang cari gara-gara." Ia memprotes. "Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya."

Aku hanya menghela napas jengah saat melihatnya turun dari dalam mobil dengan ekspresi kesal. Ia dan Dalton terlihat adu mulut di depan sana. Dalton nampak tak perduli dengan kekesalan Calvin. Kelihatannya ia tengah menunggu Sharon untuk pulang bersama dan sengaja menghalangi jalan Calvin. Mereka berdua memang selalu begitu.

Aku menunggu kedua cowok itu beradu mulut. Banyak anak-anak yang juga menyaksikan. Sharon tergopoh-gopoh berlari menghampiri mereka. Gadis itu masih mengenakan seragam cheerleader dibalut mantel tebal dan legging panjang yang menutupi kakinya yang jenjang.

Aku menghela napas dan berinisiatif untuk mengajak Calvin kembali ke mobil. Tapi, gerakanku terhenti saat aku baru saja membuka pintu mobil. Terdengar suara dering ponsel Calvin. Aku mencari-cari benda itu dan menemukannya dalam laci dasbor mobilnya. Mataku terpaku pada sebuah benda yang tergeletak di samping ponsel itu. Benda itu tampak bergerak.

Kuraih benda berbungkus kain berbahan kulit warna merah marun itu dengan penasaran. Saat kubuka ternyata benda itu berbentuk persegi berwarna hijau yang terus bergetar di telapak tanganku. Aku mendelik. Jantungku nyaris copot. Benda ini persis seperti benda yang disimpan Gabe dan diinginkan Lucifer.

Kunci yang hilang.

Kenapa benda ini bisa berada di sini? Di dalam mobil Calvin? Kenapa Calvin bisa memilikinya?

Aku tersentak waktu Calvin tiba-tiba masuk ke mobilnya sambil menggerutu tidak jelas tentang Dalton yang menyebalkan. Mobil Dalton sudah bergerak meninggalkan sekolah. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku terfokus pada benda yang ada di tanganku saat ini.

"Ayo, kita pulang. Ingin sekali aku menghajarnya tadi." Calvin masih mengoceh tidak jelas sambil memasang sabuk pengamannya.

"Calvin ..." panggilku lirih, menunjukan benda persegi yang bergetar di tanganku padanya. Ekspresinya nampak kaget. "Bisa kau jelaskan benda apa ini? Dan kenapa ada padamu?"

🍁🍁🍁

1
R
still a good novel ✨
Just human
lanjut kak suka bgt sm critanyaa T_T
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟
oii authorr mana ini kelanjutan nyaa
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟: oii thorrr
total 2 replies
Muse
Cepat juga datangnya Messias ini, gak pake basa basi lagi...Keana pasti shock bgt...gak sabar nunggu next chapternya Kak Author...
Muse
aduuh Calvin kenapa itu, berubah jadi Demon kah ?
Muse
Ceritanya keren banget...romancenya dapet...tegangnya paling dapet dech...karakternya kuat kayak pas banget sama tokohnya. Tentu paling suka sama Gabe yang sweet bgt cara dia ngetreat Keana. Sama Calvin juga sebenarnya badboy yg brokenhome. Ceritanya rumit tapi bisa dijabarkan dengan baik...jadi enak bacanya ngalir aja...Goodjob kak Author 👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
Akhirnya Keana ingat juga sama Gabe...
Muse
semoga Keana bisa hidup lagi...
Muse
Jangan mati donk Keana...
Muse
sayang sekali para angel kena jebakan...terus gimana sama Keana donk...
Muse
Gabe.. so sweet...
Muse
kok bisa sich Calvin ikut jadi member satanist...apakah ibunya Calvin wanita yg ditemui Gabe sama Raph di sarangnya Lucifer waktu itu yaa...
Muse
waduuuh itu kan pamannya Calvin...jangan² dia bukan kabur dari RS tapi diculik anak buahnya Lucifer...
Muse
kenapa mau sich Keana...Lucifer itu kan licik bgt...pilihan yang sulit memang dan sepertinya keluargamu juga akan dalam bahaya kalo kamu sampe mengingkari kesepakatan itu ...huftt dilema berat pasti...
Muse
Kasian Gabe...
Muse
Apa gak dihukum sama gurunya kok sering bgt ada pembullyan disekolah yaa...
Muse
Emang Gabenya mau sama kamu Sharon ?
Muse
kasian juga si Calvin padahal sepertinya dia tulus sama Keana...
Muse
campur aduk bacanya...ya tegang...ya ngakak...ya kaget...goodjob kak author...👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
setiap part sungguh menegangkan...seruuuu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!